NovelToon NovelToon
CINTAKU MENTOK Di WANITA MALAM

CINTAKU MENTOK Di WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:26.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aquarius97

YANG SUKA ROMCOM... MERAPAT SINI✨

PLAGIAT, BISULAN SEUMUR HIDUP YA ! 👊🏻

Restu Anggoro Wicaksono selalu menjadi bahan tertawaan ketiga sahabatnya lantaran di usianya yang hampir tiga puluh tahun, pria itu belum pernah menyentuh seorang wanita.

Jangankan menyentuh, menjalin hubungan asmara saja Restu belum pernah.

Karena itulah, ia mendapat julukan si pria beku tak tersentuh.

Sampai suatu malam, ketiga sahabatnya menyusun rencana gila. Mereka kesal melihat hidup Restu yang terlalu flat.

Akhirnya, mereka bertiga nekat mengirim Restu ke kamar VIP di sebuah klub malam.

Malam itu seharusnya hanya menjadi kenangan singkat Restu bertemu wanita sewaan ketiga sahabatnya. Tapi anehnya, wanita itu justru terus memenuhi pikirannya.

Sayangnya, wanita itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Sementara Restu terjebak dalam pencarian panjang di tengah tekanan keluarga yang terus menuntutnya untuk segera menikah.

Apakah Restu bisa menemukan wanita malam itu kembali? Yuk, ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquarius97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 CMDWM

Mata Qiana terbelalak ketika melihat Restu tergeletak di lantai, tubuhnya meringkuk sambil memegangi perut.

Dengan cepat, ia segera berlari menghampirinya. "Pak, Anda kenapa?" serunya panik.

"Perutku sakit, Qi," rintih Restu dengan suara lirih yang nyaris hilang, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Qiana terdiam sesaat, kemudian dengan cepat menopang tubuh pria itu, dan membawanya kembali ke tempat tidur.

Jantungnya berdegup kencang, takut sekaligus bingung harus berbuat apa.

"Di mana yang sakit, Pak?" tanyanya dengan suara bergetar.

Restu memejamkan mata, menahan rasa sakit yang menusuk ulu hatinya.

"Pak, coba tarik napas, lalu hembuskan pelan…"

Restu mencoba menuruti saran Qiana, tapi saat menghembuskan napas, tanpa sadar ia kebablasan mengejan karena rasa sakit yang tak tertahankan.

"Bapak! Jangan sambil ngeden!"Qiana menatapnya panik, antara takut dan gemas. "Emang bapak pikir mau lahiran apa! Aduh, aku harus apa ya?" Qiana menggigit ujung jarinya, bingung.

Ia berlari ke dapur, mencari beberapa peralatan yang mungkin bisa meredakan sakit di perut Restu.

Tak lama kemudian, ia kembali. Duduk di sisi ranjang, dan membenarkan letak bantal sebelum membantu Restu bersandar ke headboard, posisinya setengah duduk.

"Pak, coba minum air hangat dulu," kata Qiana sambil menempelkan gelas di bibir Restu, membantunya meneguk perlahan.

Restu hanya bisa menurut, matanya terpejam, menahan rasa sakit yang tak kunjung reda.

Setelah itu, Qiana mengambil baskom yang sudah diisi air hangat dan kembali ke sisi ranjang.

"Maaf, Pak… coba kita kompres perut bapak dengan air hangat ya," ujarnya lembut sambil menyingkirkan tangan Restu, lalu perlahan menyingkap kaos.

Restu sedikit meringis saat air hangat menyentuh perutnya, tapi lama-kelamaan napasnya perlahan mulai tenang dan teratur.

Qiana kembali meninggalkannya ke dapur untuk membuatkan bubur.

Setelah bubur siap, ia melirik ke pergelangan tangannya.

Pukul 18:30.

"Waduh, udah jam segini," gumamnya, kemudian mematikan kompor.

Qiana bergegas mengambil air wudhu, lalu mengambil mukenahnya dari dalam tas.

Selesai melakukan kewajibannya, ia segera turun ke bawah, menuju Indomaret tempatnya bekerja, bermaksud mencari obat untuk Restu sekaligus memberi tahu temannya bahwa ia akan datang sedikit terlambat.

>>>

Melihat Restu tertidur dengan napas yang sudah teratur, Qiana menghela napas lega. Namun, demi kebaikan, mau tak mau ia harus membangunkannya untuk makan.

"Pak, bangun dulu gih… makan dan minum obatnya, biar perutnya nggak sakit lagi!"

Restu masih enggan membuka mata.

"Pak…" panggil Qiana lagi, sambil menepuk lengannya lembut.

Kelopak mata itu akhirnya mengerjap pelan. Pandangannya langsung jatuh pada Qiana, yang sudah duduk di samping ranjang sambil memegang semangkuk bubur hangat.

"Makan dulu, terus minum obat, Pak!" ulang Qiana dengan suara lembut.

Restu mengangguk pelan. Qiana kemudian menyuapkan bubur ke mulutnya, sambil memastikan ia menelan perlahan.

"Kamu beli di mana buburnya?" suara Restu masih serak.

Qiana yang sibuk menyendok bubur seketika mendongak.

"Saya membuatnya sendiri kok di dapur Bapak."

Restu mengangguk-angguk.

Tatapannya intens ke arah Qiana, tanpa sadar sebuah senyum tipis terbit di wajahnya. Perutnya terasa lebih nyaman berkat bubur buatan Qiana.

"Bapak makan apa sih tadi? Kenapa tiba-tiba bisa sakit perut?" tanya Qiana, heran.

Restu mencoba mengingat-ingat sambil terus mengunyah. "Tadi siang Niko membelikan saya mi ayam di kantin perusahaan, ya hanya itu. Paginya... saya belum sempat sarapan, mungkin karena itu," jawabnya dengan suara yang masih terdengar lemas.

Padahal kenyataannya, bukan Niko yang membelikan mi ayam, melainkan dirinya sendiri yang makan bersama Qiana langsung.

"Terus sore belum makan?"

"Nih, lagi makan!" jawab Restu sekenanya.

Qiana langsung melengos, kesal mendengar jawaban itu.

"Astaga, Pak! Pantas saja. Harusnya Bapak sarapan dulu, jangan sampai telat makan. Siapa yang bakal jaga diri Bapak kalau bukan Bapak sendiri?!" omelnya, sudah mirip seperti istri yang sedang menegur suaminya.

"Lagian, Bapak tuh kecintaan banget sih sama mi ayam. Jangan sering-sering, Pak!" lanjutnya dengan nada agak nge-gas, sambil meniup pelan bubur panas itu sebelum menyuapkannya.

Restu menatapnya tanpa berkedip, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, lebih hangat dari bubur yang baru saja masuk ke tenggorokannya.

Qiana begitu telaten menyuapi Restu, sampai ia tak sengaja melihat sisa bubur menempel di sudut bibir pria itu.

Tanpa pikir panjang, ia meraih tisu dan mengusap lembut bibir bosnya.

Mendadak, jantung Restu serasa berhenti berdetak.

Kunyahannya pun terhenti.

Tangannya memegang tangan Qiana yang masih mengusap bibirnya.

Qiana sontak tersadar, wajahnya ikut memanas.

"Ma...af, Pak. Nih, Bapak lap sendiri aja!" ucapnya gugup sambil buru-buru menyerahkan tisu ke tangan Restu.

Restu tersenyum tipis, tipis sekali.

***

Qiana terlihat melamun sambil memegang sendok. Bahkan saat dipanggil pun, wanita itu masih belum sadar.

Plak.

Restu menyenggol lengannya, barulah Qiana menoleh. "Ah, iya. Ada apa Pak?!"

Restu membuka mulutnya. "Aaaak..." ucapnya, persis anak kecil yang minta disuapin.

"Kamu ngelamunin apa sih? Ada masalah?" tanyanya penasaran.

"Enggak Pak...saya jadi kepikiran teman saya saja. Tadi siang, dia juga makan mi ayam sama saya di kantin. Saya khawatir jangan-jangan dia juga sakit perut kayak Bapak." Qiana mendengus pelan. "Mau nanyain kabar juga gak bisa, soalnya dia nggak punya ponsel... hufft!"

Restu tertegun, menatap Qiana yang begitu perhatian memikirkan Angga yang cupu itu.

"Semoga saja tidak. Kalau makannya teratur, mestinya aman. Tidak seperti saya," ujarnya datar. "Tapi kalau sampai dia juga sakit, berarti pihak kantin yang bermasalah. Dan saya pastikan akan saya pecat!"

Qiana langsung menoleh. "Eh... kok main pecat sih, Pak? Coba kasih peringatan dulu! Dan...semoga saja Mas Angga nggak kenapa-napa lah!"

Restu menyipitkan mata.

"Perhatian kali sih sama Angga... padahal di depannya sudah ada Restu yang jelas-jelas lebih tampan dan kaya! batinnya sedikit tidak terima.

Semangkuk bubur akhirnya ludes, Qiana segera menyerahkan obat kepada Restu.

"Nih, Pak, minum obat dulu!"

Restu menatap curiga. "Obat apa ini?! Kamu nggak akan meracuni saya, kan?"

Qiana langsung mendelik.

"Astaga, Pak! Udah sakit masih aja suudzon. Ini cuma obat maag tau nggak. Tadi saya nyari di Indomaret. Mau minum nggak?!" tukasnya terlihat garang.

Dengan tampang sok cool, Restu pun menerima obat itu. "Iya-iya, gak usah nge-gas kali!"

Qiana mendesah lega.

"Oh ya, Pak, saya harus kerja. Bapak nggak apa-apa kan saya tinggal?"

Restu seketika mendongak, wajahnya jelas tidak terima. "Saya masih sakit, Qiana...Kamu tega ninggalin saya?"

"Tapi, Pak... bukannya udah mendingan? Saya juga takut dipecat. Kemarin aja udah bolos kerja."

Restu mengerling, tanpa basa-basi kembali memegang perutnya dan berakting dramatis. "Awhhhh..." rintihnya panjang.

"Loh, Pak..." Qiana panik, lalu mendekat lagi.

"Sakit lagi, Qi... rasanya... setelah diisi makan... aduuuhhh!" suaranya terdengar lebay.

"Duh..gimana ya, pasti anak-anak udah nungguin," gumam Qiana resah, wajahnya bimbang.

Restu dengan segala akal-akalannya akhirnya berhasil meluluhkan Qiana. Ia terus saja merengek, merintih, hingga Qiana tidak tega meninggalkannya sendirian.

Qiana duduk di sebuah kursi tunggal di sisi ranjang, tangannya pelan mengusap-usap perut Restu, berharap bisa meredakan sakit itu.

Rasa lelah setelah seharian bekerja membuat matanya semakin berat.

Tanpa sadar, matanya terpejam dengan posisi bersandar.

Restu mengintip dengan sebelah mata, menatap Qiana yang terlelap dengan tangan yang masih berada di atas perutnya.

"Andai kamu tahu, Qi... betapa nyamannya aku saat kamu di sini," batinnya cengar-cengir sendiri.

Restu mengubah posisinya menjadi duduk lalu melambaikan tangannya pelan di depan wajah Qiana, sekadar memastikan perempuan itu benar-benar tertidur.

Sementara Qiana sama sekali tidak bergerak, napasnya tetap teratur dan damai.

Dengan hati-hati, Restu beranjak. Meraih bahu Qiana dan membaringkannya di ranjang.

Tak lupa, menarik selimut hingga menutupi tubuh mungil itu.

Kini gantian Restu yang duduk di sisi ranjang, mengamati wanita yang tengah terlelap itu.

"Terima kasih sudah menolongku, Lea. Ternyata kamu benar-benar punya hati yang tulus," bisik Restu pelan. Tangannya terulur, mengusap kepala Qiana dengan penuh kasih sayang.

Ia terus menatap wajah itu, begitu tenang dalam tidurnya. Perlahan, ingatannya kembali pada kejadian lima tahun lalu yang masih melekat di hatinya.

Sama seperti saat ini, dulu Restu juga larut memandang Azalea-nya yang tidur dengan damai di sebuah kursi.

Tanpa sadar, wajahnya semakin mendekat. Pandangannya fokus pada bibir ranum Qiana, dengan jarak di antara mereka yang tinggal satu centi.

Ketika bibir mereka hampir menempel, suara ponsel berdering memecah keheningan, membuat Restu mengumpat pelan.

"Sial! Siapa sih yang telepon malam-malam?!"

Ternyata Video Call dari sahabat laknatnya. Mereka semua menanyakan kabar Restu, dan memaki-makinya, karena tidak berpamitan dengan mereka bertiga.

Begitu tersambung, wajah mereka langsung muncul satu per satu di layar.

"Tu, masih hidup lu!" omel Rio. "Lu gila ya! Cabut nggak pamit sama kita-kita!"

"Iya, dasar biadab, maen ninggalin kita seenaknya aja!" timpal si Dewa.

"Tu.. yang penting jangan lupa maen disono, pasti ceweknya enak-enak!" Nathan ikut menyahut tanpa memperlihatkan wajahnya.

Restu mendengus. "Enak, mbok pikir bakpau opo!"

"Lohhh, kan emang mereka punya bakpau!" seru Dewa sambil terkekeh.

"Cah Setress!" Restu menggelengkan kepala, malas menanggapi ocehan mereka.

Di tengah obrolan itu, topik tiba-tiba berubah.

"Eh Tu, sorry ye... Ayu udah gue embat! Lu tunangan sama Carissa aja ya, si wanita songong itu!"ujar Rio.

Restu menaikkan sebelah alisnya. "Serah lu yo. Gue aja gak suka dua-duanya."

Sejenak ia menghembuskan napasnya. "Lagian, gue juga udah ketemu sama wanita gue..."

Ketiga sahabatnya sontak ternganga. Mereka serentak memfokuskan perhatian ke layar menatap Restu. "SI-A-PA?!" teriak ketiganya.

Tanpa banyak kata, Restu memutar kameranya, menyorot Qiana yang tertidur pulas di ranjangnya.

"Jangan bilang itu Mbak jalang elu lima tahun lalu, Tu?!" teriak Dewa tak percaya.

Restu melotot, darahnya langsung mendidih mendengar sahabatnya menyebut Qiana seperti itu.

Tak mau suaranya terdengar oleh Qiana, Restu segera beranjak ke balkon.

...ΩΩΩΩΩΩΩ...

Wahhh, Nyari perkara si Dewa nih? 😆

1
Filan
Restu, ga yakin nih si Nadine ga ganggu lagi.
Filan
terlalu penasaran atau obsesi
Filan
Dia udah kesambet sih ya...
Miu.Nuha
masa lalu gk usah dibuka lagi...
Miu.Nuha
ber oh ria /Facepalm/
oh ah oh eh oh uh...
Miu.Nuha
akal2an Oma 😅
Miu.Nuha
ih kenapa pula ini Oma 🤭
apa oma kecewa Restu gk nikah2, hehe...
Miu.Nuha
hahaha ngelawak mulu neneknya 😭😭
Miu.Nuha
hilih, giliran nama cucuny aja gk mau nyebut, lupa apa niat ngelupa lagi nih 😫
Miu.Nuha
apa itu mendiang suami 🤔
Miu.Nuha
Omamu tau2 ketemu sama qiana, Res...
entah apa yg terjadi sama Oma, malah jadi akting jadi nenek pikun 😭
Miu.Nuha
mahal pak beli susu 😭😆
Miu.Nuha
mungkn saatny pk restu tampil 👍
gk mau kalah sama Angga
Miu.Nuha
calon istriku sholihah bngt, batin restu ❤
Miu.Nuha
stalker cucunya donk 😆😆😆
Miu.Nuha
takut ketauaann 😭
astagaa... bestiemu msh setia bngt Res smpe inget sama gadis yg bikin kamu gk bisa mupon...
Miu.Nuha
siap2 jadi Angga terus kamu Res kalo smpe nikah sama Qiana 😆😆
Miu.Nuha
untung bisa boong
Mingyu gf😘
heh justru itu bagus, karena se*s bebas sarang penykit
Mega Siregar
janganlah dipaksa...
jika buru2 tanpa mengenal baik pasangan yang ada hanya menimbulkan ketidakbahagiaan dalam rumah tangga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!