Naura Gracesia wanita berusia 32 tahun nekat terjun ke dunia Mafia demi mencari pembunuh kedua orang tuanya. Dia bahkan membentuk perkumpulan Mafia sendiri demi menemukan orang yang dia cari.
Kehidupan yang dijalani oleh wanita dewasa itu diluar kata normal yang biasa di jalani kebanyakan wanita di luaran sana. Arogan, kejam, dan semena-mena menjadi ciri khas wanita berparas cantik itu.
Sampai akhirnya dia bertemu dengan pemuda yang usianya jauh lebih muda dari dirinya, pemuda alim dan juga tampan yang mampu menggetarkan hati dan menuntunnya ke jalan yang lurus.
Akan tetapi fakta mengejutkan pun terkuak, pemuda itu ternyata adalah putra dari orang yang telah membunuh kedua orang tuanya, sekaligus orang yang pernah merawat dirinya sampai dirinya berumur tujuh tahun.
Bagiamana perasaan Naura saat mengetahui bahwa orang yang menghabisi nyawa kedua orang tuanya adalah ayah angkatnya sendiri? dan bagaimana nasib Naura berada di antara Gairah dan Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kritis
Dret ... Dret ... Dret ...
Suara ponsel yang bergetar seketika membangunkan Ibra yang saat ini masih tertidur di dalam kamar Naura. Sejak Naura bermimpi buruk Ibra tidak sedikit pun beranjak dari kamarnya. Dengan setia dia selalu menemani wanita itu di sana meskipun tidak berada di tempat tidur yang sama. Ibra nampak meraih ponsel miliknya, dia pun menatap layar ponsel lalu mengangkat telpon.
📞 "Halo Assalamualaikum, Bu. Ada apa?'' tanya Ibra dengan kedua mata yang masih setengah terpejam.
📞 "Halo waalaikumsalam Nak. Hiks hiks hiks!''
📞 "Bu ... Ada apa? Kenapa ibu menangis seperti itu? Apa terjadi sesuatu?"
📞 "Papamu, Nak. Dia masuk Rumah Sakit. Lebih baik kamu dan Naura segera pulang sekarang juga, keadaan papa kritis saat ini.''
📞 "Apa? Papa masuk Rumah Sakit? Bukankah beliau baik-baik saja?"
📞 "Ceritanya panjang, Ibu minta kamu sama Naura pulang sekarang juga."
📞 "Baik, Bu. Saya dan Naura akan pulang sekarang juga. Ibu yang sabar ya."
Ucapan terakhir Ibra sebelum dia benar-benar menutup sambungan telpon.
"Ada apa?" tanya Naura yang juga baru terbangun dari tidurnya.
"Papa masuk Rumah Sakit."
"Apa? Ko bisa? Papa masih baik-baik saja waktu kita tinggal kemarin.''
"Entahlah, kita pulang sekarang juga."
Naura pun menganggukkan kepalanya lalu bangkit dan berdiri. Dia segera bersiap-siap untuk pulang saat itu juga. Ibra pun nampak melakukan hal yang sama, dia segera keluar dari dalam kamar dan bersiap untuk pulang.
***
6 jam kemudian.
Ibra segera mendatangi Rumah Sakit dimana ayahnya di rawat saat ini. Bersama Naura, Ibra berjalan memasuki Rumah Sakit dengan perasaan khawatir. Namun, dia tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya membuat Naura pun melakukan hal yang sama kemudian.
"Ada apa?" tanya Naura menoleh lalu menatap wajah Ibra.
"Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu, Naura."
"Apa? Katakan saja."
"Naura, saya mohon jangan menanyakan masalah pembunuhan itu sekarang?"
"Tentu saja. Aku akan mengesampingkan hal itu untuk saat ini. Namun, aku pasti akan menanyakannya nanti ketika keadaan papa sudah sembuh total.''
"Terima kasih, sayang."
Naura hanya tersenyum lalu meneruskan langkah kakinya. Jelas sekali terlihat dari raut wajahnya bahwa dia merasa khawatir dengan keadaan ayah angkatnya itu. Namun, di sisi lain dia masih menyimpan beribu pertanyaan tentang masa lalu yang di ceritakan oleh Richard.
Akhirnya, keduanya pun sampai di depan rungan ICU dimana sang ayah berada. Jasmine yang saat ini sedang duduk sendirian di depan ruangan tersebut nampak segera berdiri lalu menghampiri putra juga putri angkatnya lalu memeluk keduanya. Wajah wanita berhijab itu terlihat pucat pasi, kelopak matanya pun membengkak karena terlalu banyak menangis.
"Bagaimana keadaan Papa, Bu?" tanya Ibra kemudian.
"Apa yang terjadi, kenapa papa tiba-tiba sakit dan masuk ruang ICU segala?'' tanya Naura merasa khawatir.
"Ceritanya panjang sekali, Nak. Kita bicara sambil duduk, tubuh Ibu lemas sekali.''
Ibra dan juga Naura memapah tubuh sang ibu lalu duduk di kursi semula.
"Sekarang ceritakan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi? Papa sakit apa?'' tanya Ibra kemudian.
"Papa kalian terkena tembakan senjata api?"
"APA?'' Naura dan juga Ibra merasa terkejut tentu saja.
Jasmine menceritakan semua yang terjadi semalam tidak ada satupun yang dia lewatkan. Tentu saja, Naura dan juga Ibra semakin merasa terkejut dan mulai menerka-nerka siapa yang berani melakukan hal ini.
"Apa Ibu melihat wajah pelakunya?'' tanya Naura kemudian.
"Tidak, ibu sama sekali tidak melihatnya. Namun, ibu sempat mendengar sedikit apa yang mereka bicarakan sebelum akhirnya pelaku menembak papa kalian.''
"Apa ibu sempat mendengar papa memanggil nama orang itu? Richard mungkin?''
"Bukan Richard, ibu yakin papa mu memanggil orang itu dengan nama Al-Alberto, iya Alberto. Ibu yakin ...''
'Alberto? Sialan, jadi si Alberto yang melakukan semua ini? Tapi, apa mereka saling mengenal? Apa jangan-jangan papa mantan anak buah Alberto dahulu?' (batin Naura.)
"Apa ibu sudah melaporkan hal ini kepada polisi?" tanya Ibra kemudian.
"Iya, Nak. Sebelum kejadian penembakan itu pun ibu sudah meminta polisi untuk datang, tapi mereka datang terlambat. Papa kalian sudah terlanjur tertembak. Apa yang akan terjadi dengan ibu jika papa kalian sampai meninggal? Meskipun peluru tersebut berhasil dikeluarkan, tapi keadaan Mas Gabriel masih kritis. Dokter bilang, kemungkinan untuk bangun sangat tipis. Hiks hiks hiks!'' tangis sang ibu tiba-tiba saja pecah, Jasmine benar-benar tidak akan sanggup jika dia harus kehilangan suami yang sangat dia cintai itu.
"Ibu jangan bilang seperti itu. Papa pasti bangun lagi. Saya yakin papa adalah orang yang sangat kuat. Kita harus bersabar dan ikhlas, Dokter atau siapapun tidak akan ada yang bisa mendahului takdir Tuhan,'' lirih Ibra berusaha untuk menenangkan juga memeluk tubuh ibundanya tersebut.
"Bu, apa aku boleh masuk ke dalam dan melihat keadaan papa?" pinta Naura.
"Tentu saja, tapi hanya bisa satu orang saja yang masuk ke dalam karena papa kalian benar-benar dalam keadaan kritis."
Naura pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Dia bangkit kemudian dan masuk ke dalam ruangan. Namun, sebelum masuk ke dalam sana, dia pun mengenakan pakaian steril terlebih dahulu.
Ceklek!
Pintu ruangan ICU pun di buka. Naura masuk ke dalam sana dengan perasaan yang dilema. Dia menatap wajah sang ayah yang saat ini berbaring dengan berbagai alat bantu yang menempel di hampir seluruh tubuhnya kini. Dengan kedua mata yang berkaca-kaca, Naura berdiri tepat di tepi ranjang kini.
"Aku di sini, Pah. Aku mohon papa segera bangun karena ada banyak sekali yang ingin aku tanyakan sama papah. Bukankah papah juga harus menjelaskan kepadaku tentang apa yang terjadi di masa lalu? Aku mohon bangun Pah hiks hiks hiks," tangis Naura seketika pecah.
Naura menatap wajah Gabriel dengan tatapan mata sayu lengkap dengan buliran air mata yang berjatuhan dengan begitu derasnya kini. Seketika, pikiran kotor pun singgah di dalam otak kecilnya. Telinga Naura seperti mendengar suara bisikan.
'Bukankah ini adalah waktu yang tepat untukku membalaskan dendam? Aku bisa menghabisi orang yang telah membunuh kedua orang tuaku sekarang juga,' (batin Naura.)
BERSAMBUNG
...****************...