Jika menikah hanya dijadikan sebuah alat pertukaran yang saling menguntungkan satu sama lain tanpa didasari rasa cinta, akankah kebahagiaan itu tercipta?
Kinara seorang gadis yang selalu pesimis dengan masa depannya. Ia memutuskan menikah dengan Gema Putra Mahardika laki-laki yang sudah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Hal tersebut rela ia lakukan demi kelangsungan hidup seorang gadis kecil yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit yang menggantungkan hidupnya hanya pada Kinara.
Akankah cinta hadir di antara mereka meski semua bermula dari terpaksa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Begitu Kejam
Sam meremas ponselnya saat pesan itu berakhir. Dengan cepat pria itu pergi meninggalkan ruangannya untuk mencari istri dan anaknya. Sam mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap masih bisa menyusul mereka berdua. Dengan langkah lebar Sam masuk ke dalam rumahnya dan meneriakkan nama Kate, tapi tidak juga ada jawaban.
"Tuan, Nyonya sudah pergi dua jam yang lalu," ucap seorang asisten rumah tangga yang baru saja muncul dari dapur.
Sam mengusap rambutnya dengan kasar. Dia terlihat sangat frustasi mendapati anak dan istrinya sudah pergi meninggalkan rumah begitu saja.
Kring! Kring! Kring!
Asisten rumah tangga yang sedari tadi terdiam memperhatikan Sam, dengan tergesa mengangkat telepon rumah yang membuat ruangan itu gaduh. Asisten rumah tangga Sam itu terlihat merubah mimik wajahnya menjadi tegang, sepertinya pembicaraan mereka sangat serius di telepon.
"Astaghfirullah," seru wanita paruh baya itu tiba-tiba sembari menutup mulutnya.
Seketika Sam menoleh ke arah asisten rumah tangganya, karena mendengar suara nyaring wanita yang sudah mengabdi bertahun-tahun padanya itu. Sam menatapnya sambil menautkan kedua alis saat melihat wanita itu sudah berlinang air mata.
"Ada apa, Bi?"
"Nyo—Nyonya , Tuan. Nyonya ..." Dia terlihat sangat ragu untuk melanjutkan kalimatnya, air mata tanpa terasa terus saja mengalir.
"Nyonya kenapa?" Sam menaikkan intonasi suaranya.
"Pesawat yang ditumpangi Nyonya jatuh, Tuan." Suaranya bergetar dengan mata yang sudah sangat sembab.
Sam membeliakkan mata sempurna menatap asisten rumah tangganya. Tangan pria itu tiba-tiba bergetar dan napasnya serasa tercekat di tenggorokan. Sam menyalakan layar ponselnya, mengetik di mesin pencarian. Beberapa kali jempol tangannya itu salah memencet huruf, tubuhnya sulit dia kendalikan lagi. Pemuatan pun selesai, jantung Sam terasa berhenti berdetak saat membaca berita dari pencariannya.
Sebuah kecelakaan pesawat penumpang terjadi di Pakistan, yang membawa lebih dari 100 orang.
Gambar yang ditayangkan di tv nasional menunjukkan, penerbangan WWW jatuh di tengah laut. Menurut saksi mata, sebelum jatuh pesawat itu sempat terjadi ledakan di bagian depan dan jatuh.
"Tidak, ini tidak mungkin. Tidaaak!" teriak Sam frustasi.
Sam menjambak rambutnya sendiri dengan kuat. "Aaakh!" erangnya sambil meninju lantai yang akhirnya membuat kesadaran pria itu kembali.
"Maafkan Ayah, Nak. Jika saja waktu itu Ayah tidak egois, jika saja waktu itu aku bisa memberikan lebih banyak waktu untuk kalian ..." Air mata Sam kembali menganak sungai di pipi yang tidak lagi kencang itu.
Sam berusaha bangkit, dia berjalan tertatih dengan berpegang pada tembok. Pria yang sudah berumur itu akan sangat tidak berdaya saat mengingat kejadian nahas menimpa keluarga kecil yang berusaha sekuat tenaga dia jaga tersebut. Dia melangkah dengan gontai ke dapur dan meminta Bi Sumi membuatkan kopi untuk Tuan Mudanya yang juga sedang tidak baik-baik saja.
Jam terus saja berputar tanpa mau tau kejadian yang sedang terjadi di sekitarnya. Rasanya baru sekejap Nara memejamkan mata, tapi matahari sudah membiasakan cahayanya di luar sana. Gadis dengan rambut berantakan itu menggeliatkan tubuhnya di atas sofa.
"Sudah pagi aja. Hah ... untung hari ini aku kerja shift sore. Aku harus segera mengurus semuanya."
Nara bangkit dan bergegas membersihkan diri. Ada hal penting yang ingin dia lakukan pagi ini. Gadis yang kembali mengenakan baju dari orang yang sangat dia benci itu mendekati adiknya, Yana masih terlelap dalam mimpi, belum ada tanda-tanda gadis kecil itu akan terbangun. Nara hanya mengecup sekilas kening adik kesayangannya itu dan bergegas meninggalkan rumah sakit.
"Entah ini akan berhasil atau tidak, aku harus berusaha memperjuangkan keadilan dan harga diriku," gumam Nara sambil mengendarai sepeda motornya.
Gadis yang menunggangi sepeda motor berwarna hitam itu menghentikan kendaraannya di area parkir kantor polisi. Dia berdiri tegap menatap bangunan yang di dominasi warna putih, dua orang polisi terlihat sedang bercengkrama di samping pintu utama. Nara memegang dada kirinya, dia berusaha menenangkan diri karena merasa gugup sejak turun dari motor. Pada akhirnya Nara memantapkan hati untuk melangkah masuk ke dalam kantor polisi itu.
"Selamat pagi, Pak," sapa Nara pada polisi yang berjaga.
"Pagi, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?"
Nara kembali terlihat ragu-ragu untuk m lanjutkan kalimatnya, dia merem*s jari-jari tangan mungilnya itu bergantian. Tiba-tiba saja ingatan tentang sikap manis Gema terlintas di kepalanya, entah kenapa bayangan wajah pria yang dia benci itu bisa menggoyahkan tekad Nara.
Tidak-tidak, aku tau dia hanya berpura-pura agar aku bersimpati. Dia adalah serigala, aku tidak boleh tertipu, batin Nara menggigit kecil bibir bawahnya.
"Ada yang bisa kami bantu, Mbak?" tanya pria berseragam coklat itu sekali lagi.
"Eh, iya, Pak. Saya mau melaporkan kasus kecelakaan yang menimpa orang tua saya," ucap Nara dan mulai menceritakan detail kejadian.
"Apa Anda yakin dia pelakunya?" tanya polisi tersebut setelah mendengar pernyataan dari Nara.
"Ya. Saya sangat yakin," jawab Nara menggebu.
Polisi tersebut terdiam sejenak menatap lekat Kinara. Pandangan pria yang sudah berumur itu terlihat seolah menyelidik dan tidak percaya.
"Baiklah, kami akan memeriksa lebih lanjut dan mencari bukti terkait kasus ini, jika Anda memiliki bukti kuat bahwa dia adalah pelakunya, silahkan serahkan pada kami secepatnya."
Nara sangat berterima kasih karena laporannya bisa diproses. Dia meninggalkan kantor polisi dengan perasaan yang lebih baik dari pada sebelumnya. Setidaknya dia sudah melakukan hal yang ditahannya dari kemarin. Dunia ini begitu keras pada Kinara selama ini, jadi gadis itu berpikir dia juga harus menjadi lebih keras agar tidak mudah dihancurkan begitu saja oleh keadaan.
Bersambung ....
______________________________________________________
Terima kasih banyak atas dukungan kalian Sahabat Novel Simi. Masuk grup chat Simi agar bisa sharing bareng Simi.
Jangan lupa kasih like, komen, vote, dan rating bintang 5 yaa. I love you so much, Guys.
berani tidak author buat scen kayak gini
aku paling sebel kalo BAB kepanjangan. selain itu, kalo mau beralih ke cerita baru pun, aku akan cari episode yg tidak terlalu panjang, kalo bisa di bawah 100 chapters.
Jadi, episodenya pendek, cerita per BAB/chapter nya juga pendek. setelah itu baru deh berharap cerita nya bagus.