Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Daxon melihat ibunya dan Valeria sudah duduk di atas sofa, sementara pelayan rumah sedang menyajikan gelas berisi jus untuk mereka berdua. Ia pun terus berjalan mendekati ruang tamu.
Saat melihat Daxon datang, Valeria segera membisikkan kata‑kata kepada Luciana.
"Tante, apakah Daxon mau datang ke pesta ulang tahun Ayahku?" tanyanya pelan.
Luciana menggenggam tangan gadis itu sambil tersenyum tenang. "Tenang saja, Tante yakin dia akan setuju," jawabnya berbisik.
Daxon duduk di sofa terpisah, menatap keduanya dengan pandangan yang sangat tajam.
"Kenapa Ibu datang ke sini? Bukankah dulu Ibu pernah bilang tidak akan menganggapku lagi sebagai anak?" tanya Daxon dingin.
"Lupakan saja ucapan yang sudah berlalu," jawab Luciana santai. "Ibu datang hanya untuk mengatakan kamu datanglah ke pesta ulang tahun ayahnya Valeria."
"Aku tidak bisa pergi," jawab Daxon singkat.
"Kenapa? Apakah kau enggan sekadar menemani Ibu di pesta ulang tahun tuan Ardi?" desak Luciana.
"Aku benar‑benar tidak bisa, Bu. Aku harus menjaga calon ibu dari anakku... yaitu istriku," jawab Daxon sambil menatap tajam tepat ke wajah ibunya.
Luciana tersenyum sinis. "Siapa tahu saja anak di dalam kandungannya itu justru anak orang lain." cibir Luciana.
Daxon makin menahan amarah. "Jika maksud kedatangan Ibu hanya untuk menghina istriku, lebih baik Ibu dan dia segera tinggalkan tempat ini!" bentaknya tak terima.
"Kau berani membentak Ibu? Hanya demi wanita rendahan itu?" balas Luciana tak mau kalah.
"Felix!" seru Daxon dengan suara keras.
Di ruang lain, Felix yang sedang menyeruput kopi sampai tersedak kaget mendengar panggilan itu. Ia segera berlari masuk ke ruang tamu dan melihat tuannya yang tampak seolah‑olah amarahnya siap meledak kapan saja.
"Apa perintah, tuan?" tanya Felix dengan sopan.
"Antar mereka berdua pulang," perintah Daxon singkat.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau berjanji akan datang ke pesta ulang tuan Ardi!" bentak Luciana.
Ting!
Suara pesan masuk terdengar dari genggaman Daxon. Ia melirik layar, dan membaca tulisan dari Azalea.
[Kemarilah ke kamar, sayang.]
tulisan sayang—membuat sudut bibir Daxon perlahan terangkat menjadi senyum lembut. Seluruh orang di ruangan tertegun heran melihat perubahan itu, seolah tidak percaya wajah yang tadi penuh amarah kini tampak begitu bahagia dan lembut.
Daxon berdehem pelan untuk mengembalikan sikap tenangnya, lalu menatap ibunya sekilas.
"Baiklah, aku akan datang," ucapnya.
"Bagus, kau datanglah ke hotel mahkota agung." ucap Luciana yang tampak senang.
Daxon tindak menjawab ucapan ibunya, ia menoleh ke arah anak buahnya. "Felix, antar mereka pulang sekarang."
Tanpa menunggu jawaban lain, Daxon berjalan menuju lift dengan senyum yang masih tersisa jelas di wajahnya.
“Wajah Tuannya berubah drastis sekali… kemarahan yang tadi meluap seketika hilang begitu saja, ” batin Felix makin bingung namun tetap sigap melaksanakan tugas.
"Mari, Nyonya, Nona," ajak Felix sopan.
Luciana hanya mengangguk puas, menggenggam tangan Valeria. Keduanya tersenyum kemenangan, yakin sepenuhnya bahwa Daxon pasti akan hadir di pesta ulang tahun itu.
...****************...
Sesampainya di kamar, Daxon melihat Azalea sedang duduk di sofa sambil menggambar sesuatu. Ia pun berjalan mendekat.
“Kau memanggilku ke sini untuk apa?” tanya Daxon.
Azalea mendongak menatapnya. “Aku memanggilmu supaya kau melihat rancangan hiasan kamar yang aku inginkan,” jawabnya seraya memperlihatkan kertas gambar itu.
Daxon melihat gambaran itu, dinding berwarna hitam yang dipadukan dengan merah muda. Ia lalu menatap Azalea — bukan lagi dengan pandangan tajam seperti biasa, melainkan tatapan yang menyimpan perasaan mendalam yang sulit ia ucapkan terus terang.
“Aldric!” seru Daxon.
Pintu terbuka dan Aldric masuk. “Ada apa, Daxon?” tanyanya akrab.
“Sampaikan kepada tukang yang sedang menyiapkan kamar Azalea, segera ubah susunannya sesuai yang ada di gambar ini — dinding berwarna hitam berpadu merah muda,” perintah Daxon.
“Baik, aku akan sampaikan sekarang juga,” jawab Aldric, lalu berjalan keluar kamar.
Daxon duduk di sisi Azalea, lalu mendekatkan bibirnya tepat di telinga gadis itu hingga suaranya terdengar rendah dan bergetar.
“Aku sudah menuruti permintaanmu… lalu apa yang akan kau berikan sebagai tanda terima kasih… hm?” bisiknya, lalu berdehem pelan.
Suara itu membuat bulu kuduk Azalea meremang. Ia menoleh, menatap wajah dekat itu, lalu dengan gugup sedikit mendorong dada Daxon agar menjauh sedikit.
“Aku… aku sendiri tidak tahu kenapa jadi manja begini padamu. Sungguh aku tidak bermaksud menuntut apa‑apa… rasanya seolah ada sesuatu yang mengatur tingkahku,” ucapnya dengan wajah merah padam karena malu.
Daxon tersenyum lembut dan menggenggam tangan gadis itu. “Mungkinkah yang mengaturmu itu… anak yang disini?” tanyanya pelan sambil menujuk perut Azalea.
Mendengar itu, Azalea seketika memegang perutnya secara refleks. “Aku—”
Belum sempat melanjutkan kata, Daxon tiba‑tiba menariknya masuk ke dalam pelukan erat, lalu mengangkat perlahan dagu Azalea agar pandangan mereka bertemu.
“Ada yang ingin aku katakan padamu… sebenarnya aku—”
Namun Azalea tak sanggup lagi menatapnya lebih lama, rasa mual kembali menyerang hebat. Ia melepaskan diri dan berlari cepat menuju kamar mandi, menutup pintu rapat‑rapat.
Daxon tertinggal diam di tempat, menatap pintu yang tertutup itu sambil menggaruk kepalanya sedikit bingung.
“Apakah napasku berbau tidak sedap sampai dia lari begitu? ” gumamnya dalam hati.
...****************...
Malam pun tiba. Di ruang makan, para pelayan menyajikan hidangan mewah. Namun begitu melihatnya, Azalea langsung menutup mulut rapat dengan kedua tangan.
Daxon menatapnya. Gadis itu seolah sedang bermusuhan dengan segala makanan yang ada di meja, sementara Aldric di sebelahnya santai saja, terus sibuk menikmati hidangan tanpa banyak peduli suasana.
"Singkirkan semua hidangan ini dari meja," perintah Daxon tegas.
Para pelayan segera mengangkat kembali hidangan di atas meja. Daxon menatap wajah Azalea yang makin pucat, rasa khawatirnya makin bertambah.
"Kau sebenarnya ingin makan apa?" tanyanya lembut, berusaha menyembunyikan kegelisahan.
Azalea perlahan menoleh. "Aku... ingin makan sate ayam yang biasa dijual di pinggir jalan," jawabnya pelan.
"Lina, panggilkan Eric kemari," perintah Daxon kepada pelayan yang berdiri menunggu.
"Baik, Tuan," jawab Lina, lalu segera bergegas keluar untuk memanggil Eric, salah satu anak buah kepercayaannya.
Tak lama kemudian Eric datang bergegas, berdiri tegak di samping meja makan. "Ada perintah, Tuan?" tanyanya dengan sikap sigap.
Daxon langsung berkata, "Cari penjual sate ayam pinggir jalan yang paling enak, belikan dalam jumlah cukup. Segera bawa ke sini, jangan sampai terlambat atau dingin." perintah Daxon.
"Siap dilaksanakan, Tuan," jawab Eric singkat sambil bersiap melangkah.
"Tunggu… Aku ingin makan sate ayam yang dijual di Jalan Somba Opu," ucap Azalea tiba‑tiba.
Begitu mendengar nama jalan itu, bulu kuduk Eric langsung meremang. "Tapi… untuk ke sana harus melewati kawasan pemakaman, Nyonya," jawabnya dengan wajah tampak ketakutan.
Aldric yang baru saja selesai makan, mengangkat gelas untuk minum. Daxon menatap sekilas ke arah Aldric, lalu kembali menatap Eric.
"Kau berangkat bersama Aldric," perintah Daxon tenang.
Byur!
Air yang baru masuk ke mulut Aldric seketika dimuntahkan kembali karena kaget, membasahi seragam salah satu pelayan, yaitu Bi Yati.
"Eh… maaf, Bi Yati!" seru Aldric tergesa.
"Tidak apa‑apa, Tuan. Saya akan segera berganti pakaian," jawab Yati sopan lalu bergegas keluar ruangan.
Aldric menatap Daxon tak percaya. "Kenapa harus aku? Ke sana harus lewat pemakaman, tempat itu sangat seram. Banyak orang bilang sering ada penampakan," elak Aldric sambil menggigil.
Eric yang mendengar itu makin menambah rasa takutnya sendiri. Daxon hanya menatap keduanya dengan pandangan heran.
"Kalian berani membunuh manusia tanpa ragu, tapi malah takut pada cerita‑cerita tentang roh?" ucap Daxon datar.
"Hiks… hiks… Kalian tidak mau pergi demi aku?" isak Azalea pelan.
Ketiganya terkejut mendengar suara tangis itu. Daxon segera menenangkan Azalea, lalu menatap tajam ke arah Aldirc dan Eric.
"Pergilah sekarang juga," perintahnya tegas.
Namun Azalea menggeleng, lalu menatap Daxon dengan pandangan memohon. "Kau… ikutlah bersama mereka," pintanya lemah.
Daxon mengusap wajahnya sejenak, lalu berdiri tegak. "Baiklah, aku ikut bersama mereka," jawabnya, lalu segera berjalan mendahului keluar ruangan.
Aldric dan Eric terpaksa menyusul di belakangnya. Sementara itu, Azalea pun ikut berdiri dan memutuskan menunggu kepulangan mereka di ruang tamu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄