NovelToon NovelToon
RICH MAN

RICH MAN

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:10.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mira Indriani

Hidup ini terlalu berat bagi mereka yang selalu mengeluh. Rumit karena sebagian orang lebih mementingkan ego sendiri dibandingkan memikirkan hati orang lain. Tak sedikit yang berakhir dengan penyesalan. Barangkali setiap duka yang terasa adalah sebuah ujian yang sedang menguji perasaan dan kesabaran. Banyak yang memilih mengakhiri dibandingkan memperbaiki, kemudian menyesal dihari kemudian. Berharap sesuatu yang hancur akan kembali lagi. Tidak semua yang hancur semua yang hancur bisa diperbaiki lagi. Akan tetapi sesuatu yang rusak, barangkali bisa diperbaiki meski tidak utuh. Begitupun dengan rumah tangga, banyak lika-liku kehidupan yang akan dilewati.

Ikuti kisahnya di RICH MAN.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ALASAN BERTAHAN

Setelah sarapan, mereka

berdua pergi ke halaman belakang rumah. Di sana ada taman keluarga untuk

bersantai. Nagita bersandar dibahu Azka di ayunan tersebut. Seperti

biasanya mereka selalu romantis di manapun itu.

"Mommy, tunggu di sini. Daddy ambil minuman dulu untuk kita bersantai."

Nagita mengangguk. Azka

pun berlalu dari hadapan Nagita. punggung suaminya telah menghilang

untuk masuk dari pintu belakang. Beberapa kali ponsel Azka berbunyi,

Nagita hendak memberikannya kepada Azka. Tetapi saat melihat ID

penelepon tersebut, hati Nagita terasa nyeri. Nama itu jelas terpampang

di layar ponsel suaminya. Nama Deana, di tambah lagi dengan foto yang

menjadi background tersebut adalah foto Azka yang dengan manisnya

merangkul Deana dan mencium kening perempuan itu. Selama ini Nagita

sudah begitu percaya dengan Azka, ingin rasanya ia menghilangkan semua

rasa curiga itu. Setelah ponsel itu berhenti berbunyi. Nagita segera

membuka pesan.

From: Deana

Honey, kapan pulang?

Send: Azka

Sudah pulang. Aku akan menemuimu nanti siang, sayang.

From: Deana

Kau lama sekali, Honey. Aku merindukanmu.

Send: Azka

Tenanglah

Honey, aku akan segera ke sana. Aku juga sangat merindukanmu. Maaf

tidak menghubungimu sangat lama. Aku harus bertemu dengan istriku

terlebih dahulu. Siang ini aku akan ke apartemenmu. Aku sangat

mencintaimu, Deana.

From: Deana

Baiklah. Aku tunggu, Honey. Begitupun denganku, aku sangat mencintaimu.

Nagita meletakkan ponsel itu dengan segera. Itu adalah chat pagi tadi. Saat dirinya bertemu dengan keluarga Azka lebih dulu.

Hatinya terasa sesak. Saat Azka kembali, ia berusaha sebijak mungkin

untuk bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa.

"Mommy, minum susunya dulu ya. Biar Baby kita sehat,"

Nagita mengangguk. Ia

mengambil susu tersebut dan meminumnya. Azka mengambil gelas tersebut

dan meletakkannya di atas meja. Tubuh Nagita ditarik ke dalam pelukan

laki-laki itu dan dipeluk dengan sangat erat. Hatinya masih terasa

sakit.

Ia hanya menuruti

keinginan Azka dan lagi-lagi ia harus memaksakan dirinya untuk bersikap

biasa saja dan membalas pelukan suaminya.

"Sayang,"

"Iya, Mas,"

"Mas sayang sama kamu,"

Nagita tersenyum kecut.

Pasalnya baru saja ia menemukan chat suaminya bersama dengan perempuan

lain. Ia hanya berusaha menyembunyikan itu semua dan berusaha tidak

mengetahui apa pun.

"Kenapa nggak dijawab?"

Hatinya masih terasa nyeri untuk menjawab semua itu.

"Jika kata cinta yang

aku dengar itu hanyalah sebuah kebohongan. Maka aku memilih untuk tetap

berada dalam kebohongan tersebut. Namun, jika semua itu adalah nyata.

Tetapi pada akhirnya aku menyadari, semua yang kudengar itu nyata, pada

akhirnya hanyalah sebuah kebohongan. Lantas aku harus berada dalam

posisi mana saat semuanya sudah terlanjur seperti ini?" Nagita membatin. Ia memejamkan matanya berusaha meyakinkan bahwa semua itu hanyalah mimpi.

"Aku mau nanya, Mas,"

"Mommy, mau tanya apa?"

Nagita tak membuka

matanya sedikitpun. "Mas bilang pengin bahagiain aku kan? Pengin buat

keluarga kecil sama Gita dan calon anak kita, tapi Gita cuman pengin

tanya. Mas masih punya pacar atau nggak?"

Pelukan itu langsung dilepas oleh Nagita.

"Gita! kenapa bertanya seperti itu?"

"Cuman pengin tahu."

Azka terdiam sejenak, "Iya, Mas punya. Tapi Mas lebih sayang sama kamu,"

Nagita menatap Azka begitu lekat. "Cinta sama Nagita?"

Azka terdiam. Lama

Nagita menunggu jawaban itu. Namun tak kunjung keluar dari mulut Azka.

Hatinya sangat sakit dengan kenyataan itu. Ia berdiri dari ayunan itu

dan meninggalkan suaminya sendirian. Tak ada penahanan dari Azka. Itu

semakin membuat hati Nagita terasa sakit. Ia pergi begitu saja dan

langsung masuk ke dalam kamarnya.

Nagita terbangun dengan mata yang sedikit sembab. Di sana ada Azka yang memperhatikannya saat beranjak ke kamar mandi.

Setelah mencuci

wajahnya, ia mendapati Azka berdiri di depan pintu kamar mandi sambil

membawa handuk yang dikalungkan di lehernya. Ia sama sekali tak menyapa

suaminya dan meninggalkan Azka begitu saja. Saat suaminya sibuk mandi,

ponsel itu berada di atas nakas. Ia mengambilnya lagi dan membaca semua

pesan yang ada di sana.

Send: Azka

Aku akan ke sana beberapa menit lagi. Jadi tunggulah, sayang.

From: Deana

Aku tahu apa yang kamu inginkan, Honey. Kamu merindukan tubuhku?

Send: Azka

Jika sudah tahu, kenapa kamu justru bertanya, Honey? Tunggulah. Aku mandi dulu.

Setelah membaca pesan

tersebut. Ia meletakkan kembali ponsel itu. Beberapa saat kemudian Azka

keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Mommy, saya pergi sebentar untuk menemui klien. Mungkin pulangnya agak malam. Jadi kalau saya belum pulang, tidur saja."

Klien, setega itukah

Azka mulai membohonginya. Ia hanya mengangguk dan merapikan tempat

tidurnya. Melihat Azka yang sudah berpakaian rapi namun dengan pakaian

santai. Hati Nagita semakin terasa perih.

Azka mendekat pada dirinya dan kedua pipinya dipegang oleh suaminya.

"Baik-baik di sini," Azka mencium keningnya.

Nagita memejamkan mata

saat Azka mencium keningnya dan ia menarik kaos putih yang dikenakan

oleh Azka. "Jika aku bilang nggak boleh pergi dan mau Mas tetap di sini,

apa Mas akan tetap pergi?" tanya Nagita tanpa ada keraguan.

"Tidak bisa. Saya harus pergi, ini sangat penting,"

Tangan Nagita yang tadi

memegang erat kaos tersebut akhirnya meluruh. Ia meneteskan air matanya

saat Azka berlalu. Kebahagiaan yang pernah dirasakan seolah sudah

dibuatkan skenario oleh Azka. Semua sikap manis Azka selama ini apa

artinya? Ia harus melawan traumanya hanya untuk tidak mengecewakan

suaminya. Lantas apa yang diperbuat oleh suaminya? Justru ia yang

dikecewakan dengan kebohongan tersebut.

Nagita sudah mandi dan berpakaian rapi. Ia segera turun untuk menemui mertuanya di bawah. Ia duduk di sofa dan termenung.

"Sayang kok melamun?"

Nagita tersadar dan tersenyum. "Nggak apa-apa, Ma."

"Ohya, kita tunggu Naura dulu ya, kita ke mall hari ini beli perlengkapan bayi untuk cucu pertama Mama. Sayang, Azka mana?"

"Mas Azka lagi keluar Ma, katanya mau ketemu klien,"

"Kalau begitu kita bertiga aja, mumpung kamu sudah rapi begini."

Ia hanya mengangguk

berusaha baik-baik saja di depan mertuanya. Naura turun dari kamarnya

dengan dress merah yang sangat cocok untuk lekuk tubuh perempuan itu.

Bahkan Nagita sendiri kagum dengan perawakan Naura.

"Ayo, Ma, Nagita, kita pergi sekarang!" ajak Naura yang begitu semangat.

Mereka langsung keluar

menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah mereka. Mereka bertiga

langsung masuk. Sepanjang perjalanan, Nagita hanya terdiam. Entah apa

yang akan terjadi nantinya. Semua itu menjadi beban pikiran Nagita.

mengapa Azka berbohong? Itu yang menjadi alasan Nagita merasakan sakit

yang luar biasa.

Mereka memilih begitu

banyak perlengkapan dan langsung di bawa ke mobil oleh sopirnya. Selesai

belanja, mereka mencari restoran untuk makan siang. Nagita ingat bahwa

ia harus makan makanan yang bergizi, tidak diperbolehkan makan daging

setengah matang oleh dokter. Ia harus pandai memilih makanan. Bahkan

mama mertuanya pun ikut berperan dalam memilihkannya makanan.

Mereka terus berbincang

membahas persalinan Nagita. Hingga suatu hal terjadi. Nagita melihat

Azka yang tengah bermesraan dengan seorang perempuan di restoran yang

sama. Bahkan jarak mereka hanya beberapa meter dari tempat Nagita duduk.

Sesekali mereka berciuman sekilas di tempat umum seperti itu. Bahkan

Azka sepertinya tak keberatan dengan hal itu. Dia justru merangkul

perempuan tersebut.

"Mas Azka."

Suara Nagita yang begitu

parau dan tercekat. Tiba-tiba ia meneteskan air mata tanpa bisa ditahan

lagi. Air matanya lolos begitu saja.

"Ma, kita pulang!"

"Sayang kenapa nangis?"

"Ayo pulang, Ma. Kalau

Mama nggak mau pulang, aku pulang sendirian." Nagita beranjak dari

restoran tersebut dan keluar terlebih dahulu.

Sontak setelah membayar makanan tersebut. Naura melihat Azka bermesraan dengan Deana. "Ma, apa Nagita lihat itu?"

Mamanya menoleh kedua orang yang ditunjuk Naura.

"Keterlaluan Azka. Itu

yang dia bilang klien, dia bohongi istrinya sendiri," langkah mamanya

hendak menuju pada dua orang tersebut tetapi di tahan oleh Naura.

"Ayo kejar Nagita, Ma. Dia lagi hamil besar, nanti terjadi apa-apa bagiamana? Soal Kak Azka kita bisa bicarakan di rumah."

Mama pun hanya menurut

dan langsung berusaha mengejar Nagita. mereka berdua tiba di parkiran

dan tak menemukan Nagita berada di dalam mobil.

"Dia ke mana, Ma?"

Mereka berdua langsung

masuk ke dalam mobil. Dan saat keluar dari parkiran ia menemukan Nagita

berjalan kaki di trotoar. Mobil pun dihentikan dan mereka berdua

langsung meminta Nagita masuk ke dalam mobil. Meski awalnya gadis itu

menolak, dan bahkan air matanya sudah tak bisa dibendung lagi.

"Azka sangat

keterlaluan. Bisa-bisanya dia bohongi, kamu. awas saja kalau dia sampai

di rumah. Mama akan beri perhitungan sama dia,"

Nagita menghapus air

matanya dan memeluk lengan mertuanya. "Anggap bahwa dia tidak tahu, Ma.

Gita mohon, hanya sampai melahirkan. Nggak apa-apa kalau semua ini hanya

pura-pura cara Mas Azka sayang sama aku. Yang terpenting dia bisa

nemenin aku lahiran, setelah itu aku janji nggak bakalan ganggu hidup

dia lagi, Ma."

"Nagita ngomong apa?"

"Pisah, Nagita akan pisah. Ma, Gita bisa urus dia sendirian. Nagita janji nggak akan ketemu Mas Azka lagi,"

"Sayang kamu ngomong apa? Pisah bagaimana?"

"Sakit, Ma. bukan

pertama kalinya, tapi ini sudah kesekian kalinya Mas Azka seperti itu.

Mungkin dulu aku bisa maklumi. Tapi, sekarang aku nggak bisa lagi, Ma.

Hati aku sakit saat dia seperti itu,"

"Tolong jangan bicara seperti itu, sayang. Mama nggak mau kalian pisah,"

"Kalau tahu semuanya seperti ini, Gita lebih baik sendiri,"

"Sayang. Jangan ngomong gitu lagi, Mama mohon!"

Nagita terdiam dan terus

memeluk lengan mertuanya. Naura hanya terdiam melihat kakak iparnya

seperti itu. Sebagai seorang wanita ia pun paham bagaimana perasaannya

jika melihat orang tersayangnya melakukan hal yang menjijikkan seperti

yang dilakukan oleh Azka.

******

Azka melihat jam yang

sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia harus pulang dengan segera

sebelum orang-orang rumah menanyainya dengan berbagai macam pertanyaan.

Benar bahwa apa yang dikatakannya dalam chat tersebut terjadi. Ia mulai

menjadi brengsek lagi dengan cara bercinta dengan Deana. Azka mencintai

perempuan itu, bahkan lebih mencintainya dibandingkan dengan Nagita.

Perasaannya mulai terganggu. Ia pun mengenakan pakaiannya saat Deana

hanya menutupi tubuh polosnya dengan selimut.

"Azka, kamu mau pulang?"

"Iya. Besok aku kemari lagi, tenanglah Honey. Jangan khawatirkan apa pun. Aku hanya mencintaimu,"

Ia mengecup bibir Deana

singkat dan langsung keluar dari apartemen perempuan itu. Meski setiap

kali bercinta dengan perempuan lain ia menggunakan pengaman. Namun

apalah artinya jika ia mengkhianati istrinya sendiri demi kepuasan

semata. Hal yang bisa ia dapatkan pada istrinya. Meski tak berpengalaman

seperti Deana, tetapi tidak seharusnya ia mengkhianati Nagita. ia juga

tak bisa melakukan seperti yang ia inginkan seperti yang dilakukannya

bersama Deana. Tetapi mengingat keadaan istrinya yang tengah hamil.

Tidak mungkin baginya hanya untuk memuaskan nafsu yang sangat besar itu.

Azka tiba di rumah dan

menemukan seluruh anggota keluarganya berada di ruang tamu masih

berbincang dengan hangat sepert biasanya.

Ia tak mendapati istrinya di sana. "Gita, mana, Ma?"

"Ada tuh di dapur, dia lagi buatin Papa kamu kopi,"

"Kenapa nyuruh dia sih, Ma? ada asisten, dia lagi hamil."

"Kamu hanya peduli dengan kandungannya. Tapi tidak peduli dengan perasaannya. Apa bedanya?"

Ucapan mamanya seolah

sebuah sindiran. Ia langsung pergi ke dapur untuk menemui istrinya yang

sedang sibuk. Ia mendekat dan memeluk istrinya yang tengah mengaduk

kopi.

"Kamu sudah pulang, Mas? Mau dibuatkan kopi hitam atau kopi susu,"

"Penginnya kamu,"

Ia menciumi leher

istrinya dan mencecapnya meninggalkan tanda merah di sana. Ia merasakan

tangannya disingkirkan oleh Nagita dan perempuan itu membenarkan

rambutnya lalu pergi begitu saja.

"Semuanya, Gita pamit istirahat ya. Maaf nggak bisa lama-lama,"

Perempuan itu berlalu

begitu saja. Mama yang melihat mata Nagita sudah berkaca-kaca mengerti

dengan apa yang dirasakan oleh menantunya.

Azka justru ikut bergabung bersama keluarganya di ruang keluarga.

"Azka, kamu dari mana?"

"Ketemu klien, Ma,"

"Kamu nggak ketemu sama, Deana kan?"

Azka terkejut saat

mamanya membahas perempuan yang baru saja bertemu dengan dirinya. "Ya

ampun, Ma. Azka kan sudah nikah. Jadi mau ketemu perempuan lain yang

kayak gimana lagi?"

"Baguslah. Semoga nggak nyesel,"

Seandainya jika Nagita

tak melarang untuk membahas hal itu. Tentu mama dan juga Naura sudah

membongkar apa yang dilakukan oleh Azka. Namun karena permintaan

perempuan itu, mereka berdua harus bersabar dan membiarkan itu terjadi.

Berlama-lama berbincang

di ruang keluarga. Azka pamit untuk ke kamarnya. Ia langsung membuka

pintu kamar dan mendapati istrinya yang tengah berbaring. Azka ikut

berbaring di samping istrinya dan memeluknya dari belakang.

Beberapa saat ia memeluk istrinya. Suara isakan terdengar jelas oleh Azka.

"Sayang, kamu nangis?"

"Sakit, Mas."

"Sakit kenapa? Kita ke dokter ya?"

"Nggak Mas, kamu peluknya terlalu erat,"

Azka melepaskan pelukannya dan hanya menempelkan kepalanya ditengkuk sang istri. Ia pun menciumnya berkali-kali.

"Nagita, ayo!"

"Ayo apanya Mas?"

"Saya pengin itu,"

Nagita terdiam. Ia mulai

meraba milik istrinya namun beberapa kali pula tangannya disingkirkan

oleh Nagita. untuk pertama kalinya Nagita menolak keinginannya untuk

bercinta.

"Aku capek, Mas."

"Kamu ngerjain apa? Mama nyuruh kamu yang nggak-nggak?"

"Bukan, tapi Mama

ngajakin aku beli perlengkapan untuk anak aku," Azka mengedarkan

pandangannya dan menemukan barang yang begitu banyak di dekat lemarinya.

Dan mendengar kata 'anak aku' Azka sedikit merasa ada yang berbeda dari

istrinya.

"Mommy, baik-baik aja?"

"Iya, Daddy. Cuman capek, aja."

Azka mengerti dengan

keadaan itu. Sementara di sana, bantal yang digunakan oleh Nagita sudah

basah oleh air mata. Sebegitu sakit hatinya dibohongi oleh Azka hingga

keterlaluan seperti itu. Tidak seharusnya Azka berlaku seperti itu.

Namun justru perlakuan Azka selalu bersikap manis seolah tidak pernah

terjadi apa-apa. Ia hanya tidak menyadari bahwa saat seorang wanita

telah kecewa. Kepercayaannya tak akan kembali lagi seperti dulu. Bahkan

Azka tak menyadari pernikahannya sudah diambang batas. Nagita yang

terlalu sakit menerima kenyataan itu harus bertahan demi sang buah hati.

Setelah itu, semua akan benar-benar berakhir. Selama ini perempuan itu

beranggapan bahwa Azka telah mengkhiri hubungannya dengan Deana. Tetapi

justru sebaliknya. Saat Nagita meminta Azka tetap tinggal, tetapi pria

itu tetap memilih pergi. Apalah artinya memaksan seseorang untuk tetap

tinggal, sementara hatinya bersama orang lain.

Jadi jangan protes.

1
Nuri Maulidia
kepraaaaat
Nuri Maulidia
pst krj dtmpt bos ny dulu
elly tedy
ceritanya bagus Thor.....ada pelajaran distiap perbuatan dan ada waktu yg harus kamu lewati krna kesalahannya
Mayora
ih, Azka ga asik banget,,pandai ya dia bersandiwara dengan sangat rapi...rupanya si Azka yang masih labil
Sinar aurora
sumpah aku jadi korban novelmu thor.. aku uda 3 kali baca tapi knap masih mewek aja sihhh.. emnag sekejam itu ya si azkaaa
Tini Patini
Thor c Azka nya di bikin lmpoten ajah.biar kapok deh biar gak bangun lagi walau c deana cantik burungnya lemes gak mau bangun biar tau rasa!
Zuraida Zuraida
durjana banget tu laki, semoga gita cepat tahu akal bulus tu kamprer
Zuraida Zuraida
laki laknat kabur na
pak rt
👍
Tutik Yunia
Reynand yang lebay
Yuniar
ibu & kakak tiri Bintang kemana ya..?
Tutik Yunia
tidur pakai masker apa nggak sesak nafas
Tutik Yunia
mungkin waktu mau ketemu Reynand kecelakaan terus hilang ingatan
Tutik Yunia
ceritanya paling sama dgn Azka. setelah nikah datanglah bintang & Rey selingkuh dengan bintang cinta pertamanya. seperti Azka dgn ibunya shakila.
Yuniar
Ceritanya bagus untuk pendidikan orang tua dan anak-anak
Yuniar
Azka kan pawang cinta
Tutik Yunia
bagaimana keadaan Teddy dgn selingkuhannya. Semoga tidak harmonis
Tutik Yunia
ceritanya bener-bener seperti kehidupan nyata
Tutik Yunia
Tahu kalau cinta Nagita buat Azka, dia jadi besar kepala & mempermainkan Nagita.
Tutik Yunia
ini memang terbaik, cerai saja daripada makan hati. ceritanya bagus Thor sesuai kehidupan dalam rumah tangga. Nggak mungkin laki2 kaya hidup dgn satu wanita saja. Pasti banyak selingkuhannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!