Julian begitu orang memanggilnya di sekolah dan Bos Ian menjadi nama panggillannya jika di luar sekolah. Manusia terburuk yang pernah Lyin kenal. Manusia yang punya hobby melayangkan tinjunya bagi siapapun yang dia anggap bersalah. Siapa sangka pertemuan singkat mereka menjadi awal benih cinta tumbuh di hatinya. Apakah Lyin akan lepas darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elfian Syera Nasution, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adegan Romantis Denganmu
Mentari senja hampir tenggelam sempurna, kelap-kelip cahaya lampu di kota terlihat jelas. Sawah yang hijau membentang luas sudah berubah menjadi hitam pekat sebab cahaya mentari yang redup.
Pandangan Lyin mulai gelap, sebab tempat mereka berdiri sekarang juga sudah hampir gelap sempurna.
" Kau tidak menjawabku" tanya Julian berharap balasan Lyin.
" Kupikir itu keadaan yang menyakitkan, dimana cuma satu pihak saja yang memiliki perasaan" jawab Lyin tidak setuju.
" Berarti kau berencana akan melihatku juga" Julian tersenyum tapi lagi-lagi senyumnya tidak terlihat oleh Lyin.
" Aku tidak berencana atau berjanji, aku cuma tidak setuju dengan permintaanmu"
" Aku akan selalu menunggu" ucap Julian tegas.
" Jangan ucapkan kata selalu, karna selalu itu tidak terbatas waktunya" ucap Lyin ragu.
" Kau benar, tapi aku tetap akan selalu menunggumu" Julian meyakinkan.
Lyin berjalan meninggalkan Julian yang masih berdiri, beberapa detik kemudian baru Julian menyusul Lyin dari belakang.
Tap.
Julian meraih tangan Lyin dari samping dan terus memegangnya sambil berjalan. Lyin tidak menolak sebab dia merasa dirinya butuh bantuan untuk tetap tegak berjalan di atas bebatuan. Sesekali darah Lyin berdesir menyadari tangan kekar Julian menggemgam tangannya jika dia melihat wajah Julian.
Julian menghidupkan sepeda motornya dan melaju dengan kecepatan sedang. Suasana hatinya begitu bahagia sekarang bagaimanapun baru kali ini dia menghabiskan waktu yang lama bersama Lyin, mungkin ini yang menjadi pertama atau terakhir kalinya, itu yang dia rasakan. Setiap waktu bersama Lyin adalah berharga.
...****************...
Lyin turun dari boncengan, setelah berpamitan pada Julian. Dia langsung menuju pintu dan masuk tanpa menoleh sedikitpun. Lyin menyentuh dadanya yang sedikit sesak akibat gugup. Lyin mengintip dari kaca jendela, melihat apakah Julian sudah pergi atau belum.
Sebuah tangan kecil meraih pundaknya dan membuat Lyin terkejut. Begitu berbalik mata Novia langsung memancarkan rasa bersalah dengan sedikit senyuman.
" Apa yang terjadi, aku kencan dengan dua orang sekaligus. Pagi dengan Kak Juna dan Sorenya dengan Kak Julian" ucap Novia tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan.
" Apa kau pikir aku orang seperti itu, lagi pula kami tidak kencan" jawab Lyin menjelaskan.
" Karena itu aku bertanya sekarang"
" Ada kejadian buruk yang terjadi dan Julian yang membantuku itu alasannya aku pulang bersamanya"
" Kau serius, apa yang terjadi? ada orang yang mengganggumu bersama Kak Juna" selidik Novia sambil menyeret Lyin duduk di kursi di ruang menonton.
" Bisa dibilang begitu, aku juga tidak sempat bicara pada Kak Juna bahwa kami harus mengakhiri hubungan bohongan kami" Lyin menghela napas panjang sebab kecewa dengan apa yang terjadi padanya.
" Jadi apa yang terjadi Lyin" Novia tidak sabar mendengar cerita dari Lyin.
" Kak Olivia tiba-tiba datang ke cafe tempat kami makan dan dia marah dan mengatakan aku perempuan genit karena Kak Juna"
" Kebetulan sekali Kak Olivia disana Lyin, pasti dia cemburu padamu. Bagaimanapun juga Kak Juna itu mantan pacarnya, pasti kau malu dilihat orang banyak. Kasihan" ucap Novia prihatin dengan keadaan Lyin.
" Bukan cuma itu Nov, Kak Julian dan Kak bunga juga makan di tempat yang sama dengan kami, satu meja pula" tambah Lyin.
" Apa! ini lebih dari sinetron FTV yang sering kutonton Lyin" ucap Novia sambil cengengesan menatap Lyin.
" Tapi itulah kenyataannya Lyin"
" Dari ceritamu artinya Kak Julian menolongmu dan pembawamu pergi dan artinya juga kau seharian bersamanya" Novia semakin tidak percaya dengan tebakannya.
" Itu benar"
" Seharian" ucap Novia lagi meyakinkan.
" Iya, seharian"
Novia semakin tersenyum cengengesan melihat Lyin. Novia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Lyin. Lyin berdiri tidak kuat melihat Novia yang lagi terlena dengan asumsinya sendiri. Lyin tahu betul yang dipikirkan Novia tentang dirinya.
" Aku mandi dulu dan langsung tidur. Selamat malam" ujar Lyin.
" Selamat malam nyonya Julian" balas Novia sambil berlari ke kamarnya sebab dia tahu Lyin pasti kesal setengah mati padanya.
...****************...
Pagi ini awan begitu gelap, bahkan tetesan air hujan yang halus sudah berjatuhan, hawa dingin juga menusuk kulit bahkan sampai ke kulit. Lyin dan Novia berlari-lari kecil menuju sekolah dengan payung di tangan mereka masing-masing. Satu payung berwarna pink di tangan Lyin dan payung biru muda di tangan Novia.
Novia memerintahkan Lyin berhenti berlari saat pagar sekolah sudah terlihat. Lyin mengikuti perintah Novia tanpa penolakan. Lyin masuk ke dalam sekolah setelah Novia di depannya.
Julian yang datang dari belakang meraih payung Lyin dan berdiri disampingnya dengan senyum menatap Lyin. Lyin menatap sebentar lalu menunduk sebab sedikit malu.
" Payungku kecil tidak muat untuk dua orang" gerutu Lyin tidak suka.
" Bisa, asal satu orang lagi sekecil dirimu" ejek Julian.
Lyin kesal diejek kecil oleh Julian, Lyin mencoba meraih gagang payungnya dan tentu saja dia tidak bisa sebab kalah tinggi dari Julian. Julian semakin tersenyum menang.
" Tuhkan sudah kubilang kau kecil, kalau bisa ayo ambil ini" ejek Julian lagi sambil menjauhkan gagang payung ke atas.
" Aku bisa basah kalau begini, ini juga payung khusus satu orang" ucap Lyin minta pengertian Julian.
" Tapi mereka berdua bisa berjalan bersama di payung yang sama besarnya dengan milikmu" ucap Julian sambil menunjuk payung Novia.
" Novia? dengan siapa dia" ucap Lyin tidak percaya.
Lyin tidak bisa mengelak lagi dari Julian. Mereka berjalan di bawah payung yang sama di pagi gerimis yang romantis. Lyin tidak sengaja memandang bahu kanan Julian yang basah sebab payung lebih condong ke arahnya. Lyin sedikit tersanjung dengan sikap Julian.
" Untuk apa dia pakai payung jika akhirnya basah juga" ucap Lyin dalam hati.
Koridor sekolah terasa jauh karena langkah mereka yang pelan. Lyin tidak bisa berjalan cepat sebab ruangan di dalam payung sangat sempit untuk mereka berdua. Julian juga selalu menyamai langkah kecil Lyin.
" Kau tidak punya payung" tanya Lyin ragu.
" Tidak, aku juga tidak butuh. Aku juga bukan garam yang takut dengan air"
" Jadi kenapa kau harus pakai payung sekarang" ucap Lyin kesal sambil menatap Julian.
" Karna bersamamu, aku ingin melakukan hal-hal seperti ini denganmu" ucap Julian jujur, membuat detak jantung Lyin mulai tidak beraturan.
" Seperti apa" tanya Lyin tidak mengerti.
" Adegan romantis" ucap Julian membuat Lyin tidak percaya.
Lyin mengalihkan pandangannya dari Julian, berusaha berjalan lebih cepat agar segera berpisah dari Julian. Lyin takut suara detak jantungnya akan terdengar jika semakin lama disamping Julian.
Sampai di koridor Julian mengembalikan payungnya dan hendak perpisahan ke kelas masing-masing, tapi terhenti sebab Juna sedang ada di hadapan mereka sekarang. Julian menatap tidak suka begitu juga dengan Juna pada Julian.
" Aku ingin bicara denganmu" ucap Juna sambil menatap Lyin.
Bersambung....
Semoga suka ya, Jangan lupa like dan beri komentar terbaik kalian untuk menyemangati author serta vote jika bersedia.
Author sangat berterima kasih kepada pembaca yang sudah meninggalkan komentar serta like disetiap episode.
Salam hangat dari author.
Selamat membaca.
di cerita
Ten Years Later
dan
lyric of love
saling dukung terus thor