Naraya sabila seorang gadis kelas tiga SMU yang harus merasakan pahitnya kehidupan setelah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Naraya atau Nara harus tinggal dengan paman dan bibinya yang sama sekali tidak pernah menyayanginya. Paman dan bibi Nara mau mengurus Nara hanya karena harta warisan yang kedua orang tua Nara tinggalkan.
Saat harta kedua orang tua Nara habis oleh pamannya di meja judi, membuat Nara sekali lagi harus merasakan kepedihan dalam hidupnya. Dia tidak tau jika dirinya telah diam-diam dijual pamannya pada seorang bos mafia untuk melunasi semua hutangnya.
"Aku di mana?" tanya Nara saat penutup kedua matanya dibuka.
"Anda berada di dalam kamar milik Tuan Jaden Luther"
"Apa? Aku di dalam kamar Tuan Jaden? Memangnya siapa Dia?
"Sebentar lagi Tuan Jaden akan segera menemui Anda, Nona Nara."
Bagaimana nasih Nara selanjutnya? Apa suatu hari Nara akan mendapatkan kebahagiaan, atau justru hidupnya lebih terpuruk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Sang Pelayan Part 2
Nara sudah selesai memakaikan celana Jaden. Nara membuka kedua matanya dan melihat wajah songong dari Jaden.
"Kemari dan cium aku," ucap Jaden.
"Apa? Kamu jangan main perintah sem--."
Tiba-tiba tangan Jaden sudah menarik saja pinggang Nara dan dengan cepat membungkam bibir Nara dengan bibir Jaden.
Nara yang lagi-lagi shock dengan perbuatan Jaden malah terpaku kala meraskan sentuhan lembut yang menyapu bibirnya. Apalagi dia baru saja merasakan sensasi sebuah ciuman untuk kedua kalinya.
Beberapa detik kemudian, Nara yang seolah disadarkan akan tangan Jaden yang mencengkeram pinggang Nara langsung mendorong Jaden menjauh darinya.
"Hentikan, Tuan JL! Jangan menciumiku seenaknya," ucap Nara kesal.
"Anggap saja itu sebagai hadiah karena kamu melakukan pekerjaan kamu dengan baik."
"Hadiah apanya? Aku tidak suka hadiah darimu." Nara mengusap-usap bibirnya bekas dicium Jaden. Dia berjalan menuju kamar mandi sambil mengomel dan tidak lama terdengar suara benturan keras, seketika juga terdengar tawa terbahak-bahak seseorang.
Iya. Nara yang tidak hati-hati malah terjedot tembok yang dia kira pintu karena terlalu kesal dan emosi dengan Jaden. Sedangkan Jaden yang melihat hal itu seketika tertawa dengan puasnya.
Di lantai bawah, tepatnya di meja makan tampak dua orang yang saling melihat satu sama lain. Mereka adalah Bi Ima dan Leo yang tampak kaget mendengar suara tawa bosnya.
"Bi, aku tidak salah dengarkan? Itu benar suara tawa Tuan Jaden?" tanya Leo dengan muka tidak percaya pada Bi Ima.
"Sepertinya iya, tapi apa yang membuat tuan muda tertawa seperti itu?" Bi Ima tampak sangat heran karena sejak dia bekerja di sana, bi Ima tidak pernah mendengar bahkan melihat tuan mudanya tertawa, tersenyum pun tidak.
"Apa karena gadis itu?" ucap Leo lirih.
Tidak lama masuk salah satu penjaga berpakaian serba hitam dengan kacamata hitamnya menghadap di depan Leo.
"Pak, kami sudah menemukan orang itu dan dia ada di ruangan bawa tanah."
Leo segera beranjak dari tempatnya dan menyuruh orang itu pergi dengan hanya menggunakan isyarat tangannya.
"Bi, aku akan memberitahu tuan Jaden." Leo pergi menaiki anak tangga dan dia menuju kamar Jaden.
Leo yang sudah berada di depan kamar Jaden ragu-ragu untuk mengetuk pintunya saat dia mendengar suara Jaden.
"Kamu pintar sekali melayaniku. Aku menyukainya," suara Jaden terdengar parau.
"Bagaimana ini? Apa mereka sedang melakukan sesuatu? Tapi aku yakin Nara bukan gadis yang muda sekali menyerahkan dirinya." Dalam hati Leo, Jaden pasti memakai kekuasaannya untuk membuat Nara melakukan semua perintahnya.
Leo yang tampak penasaran akhirnya mengetuk pintu kamar Jaden. Tidak lama pintu terbuka dan Leo melihat Nara berdiri di depannya.
Leo mengamati Nara dari atas sampai bawah, ternyata Nara masih memakai baju lengkapnya. Gadis mungil itu tampak aneh melihat Leo yang malah diam memperhatikannya.
"Mas Leo ada apa?"
"Em... Nara, aku ada perlu dengan Tuan Jaden."
Jaden berjalan menghampiri Leo, dia berdiri menatap Leo dengan tatapan datar. "Ada apa, Leo? Apa kamu tidak bisa membiarkan aku untuk bersantai. Kepalaku sangat pusing."
Leo melihat ke arah Nara yang sedang memperhatikan mereka. "Tuan Jaden, pesanan Anda sudah datang, dan dia ada di ruang bawah tanah," ucap Leo agak lirih.
"Kamu serius?" Tiba-tiba Jaden wajahnya tampak serius. Leo mengangguk perlahan dan sekilas dia melirik pada Nara.