Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Meja Runding di Bawah Lampu Merah
Pendar merah padam dari sistem darurat galeri melemparkan siluet panjang yang ganjil di atas lantai marmer. Di bawah siraman cahaya yang temaram itu, Zayyan masih bergemih, membiarkan matanya merekam setiap detail ketenangan di wajah Xavi. Keheningan yang tercipta setelah dengung alarm sunyi berhenti terasa begitu pekat, menyisakan deru napas Olin yang masih memburu di sisi mereka.
Malikh, yang biasanya bergerak seefisien mesin, kini menanti instruksi dengan tangan yang masih menggantung di dekat alat komunikasi telinganya. Matanya melirik takzim ke arah gerbang hidrolik sektor barat yang kini telah tertutup rapat, mengunci mereka semua di dalam lambung bangunan tua ini.
"Kesepakatan tertulis," Zayyan mengulang frasa itu, suaranya meluncur pelan, menguji bobot kata-kata yang baru saja diucapkan oleh putranya. Perlahan, dia menarik tangannya dari saku celana, lalu melipat kedua lengannya di depan dada tegapnya. "Kau ingin bernegosiasi denganku, Jagoan? Di dalam gedung yang kukunci dari luar, menggunakan sistem yang kau bajak dari dalam?"
"Ini bukan membajak, Tuan CEO. Ini namanya menciptakan keseimbangan posisi tawar," sahut Xavi. Bocah itu melangkah satu tapak ke samping, mendekati ibunya yang masih terpaku, lalu menggenggam jemari Olin yang terasa sedingin es. Sentuhan mungil itu seketika mengembalikan kesadaran Olin dari keterpakuannya.
"Xavi, masuk ke dalam," bisik Olin lagi, suaranya parau, kini terdengar lebih seperti permohonan yang cemas daripada perintah. Dia berlutut, menyetarakan tingginya dengan sang putra, mencoba membelakangi Zayyan seolah punggungnya bisa menjadi benteng terakhir. "Jangan lakukan ini. Ini bukan urusan yang harus kau selesaikan."
"Ini urusanku, Mommy, karena pria ini berniat memindahkan kamar tidurku ke tempat asing tanpa persetujuan kita," jawab Xavi lembut, namun sepasang mata bulat di balik lensa kacamatanya memancarkan ketegasan yang mutlak. Dia kembali menatap Zayyan. "Bagaimana? Dua belas jam di dalam ruangan pengap ini bersama tim kurator yang panik, atau kita duduk di ruang kerja Mommy dan menulis beberapa baris kesepakatan?"
Zayyan menatap Olin yang kini sedang memeluk erat bahu kecil Xavi. Kilat protektif di mata wanita itu, bercampur dengan keangkuhan dingin yang ditunjukkan oleh sang arsitek kecil, mendadak menggelitik sisi kalkulatif di dalam kepala Zayyan. Pria itu menurunkan kedua lengan yang melipat di dadanya, lalu melirik Malikh.
"Perintahkan unit di luar untuk mundur dua ratus meter dari perimeter pagar. Jangan ada yang menyalakan mesin kendaraan sampai aku memberi komando," perintah Zayyan, suaranya datar namun tak terbantahkan.
Malikh membungkuk dalam. "Baik, Tuan Besar."
Zayyan kembali mengalihkan pandangannya pada Xavi. "Buka pintunya. Kita bicara di dalam."
Xavi tidak langsung mematuhi. Jemari mungilnya mengetuk sisi gawai portabelnya dua kali, memicu suara klik halus lainnya dari langit-langit aula. Pendar merah padam seketika padam, digantikan kembali oleh sorot lampu kuning hangat yang berpendar lembut di atas kanvas-kanvas monokrom. Bersamaan dengan itu, desis udara dari hidrolik gerbang barat terdengar melonggar, meski posisinya tetap menutup setengah jalan.
"Lewat sini, Tuan El-Ghazali," ucap Xavi formal, berbalik dengan gerakan tumit yang rapi, menuntun ibunya yang masih lemas menuju koridor belakang yang remang.
Olin bangkit berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya. Dia melirik Zayyan sekilas saat pria itu melangkah sejajar di sampingnya. Aroma cendana dan tembakau mahal dari tubuh Zayyan kembali mengusik ketenangannya, namun kali ini ada sesuatu yang lain—sebuah ketegangan emosional yang tak kasat mata, seolah selembar benang takdir yang mereka putus tujuh tahun lalu kini tengah ditarik paksa oleh jemari mungil putra mereka sendiri.
Ruang kerja sementara Olin tidaklah luas. Hanya ada sebuah meja kayu jati panjang yang dipenuhi tumpukan katalog seni, sebuah kursi putar besar milik Xavi, dan sofa rotan tua di sudut ruangan. Xavi langsung mengambil tempat di kursi putarnya, melompat naik dengan kelincahan anak-anak sebelum kembali berubah menjadi sosok yang kaku dan penuh perhitungan begitu pantatnya menyentuh bantalan kursi.
Zayyan melangkah masuk, membuat ruangan yang sempit itu mendadak terasa semakin sesak oleh kehadirannya. Pria itu mengabaikan sofa rotan dan memilih untuk berdiri di ujung meja kayu, bertumpu dengan kedua Telapak tangannya yang besar di atas tumpukan katalog, menatap langsung ke arah gawai kuno Xavi yang layarnya kini menampilkan selembar draf kosong berlatar hitam.
"Aku mendengarkan," ucap Zayyan, matanya menyipit, siap membedah setiap tuntutan yang akan diajukan oleh darah dagingnya sendiri. "Sebutkan baris pertamamu, Arsitek."