NovelToon NovelToon
Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.3
Nama Author: Leo Nil

Ferdian Juni tidak menyangka jika terlalu lama melajang malah membuatnya berjodoh dengan seorang gadis belia bernama Jiyaning Admaja.

Gadis yang masih kinyis-kinyis dan sedang asyik-asyiknya menikmati masa SMA harus menjadi istrinya yang hampir berkepala tiga. Hanya karena sebuah wasiat konyol dari mendiang sang kakek buyut untuk mempertahankan garis keturunan?

Sinting!

Namun, untuk menolak hal itu, Ferdian tak mampu. Jadilah, ia membuat kesempatan dengan Jiya mengenai hubungan pernikahan mereka yang pura-pura itu.

Lantas bagaimana kisah mereka? Penasaran, yuk baca!

HARAP TINGGALKAN KESAN DAN PESAN JIKA MEMBERI ULASAN. SETIDAKNYA HARGAILAH PENULIS. INGAT YAH, MENULIS ITU NGGK SEMUDAH MEMBACA, JADI HARGAI!!
TERIMA KASIH.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leo Nil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Insiden

Tak terasa seminggu sudah berlalu semenjak aku dan Jiya menginap di rumah Mamah Vivi. Kini kami disibukkan dengan kegiatan masing-masing.

Apalagi, Jiya yang sebentar lagi akan mulai ujian kelulusan. Hal itu membuat kami jarang bertegur sapa satu sama lain.

Sebenarnya, bisa saja kami ngobrol. Lagi pula, kami juga masih tinggal di rumah Momi sebelum pindah ke penthouse bulan depan.

Namun tetap saja, tidak bisa. Jika biasanya pagi aku akan pergi dulu mengantar Jiya ke sekolah, kini tugas itu digantikan oleh Momi. Lalu, saat malamnya. Tepat saat aku baru saja pulang kerja, sosok tertidur pulas bocah rese itu yang kutemui.

Jadi kapan lagi, kita punya waktu berdua? Walaupun cuma adu bacot kayak dulu.

Dibilang rindu, lumayan. Terus kalau ditanya kehilangan, yah jawabannya emang iya.

Rasanya hidupku yang abu-abu makin monoton aja tanpa keusilan bocah setan itu. Jiya yang biasanya nguji kesabaranku, kini fokus belajar dan baca buku.

Beda banget sama bocah setan yang biasanya suka ngeluh kecapekan dan manja.

"Kamu lembur lagi, Fer?" tanya Momi saat melihatku masuk ke rumah dengan wajah lesu.

Selain karena lelah, aku juga kekurangan waktu tidur akhir-akhir ini. Asupan bahagiaku juga lagi bertapa sampai hari H kelulusan. Aish, nasib-nasib punya bini masih sekolah.

"Iya, Mom." Aku menjawab seadanya, seraya menaiki tangga untuk naik ke lantai dua. Namun, saat sampai ditengah-tengah jalan, langkahku terhenti.

"Eum, Jiya udah tidur belum Mom?" tanyaku lirih, hampir seperti bisikan.

Untung saja, kuping Momi punya kepekaan tingkat tinggi. Jadi, dia masih bisa mendengarkan ucapanku barusan.

"Enggak tahu, cuma tadi Jiya minta dibuatin segelas susu cokelat. Emangnya kenapa, Fer? Kamu kangen?" celetuk Momi seolah tahu isi kepalaku saat ini.

Berdeham pelan untuk menghilangkan rasa malu saat kepergok. Aku buru-buru menjawab, "Nggak. Cuma nanya aja."

Kulihat Momi hanya beroh-ria saja sebagai jawaban. Kemudian, terlihat sibuk kembali menonton acata telivisi, Lapor Pak.

Saat kakiku sampai di anak tangga terakhir, aku berharap bisa menjumpai sosok bocah rese itu sebelum tidur. Alasannya karena besok, pagi-pagi sekali aku ada penerbangan menuju luar negeri untuk mendiskusikan kerja sama yang terjalin waktu itu.

Dan aku belum berbicara pada siapapun tentang ini. Termasuk Momi sama Daddy. Aku punya kebiasaan buruk, yakni memberi tahu saat sudah berada di dalam sebuah transportasi umum dan akan berangkat beberapa menit lagi.

Alasannya karena aku tak mau mendapat teguran atau larangan dari mereka semua. Jadi, aku memilih cara yang cukup kekanakan ini. Supaya langsung mendapatkan persetujuan.

Kriettt ...

Pintu kamar kubuka pelan, hingga terdengar suara deritnya saja karena bergesekan dengan lantai. Selain itu, tak ada lagi yang terdengar, sekalipun itu suara teriakan Jiya yang meminta untuk tidak diganggu saat belajar.

Benar-benar sunyi, senyap. Malahan, aku bisa mendengar suara tarikan napasku sendiri. Kenapa aku belum juga menemukan batang hidungnya. Kemana sih, bocah rese itu sebenarnya?

Kembali aku melangkah masuk ke dalam kamar. Dan langsung mendapati Jiya yang lagi-lagi tertidur dengan posisi yang sama. Sujud, sambil menopang dagunya sendiri.

Sedari tadi kucari, dia malah enak-enak mimpi di kamar. Hadeh, untuk saja aku orangnya nggak suka marah-marah. Jadi, kubiarkan istri kecilku yang tengah tertidur lelap itu.

"Kebiasaan tidur kamu, emang nggak pernah berubah, yah." Aku berujar seraya menyelimuti tubuh Jiya yang terbalut piyama gambar kepala Doraemon. Sampai ke bawah dagu.

Kulihat wajah milik bocah rese itu lekat-lekat. Seolah-olah sedang merekam tiap jengkal garis wajah miliknya sebelum pergi besok. Tak lupa, aku mengusap puncak kepalanya sayang, hingga membuat Jiya makin mendekatkan dirinya padaku, merasa nyaman karena belaian itu.

Sayangnya, dia jinak kalau lagi merem. Coba aja pas melek, aku pasti udah dipukul pakai bogeman supernya kayak waktu itu. Tak lupa diteriaki modus.

Padahalkan, kita udah sah. Mau dicium atau berhubungan suami-istri juga boleh-boleh aja pastinya.

Ah, bicara soal itu. Boleh nggak sih, sebelum pergi aku ninggalin tanda ditubuh Jiya?

***

Pagi muncul dengan begitu cepatnya. Membuatku yang nggak tidur dari semalam dan sibuk memandangi wajah Jiya hanya bisa mendengus sebal. Hanya saja, saat melihat beberapa tanda merah itu membuatku tersenyum tanpa sadar.

Eum, lebih baik mungkin aku segera bersiap-siap sebelum bocah rese itu bangun dan mengamuk mirip Godzilla. Yah, sepertinya itu pilihan yang tepat.

Kurang dari sepuluh menit, aku sudah turun ke lantai satu dan menemui Momi yang masih sibuk memasak di dapur. Di ruang tengah, kulihat Daddy sedang sibuk dengan koran merdeka yang baru dikirim, untuk dia baca. Tak lupa, sambil sesekali menyesap kopi hitamnya pasti.

"Weekend gini kamu masih berangkat kerja, Fer?" kata Momi.

Meskipun dia masih sibuk mengaduk-aduk nasi goreng di wajan. Tapi aku tahu, kalau wanita itu diam-diam mengamati diriku sejak turun dari tangga tadi.

"Ini 'kan hari Sabtu, Mah. Weekend besok kali," elesku yang langsung mendapat cubitan kecil dipipi.

Terkadang, Momi masih saja menganggap aku yang hampir kepala tiga ini anak kecil. Contohnya, seperti apa yang barusan dia lakukan ini.

"Tetap aja, masuknya udah weekend. Lagian, banyak juga sekolah sama PT, yang hari Sabtu-Minggu libur." Lagi Momi menjawabnya.

Selain perhatian, Momi juga paling jago kalau buat berdebat. Cuma, aku terlalu pasif dan malas. Jadi, pas diajak debat tiba-tiba, aku lebih milih buat segera mengakhirinya.

"Iya deh, Momi bener." Aku menjawab seadanya. Yang malah membuat senyum merekah dibibir Momi lebar.

"Iya, dong. Mominya siapa dulu coba?" tanyanya sambil melirik ke arahku. Ngekode keras banget.

"Ferdi."

"Utututu ... Pinternya anak Momi."

Selesai sarapan, namun belum juga mendapati tanda-tanda Jiya turun. Aku pun memutuskan untuk berangkat. Berpamitan dulu kepada kedua orangtuaku terlebih-lebih dahulu. Lalu, mulai menarik pedal gas untuk berangkat.

Huft, baru saja semenit aku meninggalkan rumah tapi sudah saja kepikiran dengannya. Apalagi nanti, pas sudah sampai dan tinggal selama seminggu di Jepang? Aku pikir, aku bakal ngerasa bosan banget.

Sibuk melamun, aku sampai tidak sadar dengan lampu merah yang tiba-tiba menyala di depan. Segera aku berusaha mengerem mobil ini sekuat tenaga dengan menarik remnya.

Namun, semua itu seakan tak berguna. Mobil sedan yang kukendarai ini tetap saja melaju dengan kencangnya membelah jalan kota yang ramai saat itu. Menerobos lampu merah. Hingga ...

Brak!!!

Tabrakan itu tak bisa aku hindari lagi. Aku bahkan tak ingat, bagaimana detail kejadiannya. Yang pasti, saat kesadaran dan nafasku hampir lenyap. Aku masih saja mengingat samar-samar satu nama.

"Ji-Jiya ..."

1
Melia Gusnetty
nahh..tuu baru laki luu fer.....👍
Melia Gusnetty
si ferdi goblok...gk bs tegas jd orang...
Melia Gusnetty
knp gk kuliah si jiya thort...kok malah jd OB...secara kn ank horang kaya...suami tajir melintir...kok mau2 nya jd OB...🤦‍♀️
Melia Gusnetty
emang bs ngadapin si lukman dn mafia sendiri...
Melia Gusnetty
kualat gk pamit sm istri ...wlu pun istri yg sll lu bilang bocah setan..gitu2 dia istri lu..
Melia Gusnetty
aduuhh...kpn si ferdi gk ngatain istri nya bocah setan siiih.....dasar laki setan...😏🤭
Melia Gusnetty
jgn lh bocah setan thort..tolong lh agk d perhalus bhs nya thort...bocah ingusan boleh juga lh tuu..dr pd bocah setan..kesan nya kasar skl utk seorang yg berpendidikan apa lg dh seorang CEO...
ZHANG LINGHE 🥰🥰🥰
😁
Andriyati
lagian ferdi aneh,, masak kerja ampe gila"an gitu sampe gak punya waktu buat istri
Mbak anee
lanjut
Mbak anee
jangan2,ferdi seorang mafia
Mbak anee
gasken
Mbak anee
jiya cembokur ma gisel
Mbak anee
😅😅😅
Mbak anee
ngakak thor
Mbak anee
keren
Myca
halah, mamah papah ku itu lho beda 10 th, aku tetep lahir di dunia🗿
_ASMODEOUS_: mamah papah ku beda 30 th 🗿
total 1 replies
Ria Ufrida
😆😆😆😍😍😍
Atmita Gajiwi
/Rose//Rose//Rose//Rose//Heart/
Leo Nil: makasih dukungannya ka/Joyful/
total 1 replies
Rahma Putri
Luar biasa
Leo Nil: makasih bintangnya ka/Drool/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!