NovelToon NovelToon
TERPERANGKAP CINTA CEO DINGIN

TERPERANGKAP CINTA CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Percintaan Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:756
Nilai: 5
Nama Author:

Alea, seorang wanita muda dan cantik, terpaksa menikahi Rian melalui perjodohan. Namun, kebahagiaan yang diharapkan pupus ketika Rian mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan Gina. Patah hati, Alea memutuskan untuk bercerai dan meninggalkan Rian. Takdir berkata lain, bis yang ditumpangi Alea mengalami kecelakaan tragis. Di tengah kekacauan, Alea diselamatkan oleh Ben, seorang pria berkarisma dan berstatus sebagai bos besar yang dikenal dingin dan misterius. Setelah sadar, Alea mendapati dirinya berada di rumah mewah Ben. Ia memutuskan untuk berpura-pura hilang ingatan, sebuah kesempatan untuk memulai hidup baru. Ben, yang ternyata diam-diam mencintai Alea sejak lama, memanfaatkan situasi ini. Ia memanipulasi keadaan, meyakinkan Alea bahwa ia adalah kekasihnya. Alea, yang berpura-pura hilang ingatan tentang masa lalunya, mengikuti alur permainan Ben. Ia berusaha menjadi wanita yang diinginkan Ben, tanpa menyadari bahwa ia sedang terperangkap dalam jaring-jaring cinta dan kebohongan. Lalu, apa yang akan terjadi ketika ingatan Alea kembali? Apakah ia akan menerima cinta Ben, atau justru membenci pria yang telah memanipulasinya? Dan bagaimana dengan Rian, apakah ia akan menyesali perbuatannya dan berusaha merebut Alea kembali?

BERPURA-PURA

Kejadian di dalam mobil pagi tadi rupanya memberikan efek yang cukup besar pada diri Alea. Ia yang biasanya keras kepala dan selalu berusaha melawan Ben, kini menjadi lebih penurut dan hati-hati dalam bertindak.

Dalam benaknya, Alea berpikir bahwa ia tidak boleh membuat kesalahan lagi. Ia harus menjaga sikap dan berusaha menyenangkan Ben agar ia tidak marah. Ia tidak ingin merusak kesempatan yang mungkin bisa membantunya untuk melarikan diri dari Ben.

Saat Ben melamun dan pergi ke toilet, Alea hanya diam dan menunggu dengan sabar. Ia tidak bertanya apa pun dan tidak mencoba mencari tahu apa yang sedang dipikirkan Ben. Ia hanya ingin menjadi wanita yang baik dan penurut di mata Ben.

Saat Ben kembali, Alea tersenyum lembut dan memuji makanannya. Ia berusaha untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dan romantis. Ia tidak ingin Ben merasa curiga atau tidak nyaman.

Alea tahu bahwa ia sedang bermain peran. Ia harus berpura-pura mencintai dan menyayangi Ben agar ia bisa mendapatkan kepercayaannya. Ia berharap suatu saat nanti ia bisa menemukan cara untuk melarikan diri dari Ben dan memulai hidup baru yang lebih baik.

Setelah suasana kembali tenang, Ben menatap Alea dengan lembut. "Sayang, apa ada lagi yang kamu inginkan?" tanyanya dengan nada penuh perhatian.

Alea menelan ludah, mencoba memberanikan diri. "Bolehkah aku membeli ponsel?" tanyanya dengan suara pelan.

Ben tampak berpikir sejenak. "Boleh, tapi tidak sekarang. Biar nanti asistenku yang menyiapkannya," jawabnya dengan senyum tipis.

Alea ingin protes. Ia ingin memilih ponselnya sendiri, ia ingin memiliki privasi. Namun, ia teringat dengan kejadian pagi tadi dan memilih untuk menahan diri. Ia tidak ingin membuat Ben marah dan merusak rencananya.

Dengan berat hati, Alea mengangguk. "Baiklah," jawabnya singkat.

Dalam hatinya, Alea merasa kecewa. Ia merasa seperti boneka yang semua kehidupannya diatur oleh Ben. Ia tidak memiliki kebebasan untuk memilih apa pun yang ia inginkan.

Namun, Alea mencoba untuk tetap tenang dan berpikir positif. Ia tahu bahwa ia harus bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk bertindak. Ia tidak boleh gegabah dan merusak kesempatan yang mungkin bisa membantunya untuk melarikan diri.

Ia akan terus berpura-pura menjadi wanita yang penurut dan mencintai Ben. Ia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari tahu lebih banyak tentang Ben dan mencari celah untuk melarikan diri. Ia berharap ia bisa segera bebas dari Ben dan memulai hidup baru yang lebih bahagia.

Selesai makan siang, mereka berdua memutuskan untuk kembali. "Aku antar kamu pulang dulu ya, Sayang," kata Ben sambil menggandeng tangan Alea menuju mobil.

Alea mengangguk, tersenyum tipis. Dalam hati, ia merasa sedikit lega. Setidaknya, ia bisa kembali ke rumah dan memiliki waktu untuk berpikir.

Di perjalanan, mereka berdua hanya diam. Ben fokus dengan ponselnya, sementara Alea menatap keluar jendela, memperhatikan jalanan Bandung yang ramai. Pikirannya melayang, merencanakan langkah selanjutnya.

Sesampainya di depan ruma,  "Kamu istirahat ya. aku usahakan pulang cepat," ucap Ben sambil mengelus pipi Alea.

Alea mengangguk, “Hati-hati di jalan," balasnya.

Setelah Alea keluar dari mobil di antar oleh Ben, setelah selesai Ben masuk ke dalam mobil dan sopir melajukan kendaraannya kembali menuju kantor. Alea menatap mobil Ben hingga menghilang. Ia menghela napas.

Rumah itu terasa sepi dan sunyi. Alea berjalan menuju kamarnya, merebahkan diri di tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar, memikirkan semua yang telah terjadi.

Ia merasa lelah, bingung, dan takut. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, ia bertekad untuk tidak menyerah. Ia akan terus berjuang untuk mendapatkan kebebasannya.

Alea bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menuju meja rias. Ia menatap dirinya di cermin. Ia melihat seorang wanita muda yang cantik, tapi juga rapuh dan ketakutan.

Alea termenung di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya: "Sebenarnya siapa suamiku ini? Mengapa dia begitu terobsesi denganku?"

Di mata dunia, Ben adalah definisi kesempurnaan. Seorang CEO muda yang kaya raya, sukses memimpin perusahaan teknologi raksasa. Wajahnya menghiasi sampul majalah bisnis, senyumnya mempesona, dan gaya hidupnya mewah. Ketampanannya bak dewa Yunani, dengan rahang tegas, mata biru yang tajam, dan rambut hitam yang selalu tertata rapi. Siapa pun pasti menginginkannya.

Namun, di balik fasad sempurna itu, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Ben adalah pria yang posesif dan sangat terobsesi dengan Alea. Obsesinya bukan sekadar cinta yang mendalam, tapi lebih kepada keinginan untuk mengendalikan dan memiliki Alea sepenuhnya.

Ben selalu menampilkan Alea sebagai ratunya. Ia memanjakannya dengan hadiah-hadiah mewah dan selalu menggandeng tangannya dengan mesra. Semua orang iri pada Alea, menganggapnya sebagai wanita paling beruntung di dunia.

Namun, di balik pintu tertutup, Alea hidup dalam sangkar emas. Ben mengatur setiap aspek kehidupannya, mulai dari pakaian yang ia kenakan, hingga makanan yang ia makan. 

Alea merasa seperti boneka yang dikendalikan oleh Ben. Ia tidak memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Ia merindukan kebebasan, privasi, dan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri.

Setelah melewati pahitnya perceraian dengan Rian, pria yang tidak pernah benar-benar mencintainya, Alea merasa hancur. Rian, yang tega berselingkuh di belakangnya, meninggalkan luka yang dalam di hatinya. Alea merasa tidak berharga, tidak dicintai, dan bertanya-tanya apakah ia pantas mendapatkan kebahagiaan.

Kesalahan terbesar Alea adalah berpura-pura amnesia. Setelah kecelakaan tragis yang merenggut sebagian ingatannya, Alea bertemu dengan Ben. Ben mengaku sebagai tunangannya dan dengan sabar menceritakan kembali kisah cinta mereka. Karena kebingungan dan ketidakpastian, Alea memutuskan untuk mempercayai Ben dan berpura-pura mengingat semuanya.

Alea berpikir bahwa dengan berpura-pura amnesia, ia bisa menghindari konflik.

Namun, kebohongan itu menjadi bumerang. Semakin lama Alea berpura-pura, semakin sulit baginya untuk keluar dari kebohongan itu. Ia merasa bersalah karena telah membohongi Ben, tapi ia juga takut.

Alea menyadari bahwa ia telah menciptakan monster itu sendiri. Ia telah membangun hubungan di atas dasar kebohongan, dan sekarang ia harus menanggung akibatnya. Ia merasa terjebak dalam jaring-jaring kebohongannya sendiri, dan tidak tahu bagaimana cara keluar.

Alea berada dalam dilema yang menyesakkan. Di satu sisi, ia merasa bersalah karena telah membohongi Ben dan takut akan konsekuensi jika kebenaran terungkap. Di sisi lain, ia merasa tercekik dengan sikap Ben yang posesif dan ingin mendapatkan kembali kebebasannya.

Di tengah kebingungannya, Alea teringat akan barang-barang miliknya saat kecelakaan dulu. Ia ingat bahwa ada beberapa barang peninggalan mendiang ibunya yang sangat berharga baginya. Barang-barang itu adalah satu-satunya penghubung Alea dengan masa lalunya dan dengan ibunya yang sangat ia cintai.

Alea merasa bahwa ia harus mendapatkan kembali barang-barang itu. Ia ingin memiliki sesuatu yang benar-benar miliknya, sesuatu yang tidak bisa dikendalikan oleh Ben. Ia ingin merasakan kembali kehadiran ibunya, meskipun hanya melalui barang-barang peninggalannya.

1
Vash the Stampede
Aku sudah jatuh cinta dengan karakter-karaktermu, thor.
AyaShiyaa: Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️
total 1 replies
emi_sunflower_skr
Ceritanya keren, bahasanya juga mudah dimengerti!
AyaShiyaa: Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️
total 1 replies
Ichigo Kurosaki
Ceritanya menghibur sekali.
AyaShiyaa: Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!