"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"
Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum pagi
CAPTER 23
SEBELUM PAGI
Sore sudah datang, Lusi pun menunggu
kedatangan Angga. Ia duduk di kursi dekat dinding kaca di kamar. Sengaja tirai ia buka lebih lebar dari biasanya, pandangannya menatap jauh keluar. Agar tak bosan menunggu ia keluar lagi dari kamar, sekedar membuat minuman teh herbal yang dianjurkan dokter. Juga menghargai apa yang sudah dilakukan oleh Angga padanya.
Untuk menemani secangkir teh Lusi juga
membawa kue kering, ia letakkan di meja bundar dekat dinding kaca. Senja
semakin jingga warnanya tapi tak ada tanda-tanda kemunculan Angga dari luar
kamar. Bahkan hingga secangkir teh itu habis tak tersisa Anggabelum juga datang, chat pun tak ada.
Bola mata Lusi melirik jam tangan, hatinya yang sudah diajarkan bersabar dan tenang retak kini. Serasa teriris sembilu kala ia beranjak bangun, mengambil cangkir teh dan piring kecil. Langkahnya tak bersemangat kala berjalan ke dapur, ditaruhnya dua benda itu ke tempat cucian kemudian memutar kran air; Lusi mencucinya.
"Kok nggak datang ya?! Apa dia masih di butik?!" guman Lusi, berbaik sangka.
Ia kini duduk di kursi seorang diri, agar
tak begitu sunyi ruangan apartemen itu ia menyalakan televisi. Berusaha menghibur diri dengan memutar program televisi yang menghibur, di awal cukup sulit baginya namun seiring dengan terusnya mengikuti program televisi akhirnya Lusi bisa terbawa suasana.
Menjelang magrib Angga sampai di rumah, ia tidak langsung mendatangi Lusi di apartemen melainkan pulang dulu untuk sekedar membersihkan diri sekaligus menunggu waktu sholat. Langkahnya agak pelan kala memasuki rumah, juga tidak bersuara langsung masuk ke kamar begitu saja. Di taruhnya tas ransel di meja sebelum ia keluar lagi dengan handuk yang diselempangkan ke pundak menuju kamar mandi.
"Kakak kapan pulangnya?!" seru Ira saat berpapasan dengan Angga yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Udah tadi," jawab Angga singkat.
"Kak!" seru Ira terpotong.
Ada ibu Gufro yang tiba-tiba muncul, kedua matanya menatap tajam Ira. Mengingatkan sekaligus memberi ancaman, mulut Ira terbungkam saat itu juga.
"Apa kok nggak jadi ngomong?!" timpal Angga.
"Hee ... Itu ... paketan data ku habis...." ucap Ira mencari alasan.
"Boros banget sih Kamu! Habis ini, kakak mau sholat dulu!" ujar Angga kemudian berlalu dari hadapan Ira.
Saat laki-laki itu sudah tak nampak lagi dan pintu kamar tertutup rapat, kaki ibu Gufro berjalan cepat mendatangi Ira yang masih berdiri di tempatnya. Ibu Gufro menarik pergelangan tangan Ira, menyeret putrinya itu memasuki dapur. Di sana ia memperingati Ira, mengancam juga.
"Iya Bu...." ucap Ira rendah.
"Awas kalo kamu cerita, jangan pancing kemarahan ibu!" imbuh ibu Gufro kemudian meninggalkan Ira sendirian di dapur.
"Kasihan Kakak...." guman Ira sambil menatap punggung ibu Gufro yang kian menjauh.
Di dalam kamar Angga sudah selesai dengan sholatnya, kini ia tengah berganti pakaian untuk mengunjungi Lusi. Perasaannya tak enak, ia yakin Lusi pasti marah karena ia tak langsung ke sana.
"Ibu, aku keluar dulu!" pamit Angga.
Mendengar suara kakaknya Ira keluar dari kamar, "Kakak!" panggil Ira,tak tenang hati dan pikirannya melihat sang kakak.
Kembali ibu Gufro melotot tapi Ira
mengabaikan, ia berjalan menghampiri Angga yang menoleh ke arahnya. Teringat soal yang tadi, Angga mengeluarkan dompet dari dalam tas kecil warna hitam. Menyerahkan selembar uang pada Ira yang mendekat.
"Nih! Jangan boros-boros! Kakakmu ini bukan orang tajir, harus kerja keras buat masa depan lebih baik!" ujar Angga setengah mengomel.
"Iya...." sahut Ira dengan nada rendah, menundukkan muka.
"Bu keluar dulu, Lusi ngajak ketemuan!" pamit Angga lagi.
"Oh iya ... Hati-hati di jalan, jangan malam-malam datangnya!" ujar ibu Gufro.
Segera Angga minggat dari dalam rumah, menjalankan motor secepatnya menuju apartemen Lusi. Tidak toleh-toleh apalagi singgah dulu, terus ia menjalankan motor dengan kecepatan sedikit diatas normal.
Langkah Angga tergesa-gesa memasuki lobi apartemen, tak sabar ingin segera tiba di lantai sebelas apartemen Lusi. Yakin jika pasti dirinya telah membuat Lusi marah.
"Semoga dia nggak ngambek," guman Angga saat jarinya menekan beberapa tombol angka sebelum menyelinap masuk.
Langkah kaki Angga pelan, bertambah pelan lagi saat terdengar suara televisi. Niat hati Angga ingin mengagetkan memaksa otaknya mencari cara agar tak membuat wanita itu menyadari kedatangannya.
Dengan mengendap-ngendap Angga berjalan merayap di samping dinding, berjalan ke belakang terus sebelum berbelok maju dari belakang kursi. Sayang, saat sudah berdiri di belakang kursi sadarlah ia jika Lusi tertidur.
Angga berjalan ke depan, duduk pelan di tepi kursi. Tangan kanannya menyentuh punggung tangan Lusi yang bergelantungan. Sontak Lusi terbangun, masih belum tersadar sepenuhnya saat wanita itu menggeliat. Menarik tubuhnya yang terbaring kemudian bersandar ke kursi.
"Kenapa baru datang?!" tanya Lusi saat jelas pandangannya.
"Maaf aku tadi balik dulu ke rumah, sekalian ganti baju!" jawab Angga.
Lusi tidak bersuara, lagi ia membetulkan
posisi hingga duduk bersila di atas kursi dan masih bersandar pula. Sadar jika
kini wanitanya merajuk Angga menggeser posisi duduknya yang tadi masih berjarak; mendekat hingga tak ada celah. Tangan kanannya mendarat ke pundak Lusi kemudian menariknya ke pangkuan.
"Mau keluar nggak?!" seru Angga merayu.
Lusi menghela nafas, tidak menjawab hanya menatap kosong ke depan. Kembali Angga bersuara, "Ayo keluar, sana sholat terus siap-siap! Aku tunggu di sini!" perintahnya lalu bangkit dari kursi, menarik tangan Lusi agar ikut bangkit.
Dengan malas Lusi bangun juga, berjalan tanpa suara ke kamar meninggalkan Angga yang berada di sana memperhatikan dirinya dari belakang.
"Gampang banget ngambeknya," guman Angga sebelum duduk lagi, berganti tempat.
Kira-kira setengah jam lamanya Lusi muncul dengan dandanan cantik, menggoda mata Angga untuk tidak menatapnya lama. Laki-laki itu bangkit, kakinya berjalan dengan sendirinya tanpa bisikan. Senyum Angga terjalin cerah saat berada di hadapan Lusi, menarik wanita itu.
"Kenapa dandan secantik ini?!" tanya Angga, terpana.
"Itu karena aku ingin terlihat cantik," jawab Lusi.
"Di kencan terakhir kita," lanjutnya dalam hati.
"Mari Nona Cantik, kemana kah ini?!" seru Angga memberikan lengannya.
Lusi meraih lengan itu, melingkar ketat agar tak terlepas. Berdua mereka meninggalkan apartemen dengan berkendara motor. Sepanjang jalan Lusi melingkarkan pelukan, merasakan aroma laki-laki itu, juga kehangatan tubuhnya.
"Kemana ini?!" tanya Angga lagi.
"Mari kita ke kafe waktu kita ketemu malam itu!" jawab Lusi, entah kenapa ia
tiba-tiba teringat dengan malam pertemuan kedua mereka dimana Angga langsung didapuk menjadi pacar.
"Oh tempat yang kamu ngaku-ngaku jadi pacarku itu?!" tegas Angga.
"Hello! Kapan aku ngaku-ngaku?!" seru Lusi, Angga tertawa.
"Iya aku yang ngaku jadi pacarmu," sahutnya kemudian mengalah.
Tiba di depan kafe, lekas keduanya turun
dari motor. Masih dengan menggandeng lengan Angga mereka berdua masuk. Agar suasana tak terganggu Lusi mengambil ruangan di dalam yang lebih privat.
"Kenapa kita harus ngumpet?!" seru Angga.
"Biar bisa berduaan saja! Malas aku rame-rame entar terganggu!" sahut Lusi.
“Emm … sepertinya ada udang dibalik rempeyek nih?!” celoteh Angga, Lusi hanya melempar senyum.
Seorang pelayan datang untuk menyerahkan daftar menu setelah menyapa keduanya dengan ramah, Lusi tidak mengambilnya. Sebaliknya ia meminta pendapat pelayan itu.
"Apa yang cocok buat kencan seperti ini?! maksud saya yang biasa dipesan pasangan yang berkunjung ke sini?!" tanyanya meminta pendapat.
"Ohh!" seru pelayan itu, membuka buku daftar menu dan menunjukkan dua buah menu yang paling banyak di pesan.
Lusi menyetujuinya, ia memesan spicy satu untuk Angga dan yang tidak pedas untuk dirinya sendiri. Pelayan itu segera
meninggalkan tempat setelah mencatatnya, tinggal Lusi dan Angga di dalam kini.
"Habis dari sini jangan langsung balik ya?!" seru Lusi.
"Emm ... Emang masih mau kemana lagi?!" ujar Angga.
Lusi mencondongkan tubuhnya, berucap rendah di dekat telinga Angga. "Habis dari sini dulu kita kemana?!" goda Lusi.
"Dari sini?! Perasaan aku langsung bawa Kamu balik ke apartemen!" Angga balik
menggoda.
"Masak sih?! Bukannya kita ke suatu tempat dulu terus Kamu nyenggol kopi panas?!" sahut Lusi, mengingat kembali awal dimulainya hubungan mereka.
Senyum tersungging di bibir Angga, ia tidak menjawab tapi malah mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempang warna hitam. Menyalakan layar kemudian jarinya membuka kamera ponsel. Lusi yang masih
mencondongkan tubuhnya ditarik tiba-tiba ke pelukan kemudian mengangkat tangan ke depan layar agar timer berjalan.
"Satu dua!" seru Angga menghitung. Kemudian, cepat dan singkat ia mendaratkan kecupan di pipi Lusi.
"Aku mencintaimu," ucap Angga rendah manakala sudah terlepas. Seketika itu
hatinya berdesir, terasa menyayat. Antara bahagia sekaligus sedih.
“Terimakasih, aku juga mencintaimu,” balas Lusi rendah pula. Menundukkan mukanya yang mungkin memerah, menekan gejolak hati.
“Ehh … kenapa ini?!” seru Angga saat menyadari Lusi yang tertunduk. Tangannya segera menaruh ponsel di meja kemudian mendarat di pipi Lusi. Menuntun wanita itu mengangkat kembali mukanya.
“Aku mencintaimu,” kata Lusi, memandang sekilas wajah Angga yang menatapnya.
“Jangan melo gini, aku nggak suka!” ucap Angga kemudian menghibur Lusi agar senyum kembali terlihat.
Tak begitu lama setelahnya pelayan datang membawa menu yang dipesan oleh mereka tadi. Dua pasta spaghetti bolognese dan dua silky puding dari strawberry serta minuman.
“Terimakasih!” ucap Lusi sebelum pelayan itu berlalu.
Mereka berdua menyantap makan malam mereka dengan hangat, Lusi memberikan perhatian lebih bahkan memanjakan Angga.
"Aku bisa makan sendiri," seru Angga.
"Aku tahu, tapi aku pengen ngelakuinnya!" sahut Lusi.
Angga tidak protes lagi, bersikap patuh dan menerima perhatian ekstra dari Lusi. Hingga akhir Lusi tetap memperlakukan Angga penuh perhatian, syukurlah hanya mereka berdua di ruangan itu. Kalau berada di luar pastilah mereka akan jadi tontonan bagi pengunjung lain.
“Apa ini alasannya milih yang privat?” tanya Angga setelah semua terisi ke perut.
“Ya, aku ingin memanjakan mu karena telah merawat aku dengan tulus,” jawab Lusi.
“Kalo gitu rawatlah aku hingga aku tua, hingga habis waktuku!” kata Angga
membalasnya.
Lusi tidak menjawab, hanya tersenyum sebelum tangan kanannya menarik tisu kemudian membersihkan mulut Angga.
Belum cukup itu saja perhatian yang didapat oleh Angga. Lusi bahkan tidak mengijinkan Angga membayar makan malam mereka. Meminta laki-laki itu menikmati saja dan tidak boleh memprotes.
“Meskipun aku nggak bisa memberikan hadiah seperti taj mahal buatmu, setidaknya biarkan aku yang bayar makan malam kita!” ujar Angga.
Jari telunjuk Lusi mendarat di bibir Angga, meminta laki-laki itu tidak protes terus dan terus. Kemudian, ia menyerahkan sebuah kartu pada pelayan kafe untuk membayar.
“Mari menuju kencan kedua kita!” seru Lusi, menarik tangan Angga.
Dari kafe mereka berdua menuju taman dimana Angga pernah mengajak Lusi ke sana. Mereka tidak memesan apa-apa hanya duduk di pinggir sungai, diatas rumput hijau malam itu. Angga menjatuhkan punggungnya ke rumput, ditopang oleh kedua tangannya sebagai penyanggah kepala. Lusi tersenyum, melirik ke Angga yang rebahan. Wanita itu mengikuti jejaknya, menjatuhkan diri di samping Angga. Spontan tangan kiri Angga terangkat, menyelinap ke bawah kepala Lusi untuk memberikan tumpangan. Pandangan mereka
terarah pada jembatan dengan lampu warna-warni yang membuatnya nampak cantik.
"Kok nggak ada bintang ya?!" seru Lusi, mengalihkan tatapannya ke atas.
"Itu karena bintangnya nggak pede sama Kamu!" sahut Angga menggoda Lusi.
Sontak Lusi menoleh, memandang Angga dengan menyipitkan matanya. Angga melirik, tangan kanannya mengusap muka Lusi agar ia berhenti menatap demikian. Lusi berkeras diri, tetap ia memandang lekat Angga. Nyali Angga menciut, ia tersipu malu dan mengalihkan muka ke depan. Membiarkan Lusi menatapnya hingga puas.
"Sudah puas apa belum?!" ucap Angga.
Bukannya menjawab Lusi malah mendaratkan ciuman ke pipi laki-laki itu, ciuaman hangat dan tak singkat. Namun saat ia hendak menarik bibirnya Angga malah menarik Lusi ke dekapan. Keduanya terdiam, saling menatap satu sama lain. Senyum Lusi terjalin meski tipis, ia bergerak melepaskan diri namun Angga yang mengerti malah cepat-cepat mendaratkan kecupan di kening Lusi.
“Apa Kamu nggak kedinginan lama-lama disini?” kata Angga bertanya, ia mulai merasa dingin.
“Nggak, karena kamu penghangatku!” balas Lusi.
"Ayo balik, udah malam! Kamu nggak kedinginan aku yang menggigil!" ucapnya.
Masih malas sebenarnya namun Lusi menuruti, ia segera bangkit menyusul Angga yang lebih dulu bangun. Melangkah mereka menuju motor yang terparkir, Angga menyerahkan helm.
Malam belum begitu sunyi saat Angga memutuskan balik, ia juga berkendara dengan santai menikmati susana jalan yang masih ramai padat. Lusi minim suara tidak seperti sewaktu berangkat, Angga bahkan mempertanyakan diamnya tersebut.
"Kok cuma diam?!" tanya Angga, sikunya juga menyenggol Lusi.
"Ah nggak apa-apa," jawab Lusi, kemudian memeluk Angga.
“Jangan bilang kamu mulai ngantuk ya?!” goda Angga namun tak dibalas.
Diamnya Lusi terus berlanjut hingga sampai di depan lobi apartemen, Angga menghentikan motornya tepat di sana.
“Ayo turun Nona!” kata Angga menyuruh.
Lusi turun namun tidak melepas helm yang ia pakai, Angga menyodorkan tangan kirinya.
"Loh helmnya nggak mau dilepas?!" seru Angga.
"Oh iya!" ujar Lusi, melepaskan helm lalu menyerahkan pada Angga.
"Loh Kamu nggak mau naik ke atas?” tanya Lusi.
“Aku langsung balik ya, Sayang!” jawab Angga.
“Nggak bisakah nginap di sini?!" seru Lusi setengah memohon.
Angganmenyeringai sebelum memberi jawaban, "Kamu ini, entar aku dimarahi sama ibu gara-gara nginap di rumah cewek yang sendirian! Udah sana naik!."
Lusi tidak mengindahkan, ia masih tetap membujuk Angga agar bersedia menginap namun Angga juga kekeh menolak.
"Ayolah nginap, malam ini aja…." pinta Lusi memohon.
"Aku pengen tahu gimana rasanya ngurus Kamu di pagi hari...." lanjut Lusi.
"Sayang, nanti kalo kita sudah menikah tiap hari Kamu pasti disibukkan sama aku!" ujar Angga menimpalinya.
"Ayo sana naik!" suruh Angga.
Lusi tidak memohon lagi, mulutnya tertutup kala berbalik badan dab melangkah pergi. Tidak ada ucapan selamat malam ataunapalah itu dari mulutnya namun saat ia hendak melewati pintu kaca Lusi menoleh
ke belakang. Sebuah senyuman ia hadiahkan pada Angga kemudian kembali memalingkan muka, tidak menunggu balasan.
"Itu cewek, belum juga dibalas," guma Angga sebelum memutar balik motor.
Di lantai sebelas apartemen Lusi melangkah gontai memasuki kamar, tas ia letakkan di meja rias. Duduklah ia di sana menatap dirinya sendiri dalam beberapa saat lamanya. Meratapi apa semua yang terjadi, memikirkan bagiaman ia menjalani hari-harinya besok. Tiba-tiba Lusi tersenyum ke cermin sementara batinnya berucap.
"Tersenyum itu nggak sulit, asal dicoba!."
Kemudian, ia bangkit dari sana menuju tempat tidur. Apa yang tergeletak di atas kasur ia raih, dikeluarkan satu-satu apa yang tadi ia beli. Hayalannya ingin
menyiapkan sarapan untuk Angga esok pagi, menyiapkan baju buat kerja, kandas tinggal hayalan belaka.
Teringat dengan kotak hadiah yang tidak
terpakai di lemari lekas Lusi mengambilanya, memasukkan setelan baju, ikat pinggang serta sepatu kemudian ia menaruh kotak hadiah itu di tas meja rias. Tidak tahu apa yang akan ia perbuat dengan itu.
Berikutnya yang ia lakukan tak lain
mengeluarkan koper, mengemasi beberapa setel baju yang ia bawa dan lainnya. Selesai berkemas Lusi menghubungi jasa pembersihan apartemen. Ia juga memesan kain debu untuk menutupi perabotan agar tidak kotor karena ia tidak tahu kapan ia akan kembali. Atau mungkin ia tidak akan pernah kembali, atau mungkin juga
ia akan menjual apartemen itu nanti.
"Bisakah datangnya pagi, jam enam soalnya penerbangan saya jam sembilan?!" ucap Lusi.
"Bisa Nona!" jawab petugas.
Semua urusan sudah selesai termasuk memesan tiket untuk penerbangan besok pagi, Lusi berjalan ke kamar mandi. Ia memutuskan untuk berendam, menyegarkan tubuh serta pikirannya yang sedang kacau.
"Rasanya malam ini malam paling sunyi," gumannya.
- - -
Di waktu yang sama dari tadi setelah makan malam Hanis terus berusaha mencari kesempatan untuk bicara dengan Ilyas namun itu tidak mudah. Ilyas yang sepertinya sedang banyak kerjaan mengurung diri di kamar fokus menatap layar laptop.
"Loh kok nontonnya sendirian?!" ujar Hanis yang tadi memutuskan untuk keluar dari kamar. Siapa tahu Ilyas akan keluar dan duduk di ruang keluarga
menghabiskan waktu santai mereka sebelum tidur. Tapi ternyata hanya Andik
seorang di kursi menatap layar televisi.
"Gimana nggak sendirian lawong kamu nggak mau nemani aku nonton!" jawab Andik menyindir.
Sambil manyun-manyun Hanis berjalan mendatangi laki-laki itu, duduklah ia di satu kursi dengan Andik tapi sedikit menjaga jarak. Pantang baginya untuk duduk lengket sebelum laki-laki itu menyatakan perasaannya dan membuat hubungan mereka jelas, memiliki nama.
Andik melirik, sebenarnya ia ingin menarik Hanis ke dekapan tapi ia masih cukup sadar dimana mereka berada. Setidaknya ia tidak ingin dilihat oleh Naura, masih cukup besar rasa malu yang ia miliki meski Naura sendiri tidak akan memprotes mungkin.
"Filmnya nggak seru! Ganti yang lain!" kata Hanis mulai berulah hanya memancing perhatian Andik semata.
"Film bagus kayak gini dibilang nggak seru?! Terus yang seru itu yang kayak
apa?!" sahut Andik, tidak sependapat.
Tangan Hanis cepat-cepat menyambar remot yang tergeletak di dekat paha Andik sebelum laki-laki itu mengamankannya. Spontan Andik bertindak, namun ia kalah cepat lantaran tidak menyangka Hanis
akan merampasnya.
"Ini nih baru seru!" ujar Hanis setelah mengganti saluran. Menonton drama
percintaan yang banyak digemari kaum hawa, kedua tangannya kuat mencengkram remot khawatir diambil oleh Andik.
Benar juga tangan kiri laki-laki itu
bergerak, hendak mengambil alih remot tapi sayangnya Hanis waspada
mempertahankan. Ia bahkan bergeser hingga tepi kursi, menyelipkan remot antara pahanya dan tepi kursi. Kemudian, ia menarik kedua kaki ke atas, duduk bersila menatap layar televisi.
"Hedeh yang ngebosenin kayak gini dibilang seru?! Dasar cewek percintaan terus minatnya! Giliran yang di tv nangis ikutan nangis!" ujar Andik meledek Hanis.
"Terserah kita dong?! Nangis ya pakai air mata sendiri nggak pinjam punya dirimu!" sahut Hanis membalas.
"Ganti! Yang nonton duluan kan aku!" kata Andik tidak rendah suaranya.
"Nggak!" jawab Hanis singkat.
"Hanis! Ini anak bikin emosi aja kerjaannya!" ujar Andik bertambah dongkol.
"Sini mana remotnya?!" imbuhnya menyodorkan tangan kiri ke hadapan Hanis namun wanita itu kekeh mengabaikan.
Tidak bisa diminta secara baik-baik Andik yang tidak ingin kalah bergerak mendekat, tangan kirinya tak takut bergerak ke paha Hanis hendak mengambil remot yang disembunyikan. Hanis yang memang hobinya
memancing amarah tidak tinggal diam sehingga pergulatan tidak bisa dihindari.
Namun akhir dari pergulatan itu Hanis menyerahkan remot televisi kemudian
meninggalkan Andik. Kembali ia memasuki kamar, tidak menoleh ke belakang lagi.
"Gitu aja ngambek," guman Andik.
Di dalam sana Hanis menjatuhkan diri di
kasur, ponsel yang tergeletak ia ambil. Merasa bosan tidak ada yang bisa
dilakukan setelah tugas kampus kelar semuanya akhirnya Hanis bermain game. Namun sebelum itu ia mengirim chat ke Ilyas, sekedar menyapa saja.
Film yang ditonton Andik sudah usai,
laki-laki itu segera mematikan televisi kemudian ke kamar mandi terlebih dulu
sebelum masuk kamar untuk istirahat.
Melihat Ilyas yang sudah leya-leya di atas kasur cepat langkah kaki Andik menaiki kasur, rebahan di samping Ilyas yang fokus pada layar ponsel sementara jemarinya tak hentik menari, berbalas chat.
Suara notifikasi yang terdengar seperti
suara klakson mengusik konsentrasi Andik bermain game. Bola matanya melirik sembari bergeser agak mendekat, ingin tahu ia. Sayangnya tidak dapat apa-apa lantaran sangking dekatnya ponsel yang dipegang oleh Ilyas.
"Chatingan sama siapa ini anak?!" batin Andik penasaran.
Otaknya berputar memikirkan cara bagaimana bisa mengintip isi ponsel Ilyas. Bagai pucuk dicita ulam tiba, saat dadanya sudah dongkol putus asa Ilyas tiba-tiba turun dari kasur. Andik melirik, buka suara dia.
"Mau kemana?!" tanya Andik ingin tahu.
"Ke toilet!" jawab Ilyas singkat.
"Terakhir ke toilet kamu nongkrong di teras rumah, terus kalo sekarang?!" seru Andik menyindir.
Bukannya menjawab Ilyas menarik bantal, memukul paha Andik dengan bantal itu. Setelah melampiaskan kedongkolan Ilyas kabur segera dari kamar. Senyum Andik mengembang sempurna, lekas tangan itu
menyambar ponsel Ilyas yang digeletakkan begitu saja. Baru saja jarinya hendak menggulir layar, notifikasi masuk. Cukup kaget Andik manakala notifikasi itu ternyata datangnya dari sebuah nama, Indah.
"Indah?!" seru Andik.
Hanya selang sedetik saja mungkin dari chat Indah kini notifikasi lain masuk dan itu dari Hanis. Jantung Andik berdegup
kencang, tegang ia manakala nama Hanis muncul. Diletakkannya ponsel itu lagi, lemas dirinya memikirkan dua chat dari dua wanita yang ia kenal. Chat Indah tidak terpengaruh buatnya, malah ia turut senang mereka kembali bertemu. Tapi tidak dengan yang satunya, dada Andik perih teriris meski ia percaya pada Ilyas serta tida tahu apa isi chat tersebut.
"Kenapa anak itu chatingan sama Ilyas?!" gumannya. Indah sama sekali terbuang dari otanya.
Ilyas kembali ke kamar, ia tidak bersuara
langsung merangkak naik ke tempat tidur. Andik mencoba mencari jalan, ia
menyenggol lengan Ilyas membuat laki-laki itu menoleh.
"Apa?!" tanyanya.
"Hpmu itu dari tadi ting nang ting nung terus kayak bunyi klakson! Hayo dari siapa itu?!" pancing Andik.
"Ting nang ting nung?! Bahasa apa itu Dik?!" sahut Ilyas.
"Nggak usah mengalihkan! Aku tahu kalo kamu lagi jatuh cinta sekarang, buktinya itu hp bunyi terus dari tadi!" ujar Andik.
"Oh cuma gara-gara bunyi terus kamu simpulkan aku lagi jatuh cinta gitu?!"
sambung Ilyas enggan menjawab.
"Ya iyalah! Ponselmu selama ini kan sepi-sepi saja tapi beberapa hari terakhir tiap malam kamu sibuk sama hp! Ketemu dimana? Teman kantor?" cerca Andik menuntut.
"Apa sih Kamu?!" seru Ilyas, mendorong Andik agar tidak nempel padanya.
“Setidaknya kasih bocoran dikit sama sahabatmu ini!” pinta Andik.
“Lanjut itu main gamenya!” sahut Angga tak terpancing.
Akhirnya Andik menyerah juga, ia bergeser kembeli ke bantal yang ia tinggalkan. Waktu terus berjalan hingga malam semakin sunyi dan akhirnya Ilyas menidurkan ponsel yang tadi sibuk. Andik berbalik badan, tidur terlentang. Bola matanya melirik ke Ilyas yang membelakangi dirinya.
"Yas!" panggil Andik rendah.
"Emm...." gumannya kemudian berganti posisi. Sama-sama terlentang dan menatap langit-langit kamar.
"Kira-kira tahun ini kita sudah punya pasangan apa masih sendiri ya?!" seru Andik, entah itu memiliki maksud lain atau hanya sekedar bersuara saja lantaran tidak bisa tidur.
"Kenapa? Apa hatimu merasa kesepian?!" Ilyas balik bertanya.
"Entahlah, sepertinya begitu," ucap Andik, seketika teringat dengan Hanis. Bertambah merana hatinya, serasa haus cinta.
“Coba buka hatimu dan juga penglihatanmu, di luar sana kan banyak cewek!” sambung Ilyas menyarankan.
“Emang banyak tapi yang nyantol ke hati nggak ada!” sahut Andik.
“Masak sih, Dik? Emang nggak ada yang bikin hatimu tiba-tiba merana kesepian gitu pas teringat ke dia gitu?!” lanjut Ilyas.
Sedikit banyak batin Andik tersentak,
lagi-lagi bayangan wajah Hanis mengintai relung hati dan pikirannya. Andik terdiam sepersekian detik lamanya sebelum menoleh ke Ilyas.
“Emang kamu ketemu sama wanita yang bikin hatimu kayak gitu?!” ucapnya malah melempar balik ke Ilyas.
“Emm….” Sahut Ilyas memberikan jawaban mengambang namun itu jelas bagi Andik.
“Siapapun itu aku do’akan kalian berjodoh,” ucap Andik yang sebenarnya di hati mendo’akan keduanya.
“Amin!” batin Ilyas menjawabnya.
“Aku do’akan juga semoga Kamu menemukan tambatan hati,” kata Ilyas.
“Sepertinya aku sudah menemukan,” ujar Andik dalam hati.
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura