Sering dibully oleh keluarga sang suami, serta mertua dan ipar yang mulai ikut campur dalam rumah tangganya. Pernikahan impian yang semula tergambar indah, seketika berubah.
Memiliki suami yang mulai dingin, membuat Tari tergoda untuk berpaling.
Bermula dari reuni, Tari mulai bermain api. Akankah api itu menghangatkan atau justru membuatnya terbakar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa Pulang
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 23
Oleh Sept
Setelah kejadian di rumah sakit itu, Rio sekarang terkesan jadi sangat berani. Mungkin merasa di atas angin, dan yakin kalau Tari juga terpikat olehnya.
Lelaki itu kembali memulai aksinya, membuat Tari gelisah dan jantungnya berdegup kencang.
Sembari memegangi tengkuk wanita tersebut, Rio mulai mendekatkan wajahnya. Sekali mendapatkan bibir Tari, Rio ingin mendapatkan lebih.
Cup
Ledakan emosional kembali terjadi, Rio terlalu bergelora, sedangkan Tari di ambang rasa kegalauan yang membuncah. Antara hanyut bersama Rio, atau menghentikan semuanya saat itu juga. Tari masih sadar, kalau dia masih istri orang.
"Rio ..." desis Tari mendorong bidang Kokok di depannya tersebut.
Tari lalu mencengkram kedua bahu Rio, dia tidak bisa melanjutkan ini. Tari merasa takut sendiri. Takut kebablasan, karena jujur, sentuhan Rio sudah membuatnya sangat terpengaruh.
Mungkin jiwanya kesepian, lahannya gersang, hingga sesapan Rio saja mampu meningkatkan kelembaban di bawah sana. Rasanya beban mental bagi Tari, saat tubuhnya juga merespon sentuhan laki-laki lain yang bukan suaminya sendiri.
"Kenapa? Apa kau mau ke hotel?" bisik Rio yang masih di ubun-ubun.
Tari menajamkan mata, Rio semakin lama semakin berbahaya.
"Rio ... aku sudah menikah!" ucap Tari kemudian, ia ingin membuat mereka sadar. Bahwa skandal ini tidak boleh dilanjutkan.
"Lalu kenapa? Tinggalkan suamimu ... dan datang padaku."
Tari menelan ludah, Rio kelewat berani. Bagaimana bisa dia menyuruh meninggalkan Dewa?
"Rio, sepertinya kamu masih sakit," celetuk Tari.
Menurut Tari, Rio ini masih sakit. Bukan badannya yang sakit, tapi jiwanya. Begitu juga dengan wanita tersebut. Tari juga merasa sudah tidak beres dengan dirinya. Bisa-bisanya dia malah bermain api dan menyambut permainan Rio dengan suka rela. Sungguh dilema besar, antara nyaman tapi status tidak mengijinkan.
Rio sendiri mundur menjauh, kemudian melonggarkan dasinya. Pria itu mematikan pintu tertutup sempurna, dengan menguncinya dari dalam.
Bunyi klik pada pintu, membuat Tari semakin bergidik. Tidak mungkin, Rio pasti tidak akan macam-macam. Pikiran Tari pun mulai berkecamuk.
"Rio ... kau mau apa? Rio ... tolong jangan macam-macam. Aku sudah percaya padamu selama ini."
Tari berbicara dengan gugup, dan Rio menikmati momen tersebut. Melihat Tari yang ketar-ketir, kelihatan takut dan panik.
"Kita sudah dewasa, apa yang kamu takutkan? Hem?"
Rio semakin dekat, dan Tari akan pergi. Namun, pria itu malah mengunci ruang gerak Tari.
"Jika aku teriak, semua orang akan mendengar." Tari mulai mengancam.
Rio menatap dalam-dalam, kemudian menyentuh pipi Tari dengan lembut. Sebuah sentuhan hangat yang lama tidak didapatkan oleh seorang Tari.
"Teriak lah ... teriak yang kencang," gumam Rio kemudian menurunkan wajahnya.
"Ri ...o."
Tari tidak bisa bersuara lagi karena Rio sudah menyumpal dengan bibirnya.
Semua rasa yang tertahan, mulai dilepaskan Rio. Dan semakin Tari mencengkram kedua bahunya, Rio semakin bersemangat. Tidak peduli status Tari sekarang, Rio sudah terperdaya oleh perasaan yang tidak terbendung tersebut.
Beberapa menit kemudian.
Setelah aksi yang penuh gejolak tersebut, hingga membuat bibir Tari tebal dan kebas, Rio akhirnya melepaskan wanita itu.
Tari tertunduk, bingung harus apa lagi. Ia merasa gamang. Siapa sih yang bisa menolak pesona pria seperti Rio?
Pria itu kemudian mendekat lagi, sambil mengusap bibir Tari mengunakan jarinya. Mungkin lipstik Tari agak belepotan, padahal sudah pakai anti air.
Sedotan yang terlalu kencang, membuat make up Tari agak luntur. Kalau dekat-dekat Rio, sepertinya Tari harus siap-siap make up anti badai dan tsunami.
"Sejam lagi kita rapat, jangan lupakan bahannya nanti," kata Rio kemudian berbalik dan duduk dengan santai di kursinya.
Sementara itu Tari dibuat ling lung.
"Baik, Pak," kata Tari kemudian yang tersadar.
Tari lantas beranjak, dia akan ke ruangannya.
"Tari," panggil Rio saat Tari belum keluar dari ruangan.
Tari hanya menoleh, menanti apa kata Rio.
"Tidak jadi ... keluarlah," kata Rio dengan tatapan penuh arti.
Tari yang jantungnya masih was-was, dia merapikan rambut saat keluar dari ruangan Presdir tersebut. Entah mengapa, ia merasa ketar-ketir, was-was dan cemas, mungkin karena sudah selingkuh dengan Rio. Benar-benar memacu adrenalin.
***
Sore harinya, Tari pulang sendiri, dia menolak diantar sopir Rio. Takut orang-orang di perusahaan mulai curiga. Karena ada urusan yang harus diselesaikan Rio, pria itu pun tidak memaksa.
Setelah pulang kerja, Tari pun langsung menuju rumah ibunya untuk mengambil Ibel. Sepanjang perjalanan naik taksi, dia memangku Ibel sambil melamun hingga sampai rumah.
Tiba di rumah, tari dibuat kaget. Ada koper di ruang tamu dan Bersambung.
Waduh, papa pulang. Piye Iki lur?