follow igku @zariya_zaya
Kasus pembullyan yang terjadi disebuah kampus ternama hingga ada salah satu korban bully mengalami koma, membuat Valexa ingin mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Valexa, si gadis tangguh adalah mahasiswi baru yang langsung dibully dihari pertama dia masuk universitas bergengsi karena penampilannya dianggap cupu dan kampungan.
Keteguhan Valexa menghadapi para pembully membuat Ravelo, sang pangeran kampus mengincar Valexa untuk dijadikan kekasihnya. Para kaum hawa idola Ravelo, langsung menyalakan api permusuhan pada Valexa karena dianggap merebut idola mereka. Namun, dibalik itu semua, ada sebuah rahasia yang dimiliki seorang Valexa dan hanya Ravelo saja yang mengetahuinya.
Apa rahasia itu? Dan apa tujuan Valexa datang ke kampus elit? Bisakah dia menghadapi para musuh-musuh yang membully dan mengincar nyawa Valexa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 23 Penjelasan
Ravel menggandeng tangan Valexa dan menuju ke sebuah rumah kaca besar tak jauh dari istana Ravel berada. Bangunan besar yang hampir seluruh dindingnya terbuat dari kaca tebal itu penuh dengan berbagai macam jenis bunga yang sengaja di tanam dan dibudidayakan di tempat ini.
Karena Valexa penyuka bunga, iapun langsung takjub akan keindahan semua tanaman yang ditanam di tempat ini. Apalagi semuanya bermekaran dan berwarna-warni karena telah memasuki musim semi. Keindahan tempat ini, mirip seperti negeri dongeng.
Raut wajah Ravel masih terlihat kesal, mungkin karena pertengkaran kecilnya dengan wanita bule yang bernama Maria. Untuk sementara ini, Valexa tak ingin bicara apa-apa karena masalah Ravel dan wanita galak tadi bukanlah urusannya.
"Duduklah," pinta Ravel saat mereka ada di gazebo kecil yang khusus disediakan di tempat ini.
Tanpa banyak bicara, Valexa duduk dihadapan Ravel dan lebih mengamati keindahan taman yang ada disekitar sini.
"Kenapa kau pakai pakaian pelayan seperti itu?" tanyanya dingin. Sikap Ravel sangat berbeda dengan semalam yang lebih sok sweet daripada sekarang. "Apa kau suka sekali direndahkan orang lain?"
"Tidak ada pakaian lain yang bisa kukenakan di sini. Aku tak bawa baju ganti dan tempat ini jauh dari perkotaan. Tidak ada yang jual pakaian disekitar sini. Aku dengar dari pelayanmu, tak satupun dari mereka diperbolehkan memakai pakaian wanita selain pakaian pelayan, terpaksa aku pinjam pakaian salah satu pelayanmu. Dan masalah direndahkan, aku merasa sama sekali tak direndahkan, mereka saja yang suka menganggap remeh seseorang hanya dari penampilan luarnya." Valexa bicara panjang lebar.
"Maria memang seperti itu, hehe ...." Ravel malah tertawa.
"Apanya yang lucu?" tanya Valexa bingung dengan perubahan sikap Ravel yang tadinya dingin kini berubah santai.
"Baru kali ini ada wanita berani menjambak rambut Maria seperti itu. Kau dalam bahaya besar, sekarang. Kau masuk daftar hitam orang yang akan dilenyapkannya." Entah ucapan Ravel ini benar atau tidak, yang jelas Valexa tidak takut sama sekali.
"Memangnya, siapa dia?" tanya Valexa.
"Dia adalah mantan kekasih kakakku, aku tak tahu kenapa mereka putus dan sekarang mengincarku. Maria bersedia membantuku membongkar kasus yang menyebabkan kakakku seperti itu, sebab sesaat sebelum kejadian, Marialah orang terakhir yang ditemui kakakku. Ia baru saja kembali dari London. Dia satu kampus denganmu, tapi mungkin kalian tidak pernah bertemu." akhirnya Ravel menjelaskan siapakah sosok wanita yang tadi sempat bertengkar dengannya.
Masalah Nadin belum selesai, kini tambah lagi wanita penggoda lainnya. Sepertinya Maria jauh lebih kuat dari Nadin.
"Kau buat perjanjian apa dengannya?" Valexa juga sudah tak bisa memendam rasa penasarannya soal perjanjian yang dibuat Ravel dengan Maria.
"Kenapa? Kau cemburu?" tanya Ravel mulai kumat. Pria yang duduk dihadapan Valexa ini sungguh menyebalkan sekali.
"Aku hanya penasaran, siapa juga yang cemburu padamu? Jangan Ge-Er!" Valexa sewot.
"Tidak mau ngaku juga tidak apa-apa. Kau akan menangis jika benar-benar cemburu padaku. Dan pada saat itulah kau akan menyadari, kalau kau ... sangat mencintaiku."
"Huh, kau Pe-De sekali. Aku tak pernah menangis hanya karena seorang pria."
"Siapa yang tahu? Rasa cinta itu bisa datang dan pergi begitu saja Valexa sayang, sama seperti yang kurasakan padamu. Dan akan aku pastikan, cintaku padamu akan tetap utuh selamanya, nggak akan berkurang. Aku orang yang setia kok." Ravel membanggakan dirinya sendiri.
"Sudah cukup! Aku takkan pernah termakan dengan rayuan gombalmu itu, katakan saja kalimat itu pada wanita lain! Jangan padaku! Jelaskan saja apa isi perjanjianmu dengan Maria! Aku tak mau dengar yang lain," tandas Valexa.
"Harusnya dia yang jadi kekasihku dan memancing orang yang sudah membuat kakakku dan sahabatmu jadi seperti itu begitu ia kembali dari Eropa. Paras Maria lumayan cantik karena dia blasteran Amerika –Eropa. Namun, aku membatalkannya karena kau sudah menggantikan posisinya."
"Kalau begitu aku mundur, aku tak mau jadi orang ketiga diantara kalian berdua. Aku bisa mengungkap sendiri kasus ini tanpamu!" Valexa bangun berdiri dari kursinya dan hendak pergi.
"Kau dalam bahaya besar di luar sana," seru Ravel sehingga Valexa tak jadi pergi. "Aku sudah menyuruh pengawalmu menghilang sementara dan baru kuperbolehkan kembali bila saatnya tiba. Identitasmu sudah diketahui, para tikus-tikus suruhan Nadin sedang mengincarmu dan para pengawalmu. Tidak ada tempat yang lebih aman bagimu selain di sini. Dan kau ... tidak akan bisa mundur dari langkah yang kau ambil. Kau harus tetap bersamaku apapun yang terjadi."
"Kau membatalkan sepihak perjanjianmu dengan Maria? Apa kau tahu akibatnya? Aku tak mau ambil resiko apapun. Aku harus secepatnya menemukan orang yang sudah membuat sahabatku sekarat, menghukumnya seberat-beratnya dan aku akan segera kembali ke London. Sebab, masa liburanku sudah hampir habis. Aku tak punya banyak waktu lagi di sini."
"Tahu, dia akan beralih dari sekutu menjadi musuh dan pastinya bekerja sama dengan Nadin untuk melenyapkanmu bagaimanapun caranya. Karena itulah mulai besok, kita akan perang terbuka dengan para monster yang ada di kampus itu? Aku sudah menyiapkan rencana matang untuk menyingkirkan siapa saja yang mengganggu misi kita. Tapi dengan syarat, kau tak boleh jauh-jauh dariku. Persetan dengan semua orang yang ada di kampus itu, misi kita hanya memancing penjahat bertopeng itu keluar dari tempat persembunyiannya."
Valexa tertegun mendengar ucapan Ravel. Sepertinya ia memang sudah tidak bisa diam-diam lagi menyelidiki kasus pembullyan dan penganiayaan yang menimpa sahabatnya. Sudah saatnya ia menghadapi orang-orang jahat itu secara langsung dan segera menangkapnya.
Sepertinya, Valexa memang tak punya cara lain selain bekerjasama dengan Ravel terlepas dari banyaknya masalah dan rintangan yang bakal mereka hadapi bersama. Berdua memang jauh lebih baik daripada sendiri. Entah apa yang direncanakan ravel besok, Valexa sungguh tidak tahu. Ia sendiri sepertinya juga tak perlu menyamar jadi gadis culun lagi seperti sebelumnya.
"Mulai sekarang, sampai kasus ini selesai, kau tinggal bersamaku di istana ini. Kau bisa pilih mau satu kamar denganku atau kamar lain. Saranku sih, satu kamar denganku saja supaya aku bisa menjagamu 24 jam," tawar Ravel modus tingkat tinggi. Bilang saja kalau tak ingin jauh-jauh dari Valexa.
"Tidak, terimakasih atas tawaranmu, antarkan aku pulang sekarang, aku tak mau tinggal di istana ini dengan orang menyebalkan sepertimu, aku bisa kena stroke tiap hari!"
"Oke! Aku setuju denganmu. Kau satu kamar denganku! Keputusan yang bagus," tandas Ravel sambil tersenyum, ia bangun berdiri dari kursinya dan berjalan ke dekat bunga.
"Apa kau tidak dengar? Aku ingin pulang, bukannya satu kamar denganmu!" teriak Valexa marah, ia ingin mengomel lagi tapi Ravel langsung memberinya sebuket bunga tulip putih yang indah dan langsung mencairkan amarah Valexa. Seketika, gadis itu terdiam memandangi betapa indahnya bunga yang ada digenggaman tangan Ravel.
"Kau suka bunga ini? Dia sama cantiknya sepertimu," rayu Ravel agar Valexa berhenti protes dan tak jadi marah padanya. Benar-benar si Ravel ini buaya juga ternyata.
"Kalau saja keindahan bunga ini tak menyihirku, aku pasti sudah muntah mendengar ucapanmu barusan! Dasar tukang gombal!" Valexa menyahut bunga tulip pemberian Ravel dan nyelonong pergi begitu saja meninggalkan pria tampan si pemberi bunga padanya. Ravel hanya tersenyum dan mengikuti Valexa dari belakang.
BERSAMBUNG
***
mampuslah lo caittin