Cinta pertama, semua orang pasti pernah merasakan, itulah yang di rasakan Briana gadis cantik yang baru saja menginjakkan kakinya di sekolah menengah atas atau SMA.
Briana dia mengagumi kakak kelasnya yang merupakan ketua team basket, hanya saja sampai si pria lulus sekolah Briana tidak pernah mengungkapkan perasannya dia hanya menyimpan rasa suka itu di hatinya.
Hari-hari di sekolah Briana lewati dengan santai walau permasalahan mulai muncul namun dia tidak pernah ambil pusing.
Tiga tahun sudah dia sekolah disana dan saat masuk universitas Briana di pertemukan lagi dengan sang pujaan hati.
Apakah Briana mengambil kesempatan ini untuk mendekati sang pujaan hati?....
Yu baca kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dwi menghajar Soni.
"Bawa apaan tuh? " tanya bang Brian yang baru turun dari kamarnya.
"Gak tau apa isinya, " jawab ku sambil terus berjalan ke dapur.
Bang Brian ngikuti aku dari belakang.
"Siapa yang ngasih? " tanya nya lagi sambil terus ngikuti aku.
"Dari nyokap nya Dwi, " jawab ku lalu menaruh dus yang aku bawa.
"Apa ini dek? " tanya mama yang menghampiri aku.
"Dari mamanya Dwi, " jawab ku dan bang Brian sedang membuka dus itu.
"Wah kue mah, " beritahu bang Brian.
Mama pun segera melihat isinya dan mengeluarkan isinya dan benar saja isinya kue.
"Ini bukannya kue yang dari toko di simpang jalan sana ya bang? " tanya mama sama bang Brian.
"Iya ma, itu kan toko kue terkenal dan mahal karena yang belinya orang kaya semua, " jawab bang Brian.
"Ya mamanya Dwi kan pemilik toko kue itu, " beritahu ku membuat mama kaget.
"Serius dek? " tanya mama tidak percaya.
"Serius dong ma, ngapain bohong. Aku mandi dulu ah gerah ni, " ucap ku pamit pergi ke kamar lagi.
Makan malam hari ini terasa berbeda karena di kelurga ku kedatangan penghuni baru yaitu istrinya bang Brian. Bahkan keluarga kak Kanaya juga hadir karena mereka ingin bertemu dengan istrinya bang Brian. Selesai makan semua orang kumpul di ruang kelurga hanya aku yang gak ikut gabung karena ada tugas yang harus aku selesaikan.
"Ri, " panggil bang Brian yang nongol dari pintu.
"Apa bang? " tanya ku.
"Abang boleh masuk? " tanya nya.
"Dih biasa juga main masuk aja, " ucap ku dan bang Brian pun masuk dan pintu gak di tutup.
"Ada apa? " tanya ku setelah bang Brian duduk di tempat tidur dan aku membalikan posisi duduk ku menghadap bang Brian.
"Abang minta tolong sama kamu buat ajak bicara Zahra buat jelasin silsilah kelurga bang Indra, " pinta bang Brian pada ku.
"Kenapa gak abang aja? " tanya ku.
"Aku sama dia masih cuek-cuekkan karena kami gak kenal juga, " jawab bang Brian membuat aku geleng kepala.
"Aku juga gak kenal bang, kenapa gak nyuruh mama aja sih, " balas ku.
"Mama malah ngomel dan nyuruh abang buat ajak bicara agar aku sama di dekat katanya, " beritahu bang Brian.
"Ya bener kata mama, " ujar ku.
"Udah kamu aja tar abang kasih duit deh, " rayunya dan aku pun setuju toh imbalannya duit.
Aku pun akhirnya keluar dan langsung hampiri istrinya Brian yang sedang berada di teras atas karena sepertinya sedang mencoba menidurkan anaknya.
"Kak, " panggil ku dan dia langsung berbalik dan tersenyum.
"Ada yang ingin aku bicarakan, " ucapku memberitahunya.
"Silahkan, " jawab nya dan aku pun duduk begitu pun dia.
Aku pun mulai bicara menjelaskan semuanya tentang kak Kananya dan bang Indra dan dia pun mengerti karena mama pernah cerita.
"Dek, em aku boleh minta sesuatu atau pinjam gitu, " ucapnya setelah selesai membicarakan bang Indra.
"Apa kak? " tanya ku.
"Pinjem pembalut boleh? " tanya nya dan aku tersenyum.
"Kirain apa sih kak, kalau cuman itu gak usah pinjem tar aku kasih lagian stok ku banyak kok, " jawab ku dan dia tersenyum.
"Bentar aku ambilkan dulu ya kak, " ucap ku lalu beranjak dan pergi ke kamar ku.
Aku pun keluar lagi dan bertemu dengan bang Brian.
"Kamu bawa apa? " tanya nya.
"Ini, " sambil menunjukan pembalut.
"Mau di bawa kemana? " tanya nya.
"Kak Zahra minta, dia belum sempat beli. Makanya abang kasih duit buat belanja, " jawab ku dan langsung pergi menemui istrinya bang Brian.
"Ini kak, " ucap ku sambil memberikannya.
"Makasih ya, nanti aku ganti, " balasnya.
"Gak usah pakai aja, " ucap ku.
"Udah tidur tuh kak, " ujar ku saat melihat anaknya.
"Iya ni, mau aku tidurkan dulu di tempat tidur, " balasnya.
Namun tiba-tiba bang Brian datang dan dia langsung mengambil alih anak itu dan membawanya masuk ke kamar.
"Gimana rasanya nikah sama orang yang gak kita kenal, " gumam ku.
Aku pun masuk kamar dan langsung tidur karena besok aku harus sekolah. Paginya setelah siap aku turun hendak sarapan namun aku di buat kaget saat melihat istrinya bang Brian ada di dapur dan dia yang menyiapkan semua sarapan.
"Ngapain bengong? " tanya mama pada ku.
"Tumben jam segini semua sarapan sudah beres, " jawab ku.
"Kakak mu tuh yang siapin, mama juga kaget, " ucap mama sambil tersenyum.
Istrinya kak Brian hendak pergi setelah menyiapkan semua sarapan.
"Kamu mau kemana? " tanya mama.
"Mau lihat Rian ma, takut bangun, " jawabnya.
"Udah kamu sarapan dulu aja, lagian ada Brian di kamar masa anaknya nangis gak denger, " ucap mama dan Zahra pun ikut sarapan bareng kami.
Setelah sarapan aku pun berangkat bareng papa dan hari ini aku datang lebih awal karena biasnya selalu mepet ke jam masuk. Aku berjalan di potong sekolah namun aku merasa aneh dengan tatapan murid-murid lain melihat ku. Aku pun terus berjalan dan tibanya di kelas aku di buat kaget dengan tulisan di papan tulis.
"Briana cewek gampangan, piala bergilir, "
Aku hendak mengambil penghapus namun keburu di ambil oleh Soni dan aku kaget. April dia langsung menarik tangan ku dan meminta ku duduk.
"Lo baik-baik aja kan? " tanya nya dan aku tersenyum lalu mengangguk.
"Ri, gue pastikan cari tau siapa orang yang udah ngatain lo, "ucap Zahara dengan kesal.
" Gak usah Ra, biarin aja, "balas ku sambil tersenyum.
" Tapi..., "hendak menolak.
" Gak apa-apa Ra, nanti juga berhenti sendiri, "ucap ku menenangkan Zahara.
" Harusnya disini aku yang marah dan kesal namun aku gak mau buat keributan apa lagi posisi ku disini merupakan adik dari pemilik sekolah.
Jam pelajaran pun di mulai dan aku mengikutinya dengan fokus dan tidak memikirkan apa-apa. Jam istirahat pun tiba dan saat hendak ke kantin aku mendengar ada keributan, saat dilihat ternyata itu Dwi yang sedang menghajar Soni.
"Dwi hentikan, " teriak ku dan Dwi pun langsung berhenti.
"Lo ngapain pukul dia? " tanya ku dengan raut wajah marah.
"Gara-gara dia lo di kata-katain sama anak-anak, " jawab Dwi.
"Terus dengan lo lakukan itu semua itu akan selesai gitu?, enggak Wi, yang ada malah tambah gosip lain dan mungkin sebentar lagi akan ada gosip kalau gue di perebutkan dua cowok, " ucap ku dan kali ini air mata ku gak bisa aku tahan lagi.
"Ri, " Zahara mendekati aku.
"Gue gak apa-apa, " ucap ku.
"Biarkan gue sendiri, " lanjut ku lalu pergi dari kantin dan mencari tempat yang sedikit sepi.