Aulia Jasmine, gadis sederhana yang merasa hidupnya sudah sempurna karena di nikahi oleh Calvin Syahputra. Seorang pria yang sangat ia cintai dan juga menunujukan cinta yang besar untuknya. Namun, sebuah fakta menamparnya saat Jianita Kanaya datang padanya dan Jia mengaku sebagai istri sah Calvin. Jia memperlihat surat nikahnya, foto pernikahannya bahkan foto saat ia melahirkan anak pertamanya dan Calvin.
Jasmine seperti di sambar petir di siang bolong, ia tak mampu berkata-kata dan hanya bisa memegang perutnya dimana buah hatinya dan Calvin juga tumbuh disana. Kenapa semua itu terjadi padanya? Ternyata dia adalah pelakor?
"Dasar pelakor!" Seru Jia penuh amarah, Jasmine hanya bisa menggeleng lemah dengan deraian air mata yang tiada henti di pipinya.
"Aku bukan pelakor..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #23 - Mungkin Hukuman
Calvin berlari sekuat tenaga di lorong rumah sakit tempat ia bekerja tanpa memperdulikan orang yang menatapnya dengan bingung atau orang yang menyapanya dengan ramah.
Calvin berhenti di depan sebuah ruangan dimana bu Chika dan Jia menunggu disana dengan raut wajah yang tampak begitu cemas. Calvin berusaha mengatur napasnya yang tersengal sambil bertanya tentang keadaan Rasya pada Jia dan mama nya namun kedua wanita itu enggan menjawab Calvin, keduanya mengacuhkan Calvin hingga dokter yang menangani Rasya keluar menemui meraka.
"Dokter, bagaimana keadaan Rasya?" Tanya Calvin sembari mengelap keringat di pelipisnya. "dr. Rhea, anakku baik-baik saja, 'kan?"
Dr. Rhea menatap Calvin dengan tatapan yang sudah memberi tahu Calvin bahwa tak ada yang baik-baik saja.
"Dokter Calvin, Rasya..." dr. Rhea kini menatap Jia yang mulai menitikan air matanya. "Rasya memiliki kerusakan parah pada jantungnya, seperti yang sudah kita duga."
Tubuh Calvin langsung lemas tak berdaya mendengar hal itu, begitu juga dengan Jia yang langsung memeluk Bu Chika. Kedua orang tua Rasya tak mampu menyembunyikan kesedihan mereka meskipun mereka sudah menduga ini akan terjadi sejak Rasya di lahirkan. Rasya juga sudah sering memperlihatkan gejalanya, karena itulah Rasya mudah sekali jatuh sakit. Kondisi tubuhnya selalu lemah, dan sekarang akhirnya Rasya benar-benar drop.
"Kita harus selalu memantau keadaan Rasya, dr. Calvin. Kita juga harus perhatikan kesehatan mentalnya, karena dia masih terlalu kecil untuk menanggung apa yang dia tanggung sekarang," tukas dr. Rhea yang memang sengaja menasihati Calvin, apalagi selama ini ia dan Calvin sudah berteman dengan baik.
Kini Rasya bersalah pada putranya menyelimuti hati Calvin, hati yang lupa untuk ia jaga demi mengejar kebahagiaannya sendiri.
"Ma, Rasya... Ma...." rengek Jia yang masih menangis di pelukan kedua ibu mertuanya.
"Sabar, Ji. Mama yakin akan ada mukjizat, mama yakin Rasya anak yang kuat dan pasti tumbuh sehat," hibur Bu Chika meskipun sebenarnya ia juga ketakutan. Bagaimana jika ia kehilangan satu-satunya cucunya? Banyangan saat ia kehilangan mendiang suaminya karena penyakit jantung kini menari dalam benaknya, bahkan ia seolah masih merasakan sakit itu sampai sekarang.
Calvin masuk ke ruang rawat Rasya, ia duduk di sampingnya. Menggenggam tangan Rasya yang kecil nan mungil, kemudian mengecupnya berkali-kali sambil menggumamkan kata maaf tanpa henti. Air mata Calvin tak lagi terbendung hingga membasahi tangan Rasya. Saat itulah Rasya membuka mata, ia menatap ayahnya yang juga menatapnya.
Dengan lemas, Rasya menarik tangannya dan melemparkan tatapan dingin pada Calvin sebelum akhirnya ia membuang muka. Hati Calvin tersayat, beginikah rasanya di abaikan oleh orang yang paling penting dalam hidupnya.
"Sayang..." Calvin mengusap kepala Rasya namun Rasya menepisnya. "Maafin Papa, Nak," lirih Calvin. Seketika Rasya kembali menatapnya.
"Papa minta maaf?" Tanyanya namun dengan raut wajah yang seolah mengejek. Calvin mengangguk sembari menyeka air matanya. "Oh, jadi Papa tahu sekarang kalau Papa salah? Papa meninggalkan kami demi perempuan lain?" sindir Rasya.
"Bukan begitu, Sayang..." sanggah Calvin namun tampaknya Rasya enggan mendengarkan penjelasan ayahnya.
"Kalau Papa memang merasa bersalah, Papa pergi dari hidup Rasya. Jangan kembali, karena Rasya benci Papa." hati Calvin semakin sakit, air mata semakin deras mengalir di pipinya.
"Sayang, jangan bicara begini," bujuk Calvin dengan lembut. "Suatu hari nanti, kamu pasti akan mengerti."
"Tidak, Papa!" Sergah Rasya dengan tegas. "Rasya dan Mama tidak butuh Papa, jadi Papa pergi atau Rasya akan bunuh diri."
"Rasya..." tegur Calvin.
"Pergi karena Rasya sudah benci Papa, Rasya tidak mau punya Papa jahat!"
"Pokoknya Papa harus pergi! Papa cuma buat Mama nangis, Rasya benci sama Papa..."
Rasya mulai berteriak penuh emosi, bahkan ia juga menangis. Hingga kemudian bu Chika dan Jia datang. "Pergi, Mas...." seru Jia. "Dan jangan pernah muncul di hadapan kami!"
"Jia! Rasya juga anakku," seru Calvin.
"Dan anak kamu sudah mengusir kamu!"
sayang sekali padahal ceritanya menarik
nasibnya istri ke dua/Sob//Sob/
kok mau sih cuma dinikah siri...?