Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.
Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.
Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.
Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.
Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.
Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta untuk menjauh
Di dalam kelas yang riuh, Tari, Tania, duduk di bangku meja mereka, sementara Arlo berbalik menatap keduanya, namun raut waja mereka jauh dari kata ceria.
"Gue masih kepikiran Keana," ucap Tari memecah keheningan, matanya menatap kosong ke arah layar ponselnya.
"Setelah insiden kebakaran kemarin bikin gue syok banget. Gue nggak nyangka Keana sampai pingsan separah itu."
Tania mengangguk setuju, raut wajahnya penuh kecemasan. "Iya. Kasihan banget Keana"
Arlo, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan cerita keduanya. Rahangnya mengeras, matanya memancarkan kekhawatiran yang sangat dalam. Sejak Keana dilarikan ke rumah sakit, pikirannya sama sekali tak bisa fokus pada pelajaran. Ia merasa tak tenang karena belum bisa melihat langsung kondisi kekasihnya itu.
"Kita jenguk Kea, sepulang sekolah yuk?" usul Arlo tiba-tiba, suaranya berat namun tegas.
Tania dan Tari saling berpandangan, lalu menatap Arlo. Mereka tahu betul seberapa besar perhatian cowok itu pada Keana.
"Oke, kita ikut," kata Tania. "Kita bawa buah tangan sekalian, ya?"
Hingga jam pulang sekolah pun tiba, ketiganya langsung pergi ke rumah sakit. Tapi sebelum itu Arlo mengirimkan pesan pada Gavin untuk menanyakan di mana ruang perawatan keana.
Rumah sakit
Tepat pukul dua siang, pintu kamar rawat VVIP itu diketuk dari luar. Tari, Tania, dan Arlo melangkah masuk dengan raut wajah setengah khawatir namun langsung berubah lega begitu melihat Keana tengah duduk bersandar sambil tertawa menanggapi celotehan Gavin.
"Kea!" seru Tari dan Tania nyaris bersamaan, langsung berhamburan memeluk sahabat mereka dengan hati-hati.
"Kalian ke sini? Ya ampun, padahal sore ini aku udah mau pulang," ucap Keana senang, matanya berbinar melihat kehadiran teman-temannya.
Gavin menyambut kedatangan ketiganya dengan senyum lebar. Ia sangat senang melihat adiknya dikelilingi oleh teman-teman yang peduli.
"Untung kalian datang, gue dari tadi udah kayak badut sirkus nyari cara buat ngehibur nih anak biar gak bete."
Sementara Tari dan Tania sibuk menceritakan betapa paniknya seisi sekolah kemarin, Arlo melangkah lebih dekat ke sisi ranjang. Cowok itu menatap Keana dengan sorot mata yang penuh kelembutan dan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
"Gimana keadaan lo, Kea?" tanya Arlo dengan suara rendah yang menenangkan. Tangannya bahkan sempat terulur sebentar, mengusap punggung tangan Keana dengan gerakan yang sangat natural namun sarat akan perhatian.
Keana tersenyum, rona merah tipis menjalar di pipinya yang masih agak pucat.
"Udah jauh lebih baik. Makasih ya udah repot-repot jenguk."
"Repot apaan, sih, Kea? Lo kayak sama siapa aja," serobot Tania sambil menaruh bingkisan parcel buah di atas meja samping tempat tidur.
"Dari tadi pagi, ni anak satu," Tania melirik Arlo dengan tatapan bermakna, "Nggak konsentrasi sama sekali seharian di kelas. Muka dia udah kayak kertas HVS, pucat banget mikirin lo!"
"Dih, apaan sih, Tan. Nggak usah lebay," tukas Arlo cepat, berusaha menutupi rasa canggungnya walau sudut matanya tetap mencuri pandang ke arah Keana.
Tari tertawa kecil melihat ekspresi Arlo yang salah tingkah. "Tapi beneran, Kea. Kita bertiga khawatir banget. Dari tadi Arlo udah gak sabar banget mau ke sini. Mungkin dia udah ada niatan buat bolos sekolah biar seger liat keadaan lo."
Rona merah di pipi Keana makin terlihat jelas mendengar cerita kedua sahabatnya. Ia menunduk sebentar, memainkan jemarinya, sebelum kembali menatap Arlo, Tari, dan Tania satu per satu.
"Makasih ya, kalian... Maaf udah bikin kalian panik," bisik Keana tulus.
"Aku beneran udah gak apa-apa, kok. Sore ini Papa bilang aku udah boleh pulang ke rumah."
"Beneran sore ini?" mata Tari berbinar lega.
"Duh, syukurlah kalau gitu! Sekolah berasa sepi banget nggak ada lo. Nanti materi pelajaran yang ketinggalan tenang aja, gue sama Tania yang bakal catatin buat lo."
Di sofa, Gavin yang sejak tadi memperhatikan interaksi ketiganya hanya bisa tersenyum-senyum tipis.
"Duh, yang dijenguk sahabat-sahabatnya langsung segar bugar," goda Gavin jahil, memecah rasa manis yang mulai merayapi keheningan kamar. "Padahal tadi pagi mukanya cemberut. Beda emang kalau yang nanya 'gimana keadaan lo' itu si Arlo."
"Kak Gavin! Apaan sih!" seru Keana cepat dengan muka memerah, sementara Arlo hanya bisa berdeham canggung, menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
Suasana kamar itu dipenuhi oleh obrolan hangat khas remaja. Gavin sesekali menimpali dengan candaan yang membuat seisi ruangan tertawa. Namun, kehangatan itu seketika terhenti.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Elvan melangkah masuk dengan baju dokter biru navy-nya. Seketika, tawa di ruangan itu hilang. Hawa dingin seakan menyapu seluruh sudut kamar begitu mata tajam Elvan menyapu wajah-wajah di sekeliling adiknya. Tatapan mata Elvan yang sedingin es langsung terkunci pada satu titik, Arlo, dan jarak cowok itu yang terlalu dekat dengan Keana.
"Kak El..." sapa Keana pelan, merasakan perubahan drastis atmosfer di ruangan itu.
Elvan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat pada teman-teman Keana. Alih-alih pergi atau bergabung dalam obrolan, Elvan duduk di sebelah Gavin. Tidak mengatakan sepatah kata pun, namun keberadaannya dan tatapan matanya yang menusuk langsung ke arah Arlo membuat ketiga remaja itu seketika mati kutu.
Tari dan Tania saling sikut dengan canggung, sementara Arlo berusaha tetap tenang meski jakunnya naik turun menelan ludah. Hening yang canggung itu bertahan selama lima belas menit, sampai akhirnya Tari berdeham pelan.
"Eum... Kea, kayaknya kita harus balik sekarang deh. Takut ganggu lo istirahat," ucap Tari gugup.
"I-iya, Kea. Cepat sembuh ya. Sampai ketemu di sekolah," tambah Tania tak kalah canggung.
"Gue pamit ya, Kea. Istirahat yang bener," pamit Arlo, menatap Keana untuk terakhir kalinya sebelum mengangguk hormat ke arah Gavin dan Elvan.
"Mari, Bang."
Gavin melambaikan tangan dengan santai.
"Yoi, thanks udah pada mampir ya! Hati-hati di jalan!"
Begitu ketiga remaja itu keluar dari kamar, Elvan langsung menegakkan tubuhnya.
"Abang mau cek rekam medis pasien lain sebentar di depan," pamit Elvan singkat pada Gavin dan Keana, lalu bergegas menyusul keluar, menutup pintu VVIP itu rapat-rapat.
Di ujung koridor, tepat sebelum Tari, Tania, dan Arlo mencapai lift, suara berat Elvan menghentikan langkah mereka.
"Tunggu!"
Ketiganya menoleh. Tari dan Tania seketika pucat melihat raut wajah Elvan yang serius.
"Kalian berdua, boleh turun duluan. Aku perlu bicara sebentar dengannya secara pribadi," ucap Elvan dengan menunjuk kearah Tari dan Tania, lalu Arlo dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Tari dan Tania mengangguk kaku, lalu bergegas masuk ke dalam lift, meninggalkan Arlo sendirian berhadapan dengan kakak sulung Keana. Arlo berusaha menahan napas, mencoba mempersiapkan diri.
Elvan melangkah mendekat. Ia menatap Arlo dari atas ke bawah, menilai cowok di depannya dengan tatapan mengintimidasi. Tidak ada lagi Elvan sebagai dokter yang ramah, yang ada hanyalah seorang pelindung keluarga yang tidak kenal kompromi.
"Aku tidak suka membuang waktu. Apa hubunganmu dengan Keana?" desis Elvan, suaranya sangat rendah.
Arlo mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Menghadapi tatapan intimidasi dari Elvan butuh keberanian besar, tapi mengingat perasaannya pada Keana, ia memaksakan diri untuk membalas tatapan Elvan.
"Aku... aku dan Keana pacaran, Bang," jawab Arlo, suaranya sedikit bergetar namun jelas. "Aku benar-benar peduli sama Kea. Aku—"
"Jauhi Keana." potong Elvan seketika.
Arlo tertegun. Kepalanya mendongak menatap Elvan, terkejut dengan serangan frontal tersebut. "M-maksud Abang...?"
"Apakah yang kukatakan kurang jelas? sepertinya telingamu masih berfungsi dengan baik untuk mendengar kalimat yang baru saja aku keluarkan"
"Saya tahu Abang cuma mau yang terbaik buat Keana, tapi saya nggak ada niat sedikit pun buat main-main," tegas Arlo, menahan getaran di suaranya walau dadanya bergemuruh hebat. Ia melangkah satu senti lebih dekat, menatap langsung ke dalam manik mata Elvan yang dingin.
"Saya cinta sama Keana, Bang. Tulus. Dari sebelum Abang berdiri di sini buat nyuruh saya mundur, saya udah berjanji sama diri saya sendiri untuk selalu ada di samping Kea. Saya nggak akan pernah biarin dia terluka, dan saya bakal terus jaga dia dengan cara saya sendiri. Tolong... jangan suruh saya lepasin Keana."
Elvan hanya terdiam sejenak. Namun, bukannya melunak, senyum tipis yang muncul di bibirnya justru membuat atmosfer di sekitar mereka semakin dingin. Itu bukan senyum keramahan, melainkan senyum seseorang yang sedang menatap serangga kecil yang mencoba menantang badai.
"Cinta?" Elvan mengulang kata itu dengan nada yang sarat akan ejekan. Ia tertawa kecil, suara yang kering dan tanpa kehangatan.
"Itu kata yang sangat mudah diucapkan oleh anak seumuranmu. Kau pikir aku peduli dengan janjimu? kau pikir akan membiarkan masa depan Keana bergantung pada sebuah kata 'tulus' dari seseorang yang bahkan belum tahu apa arti tanggung jawab yang sebenarnya?"
Elvan melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia berdiri tepat di hadapan Arlo. Tatapan matanya yang tajam seolah menelanjangi ketakutan yang mulai muncul di balik keberanian Arlo.
"Dengar. Aku tidak butuh pembelaanmu. Aku butuh kau memutuskan hubunganmu dengan Kea dan jadilah teman pada umumnya. Tidak perlu terlalu dekat cukup bicara seperlunya " ujar Elvan, suaranya kini berbisik namun penuh penekanan yang menusuk.
"Jika kau diam-diam masih memiliki hubungan dengan Keana, aku akan memastikan, kau tidak bisa mendekati Keana atau bahkan hanya sekedar melihatnya di sekolah"
Elvan menepuk pundak Arlo dengan keras, dua kali, seolah sedang memberikan salam perpisahan, namun dengan arti yang lebih kejam.
"Sekarang, buat keputusanmu. Apa kamu lebih memilih untuk mempertahankan ego 'cinta' mu, atau kau ingin memastikan hidupmu tetap tenang setelah hari ini?"
Elvan tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan melenggang pergi dengan langkah tenang, meninggalkan Arlo yang mematung di lorong rumah sakit yang kini terasa menyesakkan. Arlo bisa merasakan keringat dingin mengucur di punggungnya; ancaman itu tidak teriak, tidak kasar, namun justru terasa jauh lebih nyata dan mematikan.