NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Jennaira Hanania Mecca tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.






Update setiap hari ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 — Makan Siang di Ruang Shaka

Menjelang makan siang, Jenna mulai bersiap-siap di ruang belakang Jenna’s Bloom Café.

Sejak menerima pesan dari Shaka, hatinya terasa ringan. Bukan karena ajakan makan siang itu sesuatu yang besar, tetapi karena bagi Jenna, kalimat aku tunggu dari Shaka terasa seperti undangan masuk ke bagian hidup suaminya yang selama ini tampak jauh.

Kantor Shaka.

Ruang kerja Shaka.

Dunia Shaka.

Hari itu, Jenna memilih gamis longgar berwarna hitam yang jatuh anggun menutupi tubuhnya. Ia memadukannya dengan jilbab hitam panjang dan cadar hitam yang membuat penampilannya tampak sederhana, tetapi elegan. Sebelum keluar dari ruang belakang, Jenna sempat menatap pantulan dirinya di cermin kecil.

Ia menarik napas pelan.

Entah kenapa, ia merasa gugup.

Padahal ia hanya akan makan siang dengan suaminya sendiri.

Namun mungkin karena ini pertama kalinya ia datang ke kantor Shaka sebagai istri. Bukan sebagai tamu biasa, bukan sebagai putri keluarga Nirankara, melainkan sebagai seseorang yang ditunggu oleh pemilik ruangan di lantai tertinggi gedung itu.

Ketika Jenna keluar, Naya langsung menatapnya dari meja bunga.

“Kak Jenna…”

Jenna berhenti. “Kenapa?”

Naya menangkupkan kedua tangan di dada, wajahnya dibuat penuh haru.

“Masyaallah, auranya istri CEO sekali.”

Kevin yang berada di balik mesin kopi langsung menoleh.

“Kak Jenna mau ke kantor Mas Shaka?”

Jenna mengangguk kecil. “Iya. Makan siang sebentar.”

Alya tersenyum lembut. “Hati-hati, Kak.”

Amanda menahan senyum jahil. “Jangan lupa pulang, Kak. Nanti Mas Shaka malah nggak mau balikin bos kami.”

“Nanti Jenna pulang,” jawab Jenna, pipinya terasa hangat meski tertutup cadar.

Naya mendekat sambil membetulkan ujung jilbab Jenna yang sebenarnya sudah rapi.

“Kak, tenang saja. Kafe aman. Pergilah menjadi istri yang ditunggu suami.”

“Naya.”

“Iya, iya. Aku diam.”

Namun senyum Naya tetap melebar.

Tidak lama kemudian, mobil yang dikirim Shaka berhenti di depan kafe. Sopir turun dan membukakan pintu untuk Jenna.

Jenna berpamitan kepada para karyawannya, lalu masuk ke mobil.

Sepanjang perjalanan menuju AZ Global Enterprises, Jenna menatap kota dari balik jendela. Gedung-gedung tinggi berdiri di sepanjang jalan, kendaraan bergerak padat, dan siang itu terasa sangat berbeda dari hari-hari biasanya.

Jenna pernah mendengar banyak tentang perusahaan keluarga Kalandra. AZ Global Enterprises dikenal sebagai salah satu perusahaan besar dengan jaringan bisnis luas. Shaka memimpin perusahaan itu dengan reputasi dingin, disiplin, dan hampir tidak pernah memberi ruang untuk kesalahan.

Jenna tiba-tiba membayangkan Shaka di ruang rapat.

Wajah seriusnya.

Tatapan tajamnya.

Cara ia bicara singkat, tetapi membuat orang mendengarkan.

Lalu Jenna teringat Shaka yang pagi tadi menggenggam tangannya di mobil.

Shaka yang tertawa.

Shaka yang mengakui cemburu.

Shaka yang memeluknya semalam.

Jenna menunduk, menyembunyikan senyum kecil.

Ternyata suaminya punya banyak sisi.

Dan ia baru mulai mengenalnya.

Mobil berhenti di depan gedung AZ Global Enterprises.

Gedung itu menjulang tinggi dengan desain modern dan mewah. Kaca besar memantulkan cahaya matahari, sementara logo perusahaan berdiri kokoh di bagian depan. Begitu Jenna turun dari mobil, beberapa petugas keamanan langsung menyambut dengan sikap hormat.

“Selamat siang, Bu Jenna.”

Jenna sedikit terkejut, tetapi segera mengangguk sopan.

“Selamat siang.”

Rupanya mereka sudah mengenalnya.

Saat Jenna masuk ke lobi, beberapa karyawan yang melintas langsung menoleh. Tidak sedikit yang mengenalinya dari berita pernikahan Shaka beberapa hari lalu. Bisik-bisik kecil terdengar, tetapi tetap dalam batas sopan.

“Itu istrinya Pak Shaka, kan?”

“Iya, Bu Jenna.”

“Cantik sekali auranya.”

“Pantas Pak Shaka akhir-akhir ini kelihatan beda.”

Beberapa karyawan menyapa dengan ramah.

“Selamat siang, Bu Jenna.”

“Selamat datang, Bu.”

Jenna membalas dengan anggukan lembut.

“Selamat siang.”

Ia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian di kantor Shaka. Di kafenya sendiri, ia adalah pemilik yang dekat dengan karyawan. Namun di sini, semua terasa lebih formal. Lebih kaku. Lebih mencerminkan dunia Shaka.

Ketika Jenna sedang menunggu di dekat area resepsionis, seorang laki-laki muncul dari arah lift.

Rafa.

Ia baru saja turun ke lobi untuk mengambil berkas dari salah satu staf administrasi. Namun begitu melihat Jenna, wajahnya langsung cerah.

“Wah, wah, wah.”

Jenna menoleh.

“Mas Rafa.”

Rafa berjalan menghampiri dengan senyum lebar.

“Selamat siang, Bu Bos.”

Jenna langsung terdiam.

“Bu Bos?”

“Iya.” Rafa mengangguk mantap. “Kalau Pak Shaka bos saya, berarti Bu Jenna Bu Bos saya.”

Jenna tertawa kecil dari balik cadar.

“Mas Rafa bisa saja.”

“Saya serius. Mulai hari ini, saya harus menyapa dengan penuh hormat. Jangan sampai bonus saya terancam.”

Jenna menggeleng pelan, masih tersenyum.

Rafa menatap Jenna sebentar, lalu menyadari sesuatu. Wajah Jenna hari itu tampak jauh lebih ringan dibanding saat resepsi atau saat pertama kali ia melihatnya bersama Shaka. Matanya tidak lagi terlalu sedih. Ada cahaya kecil di sana.

Rafa menahan senyum.

Sepertinya nasihatnya benar-benar bekerja.

“Pak Shaka sudah menunggu di atas,” ujar Rafa. “Saya antar, Bu Bos.”

“Tidak perlu repot, Mas. Jenna bisa diantar resepsionis.”

“Wah, tidak bisa. Tamu penting harus diantar langsung oleh sekretaris paling tampan dan paling berjasa di perusahaan ini.”

Jenna hampir tertawa.

“Mas Rafa memuji diri sendiri?”

“Kalau bukan saya, siapa lagi? Pak Shaka jelas tidak akan memuji saya kecuali setelah rumah tangganya membaik.”

Jenna langsung tersipu.

“Mas Rafa…”

Rafa pura-pura tidak sadar.

“Ayo, Bu Bos. Lift eksekutif lewat sini.”

Jenna mengikuti Rafa menuju lift khusus. Beberapa karyawan yang melihat mereka kembali berbisik pelan, tetapi suasananya lebih banyak dipenuhi rasa penasaran dan antusias.

Di dalam lift, Rafa berdiri di samping Jenna sambil menatap angka lantai yang terus naik.

“Bu Jenna.”

“Iya, Mas?”

“Pak Shaka hari ini suasana hatinya bagus sekali.”

Jenna menunduk sedikit.

“Benarkah?”

“Sangat. Sampai saya takut perusahaan ini kehilangan CEO dinginnya.”

Jenna tidak bisa menahan senyum.

Rafa meliriknya sekilas, lalu tersenyum puas.

“Baguslah. Berarti rumah tangga kalian mulai cerah.”

Jenna terdiam sebentar, lalu berkata pelan, “Kami masih belajar, Mas.”

Rafa mengangguk. “Tidak apa-apa. Yang penting sama-sama mau belajar.”

Lift berhenti di lantai tertinggi.

Pintu terbuka, memperlihatkan koridor luas dengan interior elegan. Beberapa staf di lantai eksekutif langsung berdiri lebih tegak ketika melihat Rafa datang bersama Jenna.

Rafa mengantar Jenna sampai ke depan pintu besar ruang kerja Shaka.

Ia mengetuk dua kali.

“Masuk,” suara Shaka terdengar dari dalam.

Rafa membuka pintu sedikit, lalu menyembulkan kepala.

“Pak, Bu Bos sudah datang.”

Dari dalam, suara Shaka terdengar datar, “Rafa.”

Namun Jenna bisa mendengar ada nada berbeda di baliknya.

Rafa menahan tawa dan membuka pintu lebih lebar.

“Silakan, Bu Bos.”

Jenna melangkah masuk.

Ruang kerja Shaka sangat luas, rapi, dan berwibawa. Jendela besar memenuhi salah satu sisi dinding, memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Meja kerja besar berada di tengah ruangan dengan beberapa dokumen tersusun rapi, laptop terbuka, dan secangkir kopi hitam di sisi kanan.

Shaka duduk di balik meja.

Namun begitu Jenna masuk, ekspresi seriusnya langsung berubah.

Tidak banyak.

Tetapi cukup jelas bagi Jenna.

Matanya melembut.

Sudut bibirnya terangkat.

Dan wajah yang biasanya dingin itu terlihat penuh bahagia.

“Kamu sudah sampai,” ucap Shaka.

Jenna mengangguk pelan.

“Iya.”

Rafa berdiri di dekat pintu, menatap mereka bergantian dengan senyum jahil.

Shaka meliriknya.

“Kamu masih di sini?”

Rafa langsung mengangkat tangan.

“Saya pergi. Jangan khawatir, saya tidak akan mengganggu makan siang romantis kalian.”

“Rafa.”

“Baik, baik. Saya keluar.”

Sebelum menutup pintu, Rafa masih sempat berkata, “Selamat makan siang, Bu Bos.”

Jenna menunduk malu.

Pintu tertutup.

Ruangan itu kini hanya berisi Shaka dan Jenna.

Untuk beberapa detik, mereka saling menatap.

Lalu Jenna tersenyum kecil.

“Bu Bos?”

Shaka menghela napas pelan.

“Jangan dengarkan Rafa.”

“Tapi lucu.”

“Dia terlalu banyak bicara.”

“Menurutku Mas Rafa menyenangkan.”

Shaka menatapnya.

Jenna segera memperbaiki, “Maksudku, dia lucu.”

“Aku tahu.”

Jenna menahan senyum.

Shaka berdiri dari kursinya, lalu berjalan menghampiri Jenna.

“Kamu cantik hari ini.”

Jenna langsung menunduk.

“Baru juga masuk, kamu sudah memuji.”

“Karena memang cantik.”

Pipi Jenna menghangat.

Ia mulai menyadari bahwa sejak Shaka mulai jujur, laki-laki itu juga mulai lebih berani memuji. Dan Jenna belum terbiasa. Setiap pujian Shaka terasa langsung menuju jantungnya.

Shaka menatapnya sejenak, lalu menunjuk sofa di sisi ruangan.

“Tunggu sebentar, ya. Aku selesaikan dokumen ini dulu. Tinggal tanda tangan beberapa halaman.”

Jenna mengangguk.

“Iya. Tidak apa-apa.”

“Kamu mau minum apa?”

“Air putih saja.”

Shaka menekan interkom dan meminta staf membawakan air putih serta teh hangat. Setelah itu ia kembali ke meja kerjanya, sementara Jenna duduk di sofa tamu.

Jenna memperhatikan Shaka dari tempat duduknya.

Di kantor, Shaka tampak berbeda.

Lebih tegas.

Lebih tenang.

Lebih berkuasa.

Cara ia membaca dokumen, memberi catatan singkat, dan menandatangani berkas menunjukkan sisi dirinya yang sangat profesional. Tidak heran banyak orang segan kepadanya.

Namun sesekali, Shaka mengangkat wajah dan melirik Jenna.

Setiap kali mata mereka bertemu, Jenna tersenyum kecil.

Shaka juga.

Lalu keduanya sama-sama kembali salah tingkah.

Di luar ruangan, Rafa yang kebetulan melewati meja sekretaris melihat dari kaca buram sebagian dan menggeleng pelan.

“Parah,” gumamnya. “Pak Shaka benar-benar sudah masuk fase kasmaran.”

Sekitar lima belas menit kemudian, Shaka menutup map terakhir.

“Selesai.”

Jenna menoleh.

“Tidak mengganggu pekerjaanmu?”

“Tidak. Justru aku ingin cepat selesai karena kamu di sini.”

Jenna menunduk, kembali malu.

Shaka mengambil ponselnya.

“Kamu mau makan apa?”

“Yang mudah saja. Apa pun boleh.”

“Jenna.”

“Iya?”

“Pilih.”

Jenna terdiam, lalu tersenyum kecil.

“Kalau begitu, nasi ayam mentega?”

Shaka mengangguk.

“Baik.”

Mereka akhirnya memesan makanan dari luar. Shaka memesan beberapa menu: nasi ayam mentega untuk Jenna, beef teriyaki untuk dirinya, sup hangat, salad, dan dua minuman. Tidak lama kemudian, makanan diantar oleh staf dan ditata di meja kecil dekat sofa.

Jenna sempat ingin membantu membuka kemasan, tetapi Shaka lebih dulu melakukannya.

“Biar aku.”

Jenna menatapnya.

“Kamu sibuk kerja, tapi masih mau menyiapkan makan?”

“Aku bisa menyiapkan makan untuk istriku.”

Kalimat itu membuat Jenna diam.

Shaka menyadari wajah Jenna memerah dan tersenyum tipis.

“Kamu mudah sekali malu.”

“Karena kamu sekarang mudah sekali membuat Jenna malu.”

“Jenna?”

Jenna terdiam, baru sadar ia kembali menyebut dirinya dengan nama.

Shaka mengangkat alis.

Jenna menunduk.

“Aku.”

Shaka tampak puas.

Mereka mulai makan bersama di ruang kerja Shaka.

Suasananya sederhana, tetapi terasa intim. Di luar ruangan, dunia AZ Global Enterprises tetap berjalan dengan rapat, dokumen, dan keputusan bisnis. Namun di dalam ruangan itu, untuk satu jam makan siang, Shaka tidak ingin menjadi CEO.

Ia hanya ingin menjadi suami yang makan bersama istrinya.

Jenna mencicipi makanannya, lalu mengangguk kecil.

“Enak.”

“Kamu suka?”

“Iya.”

“Nanti kalau kamu datang lagi, kita pesan dari tempat ini.”

Jenna menatapnya.

“Datang lagi?”

Shaka menatapnya balik.

“Kenapa? Kamu tidak mau datang lagi ke kantorku?”

“Bukan begitu. Aku hanya… tidak tahu boleh atau tidak.”

Shaka meletakkan sendoknya sebentar.

“Jenna, kamu boleh datang kapan pun.”

Jenna terdiam.

“Kantor ini memang tempat kerjaku,” lanjut Shaka, “tapi kamu istriku. Kamu tidak perlu merasa seperti tamu asing.”

Hati Jenna menghangat.

Dulu, ia pernah merasa Shaka membangun batas yang tinggi sekali. Seolah hidup Shaka adalah wilayah yang tidak boleh ia masuki. Namun sekarang, laki-laki itu sendiri yang membuka pintu.

Pelan-pelan.

Tidak sekaligus.

Tetapi cukup untuk membuat Jenna merasa diterima.

Jenna tersenyum lembut.

“Baik. Nanti aku datang lagi.”

Shaka menatap senyum di mata Jenna.

“Bagus.”

Mereka melanjutkan makan sambil berbicara ringan. Jenna bercerita tentang Syana yang datang membeli bunga untuk calon mertuanya. Shaka mendengarkan, sesekali bertanya. Jenna juga bercerita tentang Naya yang terus menggoda sejak pagi.

“Semua karyawanmu sepertinya senang menggoda,” ucap Shaka.

“Karena mereka sudah seperti keluarga kecil di kafe.”

“Termasuk Kevin?”

Jenna menatapnya, lalu tersenyum jahil.

“Kenapa? Kamu cemburu pada Kevin juga?”

Shaka menatapnya datar.

“Tidak.”

“Yakin?”

“Kevin takut padaku.”

Jenna tertawa pelan.

Shaka terdiam melihat tawa itu.

Suara tawa Jenna di ruang kerjanya terasa asing, tetapi indah. Ruangan yang biasanya hanya diisi percakapan formal dan suara kerja mendadak terasa lebih hidup.

Shaka ingin ruangan ini lebih sering memiliki suara itu.

Setelah makan selesai, Jenna membantu merapikan kemasan makanan meski Shaka sudah memintanya duduk saja. Mereka sempat berebut kecil soal siapa yang harus membereskan, dan akhirnya Jenna menang karena ia menatap Shaka dengan mata yang terlalu memohon untuk ditolak.

Shaka mengalah.

Ia mulai sadar, ia akan sering kalah jika Jenna menatapnya seperti itu.

Menjelang akhir jam makan siang, Jenna berdiri.

“Aku harus kembali ke kafe.”

Shaka ikut berdiri.

“Sebentar lagi?”

“Iya. Nanti Naya dan yang lain kewalahan kalau aku terlalu lama.”

Shaka tampak ingin menahannya, tetapi ia tahu Jenna punya tanggung jawab.

“Aku minta sopir mengantar.”

Jenna mengangguk.

“Terima kasih.”

Shaka berjalan mendekat. Untuk beberapa detik, ia terlihat ragu. Lalu ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Jenna.

Jenna menunduk malu, tetapi tidak menarik tangannya.

“Makan siang hari ini menyenangkan,” ucap Shaka pelan.

Jenna mengangkat wajah.

“Aku juga senang.”

Shaka menatapnya dengan lembut.

“Nanti malam aku jemput.”

“Iya.”

Sebelum Jenna keluar, Shaka membuka pintu ruang kerjanya sendiri. Beberapa staf di luar langsung berdiri lebih tegak saat melihat bos mereka keluar bersama Jenna.

Rafa yang kebetulan berada tidak jauh langsung tersenyum penuh arti.

“Sudah selesai makan siangnya, Bu Bos?”

Jenna tertawa kecil.

“Sudah, Mas Rafa.”

Shaka menatap Rafa.

“Kerja.”

Rafa mengangguk serius.

“Siap, Pak. Saya kerja sambil bahagia melihat perkembangan rumah tangga atasan saya.”

“Rafa.”

“Saya diam.”

Jenna tidak bisa menahan tawa.

Shaka menghela napas, tetapi kali ini tidak benar-benar kesal.

Saat Jenna berjalan menuju lift diantar staf, Shaka tetap berdiri di depan ruangannya sampai pintu lift tertutup.

Rafa memperhatikan dari samping, lalu berbisik pelan, “Pak, kalau dilihat-lihat, Bapak sudah parah.”

Shaka menoleh.

“Parah apa?”

“Parah sayangnya.”

Shaka menatap Rafa tajam, tetapi tidak langsung membantah.

Rafa langsung tersenyum lebar.

“Wah. Tidak dibantah.”

Shaka berbalik masuk ke ruangannya.

“Bonus tambahanmu bisa saya batalkan.”

Rafa langsung mundur.

“Baik, saya tidak melihat apa-apa.”

Namun setelah pintu ruang kerja Shaka tertutup, Rafa masih tersenyum sendiri.

Siang itu, seluruh lantai eksekutif AZ Global Enterprises mungkin tidak tahu detail apa yang terjadi. Namun mereka semua menyadari satu hal.

Pak Shaka yang dingin itu baru saja tersenyum setelah makan siang bersama istrinya.

Dan sepertinya, sejak hari itu, ruang kerja yang dulu terasa paling kaku di gedung AZ Global Enterprises mulai memiliki alasan baru untuk terasa sedikit lebih hangat.

1
partini
dihhh bikin esmosi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!