Di lelang gelap, seorang gadis dijual kepada penawar tertinggi. Pembelinya adalah Hendra Wirakusuma, mafioso yang ditakuti seisi kota, dingin, berbahaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.
Sekar tak punya siapa-siapa lagi. Ia dikhianati keluarganya sendiri dan kini terkurung di rumah pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun di balik tatapan dan tangan yang berlumur dosa itu, ada sisi Hendra yang tak pernah dilihat orang lain.
Antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin, mampukah Sekar bertahan? Dan sampai di mana seorang mafioso rela melangkah demi satu perempuan yang ia beli?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Menaklukkanku
POV Hendra
Setelah dokter selesai memeriksaku dan ibuku nyaris membuat keningku lecet karena terlalu banyak dicium, semua orang keluar dan meninggalkanku berdua dengan Sekar.
POV Sekar
"Tuan butuh sesuatu?"
POV Hendra
"Bantu aku mandi." Aku mengucapkannya dengan tenang.
POV Sekar
"APA?" Kutatap dia dengan mata terbelalak.
POV Hendra
Aku tersenyum melihat kagetnya. "Aku tetap pakai celana dalam."
POV Sekar
"Tuan, menurutku itu tidak pantas... Bu Ratna bisa membantu, seperti yang beliau lakukan selama ini."
POV Hendra
"Dua minggu tidur denganku, dan sekarang kamu masalahkan melihatku pakai celana dalam?"
POV Sekar
"Aku tidak tidur dengan Tuan!"
POV Hendra
"Oh, bukan? Lalu kenapa waktu aku bangun, kamu ada dalam pelukanku? Kenapa kamu tidak memanfaatkan keadaanku untuk kabur?"
POV Sekar
"Aku tidak biasa meninggalkan orang di saat sulit... apalagi orang yang tidak pernah berbuat jahat padaku."
POV Hendra
"Tapi aku pernah menyakitimu. Kamu bahkan membenciku. Aku nyaris mengabulkan keinginanmu melihatku mati."
POV Sekar
"Aku tidak pernah ingin Tuan mati, aku bicara begitu karena marah... Dan Tuan tidak pernah berbuat jahat padaku, seperti kata Bu Beti. Justru Tuan menyelamatkanku dari nasib yang hina."
POV Hendra
"Itu artinya 'Terima kasih, Hendra'."
POV Sekar
"Iya..."
POV Hendra
Aku tersenyum. "Jadi bisa bantu aku seperti yang kuminta?"
POV Sekar
"Baiklah, kalau Tuan maunya begitu... Ayo."
Kubantu dia bangun dari ranjang dan kutuntun ke kamar mandi. Di sana kulepas jubah pasiennya sampai ia hanya bercelana dalam, lalu buru-buru kupalingkan muka ketika ia masuk ke bak mandi.
POV Hendra
Wah, airnya enak sekali. Aku mandi dengan santai, dan begitu selesai, ia menyerahkan jubah mandi. Aku masuk ke ruang ganti, mengenakan celana dalam dan celana training.
POV Sekar
"Tuan mau apa sekarang?"
POV Hendra
"Jalan-jalan. Aku perlu keluar sebentar."
POV Sekar
"Ayo, kubantu." Kutopang dia di bahuku.
POV Hendra
Melihat kesungguhan Sekar membantuku, hatiku tergelitik. Ada rasa yang enak sekaligus aneh sejak aku tahu semua yang sudah ia lakukan, dan aku merasa masih ada sesuatu lagi di baliknya. Kami turun ke ruang tengah dan Beti menghampiri.
POV Beti
"Tuan Hendra, Tuan mau sesuatu?"
POV Hendra
"Jus saja, Beti. Makan siangnya aku tunggu."
POV Sekar
"Biar aku yang buat, Bu Beti."
POV Hendra
"Jangan, tetap di sini." Kupegang lengannya sambil menatap matanya.
POV Beti
"Tidak usah repot, Nak, Ibu buatkan dengan senang hati." Aku pergi sambil tersenyum.
Kamera-kamera itu belum akan kutunjukkan padanya, kecuali kalau dia ingat dan bertanya. Biar semuanya berjalan alami saja.
Kubuatkan satu gelas jus untuk masing-masing dan kubawa ke sana.
POV Sekar
"Tidak perlu repot bawa untukku, Bu Beti."
POV Beti
"Perlu, dong. Kamu belum makan apa-apa hari ini, dan selama berminggu-minggu ini makanmu berantakan karena mencemaskan Tuan Hendra." Aku bicara lalu pergi.
POV Hendra
"Benar begitu?" Kupandangi dia.
POV Sekar
"Bu Beti melebih-lebihkan." Aku bicara dengan nada pura-pura cuek.
POV Hendra
"Aku mau putar film... Kamu mau nonton bareng?"
POV Sekar
"Kurasa lebih baik aku bantu Bu Beti. Beberapa hari ini dia kerja sendirian karena aku..."
POV Hendra
"Sibuk mengurusku?"
POV Sekar
"Ah... aku... aku ke dapur dulu." Kuambil gelas-gelas itu dan pergi.
POV Hendra
Ah, Sekar... jangan menaklukkanku. Belum ada perempuan yang berhasil melakukannya, dan aku tidak boleh membiarkanmu menjadi yang pertama. Aku tersenyum sendiri.
Di dapur...
POV Beti
"Kenapa senyum-senyum begitu, Sayang?"
POV Sekar
"Ya senanglah, Bu Beti. Aku masih tidak percaya dia ada di ruang tengah itu, dan sehat." Aku tersenyum.
POV Beti
"Iya... tapi senangmu kelihatannya lebih dari itu."
POV Sekar
"Sudah, ya? Jangan mulai lagi soal jatuh cinta."
POV Hendra
"Jatuh cinta?" Aku bicara sambil masuk ke dapur.