NovelToon NovelToon
Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahkontrak / Berondong / CEO / One Night Stand / Beda Usia / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Three Ono

FOLLOW IG AUTHOR 👉@author Three ono

🔥🔥🔥
Harap bijak, banyak adegan me-sum di dalam novel ini.
Hanya imajinasi author semata, jangan cari di dunia nyata.

"Menikahlah denganku, aku akan bertanggung jawab," ujar Daniel.

"Kita sudah sama-sama dewasa, hal itu wajar bagi orang dewasa. Mari lupakan semuanya, anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa." Mia menolak tawaran menikah dari Daniel.

Mia Khalisa, seorang sekretaris CEO perusahaan Star company. Penampilannya jauh dari kata cantik dan seksi. Siapa sangka kalau dibalik penampilannya yang kuno, tersembunyi sesuatu yang sangat luar biasa dan memiliki sejuta pesona.

Pencinta serial drama merapat 🙈🙈 yuk masuk dalam dunia drama author ❤️❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Three Ono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Keadaan Memburuk

°°°

Mia sudah ijin untuk menemani mamahnya menemui dokter seperti janjinya tadi pagi. Dia bersiap pulang ke apartemennya.

"Mia, kamu jadi ijin hari ini?" tanya Catty yang selalu ingin tau.

"Iya, aku harus menemani mamah. Aku tidak akan tenang kalau tidak mendengar langsung bagaimana kata dokter," ujar Mia yang sedang merapikan meja kerjanya.

"Aku juga ikut senang mendengarnya, semoga Tante Emma bisa segera disembuhkan. Kabari aku ya kalau ada apa-apa, besok week end aku dan anakku main ke tempat kamu."

"Terimakasih kamu selalu ada untukku selama ini, aku pergi dulu," pamit Mia.

"Hati-hati," ujar Catty yang juga merasa lega. Dia sangat tau bagaimana perjalanan hidup Mia selama ini. Dari mulai baru masuk perusahaan sampai saat ini dan Catty juga dekat dengan keluarga Mia. Beban seperti apa yang temannya tanggung tentu dia sangat mengerti.

Semoga Tante Emma bisa segera sembuh dan kamu bisa mendapatkan kebahagiaan mu, Mia.

,,,

Beberapa saat kemudian, Mia sudah sampai di apartemennya. Dia langsung menuju unit apartemen miliknya yang masih harus di cicil beberapa tahun lagi.

"Aku pulang...," ujar Mia saat baru saja masuk.

"Kemana semua orang, kenapa sepi?" Mia bertanya pada dirinya sendiri.

Mia mencari keberadaan mamahnya di dapur dan balkon tapi tidak ada juga.

Apa mungkin di kamar?

"Mah, apa mamah di dalam. Ayo kita berangkat ke rumah sakit sekarang mah," ujar Mia di depan pintu kamar mamahnya tapi tidak ada jawaban apapun dari dalam.

"Mah...." Mia pun mengetuk pintu itu berkali-kali dan mencoba membukanya tapi ternyata terkunci.

"Mah... jawab mah. Kenapa mamah diam saja."

Pikirannya sudah kemana-mana, takut terjadi apa-apa dengan sang mamah. Mia pun bergegas ke kamarnya untuk mengambil kunci cadangan.

"Di mana kuncinya? sepertinya aku taruh di laci ini," gumam Mia yang sudah panik. Dalam mencari pun dia sama sekali tidak konsentrasi, hanya asal membongkar lacinya.

"Kak, ada apa? Kakak cari apa?" tanya Felice yang mendengar suara benda berjatuhan di kamar kakaknya.

"Kunci cadangan kamar mamah, apa kau lihat?" panik Mia.

"Tidak, kan kak Mia yang simpan. Ada apa sebenarnya Kak, kenapa kak Mia terlihat panik?" bingung Felice yang baru saja bersiap hendak berangkat kuliah.

"Kamar mamah terkunci, aku panggil-panggil tidak ada jawaban. Aku takut terjadi apa-apa pada Mamah," jawab Mia yang masih mencari-cari kunci cadangan.

Felice tampak terkejut, sejak tadi dia di rumah tapi malah tidak tau apa yang terjadi pada mamahnya. Memang setelah sarapan dia tidak keluar dari kamar, dia sibuk belajar untuk persiapan kuis siang ini.

Sang adik pun segera ikut mencari dengan penuh rasa bersalah, kalau ada apa-apa dengan sang mamah dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga mamahnya.

"Ini Kak," ujar Felice seraya menyerahkan kunci cadangan yang berhasil ia temukan.

Mia pun segera berlari untuk membuka pintu kamar mamahnya diikuti sang adik yang juga khawatir. Dengan perasaan takut mereka masuk ke dalam kamar itu.

"Mamah...!" pekik mereka berdua saat melihat sang mamah terkapar di lantai kamarnya.

Mia segera berlari mendekat.

"Mamah, bangun mah. Apa yang terjadi pada mamah?" Mia memangku kepala mamahnya dan memeluknya, pipinya pun sudah basah oleh air mata.

Sementara Felice mematung, dia dihantam penyesalan yang begitu besar karena tidak bisa menjaga mamahnya dengan baik. Tubuhnya bahkan bergetar hebat, dia begitu takut kalau sampai terjadi hal buruk pada mamahnya.

"Felice, cepat panggilkan ambulan!" perintah Mia pada adiknya tapi sang adik masih belum bergerak.

"Felice, kenapa kau diam saja. Cepat panggilkan ambulan!" sentak Mia.

"Ba... baik Kak," jawab Felice tergugu, bentakan Mia yang terdengar begitu keras membuatnya sedikit takut. Dia pun segera memanggil ambulan.

Beberapa saat kemudian, ambulan pun datang dan membawa mamah Emma ke rumah sakit. Sejak tadi pula Mia tidak pernah beranjak sedikitpun dari sisi mamahnya, sedangkan Felice terdiam dengan beribu penyesalannya.

Kedua kakak beradik itu ikut naik ambulan menemani mamahnya. Mereka sama-sama begitu khawatir. Mia melihat adiknya yang sejak tadi diam tapi matanya menyisakan kesedihan dan penyesalan. Sebagai kakak yang berjuang keras demi keluarga terutama demi kesembuhan sang mamah, jujur Mia kecewa pada adiknya karena tidak bisa menjaga mamah mereka.

Namun, dibalik kekecewaan Mia pada adiknya. Dia tidak bisa begitu saja menyalahkan sang adik, selama ini Felice juga sudah dengan baik menjaga sang mamah saat Mia tidak ada. Jadi satu kesalahan itu tidak lantas membuat Mia marah karena ia juga melihat betapa adiknya menyesal walaupun dia tidak mengatakan apa-apa tapi Mia tau.

"Mamah pasti tidak akan kenapa-napa, dokter bedah yang akan mengoperasi mamah sudah ada. Jangan khawatir lagi," ujar Mia pada sang adik yang tertunduk.

"Maaf... ini salahku...." Felice tidak bisa lagi menahan air matanya saat sang kakak mau berbicara padanya. Ia kira kakaknya akan marah besar dan menyalahkannya tapi justru Mia meyakinkan dirinya kalau sang mamah akan baik-baik saja. Padahal Felice sangat tau betapa hancurkan sang kakak saat melihat mamah Emma tergeletak di lantai kamarnya.

Mia mengusap lembut kepala sang adik lalu berkata, "Jangan menyalahkan diri kamu sendiri lagi, mamah adalah tanggung jawab kita berdua. Ini bukan salahmu, aku yakin selama ini mamah sengaja tidak pernah memberi tau tentang sakit yang ia rasakan pada kita."

Karena setau mereka sang mamah tidak pernah terlalu merasa kesakitan dan terlihat baik-baik saja.

"Aku yang kurang memperhatikan keadaan mamah sehingga sampai begini. Aku terlalu sibuk di luar," ujar Mia seraya menatap nanar wajah mamahnya.

"Kak... kak Mia sudah sangat berjuang keras demi keluarga kita. Mamah pasti berpikir tidak ingin membuat kakak terlalu khawatir, jadi dia selalu bilang tidak apa-apa." Felice memeluk kakaknya dari samping.

Memang seharusnya mamah Emma harus cek up seminggu sekali ke dokter, tapi beliau selalu berdalih kalau tidak apa-apa dan tidak mau terlalu sering datang ke dokter.

Perawat yang sejak tadi memperhatikan kakak beradik itu pun ikut terenyuh melihat keluarga itu. Sudut matanya pun sudah berair mendengar betapa saling menyayangi antara mereka.

Beberapa saat kemudian, akhirnya mobil ambulan yang membawa mamah Emma sampai di rumah sakit Star Medical center. Untung saja jarak dari apartemen tidak terlalu jauh.

Mia dan Felice mengikuti perawat yang sedang mendorong brangkar menuju unit gawat darurat. Dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan antara khawatir dan takut, keduanya terus berharap agar Tuhan masih memberi mereka kesempatan untuk bersama dengan sang mamah.

"Maaf nona, kalian sebaiknya tunggu di luar. Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa keadaan nyonya." Perawat itu pun menutup pintu.

Mia hanya bisa pasrah saat sang mamah menghilang di balik pintu.

Di ruangan dokter.

"Hallo... ada apa?"

"Baiklah, aku akan segera ke sana."

°°°

Hallo... Masih sepi nih🤧

Yuk like komen dan bintang lima 😍

Gomawo.

1
Sonia pramita
hai Thor cerita nya bagus dan menarik, semoga karya mu sukses selalu 😁😁😁😁
FollowIG👉 author Three Ono: terimakasih kak🙏🙏
total 1 replies
Sonia pramita
asek 🤭🤭🤭🤭
Sonia pramita
hai Thor jadi kepo ni 😄😄😄😄😄
Murny
hehe
Erni Widi Iyut
baguss
Joshua Joshua
waow ceritax bagus banget
ArgaNov: Hai, Kak, mau coba ke ceritaku di Noveltoon? Dijamin nggak nyesel☺️

Silakan singgah di Tukar Jiwa, Istri Rahasia Bos Galak, dan Hello, Tampan!
total 1 replies
yani sllu wollez
panas
putri_selako
😍😍😍😍😍😍😍😆😆😆😆😆
Trestyna Sari
👍❤
Debora Novrina Samosir
baik
Marwan Mustofa
Daniel tetap akan menikahi Mia, apapun yg terjadi sebagai bentuk pertanggungjawaban
Marwan Mustofa
iyaaa iyaaa iyaaa iyaaa iyaaa
betul-betul-betul
👍👍👌👌👌
Marwan Mustofa
Daddy dan Daniel sebagai laki-laki harus bertanggungjawab apapun yg terjadi
Marwan Mustofa
Daddy dan Mommy berdebat siapa yg patut dipersalahkan, Daniel dan Mia salibgvbwroandangan tdk tahu jalan pikiran Daddy yg ingin menikahkan merek dg kesalahan Pada Diane karena sebagai laki-laki hrs bersikap kesatria. Mommy harus menanyakan kpd mereka jangan sampai mereka terpaksa menjalani perkawinan nanti
Marwan Mustofa
Daddy menyerahkan Tab agar mereka lihat dan komentari, menurut kalian apa yang terjadi. Daniel dan Mia pasti tidak bisa menghindar, Daniel ceroboh akan ada CCTV. Mereka pasrah karena memang itu yg terjadi tak ada yang perlu ditutup-tutupi
Marwan Mustofa
Makan malam bersama akan dimulai, Mia juga diajak makan malam bersama tapi Mia menolak merasa gak pantas makan bareng bersama Bos, istri dan anaknya
Apakah kali ini Deddy dan Mommy membiarkan Moa tidak ikut makan? Lanjuuut Thor
Semanhaaaaaaat...💪💪💪💪😊💝😁
Marwan Mustofa
Mommy Tania tdk tahu ada mslh apa sebenArnya sampai serius ini. Tunggu nanti keduanya datang, dua, siapa? Penjaga memberi kabar Sekretaris Bos Alex menghadap dan tak lama kemudian DAniel juga telah datang. Bos Alex minta istrinya menyiapkan mAkan malam
Marwan Mustofa
Karena ancaman papanya serius Daniel pun akhirnya pulang dengan malas
Marwan Mustofa
Daniel sedang asyik melamun dan merenung slm ruang kerjanya, tanpa mengetuk pintu si borokokok masuk dan mengagetkan Daniel. Tanpa sungkan minta diajak memeriksa pasien kamar 116
Daniel tak menanggapi permintaan Daren. Karena urusannya hanya soal wanita. Tapi kalau berkaitan dg medis pasti Daniel tak segan mengantarnya.
Akhirnya Daniel pun mengusirnya krn sdh muak dg gayanya yg sok keren
Daniel dpt telepon dari mamanya, saat diangkat ternyata suara Daddy-nya yang mengancam akan menutup RS kalau tdk pulang sekarang, dengan malas Daniel pulang kerumah
Marwan Mustofa
Setelah ngompor-ngompori Mei dan ngomong ngalur ngidul tiba waktu nya pulang, Kenan merapikan mainan dimasukkan ke dalam tas. Sebelum pulang Catty berjanji akan mencarikan jodoh buat Mei segera, dalam tempo yang sesingkat singkatnya sambil tertawa, diikuti tawa bu Emma. Felicia dan Mia kebingungan apa yg ditertawakan mereka berdua, tapi kakak beradik itu lebih bahagia melihat wajah ceria ibunya
Mia berpamitan mengantar Catty dan Kenan sekalian ada sedikit keperluan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!