Nawalisya Nasyirah, berusia 28 tahun telah menikah dengan Fandyka Satya Mahardika yang telah berusia 21 tahun. Mereka menikah atas dasar perjodohan. Nawal menerima perjodohan itu atas dasar rasa sayang dan hormat kepada orang tuanya, Hingga akhirnya Nawal membuka hati dan belajar mencintai sang suami.
3 bulan awal pernikahan Fandy dan Nawal berjalan biasa saja, meski mereka tak saling dekat. Namun, setelah 3 bulan itu, Fandy memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Mila.
Disitulah cinta Nawal di uji. Akan kah mereka tetap bertahan? Ditambah lagi dengan masalah usia Nawal yang lebih matang dari fandy?
Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cuci mata di pesta
Nawalisya
"Wajah cantiknyaaa......", Suara kak Jihan, mengagetkanku saat aku masih berasmda di depan cermin meja rias, menyematkan satu jepit berwarna merah menyala berhiaskan tiga mutiara kecil berwarna putih.
"Lebay deh, kayak nggak pernah liat orang cantik aja", Aku mencibir kak Jihan dengan menipiskan bibirku.
"Beneran deh na, meski usiamu hampir 33 tahun, tapi berapa kayak mahasiswi loh ini. Kamu kelihatan jauh lebih muda dari usiamu. Pasti deh temen-temen bule ku pada kepincut sama mommy muda kayak kamu. Si mungil tapi seksiii", Jawabnya lagi yang membuatku kegelian.
"Jangan bikin aku melambung tinggi deh kak. Buktinya aja, Suamiku lebih milih wanita berhijab ketimbang aku", mendadak wajah kak Jihan memberengut kesal mendengar penuturan ku.
"Ya kali, mata suamimu aja yang katarak. Kalau enggak ya...... buta". Aku terkekeh mendengarnya.
"Anak-anak udah pada siap kak? Aku jadi grogi nih mau ketemu bule, hahaha...". ucapku sambil berlalu dari kamar. Kak Jihan makin gemas terhadapku.
"Na, Siapin mental kamu. Jangan sampe kamu jantungan gara-gara ketemu bule",
"Siap bisa", jawabku sambil mengacungkan dua jempol tangan ku.
Aku dan kak Jihan pun berangkat ke pesta dengan bahagia. Anak-anak duduk di kursi belakang, sedang kak Jihan di balik kemudi dan aku di sebelah kak Jihan. Entah kenapa, aku merasa gelisah dan jantungku merasa berdebar tak karuan.
Sepanjang jalan aku hanya terdiam tanpa berkata. Sesekali tersenyum menanggapi ocehan Elma dan Kenan. Terkadang, mereka berseteru, bercanda, saling merecoki, kadang juga saling menghina.
Sungguh, melihat Elma dan Kenan membuatku merasa ingin memiliki anak lagi yang akan meramaikan rumah ku. Tapi sayangnya, aku rasa itu tidak mungkin lagi. Mengingat aku dan mas Fandy udah pisah, meski nggak ada kata cerai.
Aku sempet berpikir, ingin menggugat cerai mas Fandy. Tapi aku juga merasa takut kalau-kalau nanti mas Fandy menggugat masalah hak asuh anak. Aku nggak mau aja mas Fandy mengambil Kenan dari tanganku.
Kadang aku sempat berfikir, kenapa kisah cintaku ini begitu rumit ya? Kadang terlintas pula di pikiranku saat melihat kak Jihan dan kak Gibran bersama waktu kak Gibran pulang dari berlayar, Aku merasa iri. Bukan hanya iri akan kebersamaan mereka. Tapi aku juga iri melihat Kenan kadang menatap mereka sedih. Aku ngerti. Pastilah tidak mudah untuk Kenan menerima ini semua. Aku juga ngerti, yang ada dalam pikiran Kenan pastilah ia ingin seperti Elma, yang memiliki keluarga lengkap.
Tanpa terasa, mobil yang kami kendarai sudah memasuki area parkir tempat di langsungkannya acara pesta. Aku dan semuanya segera turun dan berjalan bersama memasuki gedung tempat pesta. Ku lihat banyak wajah-wajah tampan dan rupawan yang begitu mempesona. Ahhh lumayan lah untuk cuci mata.
"Mbak Mega, aku titip Elma sama Kenan ya? nanti ambil aja makanannya nggak apa-apa. Aku sama Nawal mau ngasi salam dulu buat yang punya acara", kak Jihan memberi tahu mbak Mega, pengasuh sementara kak Jihan untuk menjaga anak-anak malam ini. "Aku di dalem ya mbak, pokoknya jagain anak-anak. Jangan sampe kelepasan. Aku percaya sama embak", lanjutnya lagi.
"Iya buk siap. Pokoknya aman" jawab mbak Mega dengan mengacungkan satu jempolnya ke arah kami.
Aku pun melenggang masuk memasuki tempat dilangsungkannya acara pesta. Di sana, sudah seperti surga bagi kaum wanita. Bagaimana tidak? Para pria disana mayoritas muda-muda semua. Tampan dan sebagian besar, pria dari kelas atas.
Lama aku mengitari ruangan, Banyak semua mata tertuju padaku dan kak Jihan, banyak dari para lelaki itu bertanya pada kak Jihan tentang siapa aku. Bahkan beberapa dari mereka meminta kak jihan untuk mengenalkannya padaku.
"Tristan", kak Jihan memekik kaget saat matanya menemukan sosok yang ia cari. Yang di panggil menoleh dan berjalan menghampiri. Di susul beberapa orang di belakangnya. "Oh my God, you are handsome",
"Thank you Jihan". Kemudian mereka bercakap-cakap dengan akrab. Aku? Tentu saja hanya diam dan sesekali tersenyum karna aku tidak begitu paham akan bahasa asing.
"Ayo na kenalin ini temen-temen aku juga temen-temen yang punya acara ini". Sontak kak Jihan mengenalkan ku pada mereka semua.
"Lisya", Aku memperkenalkan diriku di hadapan para bule ganteng-ganteng ini. Sengaja aku memakai bagian nama ku yang lain. Kak Jihan melotot mendengarku saat perkenalan ini. Tapi kemudian ia bisa mengontrol dirinya dan kembali tenang.
"Adorjan", seorang laki-laki bernetra mata silver memperkenalkan dirinya yang konon, berasal dari Italia Utara.
"Adelmo", yang katanya berasal dari Jerman.
"Gabrielle",
"Jasper".
"Luis".
"Matteo".
"Tristan, From Manhattan". Netra Matanya mengunci tatapanku.
Entah apa yang Terjadi dengan diriku. Sesuatu yang entah lah.... Sulit untuk ku menjabarkannya. Sorot matanya nampak berbeda dari teman-temannya. Membuatku terkesiap dan merasa terintimidasi dengan hanya sekali pandang. 'pria ini... begitu menakutkan' Aku memekik dalam hagi.
"Nggak usah sok Inggris deh. Ni anak nggak bisa bahasa Lo. Lo kan bisa Indonesia. Secara emak Lo juga dari Jawa. Ngomong sama dia pakek basa indo aja". kak Jihan menepuk pelan tangan kekar lelaki ini. Sontak semua tertawa mendengarnya.
'Ahh Akhirnya aku bisa cuci mata dipesta. aku malu sekali' batinku.
✨✨✨✨
Fandyka
Aku tengah bersiap untuk berangkat ke pesta. Mila muncul dari kamar dengan pakaian rapinya.
Mila, wanita ini selalu rapi, lemah lembut dan selalu menutup auratnya. Dulu, aku begitu tergila-gila padanya hingga mengabaikan Nawal yang nyata-nyata berstatus sebagai istriku.
Saat ini, aku sadar. Rasaku pada Mila hanya sebatas kekaguman semata. Tapi rasaku untuk Nawal? Jangan tanyakan lagi. Aku sangat mencintainya, merindukannya, menginginkannya, memujanya, bahkan hatiku serasa hampa saat ia jauh dariku.
Aku hanya berjalan kaki ke tempat acara pestanya Rani. Karena dari letak penginapanku dan tempat acara tidaklah jauh. Aku menyusuri jalan berdua dengan Mila. Menikmati udara segar di malam hari tanpa bicara apapun pada Mila. Aku sadar aku mendiamkannya tanpa sebab. Tapi entah lah. Semakin kesini aku semakin tidak mampu berbuat apa-apa.
"Mas, kamu kenapa dari tadi diem aja? Apa kamu sakit? Apa kita nggak usah datang ya, Biar nanti aku kabari Rani kalau kamu nggak enak badan?".
"Ah enggak, siapa bilang? Aku nggak kenapa-napa kok. Perasaan kamu aja kali mil. Aku baik-baik aja", sergahku cepat.
"Oh ya udah. Tapi kamu jangan diemin aku gitu dong mas, Aku jadi berasa sendiri kalau kamu diemin aja", Aku menoleh kearahnya dengan tersenyum.
"Maaf". Mila balas tersenyum ke arahku.
Tanpa terasa, aku sudah sampai di tempat berlangsungnya pesta. Acara nampak meriah. Setelah mengucap selamat kepada yang punya acara, aku segera keluar ke taman dekat acara.
Dari kejauhan pandanganku terfokus pada satu objek. Seorang anak kecil yang tengah duduk sendiri di antara hamparan pasir pantai yang begitu luas. Aku yang notabenenya emang nggak suka pesta akhirnya berpamitan pada Mila untuk menghampiri ana itu. Tapi, siapa sangka akhirnya Mila mengekoriku. Sejak dulu, Mila memang suka anak kecil. Jadi, dia merasa penasaran dengan anak kecil itu.
"Hai..." sapaku pada anak kecil itu yang hanya menoleh sekilas kemudian mengarahkan lagi pandangannya ke atas sana, memandang langit dengan berjuta bintang yang menghiasinya. Dia sama sekali tidak menjawabku. Sontak saja aku saling pandang dengan Mila. Tanda bingung.
"Kenapa sendiri sayang, orang tuamu mana?" kali ini, Mila yang bersuara. Tapi lihatlah... anak ini masih diam tanpa menjawab.
"Apa kamu nggak takut sendirian?", Aku kembali bertanya dan ajaibnya, dia menoleh ke arahku. Menatapku dengan intens.
"Mommy ku bilang aku dilarang keras berbicara dengan orang asing". Aku menahan tawa mendengar ocehan anak lucu di depanku ini.
"Kalau begitu, bolehkah kita berkenalan agar kita menjadi teman dan tak seperti orang asing". Dia terlihat berpikir dengan memegang dagunya. Sungguh ekspresi ini sangat menggemaskan.
"Yes, of course. Uncle dan aunty, siapa nama kalian?" katanya sambil menjulurkan tangannya ke arah kami. Mila segera meraihnya.
"Panggil aku aunty Mila".
"And uncle?", tangan dan matanya beralih padaku.
"Panggil uncle, uncle Fandy ya".
"Long name?". anak ini, entah mengapa penasaran dengan nama panjangku.
"Fandyka Satya Mahardhika".
"Oh, uncle dan aunty, panggil aku Kenan". Jawabnya dengan mata berbinar. Saat kami berjabat tangan, entah kenapa aku merasa ada getaran aneh yang menjalar hingga menghangatkan sisi hatiku yang selama ini terasa hampa.
"Kenan Nayaka Mahardhika".
pengen kesel, kok ada cewe mcm bgono, mslhnya ini cuma novel