4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Mama dan Papa Datang
Naomi kembali ke Wijaya Estate dengan bahu dibalut, leher masih bersyal, dan wajah Darren yang lebih menakutkan daripada seluruh pengawal di belakangnya.
Dokter RS memastikan tulang bahunya tidak retak, hanya memar berat. Namun bagi Darren, kata hanya tidak punya fungsi. Selama perjalanan pulang, ia duduk di samping Naomi, satu tangan menggenggam jemarinya, satu tangan lain terus menerima laporan dari Billy.
Pelaku di gedung tua sudah dibawa polisi. Nomor sekali pakai kembali tidak bisa dilacak langsung. Uang muka dari dompet digital melewati beberapa akun kecil. Pesan ke Ethan dan pesan ke Darren dikirim dari jalur berbeda, tetapi waktunya terlalu rapi untuk kebetulan.
Naomi mendengar semuanya, lalu berkata pelan, "Seseorang ingin kita saling mencurigai."
Darren mencium punggung tangannya. "Aku tetap mencurigai Ethan."
"Aku juga."
"Bagus. Pernikahan kita sehat."
Naomi hampir tertawa, tetapi bahunya sakit.
Saat mobil mereka memasuki halaman utama, beberapa mobil lain sudah terparkir di depan Rumah Besar. Salah satunya sangat Naomi kenali dari Jakarta.
Darren menegang. "Mama."
Pintu utama terbuka sebelum mobil mereka berhenti sempurna.
Olivia Halim keluar dengan langkah cepat yang sama sekali tidak sesuai dengan keanggunannya. Di belakangnya, Raymond Wijaya berjalan lebih lambat, wajahnya dingin seperti biasa, tetapi rahangnya terkunci keras. Dua asisten keluarga mengikuti dengan koper kecil, seolah mereka datang bukan untuk berkunjung, melainkan mengambil alih keadaan.
"Naomi!" Olivia memanggil.
Darren baru membuka pintu ketika Olivia sudah sampai. Ia melihat syal di leher Naomi, bahu yang dibalut, wajah pucatnya, lalu matanya langsung basah.
"Mama," ucap Naomi, terkejut.
Olivia memeluknya, sangat hati-hati agar tidak menyentuh bahunya. "Anakku..."
Satu kata itu membuat Naomi membeku.
Anakku.
Ia tidak tahu kapan terakhir kali seseorang memanggilnya seperti itu dengan suara yang benar-benar takut kehilangan.
Darren berdiri di samping mereka, matanya gelap tetapi lembut saat melihat ibunya memeluk Naomi.
Raymond berhenti dua langkah dari mereka. Ia tidak memeluk. Tidak bertanya dengan kata-kata hangat. Namun tatapannya turun ke leher Naomi, lalu ke bahu yang dibalut, dan suhu di halaman seolah ikut turun.
"Siapa yang bertanggung jawab atas keamanan estate?" tanyanya.
Seorang kepala pengawal keluarga maju dengan wajah pucat. "Saya, Pak Raymond."
"Mulai hari ini, bukan lagi."
Kepala pengawal itu terdiam.
Raymond menatap Darren. "Orangmu ambil alih seluruh perimeter. Kirim daftar staf yang bekerja tiga hari terakhir ke kantorku."
Darren mengangkat alis sedikit. "Papa memberi izin?"
"Aku tidak memberi izin. Aku memerintahkan."
Untuk pertama kalinya sejak konflik Jakarta, Darren tidak membantah ayahnya.
Mereka masuk ke ruang tengah, tempat Helena, Felicia, Bryan, Ethan, Giselle, dan beberapa anggota keluarga lain sudah berkumpul karena kedatangan Raymond dan Olivia. Engkong belum turun. Natalia tidak hadir karena dokter memintanya istirahat setelah tekanan semalam.
Helena berdiri dengan wajah tidak senang. "Olivia, kau datang tanpa memberi kabar."
Olivia melepaskan tangan Naomi perlahan, lalu menghadap Helena. "Kalau aku memberi kabar, apakah menantuku akan lebih aman?"
Helena terdiam.
Felicia mencoba bicara. "Tante Olivia, semuanya belum jelas. Naomi memang banyak mengalami insiden, tapi bukan berarti keluarga kami..."
"Felicia," potong Olivia lembut.
Nada itu sangat halus. Justru karena halus, Felicia langsung diam.
Olivia menatapnya. "Aku sedang tidak berbicara dengan anak kecil yang belajar menyindir dari ibunya."
Wajah Felicia merah.
Giselle yang berdiri di dekat pilar menutup mulut. "Aduh," bisiknya, jelas menikmati.
Helena melangkah maju. "Jaga bicaramu. Ini Rumah Besar."
"Aku tahu." Olivia tersenyum tipis. "Aku menikah dengan Raymond lebih lama daripada kau belajar memakai nada tuan rumah."
Naomi hampir lupa rasa sakit di bahunya.
Darren menunduk sedikit di dekat telinganya. "Mama kalau marah lebih mengerikan daripada aku."
"Aku mulai lihat."
Olivia mendengar, tetapi pura-pura tidak.
Helena menunjuk Naomi. "Perempuan itu datang dan membawa kekacauan. Sejak dia masuk, Darren mengepung estate, Arthur kambuh, polisi datang, sekarang kalian semua menyalahkan kami."
Raymond yang sejak tadi diam akhirnya bicara. "Perempuan itu namanya Naomi."
Helena menoleh. "Raymond..."
"Dan dia istri anakku." Suara Raymond datar. "Kalau kau tidak mampu mengucapkan namanya dengan hormat, diam."
Ruangan langsung hening.
Naomi menatap Raymond. Pria itu tidak melihatnya, seolah membela Naomi adalah keputusan logis yang tidak perlu emosi. Namun justru karena itu, dada Naomi terasa hangat dengan cara aneh.
Olivia melanjutkan, kali ini suaranya lebih rendah.
"Naomi adalah putri keluarga kami."
Kalimat itu jatuh di ruang tengah seperti palu yang dibungkus sutra.
Helena membeku.
Felicia membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.
"Dia bukan tamu yang bisa kau uji. Bukan anak yatim yang bisa kau ukur dengan silsilahmu. Bukan sasaran empuk untuk membuktikan bahwa cabang keluargamu masih punya wibawa." Olivia menggenggam tangan Naomi. "Kalau kau menyentuhnya lagi, kau berhadapan denganku."
Raymond menambahkan, "Dan denganku."
Darren menatap ayahnya.
Raymond membalas tatapan itu sekilas. "Jangan salah paham. Aku masih marah kau menikah tanpa memberi tahu."
Darren hampir tersenyum. "Tentu."
"Tapi aku lebih marah karena seseorang membuat keluarga inti Wijaya terlihat tidak mampu melindungi menantunya sendiri."
Itu cara Raymond berkata ia peduli.
Kaku. Menyebalkan. Namun nyata.
Ethan yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. "Tidak ada yang ingin Naomi terluka, Om Raymond."
Raymond menatapnya. "Aku tidak ingat bertanya padamu."
Senyum Ethan berhenti di bibirnya.
Giselle menunduk, bahunya bergetar menahan tawa. Bryan tampak seperti ingin bertepuk tangan tetapi memilih hidup.
Helena menarik napas tajam. "Jadi sekarang semua kesalahan ditaruh di rumah kami?"
Olivia menatapnya. "Bukan semua. Hanya yang pantas."
Naomi menggenggam tangan Olivia. "Mama, aku baik-baik saja."
Olivia menoleh, matanya kembali basah. "Tidak. Mulai sekarang, jangan terlalu cepat mengatakan itu."
Naomi terdiam.
Darren mengusap punggung tangannya. "Aku setuju dengan Mama."
"Kamu selalu setuju kalau tentang melarangku bergerak."
"Karena itu hobiku."
Raymond melirik mereka berdua. "Selesai bercanda?"
Darren mengangkat bahu. "Belum, tapi bisa ditunda."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Raymond bergerak sangat tipis. Hampir tidak terlihat.
Namun kehangatan kecil itu segera tertutup saat Raymond menatap seluruh ruangan.
"Mulai hari ini," katanya, "tidak ada keputusan keamanan, medis, atau hukum terkait Naomi tanpa persetujuan Darren dan aku."
Darren menoleh. "Dan Naomi."
Raymond diam satu detik.
Naomi menatapnya.
Akhirnya Raymond berkata, "Dan Naomi."
Olivia tersenyum kecil.
Naomi menarik napas pelan. Di rumah yang sejak awal mencoba membuatnya merasa kecil, untuk pertama kalinya ia berdiri dengan tiga orang di sisinya.
Suami.
Mama.
Papa yang kaku, tetapi mulai belajar.
Helena melihat itu, dan wajahnya semakin gelap tanpa bisa disembunyikan lagi.