Memilih hidup berpetualang karena ingin melupakan cinta masa lalunya yang kelam, justru membuat Grey Stone Robert menemukan cinta baru di sebuah penginapan yang bernama 'OZ INN' ketika dirinya ingin mendaki bersama teman temannya.
Bagaimana kisah cinta Grey Stone Robert dan seorang gadis bernama Ozira Olsen -- yang tak lain adalah pemilik penginapan OZ itu?
Yuuk simak ceritanya ...
FOLLOW INSTAGRAM @zarin.violetta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Ozinn 23
Ozira tampak berjalan menjauh dari mobilnya setelah dari makam. Wanita itu memakai capuchon hingga menutupi kepalanya dan hanya terlihat wajahnya saja.
Wanita berjalan santai dengan ekspresi wajah yang tak bisa ditebak. Cukup lama Ozira berjalan menyusuri jalan setapak di hutan hingga akhirnya matanya menatap tajam ke arah sebuah rumah.
Tampak di luar beberapa penghuninya berada di luar sedang bercengkrama dengan wajah senang tanpa beban.
Dan itu hampir seperti perayaan yang sedang merayakan sesuatu.
Ozira masih berdiri terpaku di tempatnya hingga akhirnya hanya tertinggal 2 pria muda di halaman depan rumah itu.
Mereka tampak menenggak bir di hari yang masih terlihat terang ini. Kemudian kakinya mulai melangkah kembali dan berjalan menuju ke arah dua pria yang tampaknya sedikit mabuk itu.
Ozira meraba pinggangnya hingga akhirnya tangannya memegang sebuah pisau yang tersemat di celananya tadi.
"Let's play, Breengseek!!" bisiknya penuh dendam.
Lalu Ozira berlari dan menyerang salah satu pria itu dengan menusuk pahanya. Pria itu berteriak kesakitan hingga tiga orang yang ada di dalam rumah keluar.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Ozira kembali menusuk paha pria itu dan juga pria yang satunya lagi dengan memberinya tusukan bertubi-tubi di paha dan tangannya.
"Aku akan membuat kalian cacat dan menyesali apa yang telah kalian lakukan padaku seumur hidup kalian," geram Ozira hingga wajahnya terkena cipratan darah dua pria muda itu yang tak lain adalah anak dari Alfred.
"Apa yang kau lakukan??!" teriak Alena berteriak histeris.
April yang juga keluar dari rumah langsung lemas tak berdaya melihat dua cucunya bersimbah darah.
Satu kerabat April tampak ketakutan dan berlari kembali ke dalam rumah.
Ozira mengangkat pisaunya dan mendekati Alena.
"Kalian senang? Kalian merayakan kehancuran penginapanku? Ck ck ck ... Kalian pikir akan lolos begitu saja dariku? Mungkin kalian bisa lolos dari jerat hukum, tapi tidak dariku," ucap Ozira dengan nada dan tatapan mata yang dingin penuh dendam.
"A-apa maksudmu? Bukan kami yang melakukan hal itu," ucap Alena yang kini juga ketakutan melihat pisau di tangan Ozira.
Lalu Ozira tertawa getir mendengar ucapan Alena yang mengelak hal itu.
Ozira kembali ke arah dua pemuda itu dan menginjak paha mereka sekaligus hingga membuat mereka kembali berteriak kesakitan.
"YA!! KAMI YANG MEMBAKARNYA!!! KATAKAN SAJA HAL INI PADA POLISI!!!" teriak salah satu dari mereka.
"Jadi kalian ingin aku memanggil polisi? Kalian pikir aku bodoh? Aku tak semudah itu terperangkap dalam drama licik kalian. Kalian akan memutar balikkan fakta dan membuat aku lah pelakunya, cih!!" sahut Ozira dan kembali menekan paha kedua sepupu jauhnya itu dengan keras.
Teriakan kesakitan itu kembali terdengar hingga membuat Alena berlutut memohon pada Ozira untuk melepaskan mereka.
Lalu tanpa diduga, Ozira berlari ke dalam rumah dan membuka pinti depan dengan keras. Wanita itu mengambil ponsel yang dipegang oleh kerabar Alena yang ada di dalam rumah.
Ozira mematikan dan mengantonginya lalu menarik tangan wanita muda itu ke luar.
"Ambil korek dan kayu bakar lalu bakar rumahmu," ucap Ozira pada Alena.
"Kau gila?" sahut Alena dengan wajah frustasi.
"Ya, aku sudah gila sejak dua putramu itu membakar penginapanku dan membuat Bibi Bianca serta Paman Marco tewas terpanggang di dalamnya!!!" teriak Ozira dengan penuh emosi.
"BAKAR SEKARANG JUGA ATAU AKU AKAN MENBUNUH KALIAN SEMUA!!" teriak Ozira.