Kenyataan menyakitkan, amarah mengalahkan kasih dan cinta. Enrique Norman Derullo dengan segala egonya, meninggikan amarah dan merendahkan mata hati. Pemimpin klan El Sinaloa itu enggan mengakui, bahwa seseorang yang ingin dia sakiti adalah penentu hidup dan matinya.
Silahkan baca Part 1 untuk melihat deskripsi dan gambaran novel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alianna Zeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bloody Marriage 23
Vote sebelum membaca😘
.
.
"Holla, Dania, apa yang kau butuhkan? Permen?"
"Sesuatu yang lebih kuat dari permen," ucap Dania masuk ke dalam mobil yang ditumpangi Dennis. "Aku ingin bertemu dengan Marc."
Dennis tertegun, tidak menyangka akan keluarnya permintaan itu. "Marc?"
Karena pada kenyataannya, belum pernah ada yang menemuinya lagi. Pemalsuan kematian yang dilakukannya membuat Marc tetap diam di istana, tanpa ada yang tahu kalau dia benar-benar masih hidup. Hanya rumor yang dianggap palsu kalau Marc masih hidup.
"Kau tahu ada kesulitan untuk menemuinya."
"Aku tahu kau pernah bertemu dengannya."
"Bertemu?" Dennis terdiam. "Aku hanya diam di sebuah ruangan mendengar perintahnya, tanpa melihat wajahnya dan itu terjadi sepuluh tahun yang lalu."
"Mengejutkan, beberapa tahun lalu dia menelponku untuk membantu Norman."
"Bagaimana dia bisa tahu nomormu?"
"Bagaimana dia bisa menjadi pemimpin El Sinaloa?"
Keduanya terdiam, pertanyaan yang tidak bisa dijawab satu sama lainnya. Dennis menyalakan mesin, mengendarai mobil ke jalan menuju mansion Marc. "Aku tidak tahu banyak tentang Marco Valentio, tapi aku cukup tahu tentang El Sinaloa."
"Aku pernah ke jalan ini, ada beberapa pria yang menghadang, mereka menjaga dengan ketat. Bagaimana reaksi penguasa di Guererro?"
"Apa maksudmu?" Dennis bertanya sambil memperlihatkan wajah berpikir keras.
"Kepolisian?"
"Mereka mendapat jatah dari operasi El Sinaloa, selama uang mengalir mereka akan diam."
Keduanya terdiam untuk beberapa saat, hanya hutan yang mereka lihat untuk sementara ini. Sampai akhirnya mereka sampai di pertigaan, yang salah satunya menuju mansion. Jalan kecil, penuh dengan daun memberi tanda bahwa jarang sekali kendaraan masuk ke sana. Bagian itu lebih gelap, lebih banyak pohon.
"Kau tahu ini jalannya bukan?" Tanya Dennis.
"Sí, ayo ke sana. Aku yakin mereka tahu siapa dirimu."
Dennis mengerutkan kening, berpikir Dania itu gila. Dia masih diam di sana, bahkan mematikan mesin mobil yang membuat Dania semakin kesal. "Ayo jalan!"
"Kau gila, aku tidak pernah ke sana. Ini akan sulit."
"Kau ingin aku menguasai Norman bukan?"
"Katakan padaku apa rencanamu?"
Dania diam, dia masih berpikir.
"Tidak ada rencana?"
"Aku tidak ingin memberitahumu, cukup pertemukan aku dengan Marc."
Dennis menghela napas, dia berbelok pada jalanan yang sempit. Menuju mansion yang tersembunyi di tengah hutan, membuat Dennis menelan ludahnya kasar. Pasalnya, dia mendengar banyak rumor tentang tempat yang menjadi peristirahatan Marco Valentio, penjahat tersadis sepanjang masa.
Dan benar saja, ketika Dennis pikir semuanya berjalan lancar, ada seorang pria yang menghadangnya. "Maaf, Señor, ini area pribadi, kau tidak bisa masuk ke mari."
Dennis menurunkan kacamatanya. "Aku ingin bertemu dengan Marco Valentio."
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Sebaiknya kau pergi, atau aku menyakiti kekasihmu."
"Aku bukan kekasihnya, dan aku ingin menemui Marc. Aku adalah kekasih dari Norman Derullo, sebaiknya kalian mengizinkan kami masuk."
"Berhenti bicara dan pergi," ucap pria berkulit hitam itu mengeluarkan senjata api dari balik jaketnya. "Pergi sebelum aku melakukan hal buruk."
Dania kesal, dia keluar dari mobil dan berlari kencang. Namun, dia tertangkap oleh pria lain. Dania meronta, dia berteriak, "Lepaskan! Marc! Aku ingin bertemu denganmu, ada yang ingin aku sampaikan! Ini mengenai Norman dan Van Allejov!"
Dania terus berteriak seperti itu sepanjang sang pria menyeretnya dan kembali memasukannya ke dalam mobil. "Pergi dari sini kau wanita gila."
Kini tatapannya pada Dennis. "Jaga kekasihmu sebelum kami tembak."
"Sial!" Teriak Dania saat dia ditodong senjata.
Sampai akhirnya pria berkulit hitam itu mendapat bisikan dari temannya, yang membuat dia menurunkan senjata. "Kau bernama Dania?"
"Ya, aku Dania, Marc ingin bertemu denganku bukan? Ayo kita jalan, Dennis."
"Tidak," ucap pria itu menahan Dennis menyalakan mesin. "Kau sendirian, Dania, berjalan ke sana."
Dania menatap Dennis sesaat, dia mengisyaratkan agar pria itu menunggu. "Aku akan melakukannya sendirian."
"Bagaimana dengan kesepakatan kita?"
"Ini berjalan, kau membantuku menyingkirkan Malia, maka aku akan mengendalikan Norman kembali."
***
Semakin Dania melangkah, pepohonan semakin rindang, hingga sampai tidak ada celah bagi sinar matahari. Dania berjalan cukup lama, membuatnya mendengus kesal. "Sampai kapan kita akan terus berjalan?"
Pria berkulit hitam yang memandu Dania itu tidak menjawab.
"Hei, di mana sebenarnya letak rumah itu? Aku ingin cepat bertemu dengan Marco Valentio."
"Jaga ucapanmu," ucap pria itu berhenti melangkah, dia menunjuk wajah Dania. "Berhenti mengatakan nama itu, Marco Valentio sudah mati."
Dania memilih bungkam, melangkah hingga akhirnya berhenti saat jalan terhalang. Oleh sebuah benteng yang tinggi, pagar besi dan duri melingkar di atasnya, disertai dengan pecahan kaca tajam. Marco Valentio benar-benar melindungi peristirahatannya.
"Kau akan masuk ke dalam, ikuti jalan sampai kau melihat sebuah rumah kaca."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku hanya memastikan kau masuk saja."
"Bagaimana jika ini jebakan? Jika di dalam sana hanya ada bahaya?"
Pria bertubuh besar itu tidak menjawab, dia pergi begitu saja.
"Hei, hei! Sialan! Kembali kau!"
Dania menatap pagar besi di depannya. Saat terbuka, dia menelan ludahnya kasar. Tidak ada orang yang menjaga di sana, gerbang tertutup kembali secara otomatis. Setiap Dania melangkah, ketakutannya bertambah. Hanya ada hutan, keheningan dan kegelapan.
Sampai akhirnya Dania melihat sebuah rumah yang didominasi oleh kaca, bak istana yang menjulang tinggi. Dania berlari kencang, hingga mencapai pintu depan.
Dia mengetuk. Belum juga Dania mengetuk sampai tiga kali, pintu terbuka. Seorang pelayan tanpa ekspresi. "Silahkan ikut denganku."
Suasana menegangkan Dania rasakan di mansion bernuasa alam ini. Suara hewan, pohon rindang yang menakutkan. Apalagi pelayan-pelayan itu seolah tidak memiliki emosi.
"Di mana Marc?"
Kembali lagi, Dania tidak mendapatkan jawaban.
"Masuk ke dalam, Señor Derullo menunggumu."
Dania melakukannya, dia mendorong pintu dan masuk ke sana. Kegelapan menyelimuti, hanya ada seberkas cahaya matahari menerobos.
Sampai Dania berhenti, dia melihat ranjang yang tertutupi kelambu hitam. Siluet seorang pria tua ada di sana.
"Marc?"
"Holla, Dania. Senang kau bisa membantu Norman menemukan Malia Van Allejov."
"Kau bilang aku akan bersama dengan Norman jika aku membantunya, kau bilang aku akan menikah dengannya dan memiliki semua kekayaan El Sinaloa," ucap Dania sambil melangkah mendekat, dengan raut wajah kesalnya. "Kau menjanjikan itu."
"Ya, aku menjanjikan itu, saat dendam Derullo pada Van Allejov sudah terbalaskan."
"Dan kapan itu terjadi?" Perkataan Dania penuh penekanan.
Dan ketika Marc menjawab, "Saat Malia membuat kesalahan."
"Apa? Kenapa kalian sama saja? Dasar bodoh, kapan Dania akan membuat kesalahan jika kalian memperlakukannya layaknya seorang puteri? Norman bahkan melarangku mendekatinya."
"Apa katamu?"
Dania tersenyum miring mendengar kalimat yang penuh emosi. "Norman, aku pikir dia mulai jatuh cinta pada Malia. Dia bahkan menghentikan operasi El Sinaloa akhir pekan ini. Dia tidak ingin Malia melihat hal-hal buruk."
Marc terdiam, tapi siluet tangannya memperlihatkan dia mengambil sebuah cambuk.
Dania tersenyum miring. "Ya, aku pikir Norman mulai terbawa perasaan dengan Malia. Bagaimana kau akan menghadapinya, Marc?"
"Kau tahu bagaimana caraku menghadapinya," ucap Marc sambil memainkan sebuah cambuk di tangannya.
---
**Love me,
ig : @Alzena2108**
Cakittt banget di ghosting penulis favorit </3
Dear beloved Author, Zee. Hope u find your happiness. Even tho it's mean that this Novel will be stuck forever in this part 😭💔
anggap aja Auman singa macan dan harimau wkwkwk
ini subscribe kedua untuk genre mafia setelah only 200 day mr.mafia
good...segera up