Jayden harus menerima takdirnya sebagai seorang bintang, merasa tak memiliki orang yang mencintainya dengan tulus, bahkan Kayla, kekasihnya yang bertahun-tahun dicintainya, hanya memanfaatkannya untuk ketenarannya.
Hingga suatu saat dia bertemu dengan seorang wanita, wanita yang memandangnya dengan cara berbeda, namun bukan hanya itu yang dia temukan, 2 dunia yang berbeda memisahkan mereka bahkan sebelum kuncup cinta bisa mengembang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Mery baru saja ingin naik ke atas motor usangnya sebelum dia merasakan sesuatu yang bergetar di dalam saku celananya, dia berhenti sejenak, merogoh sakunya dan melihat nama Jayden terpampang, bodoh, dia lupa menonaktifkan ponselnya lagi.
Mery yang memang tidak tidur semalam itu jadi mudah marah, Mery rasa dia tak perlu lagi untuk menghindari Jayden, dia harus menegaskan kepala Jayden bahwa hubungan dirinya dan Launa pastilah tak akan berhasil, terlepas apa yang digosipkan itu benar atau tidak, hati kecil dan lemah lembut Launa tak akan tahan menerimanya, walaupun sampai sekarang Launa tak kenal siapa Jayden itu, tapi kalau dipikir-pikir lagi, tak akan mungkin, sudah! tak akan mungkin Jayden akan menikahi Launa, jadi pasti hubungan ini hanya untuk mengisi waktu luang Jayden.
Mery segera mengangkat panggilan Jayden yang hampir saja terputus otomatis, tapi dia hanya diam saja.
"Mery, syukurlah kau menangkatnya," kata Jayden yang dari tadi sudah seperti cacing kepanasan, cemas hingga duduk tenang pun dia sudah tak bisa.
"Apa yang ingin kau katakan lagi?" tanya Mery sedikit ketus.
Jayden yang mendengar perkataan itu segera mengerutkan dahinya, apakah Mery sudah tahu?
"Mery, kau harus percaya padaku, aku tahu kau begitu menyayangi Launa dan menjaganya, tapi aku dan Kayla tak punya hubugan apa-apa, seseorang mengirimkan foto-foto itu ke semua televisi," kata Jayden ingin menjelaskan, namun langsung dipotong pembicaraannya oleh Mery yang tak ingin mendengarkan penjelasan Jayden lebih lanjut.
"Jawab aku, apa itu benar fotomu dan Kayla?" tanya Mery.
"Mery ... " kata Jayden.
"Jawab saja," kata Mery yang seperti kakak yang sangat tegas, tak ingin seseorang pun membuat adiknya patah hati.
"Benar, itu fotoku dan Kayla, tapi itu sudah 3 tahun yang lalu," kata Jayden menjelaskan kapan foto itu diambil.
"Sekarang, apa kau dan dia masih berhubungan?" kata Mery lagi datar.
"Tidak, aku sudah putus dengannya, hubungan kami sudah berakhir dan aku hanya mencintai Launa sekarang," kata Jayden menyakinkan Mery.
"Lalu kenapa Kayla mengatakan bahwa hubungan kalian baik-baik saja, Jayden, sudah ku bilang, kami memang orang desa, namun bukan berarti kau bisa mempermainkan kami, Launa terlalu rapuh untuk kau permainkan, berhati nuralilah, Launa sudah cukup menderita, jangan pernah membuat harapan kosong dan bahagia sesaat, tolong gunakan hatimu," kata Mery, sekarang suaranya tak lagi datar, malah terdengar lirih memohon pada Jayden.
Jayden terdiam mendengarkan suara Mery yang begitu memelas, apa yang sudah dia lakukan, dia tak melakukan apapun yang salah, rasanya dengan Launa benar adanya, dia bahkan tak pernah ingin memberikan harapan kosong pada Launa, namun memang saat ini dirinya belum bisa membawa Launa ke dunianya, masih terlalu berbahaya dan keras untuk Launa, tapi bukan berarti dia hanya main-main dengan Launa, dan Jayden yakin, perasaannya dengan Launa benar-benar cinta.
"Mery, aku benar-benar mencintai Launa" kata Jayden lagi, sekali lagi dipotong oleh Mery dengan cepat, tak ingin lagi mendengar banyak hal dari Jayden yang nantinya akan membuatnya tersentuh dan juga berubah pikiran. Mery harus tegas untuk kebahagiaan Launa sekarang.
"Katakan Jayden, apa masa depan hubungan kalian? adakah? kau yakin akan menikahi wanita seperti Launa, kau yakin bisa merawatnya dan menjaganya seumur hidupmu? kau yakin dia bisa bertahan di duniamu dan duniamu yang gemerlap itu akan menerima gadis buta seperti Launa? apa akhir dari hubungan kalian ini?" kata Mery yang segera ingin tahu apa yang akan menjadi jawaban Jayden.
Jayden kembali terdiam, Mery nyatanya memang begitu tegas.
"Saat ini aku memang belum bisa membawanya ke duniaku, tapi aku akan berusaha, aku akan menikahi Launa," kata Jayden yang antara ragu memberikan jawaban ini, semua terlalu mendadak jika harus mengambil keputusan.
"Haha, sudahlah Jayden, jangan terlalu naif, saat ini atau beberapa tahun kemudian, kau tak akan pernah bisa membawa Launa ke duniamu, pernahkah kau melihat seorang artis menikahi gadis cacat? aku rasa kau akan menjadi orang pertama yang melakukannya, oh, apa itu memang tujuanmu? sudahlah, kau pria, biasanya kalian selalu menggunakan logika, kita berpikir realistis saja, kau dan Launa, tak akan pernah bersatu selamanya, Jayden, berhentilah berpura-pura, jangan menghubungi kami lagi, Jayden, mulai saat ini, kau dan Launa sudah tak punya hubungan apa-apa lagi," kata Mery dengan sangat tegas, dia langsung memutuskan panggilan dari Jayden, secepatnya mem-block nomor Jayden hingga pria itu tidak akan bisa lagi menghubungi Launa.
Jayden kaget mendengar keputusan sepihak yang diambil oleh Mery, Jayden melihat panik pada layar ponselnya, memutuskan segera menelepon balik namun panggilannya tak lagi tersambung, berulang kali dia menelepon, hasilnya sama, pesannya pun tak terkirim lagi, Jayden kembali melemparkan ponselnya kesal, hanya karena foto itu semua kebahagiaannya lenyap begitu saja.
"Joseph!" teriak Jayden keras hingga Joseph yang ada di ruangan tengah dari hotelnya segera datang.
"Ada apa Jayden?" tanya Joseph pada Jayden.
"Apa yang Kayla katakan tentang foto itu?" tanya Jayden yang ingat perkataan Mery tentang perkataan Kayla yang bertentangan dengan apa yang dia ucapkan tadi.
"Ehm, sebentar," kata Joseph mencoba mencari berita tentang Jayden lagi, dia lalu segera menemukan konfirmasi dari Kayla, Jayden menggertakan giginya, tangannya mengepal dengan sangat kuat, bagaimana dia bisa mengatakan hal seperti itu, hubungan baik apa yang dia punya dengan Jayden. Jangan-jangan ini semua juga dari dirinya.
"Hubungi manager Kayla, katakan aku ingin bertemu dengannya secepatnya," kata Jayden.
"Tapi-," kata Joseph yang sebenarnya adalah sepupu Jayden ini.
"Kenapa?" kata Jayden mengerutkan dahinya.
"Ibumu melarang dirimu untuk keluar saat ini jika tidak ada kepentingan pekerjaan, dia sudah memerintahkan semua orang untuk menjagamu agar kau tidak kabur lagi, dia merasa gosip ini sangat baik untukmu, dan dia sudah mengatur penerbangan malam nanti untuk kita pulang ke ibukota, permintaanmu untuk menunda photoshoot, sudah di tolak ibumu," kata Joseph lagi menjelaskan, tugasnya memang seperti asisten bagi Jayden.
Jayden mengerutkan dahinya, lagi dan lagi, ibunya mengatur semua hidupnya.
"Aku ingin menemui ibuku, dimana dia?" kata Jayden dengan kepalan tangan yang sangat erat.
"Bibi sedang keluar sekarang," kata Joseph lagi.
Jayden menghentikan langkahnya, frustasi yang dia rasakan, bagaimana bisa! bagaimana bisa ibunya pergi keluar, sedangan dia mengurung Jayden di kamarnya ini, hidup benar-benar tidak adil baginya.
Jayden mengambil ponselnya yang tadi dia lemparkan ke kasurnya, dia segera melihat kontaknya, seingatnya dia masih menyimpan kontak Kayla, dan untungnya dia benar-benar belum menghapusnya.
Jayden segera menelepon Kayla, hanya satu kali nada sambung, panggilannya segera di angkat oleh Kayla.
"Halo?" lembut suara itu menggoda, bahkan tidak terdengar nada cemas atau apapun yang menandakan Kayla panik dengan gosip mereka itu.
"Kayla, apa yang sudah kau lakukan?" kata Jayden to the point.
"Jayden, apa maksudmu? aku tidak mengerti?" tanya Kayla yang sedang duduk di ruang riasnya, tampak tersenyum melihat wajahnya terefleksikan dari kaca itu.
"Bagaimana foto-foto itu bisa tersebar?" tanya Jayden sedikit geram dengan sifat Kayla yang seperti tak mengerti maksudnya.
"Aku juga tidak tahu, Jayden, jangan-jangan kau mengira aku yang menyebarkannya? bukannya kau tahu foto-foto itu ada di ponsel lama ku yang hilang?" tanya Kayla lagi, Jayden terdiam sejenak, benar, Kayla sempat kehilangan ponselnya dulu, apa mungkin orang yang menemukannya yang menyebarkan hal itu, tapi untuk apa? dan kenapa sangat pas sekali saat dia sudah tak lagi bersama Kayla.
"Lalu apa maksudmu mengatakan bahwa kita memiliki hubungan dan juga hubungan kita masih baik-baik saja?" tanya Jayden lagi.
"Jayden, bukannya dulu kita memang punya hubungan? apa kau lupa? foto itu diambil saat kita masih berstatus kekasih kan? makanya aku berkata seperti itu, dan sekarang memang hubungan kita baik-baik saja kan, walau kita bukan sepasang kekasih," kata Kayla lagi dengan suara yang begitu lembut menggoda, sayangnya Jayden terlalu marah dan kesal dengan semua ini.
"Kenapa? oh, apa wanitamu yang baru itu marah, mencintai seorang superstar sepertimu seharusnya dia sudah tahu bahwa tidak boleh terlalu peduli dengan pemberitaan, kau tak akan lepas dari pemberitaan-pemberitaan seperti ini, jika dia marah, lebih baik tidak berpacaran dengan seorang artis," kata Kayla dengan senyuman sinisnya.
"Lebih baik kau diam, aku ingin kau tidak menanggapi apapun lagi dari para wartawan, jangan memperburuk suasana," ujar Jayden lagi.
"Jayden, aku tidak memperburuk suasana, aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya, itu saja, Jayden, apa kau tidak merindukanku?" tanya Kayla lagi.
"Sudah jangan bertingkah konyol, pokoknya aku tidak ingin mendengar ada kabar apapun lagi tentang ini," kata Jayden, dia langsung mematikan ponselnya.
Kayla tersenyum manis melihat ponselnya, melihat kemarahan Jayden padanya dia tahu bahwa pasti sudah terjadi masalah antaranya dan wanita itu, perlahan dia akan menyusup diantars mereka lalu kembali ke hati pria itu, lihat saja, apa wanita itu bisa tahan melihat foto-foto selanjutnya, pikir Kayla tertawa licik.
kapan update abang jayden lagi...
udah setahun nungguin nya...