Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Ada Rahasia Lagi
"Pak, ada tamu," ucap Bibi seraya mengetuk pintu ruang kerja Adam.
Adam menoleh ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Tidak biasanya Bibi berbicara sebelum pintu dibuka kan.
"Dari siapa Bi?" tanya Adam, kembali fokus pada kertas-kertas yang sedang dikerjakannya.
"Teman-teman Bu Erica."
Seketika senyum Adam melebar. Segera ia membereskan berkas yang masih berserakan, lalu bersiap menyambut kedatangan mereka.
Benar saja, ada teman-teman Erica di ruang tamu. Tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Salah satu diantaranya, ada Syafiq. Tapi tunggu, dimana Erica?
Adam yang masih berdiri di ujung tangga mengedarkan pandangannya, mencari sosok perempuan kecil yang merupakan istri sekaligus anak didiknya.
Dengan langkah tenang, Adam berjalan ke arah anak-anak didiknya itu. Tapi sebelum Adam berhasil menampakkan wajah, Erica telah lebih dulu menariknya ke kamar tamu yang terletak bersebelahan dengan ruang tamu.
"Mas, kamu ini apa-apaan sih? Mau ngapain Mas nyamperin mereka?" tanya Erica dengan suara sepelan mungkin. Terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah gadis itu.
Dengan tenang, Adam meraih kedua bahu Erica. Ditatapnya kedua bola mata berwarna cokelat yang selalu meneduhkan hatinya itu.
"Sudah waktunya, Ri. Sudah waktunya orang-orang tahu kalau Mas sudah bukan duda anak satu lagi. Mas cape di teror sama mahasiswi. Mas cape menghadapi mereka yang begitu agresif."
Erica menelan saliva dengan susah. Bukan hanya Adam yang merasakan cape, Erica juga sama capeknya.
"Mas yakin?"
Adam mengangguk pasti seraya berkata, "sangat yakin."
Erica menunduk, tangannya bergetar juga terasa dingin. Ucapan Adam seolah membuat darahnya berhenti mengalir.
Jauh di lubuk hati terdalam, Erica senang akhirnya statusnya akan diketahui orang-orang. Tapi dilain sisi, ia juga malu karena menikah dengan dosen.
"Aku malu,"
"Semua orang akan iri padamu sayang, karena kamu dapat menikahi duda yang kata kalian menggoda ini. Untuk apa kamu malu?"
Adam meraih dagu Erica lalu mendongakkannya, hingga wajah Erica yang semakin manis dengan semburat merah di pipi dapat Adam nikmati dengan leluasa.
"Ayo, teman-teman mu sudah menunggu."
Adam meraih tangan Erica, menautkan jemari mereka. Dengan sekali tarikan napas, Erica berjalan mengekor di belakang Adam. Setiap langkah mendekat ke arah mereka membuat jantung Erica berpacu dengan cepat. Beruntung ada genggaman tangan Adam yang sedikit membuatnya yakin. Yakin bahwa ini adalah jalan terbaik.
"Selamat datang di rumah kami," ucap Adam, menarik perhatian mereka yang tengah asik menyantap cemilan ringan ditemani jus jeruk yang menyegarkan.
Seketika mereka menoleh dan ekspresi terkejut tidak dapat disembunyikan mendapati dua orang yang tak asing itu kini berdiri berdampingan. Mahasiswi dan dosen yang terlihat begitu dekat.
"Pak Adam?" ujar Syafiq. Terlihat jelas keterkejutan di wajahnya melihat Erica dalam rengkuhan Adam.
"Hallo, Syafiq. Saya sangat menunggu kedatangan kalian." Senyum Adam melebar menatap wajah mahasiswanya satu persatu. Seolah senang melihat ekspresi terkejut di wajah mereka.
"Kok bapak ada di rumah Erica?" Syafiq kembali bersuara. Sedangkan teman-teman yang lain hanya menatap Adam dan Erica silih berganti. Seolah yang mereka lihat seperti tidak nyata.
"Ini rumah saya juga,"
Terlihat jelas kerutan di kening mereka yang hadir bersamaan.
"Rumah bapak? Bukannya ini rumah Erica?"
Untuk menjawab pertanyaan mereka, Adam mundur beberapa langkah. Jarinya menunjuk ke arah bingkai foto cukup besar yang menggantung di ruang keluarga. Potret dirinya dan Erica dalam balutan pakaian pengantin.
"Pengantin?" Ucap mereka bersamaan.
Adam mengangguk.
"Perkenalkan istri saya, Erica Namiza," ujar Adam sembari menarik tubuh Erica agar sejajar dengannya.
Adam semakin merapatkan tubuhnya dengan Erica, mengikis jarak diantara mereka. Seolah memberi tahu bahwa tidak ada lagi celah bagi mereka untuk masuk kedalam hubungan rumah tangganya.
"Erica istri Pak Adam?" gumam Syafiq. Diantara mereka berempat, Syafiq lah yang paling terkejut sekaligus terpukul dengan kenyataan ini. Mata yang beberapa saat yang lalu bersinar mengagumi rumah ini, kini diselimuti kabut tebal.
"Bubu!" teriak Zhafran.
Sontak, mereka mengalihkan perhatiannya pada seorang anak laki-laki yang tengah berlari ke arah Erica.
"Bubu, Papa, ayo kita berenang bersama!" seru Zhafran dengan penuh semangat sembari menarik-narik telunjuk tangan Adam dan Erica.
"Bubu?" tanya Syafiq, tak paham apa yang dimaksud Bubu oleh anak dosennya itu.
"Pelesetan dari Bunda," jawab Adam seraya mengelus mesra bahu Erica dengan kepala menoleh ke arah istrinya itu, menunjukkan senyum yang tengah mengembang di bibirnya. Terlihat jelas wajah Erica bersemu diperlakukan seperti itu di depan teman-temannya.
Boom!
Bom waktu meledak. Meluluhlantakkan si pemilik hati yang terlalu berani dan tak tahu diri mengejar cinta perempuan yang sudah lama undur diri. Tahu-tahu sekarang sudah diperistri. Syok, sepersekian detik kemudian Syafiq jatuh pingsan.
***
Kurang dari dua puluh empat jam, berita tentang Adam yang mempersunting salah satu mahasiswi tersebar luas di area kampus. Seketika pernikahan Adam dan Erica yang dilangsungkan secara diam-diam menjadi buah bibir. Dugaan demi dugaan mereka simpulkan.
Tidak sedikit yang menyimpulkan Erica hamil duluan baru dinikahi, Erica kegenitan menggoda dosen duda anak satu, ada juga yang mengira bahwa Adam pedofil karena menikahi bocah sembilan belas tahun.
Adam hanya tersenyum menanggapi dugaan-dugaan mereka yang nyeleneh. Erica? Jika Adam tidak menenangkan, gadis itu sudah pusing sendiri memikirkan apa yang mereka katakan. Beruntung Adam bersikap dewasa dengan lebih memilih menutup telinga agar tidak mendengar ucapan mereka, dibandingkan dengan harus bersusah payah menutup mulut mereka. Belum tentu juga mereka mau menutup mulut.
Keputusan Adam berdampak baik bagi hubungan rumah tangganya. Ia tidak perlu lagi menurunkan Erica jauh dari gerbang kampus dengan perasaan khawatir. Kini Adam lebih leluasa bergerak bersama Erica tanpa takut membuat warga kampus berpikiran negatif.
Di hari pertama setelah kembali dari cuti, Adam berangkat ke kampus bersama dengan Erica. Pasangan mata menatapnya ketika Erica turun dari mobil Adam. Mulut mereka komat kamit bergumam yang membuat telinga Erica panas. Bahkan ada yang berani bercelatuk.
"Ooh ternyata perempuan itu yang menggoda dosen kita."
Sungguh itu tidak nyaman di telinga Erica, tapi dengan sigap Adam merangkul bahu Erica hingga cukup ampuh untuk membungkam mulut tak berpendidikan mereka.
Sebagai seorang fans, tentu akan sangat terganggu atau bahkan sangat menyakitkan saat idola kita tahu-tahu sudah mempersunting perempuan lain. Tanpa ada angin tanpa ada hujan. Dan sangat wajar pula bukan si perempuan tersebut menjadi bahan perbincangan si fans? Seperti itulah posisi yang Erica hadapi saat ini.
Mereka memaafkan Adam karena Adam idolanya. Sebagai tumbalnya, Erica lah yang jadi pusat perhatian karena telah merebut idola mereka.
"Mas, aku sudah seperti penjahat saja," ujar Erica saat mereka sedang menyantap makan siang bersama di sebuah cafe tak jauh dari kampus. Melalui sudut matanya, ia melihat empat orang gadis sebayanya tengah mengamatinya sembari berbisik-bisik. Erica yakin, mereka pasti salah satu fans Adam.
"Memang kan. Kamu mencuri Mas dari fans Mas," sahut Adam sembari menyeruput kopi hitam pesanannya.
Seketika Erica mendelik, membuat Adam terkekeh pelan.
"Bercanda, sayang," ucap Adam sembari mengulurkan tangannya, mengelus lembut pipi kiri Erica dengan mesra.
Sontak, hal itu membuat empat gadis itu bersorak ramai, iri.
"Oowwww!"
Seketika Erica terkikik. Ragu-ragu ia menoleh ke arah perempuan di samping mejanya itu. Ternyata mereka sudah berhamburan keluar cafe, mendapati Adam sudah lebih dulu menoleh ke arah mereka.
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂