Syahira Nazira gadis berusia 21 tahun dijodohkan dengan anak pemilik pondok tempat dia menuntut ilmu agama tanpa sepengetahuan darinya.
Namun, dia tetap menjalankan perjodohan tersebut karena tidak mau durhaka dengan orang tuanya. Syahira yang berniat menikah dengan orang yang dia cintai harus menguburkan harapan itu dan mencoba menerima apa yang orang tuanya pilihkan untuknya.
Zaidan pria berusia 28 tahun, juga ikut berkorban untuk bisa melihat orang tuanya bahagia. Zaidan yang baru kembali dari Mesir harus mengorbankan perasaannya sendiri dan menerima permintaan kedua orangtuanya.
Menikah tanpa ada rasa cinta sama sekali bahkan tidak saling kenal satu sama lain. Bagaimana sikap keduanya setelah menikah?.
Ikuti terus!!!
Dukung terus karya remahan author.
berupa! Like, komen, vote, gift, and start. sebagai motivasi dan juga dukungan dari kalian semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umul khaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Pada malam hari, Syahira baru saja kembali dari pondok masih dengan cara yang sama, yaitu secara diam-diam seperti malam-malam sebelumnya. Kini, ia sudah berada di depan pintu rumah dan siap untuk mengetuknya tapi belum sempat diketuk pintu terbuka dari dalam mengagetkan Syahira.
" Abi! Ngagetin aja, Assalamualaikum" Ucap Syahira terkejut seraya mengelus dadanya, ia melihat Zaidan sudah berdiri di depan di depan pintu dengan wajah cemberut. Syahira menjulurkan tangannya untuk menyalami Zaidan dan di sambut oleh suaminya.
" Waalaikumsalam. Baru pulang? masuk!" ucap Zaidan tanpa aba-aba langsung menggendong Syahira ala bridal style masuk ke dalam rumah, tidak lupa juga ia menutup pintu kembali menggunakan kakinya.
Syahira terkejut dengan apa yang Zaidan lakukan mengalungkan tangannya di leher sang suami spontan karena takut terjatuh.
" Abi, turunkan aku. Nanti ada yang lihat" pekik Syahira takut jatuh.
" Nggak ada yang bakal lihat, abah sama ummi udah tidur" balas Zaidan tidak mau menuruti kemauan Syahira tetap membawa Syahira masuk ke dalam kamar mereka.
Saat memasuki kamar, Syahira merasa gugup dengan perilaku Zaidan yang tidak seperti biasanya. Ia merasa ada yang berbeda dengan suaminya saat ini tapi ia tidak tau apa itu.
Zaidan menurunkan Syahira di atas tempat tidur dengan perlahan dan juga hati-hati. Zaidan menatap Syahira lama membuka cadar yang digunakan sang istri, Syahira semakin gugup dengan perlakuan Zaidan dan yang membuat Syahira merinding Zaidan tidak bicara sama sekali terus melakukan hal di luar dugaan Syahira.
" Abi mau apa?" Tanya Syahira semakin takut dan juga gugup.
Zaidan bukannya menjawab pertanyaan dari Zaidan mencoba melepaskan jilbab yang Syahira gunakan, Syahira yang takut mencoba menghentikan pergerakan tangan Zaidan.
" Abi jangan seperti ini, aku takut!" Ucap Syahira jujur, siapa yang tidak takut dihadang tiba-tiba di depan pintu di bawa ke kamar tapi tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut suaminya ditambah perilaku sang suami yang tidak biasa.
"Abi hanya merindukan kamu, apa itu salah" balas Zaidan berdiri di samping Syahira
Ingin rasanya Zaidan tertawa melihat wajah ketakutan sang istri, Zaidan yang ingin mengerjai Syahira menjadi tidak tega dan mengurungkan niatnya.
" Bukan salah tapi kalau Abi seperti itu membuat aku takut, udah kaya mau menerkam mangsa aja" ucap Syahira mengubah posisi menjadi duduk.
" Tadinya Abi mau mengerjai kamu, tapi Abi nggak tega" ujar Zaidan jujur ikut duduk di samping Syahira.
" Sayang!" Panggil Zaidan.
Blusshhh!
Pipi Syahira langsung berubah seperti kepiting rebus saat Zaidan memanggil dirinya dengan sebutan 'sayang'.
" Kamu udah bisa shalat kan?" Tanya Zaidan.
Namun, Syahira yang antara kelewat polos atau pura-pura polos tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Zaidan padanya dan menganggap hal lain yang di maksud sang suami.
" Abi bicara apa, tentu saja aku udah bisa shalat orang udah gede gini juga." balas Syahira.
Plakk
Zaidan memukul jidatnya sendiri mendengar balasan Syahira yang diluar prediksi UMKM. Ia bicara apa sang istri balas apa sungguh tidak nyambung sama sekali.
" Kenapa Abi mukul jidat sendiri? Apa Abi sakit kepala, mau Syahira urut?" Tanya Syahira lagi.
Zaidan semakin tercengang dengan sikap polos Syahira yang benar-benar di luar nalarnya.
Karena gemas dengan Syahira yang tidak kunjung mengerti apa yang dia maksud, Zaidan mencubit kedua pipi Syahira dan menggoyangkan kiri dan kanan.
" Sakit, Bi!" Ucap Syahira melepaskan tangan Zaidan dari pipinya.
" Kamu itu sangat lucu sayang, rasanya Abi pengen makan kamu sekarang juga tau" ujar Zaidan kembali mencubit pipi Syahira tidak lama ia melepaskannya.
" Abi jahat banget, istri sendiri kok di makan. Kalau lapar itu makan nasi, bakso, mie bukan makan istri" ucap Syahira.
" Sayang, bukan itu maksud Abi kenapa pembahasannya jadi kemana-mana" ucap Zaidan frustasi.
" Maksud Abi itu bukan makan kamu beneran, tapi maksud Abi, kan kamu udah bisa shalat lagi udah selesai halangan nya, jadi kamu udah bisa menjalankan kewajiban kamu sebagai istri Abi malam ini, bukan makan dalam arti yang sebenarnya, sayang. Mana tega Abi makan istri sendiri yang menggemaskan dan polos ini" jelas Zaidan panjang lebar.
" Kalau kamu belum siap Abi akan menunggu sampai kamu siap" ucap Zaidan bangun dari duduknya.
" Tunggu!" Cegah Syahira menahan tangan Zaidan.
" Inn Syaa Allah Syahira udah siap menyerahkan hal yang paling berharga dari diri Syahira untuk Abi, Abi sekarang sudah menjadi suami Syahira dan semoga sampai selamanya hingga maut memisahkan. Syahira juga minta maaf karena baru bisa memberikan hak Abi" sambung Syahira lugas dan tegas.
Ia tidak bisa terus menghindar dari kewajibannya sebagai seorang istri dari Zaidan, ia sadar semakin lama ia mengabaikan kewajibannya semakin ia berdosa. Apalagi yang harus ia pikirkan, Zaidan laki-laki yang begitu sempurna dari segala sisi ia tidak punya cacat sedikitpun.
Ya! Walaupun tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini tapi Syahira belum menemukan cacat dari suaminya. Dari segi manapun Zaidan terlihat sempurna, akhlak yang baik, sopan, pintar, tampan, penyayang hanya satu yang Syahira kurang suka yaitu sisi posesif sang suami.
Zaidan yang begitu sabar menuruti kemauannya agar jangan ada yang tau tentang pernikahan mereka, membuatnya menunggu mendapatkan haknya sebagai seorang suami. Satu minggu sudah cukup untuk melihat bagaimana sifat Zaidan yang begitu penyabar dan juga tidak pernah menuntut lebih dari Syahira.
" Apa kamu yakin akan menyerahkan sesuatu yang berharga untuk Abi, apa kamu ikhlas memberikan hak Abi malam ini?" Tanya Zaidan tetap tidak mau ada keterpaksaan dari Syahira .
" Syahira siap, maaf Syahira baru memberikan hak Abi sekarang" ucap Syahira.
Zaidan menarik Syahira ke dalam pelukannya, ia senang akhirnya setelah hampir seminggu pernikahan mereka sang istri siap memberikan haknya malam ini.
" Terima kasih, mau langsung atau shalat dulu?" Goda Zaidan menowel hidung mancung Syahira.
" Kita shalat aja dulu supaya lebih berkah" balas Syahira lembut.
" Kamu udah siap jadi seorang ibu, Abi nggak sabar pengen punya anak dari kamu" ujar Zaidan.
Jangan tanya bagaimana ekspresi Syahira saat ini, ia begitu malu bercampur dengan rasa takut juga gugup semua menjadi satu.
" Aamiin, semoga Allah memberi kepercayaan itu kepada kita" balas Syahira.
Zaidan mengangguk tersenyum ia senang bercampur haru, Syahira yang masih di bilang belum cukup dewasa tapi pemikirannya begitu matang dan juga lembut saat berbicara pantas saja banyak yang suka dengannya.
" Sekarang kita shalat dulu, berdoa supaya pernikahan kita selalu dalam keberkahan, dalam ridho nya Allah SWT. Memberikan kita keturunan yang sehat, soleh dan solehah. Semoga saja secepatnya" ucap Zaidan.
" Aamiin" balas Syahira mengaminkan doa Zaidan.
Zaidan dan Syahira beranjak dari tempat tidur untuk mengambil wudhu dan segera melaksanakan shalat sebelum mereka melakukan rutinitas yang akan menjadi hal paling terindah yang pernah mereka lakukan, tentu saja dalam hubungan yang halal.
Sambil nunggu author up, mampir juga di karya teman author.