NovelToon NovelToon
My Beloved Bastard

My Beloved Bastard

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Perjodohan / Tamat
Popularitas:215.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Freya Kara Alaika

Melati, seorang gadis berumur 15 tahun yang menjalani hari-harinya sebagai anak homeschooling dan murid Starlight Bimbel. Hidup berdua bersama sang ayah tak membuatnya merasa kekurangan kasih sayang. Dia juga memiliki sahabat bernama Tita.

Suatu malam, Melati terpaksa harus mendatangi tempat terkutuk yang sering disebut club untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Melati bertemu seorang pria dewasa yang membuat hidupnya berubah drastis.

Rupanya, malam itu menjadi awal mula dari kejutan-kejutan yang menghampirinya di kemudian hari. Puncaknya adalah, saat Melati terpaksa bersedia menjadi calon istri dari seseorang yang ia beri julukan 'Om-om Bastard'.

Problema hidup yang dialami seorang Putri Ayla Melati tidak cukup sampai di sana. Begitu banyak rintangan yang terus-menerus mendatanginya.

Bagaimana kelanjutan cerita Melati? Siapa 'Om-om Bastard' ini sebenarnya? Cari tahu kisah lengkapnya di novel "My Beloved Bastard".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Kara Alaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Sudah pukul 08.09 waktu Bali, aku pun telah siap dengan kaos putih lengan panjang yang bertuliskan kata 'GIRL' di bagian punggung, make up tipis, dan rambut panjang bergelombang tergerai—yang ingin sekali kuikat membentuk buntut kuda. Namun, aku belum melihat tanda-tanda keberadaan Pak Glenn di mana pun.

Aku menatap pintu kamar Pak Glenn yang berhadapan langsung dengan kamarku sembari menebak-nebak, ketuk tidak? Jika aku mengetuk pintu, pasti si om-om bastard itu akan mengalami peningkatan kepercayaan diri yang berlebihan. Uh! Membayangkannya saja, membuat bulu kudukku merinding. Tapi, jika tidak, mau di sini sampai kapan? Come on! Ini adalah waktu yang tepat untuk menjelajahi Bali, siapapun akan merasa rugi jika waktu liburan hanya dihabiskan untuk tidur, bukan?

Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Baiklah! Demi waktu liburan yang tidak sia-sia, aku akan membangunkan Pak Glenn.

'Tok tok tok!'

Tiga ketukan, dan masih belum ada sahutan dari dalam.

"Kak ...." Kali ini, aku mengetuk pintu seraya memanggilnya. Namun, usaha masih belum membuahkan hasil.

"Kak ...."

"Kamu nyari aku?" Suara bariton dari arah belakang membuatku lantas memutar tubuh dengan sudut seratus delapan puluh derajat. Tentu saja dengan rasa terkejut yang pasti terlihat jelas.

"Ka-Kakak udah bangun?" Bodoh! Seharusnya, kamu tidak usah bersuara, Melati!

"Kamu nyari aku?"

"Ng ... nggak!"

Pak Glenn terkekeh. "Tadi aku jogging bentar."

Mendengar kata 'jogging', manik mataku lantas beralih mengamati pakaiannya. Kaos polos lengan pendek warna abu-abu, celana training biru dongker, dan handuk kecil warna putih yang melingkar di lehernya.

"Kamu mau ke mana?" tanyanya.

Aku mengedikkan kedua bahu. "Ngikut Kakak aja, di mana tempat yang bagus."

"Gitu?" tanyanya yang kujawab dengan anggukan. "Aku siap-siap bentar, ya?"

***

Aku masih belum tahu ke mana Pak Glenn akan membawaku. Namun, saat ini kami sedang berada di sebuah rumah makan yang jaraknya tak begitu jauh dari villa.

Di tengah-tengah aktivitasku malahap ayam panggang yang sedikit pedas, dua orang yang begitu familiar menghampiri meja kami.

"Gila, ya, lo!" seru pria bertopi hitam sambil menepuk keras bahu Pak Glenn.

"Tahu, nih! Bokapnya di rumah sakit malah kencan di sini!" sahut pria yang mengenakan kaos putih dengan panjang lengan seperdelapan.

Kejadian barusan membuatku benar-benar terkejut. Pertama, dua orang pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat Pak Glenn—Iqbal dan Zero. Kedua, soal 'bokap di rumah sakit' kata Iqbal tadi, itu ditujukan untuk Pak Glenn, 'kan?

Om Fero masuk rumah sakit?

Belum sempat aku menyuarakan pertanyaan itu, Pak Glenn menyeret kedua sahabat menjauh dariku. Ada apa sebenarnya? Penasaran, aku diam-diam membuntuti mereka. Beruntung, sebab posisi ketiga lalaki itu kini membelakangiku. Cukup, dari sini, aku bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas, kurasa.

"Lo ngapain di sini sama Melati, hah?!" Itu suara Zero.

"Liburan," jawab Pak Glenn, santai.

"Wah! Bener-bener nggak waras lo!" Kali ini, suara Iqbal yang terdengar.

"Jangan bilang, lo nggak tahu kalau bokap lo di rumah sakit."

"Gue tahu."

"Terus kenapa lo malah di sini?!"

"Emang kenapa?"

"Pakai nanya lagi lo!"

Jadi, benar?

"Melati pasti nggak tahu soal ini," lanjut Zero.

Sekarang aku tahu.

"Parah banget, sih, lo! Katanya calon istri, masih aja ditutup-tutupin." Ini aneh, Iqbal yang aku tahu kewarasan paling rendah di antara mereka, kini menceramahi Pak Glenn dengan nada yang sangat terdengar serius.

"Udahlah, kalian nggak usah ikut campur. Dan inget! Jangan ngomong macam-macam sama Melati. Kalau nggak, gue penggal pala lo berdua!"

Sepertinya, Pak Glenn akan segera kembali. Oleh karena itu, aku pun cepat-cepat kembali ke meja yang semula kami tempati. Oke. Kali ini seorang Putri Ayla Melati harus bisa akting! Harus!

"Hai, Melati, apa kabar?" sapa Zero sesaat setelah dia duduk di kursi samping kiri Pak Glenn.

"Baik, Kak," jawabku seadanya.

"Makin cantik aja, deh," celetuk Iqbal yang telah mengambil posisi di samping kananku.

'Plak!'

"Sadis amat, sih, lo, Glenn!" sungut Iqbal seraya mengusap-usap puncak kepalanya yang baru saja mendapat hantaman dari tangan Pak Glenn.

"Pindah!" tegas Pak Glenn, seraya menunjuk kursi di sebelah Zero menggunakan tatapan matanya.

"Ogah! Lo aja duduk sono. Gue mau deket Melati." Waw! Berani sekali si abang playboy yang satu ini.

'Plak!'

Sekali lagi pukulan telak yang Pak Glenn layangkan tepat mendarat di puncak kepala Iqbal, membuat lelaki bertopi hitam itu meringis kesakitan.

"Iya-iya! Jahat banget lo!" omel Iqbal seraya beranjak dari duduknya dan pindah ke samping Zero.

Tidak sampai di sana, Iqbal kembali berulah tak berapa lama kemudian.

"Melati, kamu tahu nggak perbedaan kamu sama bulan?"

Aku menggeleng.

"Kalau bulan bersinar di malam hari, kalau kamu bersinar di hatiku." Tidak, kalimat itu bukan terlontar dari mulut Iqbal, melainkan lelaki di sebelahku. "Basi tahu nggak?"

"Ye ... nggak seru lo, Glenn!" sungut Iqbal, tidak terima.

"Lho, kok, lo tahu Glenn?" sahut Zero. "Jangan-jangan lo sering gombalin cewek, ya?"

"Wah! Iya, nih! Apa predikat si playboy kelas kakap telah berpindah ke tangan Glennio Pangestu? Duh! Mau ditaruh mana martabat gue sebagai playboy terhormat?" Iqbal terus mendramatisir nada bicaranya.

Aku hanya bisa menahan senyum saat melihat tingkah mereka yang makin lama, makin absurd. Terutama Iqbal, dia seolah memiliki prinsip untuk terus membuat heboh suasana di sekitarnya. Sementara itu, pikiranku masih berkecamuk dengan apa yang mereka bicarakan tentang Om Fero. Bagaimanapun, percakapan tiga lelaki ini membuatku sadar, bahwa aku tidak tahu apapun tentang Pak Glenn.

***

Setelah makan siang—sarapan—usai dan kami kembali terpecah menjadi dua kubu—aku bersama Pak Glenn, Iqbal bersama Zero, Pak Glenn mengajakku ke salah satu pusat perbelanjaan di Kuta. Layaknya perempuan normal, beragam aksesoris, pakaian, tas, dan kawan-kawan membuatku tergiur.

"Kita ngapain, sih, ke sini?" tanyaku pada Pak Glenn yang tengah berjalan santai seraya menggenggam tangan kiriku.

"Beli oleh-oleh buat papa kamu dan Mbak Ning."

"Buat Om Fero nggak?" Ups! Sepertinya, kalimat barusan adalah suatu kesalahan, mengingat rahang Pak Glenn yang mengeras setelahnya.

"Iya, buat papaku juga."

Demi mengenyah rasa canggung yang entah sejak kapan menyergap, aku mengedarkan pandangan ke segala arah. Mataku menangkap sebuah toko dengan barang dagangan beragam pakaian tyde—yang sedang trend di kalangan masyarakat. Ada pula jejeran topi pantai dengan bentuk simpel, namun tampak elegan.

"Kamu mau ke sana?" Pertanyaan itu membuatku menoleh ke arah si pemilik suara.

"Boleh?" balasku sesaat setelah manik mata kami bertemu.

"Tentu." Pak Glenn menyeret tanganku yang berada di dalam genggamannya, membuat senyumku seketika merekah—meski tersembunyi.

Sesampainya di toko itu, aku segera mengambil barang-barang incaranku. Untung saja aku membawa sejumlah uang di dalam dompet. Aku ingin segera mengenakan barang-barang itu, kemudian mengabadikan tiap momen yang menyertainya.

"Semuanya seratus lima puluh ribu," ucap seorang wanita penjaga kasir.

Aku segera membuka resleting sling bag milikku, kemudian merogohnya untuk mengambil dompet dan mengambil selembar uang seratus dan lima puluh ribuan. Namun, saat aku akan mengulurkan dua lembar uang kertas itu, seseorang telah mendahuluinya—dan langsung diterima oleh di penjaga kasir.

Aku menoleh, melayangkan tatapan protes pada si pelaku—siapa lagi jika bukan Pak Glenn? Tetapi, seperti biasa, dia membalasku dengan tatapan tak ingin dibantah.

"Kakak nggak perlu lakuin itu lain kali," ucapku saat kami telah keluar dari toko.

"Lakuin apa?

"Aku bisa bayar sendiri!" seruku, merasa jengkel dengan sikapnya yang pemaksa.

"Itu yang bikin aku sayang kamu."

Kalimat itu membuat pandanganku yang semula lurus ke depan, beralih menatapnya yang ternyata juga sedang menatapku dengan seulas senyum di bibirnya. "Hah?"

Pak Glenn memalingkan muka. "Katanya mau beli oleh-oleh?"

Sebuah toko yang tampak lebih besar dari lainnya, menjadi pilihan kami untuk berbelanja. Dalam urusan ini, Pak Glenn menyerahkan semuanya padaku. Mulai dari pakaian untuk papa, Om Fero, Mbak Ning, bahkan dirinya.

Oke, untuk yang terakhir itu tentu saja dengan paksaan darinya. Tetapi, saat aku memilihkan beberapa pakaian, tak ada satu pun yang cocok menurutnya. Dia malah mengambil pakaian bercorak tyde warna putih-biru yang senada dengan milikku. Jika memang dari awal dia menginginkan pakaian seperti itu, mengapa harus membuatku pusing?

"Kamu mau ke mana habis ini?" tanyanya sesaat setelah kami keluar dari area toko.

"Terserah Kakak aja."

"Gimana kalau ke Ubud?"

"Boleh?"

Setelah itu, aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru, bermaksud mencari toilet terdekat untuk mengganti pakaian. Dan ... dapat!

Namun, sesuatu menyedot fokus manik mataku. Seorang gadis dengan wajah yang—aku yakin—sangat mirip denganku tampak diseret oleh seseorang entah ke mana. Mataku tidak mungkin salah lihat, gadis itu benar-benar mirip denganku, seperti pinang yang terbelah dua. Tapi, ada yang lebih gawat, bagaimana jika gadis itu dalam bahaya? Dia ....

"Mel!"

Sentakan di bahu kiri membuat fokusku pada gadis tadi buyar. "Ya?"

"Kamu lihatin apa?"

"Aku mau ke toilet, ganti baju."

Pak Glenn mengamatiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Memangnya ada apa dengan baju yang ini?"

"Mau ganti sama yang baru," ucapku sambil tersenyum nyengir.

Pak Glenn terkekeh. "Oke. Kalau gitu aku juga mau ganti baju."

Akhirnya, kami sama-sama melangkahkan kaki ke arah toilet terdekat, kemudian terpisah di pintu masuk. Selang sepuluh menit, aku sudah siap dengan pakaian tyde warna putih-biru, celana jeans putih yang tadi kukenakan, dan topi pantai yang tampak elegan.

Tiba-tiba seseorang memasuki toilet dengan langkah tergesa. Aku tersentak, bola mataku terbuka lebar begitu menangkap sosok si pelaku.

"Kak Glenn?!"

*

*

*

*

*

WAH!

KIRA-KIRA... ADA APA, GLENN DAN MELATI?

JANGAN-JANGAN ....

PENASARAN, YA? PENASARAN? HEHEHE. MAAP YA KUGANTUNG, SENGAJA.

IKUTI TERUS KISAH GLENN DAN MELATI, YA!

Jangan lupa vote, rate, like, dan komen.

See you, All! ❤️ :)

1
Jaenah Susanti
mdh²n Mawar yg jadi pendonor nya..
Syamsimar Burhan
Assalamualaikum,...
Kpn lanjutannya..???
Di tunggu lho....😊😊
💋🅲🅷🆈💋
jadi senyum2 sendiri😊😊😊
💋🅲🅷🆈💋: semangat othor💪
total 2 replies
💋🅲🅷🆈💋
visualnya uwwu banget😍😍😍
💋🅲🅷🆈💋
sempat degdegan🙄🙄🙄
Yanti Yulianti
cigogoy
Yanti Yulianti
bubigo
Akifah Naila
lanjuttttt
Susi Lanita
lanjut..
Susi Lanita
antara O'on dan berhati tulus sepertinya beda tipis, kan ada keamanan bandara, atau dilaporkan ke informasi, gmn klu dituduh penculikan anak adeh.. melati melati..
Shanum Azkadina
lanjut donk seru loe
Susi Lanita
pipi melati yg disayat, tdk berbekas kah?
ngilu bayang kan nya..
Woro Aji W
pas bgt visualnya tor
Rahmi Miraie
bolehlah
Way-naviza
lanjut... 👍
pecinta time travel
boleh s2 nya
Alifia C.T: Ditunggu ya. :b
total 1 replies
Rahmi Miraie
happy ending dong ?
pecinta time travel
isssh author masa sad ending
Hissiz
Thor jngan dibikin sad ending😭 Up thor semangat💪
Alickha Senja
nex thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!