NovelToon NovelToon
Setelah Putri Kandung Itu Kembali.

Setelah Putri Kandung Itu Kembali.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sci-Fi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.

Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.

Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.

Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 RENCANA.

Di dalam kamar, Bee baru saja selesai mandi.

Rambut panjangnya masih sedikit basah, Ia mengenakan pakaian rumah yang nyaman, lalu duduk di depan meja belajar.

Tangannya baru saja hendak membuka laptop ketika terdengar suara ketukan di pintu.

Tok... tok...

"Masuk."

Pintu perlahan terbuka.

Senyum Bee langsung mengembang. "Mah..."

Mamah Lana masuk sambil membawa sepiring buah yang sudah dipotong rapi. " Mamah bawakan buah."

Bee segera berdiri. "Terima kasih, Mah."

Mamah Lana meletakkan piring buah di atas meja belajar, Kemudian duduk di samping Bee. "Kamu lagi apa, Bee?"

Bee sempat terdiam sesaat. Lagi...

Mamah Lana kembali memanggilnya dengan sebutan Bee.

Meski begitu, Bee tetap mempertahankan senyumnya.

"Baru selesai mandi, Mah."

Bee duduk kembali di samping wanita yang sudah ia anggap ibu kandungnya sejak kecil. "Mamah ada apa datang ke kamar Bee?"

Mamah Lana tersenyum tipis. "Sebenarnya..." Wanita itu tampak ragu sejenak. "Mamah dengar tadi Jelita bertemu Juna."

Bee mengangguk pelan. "Iya. Tadi mereka bertemu pas bee di antar ke kampus sama kak Juna "

"Katanya..." Mamah Lana tersenyum kecil. "Jelita menyukai Juna."

Bee hanya diam mendengarkan. "Mamah mau minta tolong. Apa, Mah?" Tanya bee langsung

"Bisakah kamu membantu Jelita supaya lebih dekat dengan Juna?"

Senyum Bee hampir menghilang. Namun gadis itu segera menarik sudut bibirnya kembali, Senyum yang kini sudah menjadi topengnya. "Mah..." Bee berbicara pelan. "Aku gak punya kemampuan buat mendekatkan Jelita sama Kak Juna."

"Maksudnya?"

"Soal perasaan seseorang..." Bee menggeleng pelan. "Itu bukan sesuatu yang bisa diatur."

Mamah Lana mengembuskan napas. "Kamu pasti bisa."

Bee mengangkat pandangannya. "Kenapa Mamah yakin?"

"Soalnya kamu saja bisa dekat sama Juna." kata mamah Lana "Masa cuma membantu Jelita mendekati Juna gak bisa?"

Kalimat itu membuat hati Bee terasa sesak.

Bukan karena Juna. Melainkan...

Karena lagi-lagi, kedatangan Mamah Lana ke kamarnya bukan untuk dirinya.

Bukan untuk bertanya apakah pipinya masih sakit.

Bukan untuk bertanya apakah hatinya sudah membaik. Melainkan demi Jelita.

Bee menundukkan kepalanya beberapa saat.

Lalu tersenyum kecil. "Maaf, Mah.bee benar-benar gak bisa menjanjikan apa-apa." ucap bee "Mungkin..."

"Kalau Kak Juna memang berjodoh dengan Jelita, mereka pasti akan dekat dengan sendirinya."

Mamah Lana tampak sedikit kecewa. "Ya sudah.. bilang saja jika kamu tidak suka dengan Jelita "

" Mah... "

Wanita itu berdiri. "Kalau begitu jangan lupa makan buahnya."

"Iya, Mah." Jawab bee pelan

Mamah Lana mengusap pelan kepala Bee. Namun usapan itu terasa berbeda, Tak lagi selama dulu, Tak lagi sehangat dulu.

Beberapa detik kemudian, Mamah Lana berjalan keluar dari kamar.

Klik.

Pintu kembali tertutup.

Ruangan menjadi sunyi.

Bee masih duduk di tempatnya. Tatapannya tertuju pada sepiring buah yang ditinggalkan Mamah Lana, Perlahan senyumnya memudar. Ia memeluk kedua lututnya di atas kursi.

Lalu mengembuskan napas panjang. "Aku kira..." Bee tersenyum pahit. "Mamah datang karena merindukanku."

Matanya mulai memanas. "Ternyata..."

"Hanya karena Jelita."

Bee mengusap sudut matanya yang mulai basah. Ia tidak marah kepada Jelita, Tidak juga membenci Mamah Lana.

Namun untuk pertama kalinya... Bee benar-benar merasakan bahwa posisinya di rumah itu perlahan bergeser. Ia menoleh ke arah foto keluarga yang berada di atas meja, Foto beberapa tahun lalu. Saat hanya ada dirinya, Darius, Mamah Lana, dan Papah Prans.

Di foto itu...

Senyum mereka terlihat begitu tulus. Bee mengambil bingkai foto itu dengan kedua tangannya, Jari-jarinya mengusap perlahan wajah Mamah Lana di dalam foto.

"Bee masih anak Mamah..." bisiknya lirih. "Kan...?" Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan kamar yang menemani air mata Bee jatuh satu per satu. Malam itu, Bee kembali menyadari satu hal. Kadang...

Hal yang paling menyakitkan bukanlah dibenci.

Melainkan tetap disayangi, tetapi tidak lagi menjadi prioritas.

Di sebuah perusahaan milik Xian.

Pagi itu, suasana ruang kerja direktur terlihat cukup tenang. Xian duduk santai di sofa sambil menikmati secangkir kopi.

Tak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka. "Masuk."

Kak Juna melangkah masuk dengan setelan kemeja putih dan jas hitam yang masih melekat rapi di tubuhnya.

Xian langsung tersenyum tipis. "Dokter sibuk akhirnya datang juga."

Kak Juna duduk di hadapan sahabatnya. "Kamu yang minta ketemu."

"Iya." Xian mendorong secangkir kopi ke arah Juna. "Minum dulu. biar santai "

Kak Juna mengangguk pelan. "Terima kasih."

Beberapa menit keduanya membahas pekerjaan masing-masing. Hingga akhirnya Xian meletakkan cangkir kopinya.

"Oh iya." Kata Xian "Gue mau nanya."

Kak Juna menoleh. "Soal apa?"

"Soal dua anak magang."

Kak Juna sudah bisa menebak arah pembicaraan itu. "Bee sama Cristal?"

Xian mengangguk. "Iya." Jawabnya "Kok tiba-tiba lo minta gue nerima mereka di perusahaan?"

Kak Juna menjawab dengan tenang. "Karena gue percaya sama lo."

"Percaya?"

"Iya."

"Gue yakin lo bakal memperlakukan mereka dengan baik."

Xian mengangguk pelan. Namun sorot matanya seolah sedang menyelidiki sesuatu. "Yakin cuma itu?" Ledek xian

Kak Juna menatapnya. "Maksud lo?"

Xian menyeringai usil. "Bukan karena..."

Belum sempat kalimat itu selesai. Kak Juna sudah menatapnya tajam, Tatapan dingin yang sudah sangat dikenali Xian.

Xian langsung mengangkat kedua tangannya menyerah. "Okay... okay..." Ucapnya "Gue percaya sama lo."

"Gak usah pasang wajah begitu."

Kak Juna kembali meminum kopinya tanpa berkata apa-apa.

Xian terkekeh pelan. Dalam hati ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya.

Namun karena Kak Juna jelas tidak ingin membahasnya, Xian memilih mengalah. "Ya udah. Kita bahas yang lain."

Kak Juna mengangguk. "Bagaimana progres rencana kita?"

Wajah Xian langsung berubah serius. "Aku sudah survei beberapa lokasi."

"Lumayan banyak yang cocok."

Kak Juna membuka tablet yang dibawanya. "Aku juga sudah lihat laporan investasinya."

Xian tersenyum antusias. "Kalau semuanya lancar..."

"Tiga bulan lagi kita bisa mulai renovasi."

Kak Juna mengangguk setuju. "Kita memang butuh usaha baru."

Xian menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Capek juga ngurus perusahaan terus."

"Kali ini kita buka yang santai."

Kak Juna mengangkat alis. "Kafe?"

"Iya."

"Bukan perusahaan besar."

"Bukan rumah sakit."

"Tapi tempat yang nyaman." Xian mulai membayangkan konsepnya. "Ada kopi. Roti, Dessert dan Live music seminggu sekali."

Kak Juna tersenyum tipis. "Itu ide yang bagus."

"Dan..." Xian kembali bersemangat. "Aku mau konsepnya elegan tapi tetap hangat."

"Supaya semua orang nyaman."

Kak Juna mengangguk pelan. "Kita cari lokasi yang strategis."

"Aku juga sudah menghubungi desainer interior."

Xian tersenyum puas. "Berarti tinggal jalan."

"Semoga tahun ini sudah bisa grand opening."

Kak Juna mengulurkan tangannya. "Kerja sama yang bagus."

Xian menyambut uluran tangan itu. "Seperti biasa."

Keduanya saling berjabat tangan.

Bagi mereka, hubungan itu bukan sekadar rekan bisnis. Melainkan persahabatan yang sudah terjalin bertahun-tahun.

Tanpa mereka sadari... Keputusan menerima Bee dan Cristal sebagai anak magang, serta rencana membuka kafe baru, perlahan akan menjadi awal dari berbagai pertemuan yang mengubah kehidupan banyak orang.

1
Daniel Kang
💪semangat bee
Lin-khay💞
Halo kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!