NovelToon NovelToon
Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Keluarga & Kasih Sayang / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:507.7k
Nilai: 4.5
Nama Author: Yuli Valentina Tampubolon

Dira Tampubolon (17) terpaksa harus mengikuti perjodohan keluarga dengan paribannya, Defan Sinaga (27) yang lebih tua sepuluh tahun darinya. Perjodohan itu diikrarkan saat usia Dira masih dini dan masih duduk dibangku SMA.

Terpaksa Dira mengikuti keinginan bapaknya, Sahat Tambolon yang sudah berjanji pada kakak kandungnya untuk menikahkan boru panggoarannya karena memiliki hutang yang banyak pada keluarga paribannya.

Dira boru panggoaran sekaligus boru sasada dalam keluarga itu tak bisa menolak perintah bapaknya. Ia akan menikahi lelaki yang menurutnya sudah tua karena jarak usia mereka terpaut jauh.

Sifat Dira yang masih kekanak-kanakan menolak keras perjodohan itu. Tapi apa boleh buat, pesta martumpol telah digelar oleh kedua kelurga dan ia akan segera bertunangan dengan paribannya yang tua tapi juga tampan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Valentina Tampubolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tas usang

Defan tiba-tiba membuka matanya. Betapa terkejutnya ia saat ini mendapatkan wajah Dira yang sedang menatapnya tajam dengan jarak yang cukup dekat.

"Apa yang kau lihat?" tanya Defan sambil mengangkat satu alis miliknya dengan rasa penasarannya.

"Hehehe abang, aku cuma lihat wajah abang kok," Dira mulai membohongi Defan, padahal sedaritadi ia penasaran mengapa Defan menatapnya begitu perhatian.

Bahkan pertanyaan itu ingin ia luapkan langsung pada Defan, namun melihat ekspresi Defan begitu dingin, Dira mengurungkan kembali niatnya. Sia-sia saja kalau ia bertanya langsung pada pria tua yang dingin itu.

"Duh kok jadi gerah ya," ucap Dira ingin mengalihkan perhatian Defan karena terus menerus menatapnya, membuat Dira semakin kikuk dan kaku. Karena jarak kursi mereka hanya bersebelahan, sangat dekat sehingga dia tak bisa menghindari Defan jika sewaktu-waktu berbuat sesuatu.

Defan mendekatkan wajahnya pada wajah Dira, kali ini ia ingin mengerjai gadis kecil itu. Entah apa yang dipikirkan Defan sehingga ia ingin memberikan pelajaran pada gadis cilik yang berani mencuri-curi pandangan pada pria tampan yang dingin sepertinya.

Defan menyondongkan tubuhnya kesamping, sangat dekat dengan Dira. Wajahnya pun semakin ia dorong berdekatan dengan wajah Dira.

"Abang ngapain sih dekat kali," ketus Dira sambil mendorong tubuh Defan, ia tak mau terlibat kejadian hal diluar keinginannya.

"Bukannya itu yang kau mau? Kau tadi kan melakukan hal itu. Mendekatiku dengan maksud menggodakukan?" sindir Defan dingin. Lagi-lagi ia mendekatkan wajahnya pada wajah Dira.

"Aku cuma memastikan abang beneran tidur apa enggak loh! Makanya aku lihat wajah abang," kesal Dira semakin meningkat. Karena Defan hanya berjarak satu jengkal dengannya.

"Bang" Dira lagi-lagi mendorong tubuh Defan karena semakin merasa tak nyaman.

Beruntung Defan dan Dira duduk di bisnis class, jadi tidak akan ada penumpang lain yang berani mengganggu mereka saat ini.

"Kenapa anak kecil?" sinis Defan mendengus, lalu mencondongkan tubuhnya mendekati Dira lagi.

Ia hanya ingin menguji Dira saja, apa yang akan Dira lakukan jika berada dengannya sedekat itu. Namun yang terjadi malah Defan semakin tertarik mendekati Dira.

Ia memerhatikan wajah cantik paribannya itu. Baru saja menatapnya sudah membuat pikirannya semakin kotor. Apalagi jika tidur berdua ketika di Hotel nanti?

Bisa-bisa Defan akan khilaf pada gadis kecil disampingnya saat ini. Wajah cantik Dira, sangat mengguncang hati Defan. Semakin sengaja Defan mendekatkan tubuhnya, membuat jantungnya pun jadi berdegup begitu kencang.

"Sial! Lagi-lagi jantungku berontak gini," keluhnya, namun ia masih penasaran dengan apa yang sebenarnya saat ini ia rasakan.

Defan ingin memastikan, apakah gadis kecil itu yang benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang. Ia terus mendekatkan wajahnya membuat Dira tak berkutik. Dira yang terus memundurkan tubuhnya hingga kepentok jendela kaca pesawat tak bisa bergerak lagi.

Namun rasa penasaran Defan terus ia luapkan, ia ingin memastikan apakah dia sudah jatuh cinta dengan gadis kecil yang sudah menjadi istrinya tersebut. Tubuhnya semakin mendekat sambil ia rasakan denyut jantungnya yang bergerak semakin cepat.

"Aww!" teriakan Dira karena terkejut melihat Defan yang menabrak hidung mungil nan mancung miliknya. Ia takut kalau Defan akan mencium bibir tipis miliknya saat itu.

"Astaga! Apa yang aku lakukan?" batin Defan. Karena teriakan Dira, akhirnya Defan tersadar menjauhkan tubuhnya dari posisi Dira.

"Mampus! Hampir aja aku mau cium Dira," mulut Defan ingin saja menolak perbuatan itu, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya terus saja berontak seolah-olah meminta Defan untuk mencium istrinya.

"Abang mau ngapain sih sebenarnya?" singgung Dira seraya mencebikkan bibirnya dengan kesal karena semakin merasa tak nyaman dengan tingkah Defan yang terus mencoba mendekatinya.

Ia ingin mencibir Defan, namun perbuatannya saat itu sebenarnya sah saja dia lakukan mengingat status Dira yang sudah sah menjadi istrinya.

"Abang mau mastiin ada upil nggak dihidungmu!" ledek Defan tak ingin ketahuan dengan aksi yang hendak menyosor bibir kecil Dira.

"Ah masa sih! Tapi abang malah nabrak hidungku tuh," keluh Dira dengan rasa kesalnya.

PENGUMUMAN

PARA PENUMPANG!

Sebentar lagi kita akan tiba di Bandara international Ngurah Rai Bali. Mohon periksa barang bawaan anda agar tidak ada yang tertinggal.

Perhatian Defan akhirnya beralih setelah mendengar pengumuman dari pramugari. Mereka akan tiba di Bali. Tempat dimana selama lima hari Defan akan bersama pariban kecilnya.

Pariban yang sudah menjadi istrinya. Hal yang ditakutkan Defan akan terjadi, berdua sekamar dengan wanita kecil yang terus menerus merusak pikirannya.

"Bang! Ayo turun," perintah Dira membuyarkan lamunan ketakutan Defan.

"Iya santai! Baru saja pesawatnya landing. Orang-orang juga masih ngambil barang Dir," ketus Defan yang duduk santai menunggu jalanan pesawat lengang.

"Bang buruan! Dira udah pengen keluar dari pesawat," rengek Dira, sedaritadi dia sudah tak sabar ingin melihat bandara Bali.

Bahkan ia ingin secepatnya berlibur, lima hari waktu yang diberikan oleh mertuanya merupakan waktu yang panjang untuk ia nikmati bersama suaminya.

Dira yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di Bali, dengan rasa semangatnya, ia ingin cepat-cepat menelusuri pulau dewata tersebut.

"Bang ayo! Didepan udah kosong," ajak Dira dengan semangat menggebu-gebu karena rasa tak sabarnya.

"Iya" Defan beranjak dari kursinya berjalan kedepan. Ia tak membawa apapun kecuali tas kecilnya yang berisikan dompet dan ponselnya karena koper mereka berada di bagasi pesawat, koper besar itu tak bisa disimpan di kabin karena ukurannya yang besar. Sedangkan Dira terus saja membawa tas sekolahnya berisi kelengkapannya yang lain.

Defan berjalan didepan Dira hendak menuruni anak tangga, namun Dira mendahului Defan dengan girangnya. Defan memandangi tubuh Dira, kali ini pandangannya tertuju pada tas Dira.

Tas sekolah yang usang yang selalu ia bawa kemana-mana. Ia bahkan tak malu membawa tas sekolahnya itu ke Bali.

"Anak kecil ini, kenapa malah pakai tas usang itu? Malu-maluin," cibir Defan karena tak kuasa melihat tingkah kekanakan Dira saat ini.

"Hey gadis kecil," teriak Defan menghentikan lompatan kecil Dira yang sedang menuruni anak tangga.

"Kau ini!"

Defan mendekat dan menarik tas Dira dengan tangan kanannya.

"Apa lagi sih bang!" ketus Dira karena melihat ada saja tingkah Defan yang membuatnya kebingungan.

"Ngapain kau ke Bali pake tas ini!" kecam Defan sambil melemparkan tas Dira kebawahnya namun tas itu tidak terlepas dari gendongan Dira.

"Emangnya kenapa bang?" tanya Dira polos tak mengetahui maksud suaminya.

"Tas ini udah buluk! Malu-maluin dibawa ke Bali!" geram Defan sambil berjalan melintasi Dira.

"Biarinlah bang! Kan aku suka pakai tas ini," balas Dira sambil melanjutkan jalannya. Dengan girangnya ia berjalan lagi, tak mengambil hati dari perkataan suaminya tadi.

"Sampai di Hotel nanti, buang tuh tasnya! Malu-maluin, kaya aku nggak punya uang aja untuk beliin kau tas," tegur Defan lagi mengingatkan Dira.

"Jangan bang! Ini tas kesukaan aku!" balas Dira dengan santai.

"No! Aku nggak suka! Kaya orang miskin aja nggak mampu beli tas," umpatan Defan membuat Dira semakin kesal. Ia merasa seperti direndahkan sekali sebagai orang miskin.

Meski nyatanya Dira berasal dari keluarga miskin, tapi tak seharusnya Defan berbicara seperti itu.

"Aku memang miskin bang! Memangnya kenapa? Ada yang salah dari orang miskin?" ketus Dira yang mendekati tubuh Defan merasa terganggu dengan ucapan kasar Defan tentang kemiskinannya.

Belum juga ia bersenang-senang di Bali, kini malah dibuat jengkel sendiri oleh suaminya itu. "Dasar suami sombong," gumam Dira kesal menatap Defan dengan sinisnya.

Halo sahabatku!

Para pembaca setia "Paribannya si Boru Panggoaran"

Dukung aku terus ya! Jangan lupa berikan aku semangat dengan cara like, komen, vote dan klik novel online ini ke favorit novel kamu.

Satu like & satu komen saja sangat berharga bagiku! Apalagi satu gift dan vote, tentunya berharga kali pun! Yuk terus dukung aku, agar aku semakin semangat update episode terbarunya setiap hari!!!

Terimakasih sudah menjadi pembaca setia novel ini^^

LOVE U ALL:)

1
May-chann
sumpah ya, Devan tuh type gue bgt😋 bukan manggil pake kata aku, tapi pake kata abang🫠
May-chann: eh sorry namanya typo dikit
total 1 replies
May-chann
duh kak, walaupun aku Batak, tapi gak ngerti pulak aku yang kayak gini/Awkward/
yuli.vt: berarti km bukan termasuk org miskin hehe
total 1 replies
lidia aritonang
Kecewa
Duwie Sartika
hehhhh,, pak,, pak,, miskin kok di bwt sendiri... mana ada orang berjudi jd kaya...
Charlotte
lae nya kak bukan laek
Buthet Bnd
sala kenal author.. saya nikah sama pariban kandung,tp puji Tuhan keluarga kami TDK memandang kaya dan miskin...ttp aja balik pola didik dlm keluarga . .. .puji Tuhan iparku semua mau d arahkan ke hal Baek tanpa pandang status seseorang dabah .
Sondang Sartika Lumbanraja
ngeri kali kok parumaen pula yg marhobas bukan nya boru tapi yah gitu lah yg kaya biasa distimewakan. awak kalau pulang ke rumah mamak di kampung jadi hatoban lah semua awak kerjakan krn menantu mamak kami tidak ada yg bisa masak.
Buthet Bnd: udah hal lumrah eda seperti itu...dmna mana pasti ada keluarga yg seperti mereka....tp puji Tuhan d keluarga kami slg menolong klo ada pesta kecil maupun pesta besar,ngga ada istilah yg kaya dan yg miskin..sama aja semua,itu tergantung pola pikir pribadi keluarga seseorang eda
total 1 replies
Suryavajra
Bagus sekali ini ceritanya, saya mendapat edukasi budaya pernikahan Tapanuli. Terima kasih banyak atas tulisannya.
Suryavajra
hanya di Jakarta dan sekitarnya kue terang bulan disebut "martabak" juga. padahal yang pakai telur adalah snack dari semenanjung Arab, yang manis adalah snack dari Tiongkok Selatan. Jauh kali asalnya tapi di Jabodetabek namanya jadi sama hahahahahaha 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Flora Sigalingging
sangatttt bagusss dan rekomended untukkk dibacaaa.penulisan sangat jelas dan tidak berbelit",mantappppp
Hotmin Hotmin sianipar
sikap defan g tegas sama sahabatnya, benar kata dira sahabat beda gender tdk ada yg murni. klo aku jd dira g maulah
Suryavajra
akhirnya dapat juga novel yang bagus di noveltoon ini.
Marulak Siagian
dekat rmhku, itu di MARELAN 😂🤣😂😂
itin
baru baca sepenggal penggal tapi kayaknya seru
itin
tertarik untuk bacanya nih. kata² nya tersusun apik
antha mom
sahat,,,sahat kamu itu jual Boru mu atau menikah kan anak mu sama pariban nya,,🤦‍♀️🤦‍♀️
antha mom
seperti itulah realita kehidupan Dira siapa yang kaya tempatnya tetap di depan tak akan ada yang mau menyuruh marhobas,, sabar lah ya Dira akan indah pada waktunya nak 😘😘
antha mom
horas thor seru ceritanya nich 👍👍👍
Kurnianingsih Sa'ud
maaf thor...tolong jelaskan arti indonesianya, bahasa2 batak yg dipakai...maklumlah, sy tidak paham...
tapi baru baca bab 1, sepertinya menarik ceritanya...
difa birink dewi birink
thor seharus nya tu si defan yg lebih mengalah karena dia lebih dewasa ini malah si dira aja yg mengalah seakan" terlihat x perbedaan kehidupan mereka udah tau paribannya masih muda dan labil tpi tetap aja diketusin..engga ada romantisnya yg bikin dira merasa di hargai..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!