Seatap dengan mertua? Siapa takut!
Begitu pikir Lana ketika Galih–calon suaminya–mengutarakan syarat itu untuk menikah.
Tapi, siapa sangka kehidupannya setelah itu berubah drastis. Ibu mertuanya yang ajaib membuatnya makan hati hampir setiap hari.
Belum lagi ketika ipar mulai turut menggerogoti.
Bisakah Lana berdamai dengan sang mertua dan iparnya? Atau rumah tangganya akan hancur berkat campur tangan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 Salah Paham
"Apa, Mas? Galih bilang gitu? Beraninya dia sok nasehatin kita? Kita ini kan kakaknya. Abang juga kenapa diam aja, sih?"
Ely mencak-mencak saking kesalnya dengan apa yang baru ia dengar dari sang suami. Seketika Gilang menyesal telah membicarakan usulan Galih tadi kepada sang istri. Ely bak singa kelaparan yang sedang mengamuk saja layaknya sekarang. Bahkan, Fifi yang awalnya sedang bergelayut manja di lengannya saja auto diturunkan karena ingin berkacak pinggang saking marahnya.
"Sabar, Dek. Aku udah bilang nggak bisa, kok." Gilang gegas mencoba segala cara untuk menenangkan sang singa—eh, sang istri.
"Ya tentu aja lah nggak bisa! Enak aja! Dia itu sok bijak amat, sih, Mas! Keterlaluan! Gak ada sopan-sopannya sama Abang dan Mbak iparnya!" Ely terus mengoceh tak jelas. Tak dipedulikannya Fifi yang mulai merengek karena tak nyaman menyaksikan kemarahan ibunya.
"Udah, Dek. Nanti biar aku marahin dia kalau nyaranin itu lagi. Mana mungkin lah kita tinggal di sana, kan pekerjaan aku di sini," ucap Gilang kembali berusaha memastikan bahwa saran Galih tadi tak akan digubrisnya.
"Huh! Dasar! Cuma karena minjemin kita duit dikit aja gayanya udah sok bisa ngatur hidup kita! Aku nggak sudi, ya! Bayar aja Mas utang ke dia! Utangin ke mana dulu gitu, kek. Gak tahan aku dengar omongan besar adik kamu itu! Sombong!"
Ely terus saja keluar urat di pelipisnya, menandakan bahwa ia masih begitu marah.
Padahal itu semua adalah niat baik dari Galih. Adik Gilang itu ikut memikirkan bagaimana solusi terbaik untuk kesulitan ekonomi yang selalu membelit keluarga abangnya. Sehingga sampai memberanikan diri memberi saran serupa itu.
Tapi, terkadang memang niat baik tak selamanya bisa diterima dengan hati dan pikiran terbuka. Terlebih orang yang sudah terlanjur bergelung dalam nikmat riba di awal. Mengubah gaya hidup menjadi sebaliknya adalah hal yang sangat susah. Meski jerat kesulitannya sudah mulai tampak tetap saja untuk keluar rasanya tak semudah itu.
"Nggak bisa, Dek. Mau pinjam ke mana lagi? Nggak ada sesuatu untuk jaminannya lagi. Kita nggak punya sertifikat tanah atau apa pun kan," keluh Gilang menyadarkan istrinya.
"Biarlah kata Galih utang kepadanya bisa nanti-nanti saja. Terpenting cicilan pinjol harus lunas dulu," lanjut Gilang kemudian.
Ely tampak masih emosi. Wajahnya yang memerah dan dadanya yang naik turun tak terkendali itu akhirnya membuat Gilang mengambilkan segelas air putih untuk diminum.
Ely memang sangat sensitif. Satu hal kecil saja yang menyinggung perasaannya, maka akan menyulut pertikaian yang maha hebat. Itulah kenapa ia tak pernah berani menyatukan Ely dengan ibunya dalam satu atap. Bisa-bisa rusak dunia persilatan akibat dua kubu yang bagai air dengan minyak itu harus dipertemukan di wadah yang sama.
Sementara di rumahnya, Galih sedang membujuk Lana untuk sabar. Istrinya itu sudah menanyakan apakah sudah membayar hutangnya.
"Mas, kita ini udah mau butuh uang banyak loh buat lahiran. Bilang sama Mas Gilang kalau kita butuh uangnya untuk jaga-jaga. Ya emang sih aku maunya lahiran normal aja tapi kan siapa tahu nanti ada kendala dan harus operasi. Dana persiapan harus ada, loh." Lana mengutarakan alasannya untuk cepat menagih sang kakak ipar.
"Kan masih ada, Sayang. Tenang aja kita ada, kok," jawab Galih membujuk sang istri.
"Belum lagi kita juga butuh beli kambing yang entah nanti butuh satu atau dua untuk bayi kita nanti. Bilang gitu aja, Mas. Biar nggak disepelekan. Mentang-mentang duit sodara aja gak dibayar-bayar. Huh!" Lana lanjut menggerutu sambil bertekuk muka.
Sesungguhnya uang tabungan mereka ada banyak. Tapi yang sebagian sudah masuk ke deposito khusus untuk rumah sehingga akan susah kalau diambil sebagai dana persiapan lahiran. Ada proses panjang yang harus dilakukan. Sebisa mungkin mereka tak hendak mengambilnya memang.
"Kita berdoa aja lahiran anak kita normal, ya, Dek. Insya Allah normal," ucap Galih menenangkan sambil mengusap lembut perut dang istri.
Calon ayah yang sudah tak sabar menantikan saat kelahiran si bayi itu pun menunduk dan mengelus serta menciumi ujung perut Lana. Membisikkan kalimat sapaan yang seringkali ia dengungkan demi mendapat respon berupa tendangan dari bayi di dalam sana.
Lana lantas berhenti mengomel karena ia pun merasai tendangan dan polah sang bayi di perutnya. Tampak perutnya berbentuk aneh akibat gerakan dari dalam sana yang selalu membawa keharuan nyata dalam raut sang calon bunda.
"Ya Allah, Mas. Lihat, dia sepertinya laki-laki ini kalau lihat tingkahnya, ya?" Tuh, tuh, nendangnya kuat banget Masya Allah," ucap Lana mendadak lupa akan kemarahannya.
Galih pun terharu sampai berkaca-kaca. Sungguh dia pria yang negitu halus perasaannya. Tak pernah mau menyakiti hati ibu serta istrinya. Pasti ia pun akan jadi ayah yang sangat sabar dan penyayang nantinya.
"Jagoan ayah ini, ya? Lagi apa, Nak? Belajar lompat ya di dalam? Kayak seru amat?" bisik Galih seolah mengajak bicara sang bayi.
Dan memang gerakan perut Lana pun semakin kuat dan terasa begitu mendengar ucapan Galih yang sengaja didekatkan ke perut istrinya. Seolah bayi itu merespon meskipun belum dengan lisan.
"Ya Allah, rasanya nggak sabar, ya, Mas. Nunggu sebulan lagi. Aku mau pengen cepet lahir aja, nih," ujar Lana tanpa sadar kalau di belakang mereka sedang berdiri Bu Tutik.
"Hust! Jangan bicara yang begitu! Nanti dikabulin kamu lahir cepet tapi sebelum waktunya gimana, hayo?" tegur sang ibu mertua sambil mendelik hingga celak mata tebalnya semakin tampak menghitam saja.
Spontan Lana terdiam dan berucap istighfar.
"Astaghfirullah, Bu. Jangan berkata begitu, dong. Perkataan neneknya jan juga termasuk bentuk doa untuk cucunya!" tegur Galih tak suka mendengar celaan ibunya.
"Kamu itu, ya! Sekarang semakin pintar membantah! Dulu kamu itu nggak gini, Galih!" protes Bu Tutik dengan mata lekat menatap pada Lana seolah melempar kesalahan kepada menantunya itu atas perubahan sikap Galih.
"Apa, Bu? Aku yang salah karena Mas Galih sekarang berani bicara yang benar, gitu? Bagian mana sih, Bu, yang salah? Kan benar kalau Ibu mengingatkan aku soal jangan bicara yang nantinya akan jadi doa buruk. Tapi, cara Ibu juga seharusnya bukan seperti itu, Bu. Bukan dengan menghardik begitu," pinta Lana dengan nada sedih.
Kebahagiaan serta keharuan yang tadi ia rasakan bersama suaminya sirna seketika karena terganggu oleh konfrontir dari Bu Tutik. Kekejaman Bu Tutik dalam berbicara terkesan sangat kejam untuk didengar. Apalagi oleh wanita hamil yang sedang harap-harap cemas menanti hari kelahiran.
"Ah, sudahlah. Kalian memang sudah tidak menghormati Ibu lagi. Dibilangin orang tua bisanya ngeyel aja!" Bu Tutik yang kesal lantas mendengkus dan berbalik pergi ke dalam kamarnya lagi.
Rasa kesalnya yang disebabkan ada rasa merasa tersaingi oleh Lana. Entah kenapa di hati Bu Tutik ada rasa tak suka jika putranya memperhatikan istrinya. Menyayangi Lana apalagi memanjakan Lana. Maka setiap saat ia melihat dan mendengar sepasang suami istri harmonis dan bahagia ada rasa kesal dan sakit di hatinya. Padahal Gali selama ini tak pernah mengabaikan ibunya. Galih pun tak membedakan ibunya setelah ia menikah dengan Lana.
Bahkan Bu Tutik bisa bersyukur karena Lana termasuk menantu yang cukup sabar.
walaupun baca novel yang satu ini banyak gemesnya liat tingkah laku Bu Tutik, tapi berakhir bahagia..
jadinya lega banget gitu😁
tetap semangat berkarya ya thor..
semangat ngerampungin semua novel yg belum tamat.. 💪🏻