Alara percaya, jika ia berhasil menikah dengan cinta pertamanya, ia akan menjadi orang paling bahagia.
Karena itulah ia rela meninggalkan kariernya sebagai desainer dan model demi menikah dengan Bagas, pria yang telah ia cintai sejak remaja.
Namun pernikahan impiannya berubah menjadi mimpi buruk.
Bagas selalu sibuk bekerja dan tak pernah membelanya saat ibu mertuanya menghina serta memperlakukannya seperti pembantu. Bertahun-tahun tidak memiliki anak membuat Alara dicap mandul. Hingga suatu hari, ibu mertuanya membawa seorang wanita muda ke rumah dan memaksa Bagas menikah lagi.
Saat itulah kesabaran Alara habis.
Ia memilih bercerai dan pergi dengan harga diri yang tersisa.
Semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Nyatanya, Alara bangkit.
Ia kembali mengejar mimpi yang pernah ditinggalkan. Serta membalas rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan Rumah yang Pernah Disebut Surga
Pasokan udara di dalam rumah besar itu terasa begitu tipis, seolah oksigen pun enggan berbagi ruang dengan pengkhianatan yang menggantung di setiap sudut ruangan. Alara berdiri di tengah kamar yang dulu ia bagi bersama Bagas. Beberapa hari sebelumnya, ia sempat menyewa apartemen kecil, dan sekarang ia kembali ke rumah ini hanya hanya untuk mengambil berkas-berkas penting yang tertinggal dan beberapa barang sentimental yang tak sempat ia bawa sebelumnya. Kini, di hadapannya, tiga koper berukuran sedang sudah siap.
Alara menatap setiap inci kamar itu dengan pandangan yang kosong. Ruang tamu yang selalu ia bersihkan hingga mengkilap setiap pagi, dapur tempat ia menyiapkan makanan kesukaan Bagas, hingga taman kecil di belakang rumah yang ia tanami bunga favoritnya. Dulu, ia menganggap tempat ini adalah surga yang ia bangun dengan cinta. Namun, saat ini, setiap sudut itu justru menyimpan kenangan yang terasa seperti duri yang terus menusuk jiwanya.
Tidak ada lagi air mata. Kesedihan itu telah habis terkuras selama bertahun-tahun di ruangan ini. Yang tersisa hanyalah rasa lelah yang sangat dalam, sebuah keletihan jiwa yang hanya bisa disembuhkan dengan kepergian.
Saat Alara menarik koper-kopernya menuju pintu utama, ia berpapasan dengan Wendah, mertuanya di ruang tengah. Mertuanya itu berdiri dengan posisi tangan bersedekap, menatap Alara dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Akhirnya," ucap Wendah dingin. "Rumah ini akan terasa jauh lebih tenang setelah kamu tidak ada lagi di sini."
Alara berhenti sejenak, namun ia tidak menoleh. "Saya pun berharap demikian, Bu. Semoga rumah ini mendapatkan kedamaian yang selama ini tidak bisa saya berikan."
"Jangan sok suci," sahut Wendah ketus.
"Rumah ini akan segera memiliki nyonya rumah yang baru, seseorang yang mampu memberikan cucu yang sudah lama saya idamkan. Jadi, pergilah dan jangan pernah berharap untuk kembali."
Kata-kata itu begitu tajam, menusuk, dan menghina hati Alara. Namun, Alara memilih diam. Ia sadar, membalas perkataan tersebut hanya akan membuatnya kembali terjebak dalam lingkaran pertengkaran yang sama.
Hari ini, harga dirinya jauh lebih mahal daripada kepuasan untuk memenangkan perdebatan. Ia adalah wanita yang sedang dalam perjalanan menuju kemerdekaan; ia tidak bisa membiarkan dirinya ditarik kembali ke dalam lumpur oleh orang-orang yang memang tidak pernah menginginkannya.
Di saat bersamaan, Nindy muncul dari arah dapur dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kemenangan. Wanita muda itu sengaja menggandeng lengan Wendah setelah dirinya mendekat, lalu menatap koper-koper Alara dengan tatapan puas. Ia tidak perlu lagi berpura-pura menjadi tamu yang sopan.
"Mbak Alara, terima kasih sudah meninggalkan semuanya untukku," ucap Nindy dengan nada yang dibuat-buat manis namun menusuk. "Aku berjanji akan merawat Mas Bagas beserta rumah ini dengan jauh lebih baik darimu."
Alara hanya membuang napas panjang. Ia tetap melangkah maju menuju pintu utama, tidak sudi memberikan satu pun ekspresi kekalahan di depan wanita itu. Namun, langkahnya terhenti sebelum mencapai pintu utama, ketika mendengar namanya di panggil oleh seseorang yang dulu begitu ia cintai.
Bagas turun dari tangga dengan wajah yang tidak bisa digambarkan, antara amarah, frustrasi, dan kebingungan yang nyata. Ia sudah tahu Alara akan datang hari ini, makanya ia tadi buru-butubpulang dari kantor. Berharap dengan kehadirannya akan mengubah pendirian istrinya.
Tatapan mereka bertemu sesat. Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti. Bagas berdiri mematung, menatap tiga koper di sisi Alara.
Ia ingin mengatakan sesuatu, mungkin sebuah permintaan maaf, mungkin sebuah alasan, namun setiap kata yang ia susun di kepalanya mendadak lenyap. Ia hanya bisa melihat Alara berdiri di hadapannya tanpa sedikit pun harapan untuk mempertahankannya. Tatapan Alara bukan lagi tatapan seorang istri yang memohon perhatian, melainkan tatapan orang asing yang sedang menatap masa lalunya.
"Kamu benar-benar akan pergi?" tanya Bagas, suaranya parau.
Alara mengangguk tenang. "Kamu bisa melihatnya sendiri."
"Jangan bertindak konyol, Ra!" Bagas melangkah mendekat, mencoba menyentuh lengan Alara, namun wanita itu segera menghindar dengan gerakan yang sangat halus namun tegas.
"Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kenapa harus melalui pengadilan? Kenapa harus sampai ke titik ini? Semua masalah bisa kita bicarakan baik-baik tanpa harus melibatkan hukum!"
Alara tersenyum pahit, sebuah senyum yang lebih menyakitkan daripada cacian. "Bicara? Kesempatan untuk berbicara sudah habis sejak lama, Mas. Berkali-kali aku sudah mencoba menjelaskan perasaanku, berkali-kali pula kamu memilih diam. Berkali-kali aku meminta pembelaan dari keluargamu, berkali-kali pula kamu membiarkanku merasa hancur sendirian."
Alara menarik koper-kopernya melewati pintu kokoh rumah Bagas.
"Aku tidak meminta kesempatan yang tidak pernah kamu berikan saat aku masih di sini," lanjut Alara tanpa menoleh.
"Sekarang, yang ku inginkan hanyalah jarak. Jarak yang sangat jauh dari semua kebohongan yang kamu bangun bersama ibumu."
"Alara, tunggu!" teriak Bagas. Ia merasa dunianya sedang ditarik dari bawah kakinya.
"Alara, jangan pernah kamu lakukan ini! Kamu tidak akan bisa hidup tanpa aku!"
Alara menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Ia menoleh sedikit, memberikan tatapan terakhir pada pria yang pernah menjadi dunianya. "Itulah masalahnya, Mas. Kamu selalu berpikir bahwa aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Tapi hari ini, aku justru akan membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa kamu."
Tanpa menunggu balasan, Alara kembali menarik kopernya dan keluar dari rumah itu. Pintu utama ditutup dengan suara yang cukup keras, sebuah penutup bab yang permanen. Mobil taksi yang sudah dipesan Alara melaju pelan, meninggalkan halaman rumah megah itu, dan perlahan menghilang dari pandangan.
Bagas berdiri mematung di halaman rumahnya. Ia masih bisa melihat bayangan taksi itu di kejauhan. Angin pagi menyapu wajahnya, namun ia tidak merasakan apa-apa selain kekosongan.
Ia berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah. Ruang tamu yang luas itu tiba-tiba terasa begitu sesak oleh kebisuan. Bu Ratna masih duduk di sofa dengan wajah puas, namun Bagas tidak lagi melihat kemenangan di sana. Ia hanya melihat seorang wanita tua yang tidak punya empati. Nindy berdiri di sudut ruangan, mencoba tersenyum padanya, namun senyum itu kini tampak mengerikan dan tidak berarti apa-apa.
Bagas berjalan ke arah dapur, ke ruang kerja, lalu kembali ke ruang tengah. Tidak ada lagi sisa-sisa keberadaan Alara. Semua sudah rapi, semua sudah kosong. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, rumah megah itu terasa begitu mengerikan dalam kekosongannya.
Ia teringat setiap momen di mana Alara menunggunya dengan segelas teh, setiap momen di mana Alara tersenyum saat ia pulang kerja, sesuatu yang selama ini ia abaikan begitu saja karena ia merasa itu adalah hal yang lumrah. Sekarang, hal lumrah itu telah tiada, dan ia sadar ia tidak akan pernah bisa membelinya kembali dengan uang atau jabatan apa pun.
Sebuah perasaan yang selama ini tidak pernah ia kenali muncul di dadanya, sebuah penyesalan yang membakar. Bukan penyesalan karena takut kehilangan fasilitas, tapi penyesalan karena menyadari bahwa ia telah membiarkan orang yang paling mencintainya pergi tanpa pernah sekali pun menghargainya.
Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, Bagas menyadari bahwa ia baru saja menciptakan nerakanya sendiri. Dan di luar sana, dalam taksi yang membawanya menuju kehidupan baru, Alara menatap jalanan dengan napas yang terasa lebih lega. Ia telah meninggalkan rumah itu, meninggalkan penjara hatinya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa hidup.
Bersambung
mga abs ni hkum krma dtng buat dia...dn buat bagas,slmt mnikmti pnyesalan......😛😛😛😛
Aku udh mmpir....slm knal....
aku udh ksel dr awal,gemes sm alara yg msih ngemis pnjlasan sm suami dn mrtua durjana....tp sykurlah krna skrng dia ush sdar....ttp smngt alara,abs ni km bkln jd orng sukses dn bhgia.....😘😘😘