Gaharu mahardika, adalah pria matang berusia 36 tahun, pemilik beberapa showroom mobil yang berstatus duda tanpa anak itu,harus terjebak pernikahan dengan Syakila Bramantyo,gadis yang menurutnya masih ingusan,berusia 20 tahun.Dan karena gadis yang baru saja menduduki bangku perkuliahan setengah semester itu, hidup Gaharu yang biasanya datar,sekarang menjadi jungkir balik.
Sang istri yang masih sangat muda, terkadang memancing emosi dan kesabarannya.
Bisakah rumah tangga mereka bahagia,?
Jangan lupa follow,like,love dan komen di setiap bab ya.Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chustnoel chofa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngambek.
🌸
🌸
Sepanjang perjalanan pulang Syakila hanya diam dan cemberut, Gaharu sampai bingung harus bagaimana lagi cara membujuknya, berkali-kali genggaman tangannya di tepis dengan kasar oleh istrinya.
Dan acara ngambek itupun berlanjut hingga pada malam hari, Syakila masih tetap memasak untuk makan malam mereka, walaupun dengan kebisuan dan juga kekesalan yang masih tersisa di hatinya.
Gaharu mulai tak sabar, dia meremat rambutnya dengan gusar, duh, begini amat ya punya istri bocah, kalo sedang ngambek begitu totalitas.
"Sayang" Gaharu mencoba mengajak bicara, saat keduanya makan dalam keheningan.
"Hemm" Syakila hanya berguman, dia tetap asyik menyantap makan malamnya.
"Sudah dong, jangan ngambek terus, katakan aku harus bagaimana?" Gaharu menatap Syakila serius.
Syakila balas menatap suaminya, "emangnya penting?"
"Iya jelas, kamu istriku sayang" kata Gaharu lembut.
"Sudah lah mas, cepat makan, aku masih malas ngomong"
Bahu Gaharu melemas, dia beranjak masuk ke kamar, capek membujuk istrinya, dia butuh istirahat.
Syakila hanya mengedikkan bahu, melihat suaminya yang balas ngambek, dan lebih memilih masuk kamar.
Dih, udah tua juga ikut-ikut ngambek, harusnya kan aku yang kesal, main cium wanita lain seenaknya sendiri, mentang-mentang mantan terindah.
Begitu selesai makan, Syakila memilih merebahkan diri di sofa ruang sambil memainkan ponselnya, membuka media sosial miliknya, melihat postingan teman-temannya. Karena dia sendiri sangat jarang posting sesuatu.
Sementara di kamar, Gaharu tampak mondar-mandir dengan gelisah, karena sang istri tak juga menampakkan batang hidungnya.
Dalam hati menyesal juga, kenapa tadi dia malah marah dan meninggalkan istrinya sendiri di ruang makan.
Padahal biarpun marah, dia masih berusaha melayani kebutuhan suaminya dengan baik, harusnya kan dia yang lebih dewasa lebih memahami , istrinya masih sangat muda, masih begitu labil.
Memang wanita kalo sedang cemburu, bisa berbahaya, ngambeknya pasti akan lama. Padahal ini sudah hampir dua jam dia masuk ke kamar.
Arggh.. .masa bodoh dengan gengsi, dia istriku ini, aku harus singkirkan ego sementara.
Gaharu segera keluar dari kamar, dan mencari keberadaan istrinya." Sayang..." teriaknya.
Hening tak ada jawaban, akhirnya dia bisa tersenyum lega, saat melihat istrinya ketiduran di sofa, dengan ponsel yang ada di atas perutnya.
"Kok malah tidur di sini sih sayang" bisik Gaharu sambil berlutut di samping sang istri yang tampak pulas,
'Hemm" Syakila menggeliat dan tanpa sadar kedua tangannya memeluk leher suaminya.
Gaharu tersenyum, dikecupnya pipi sang istri mesra, Syakila malah menarik leher Gaharu dan hampir terjatuh menimpa tubuh Syakila, dengan hati-hati dia menggendong ala bridal style, menuju ke kamar mereka.
Tak henti-hentinya Gaharu melabuhkan ciuman dibibir mungil yang seharian ini mengerucut terus itu, kadang juga menggigit kecil, membuat Syakila hampir terjaga.
Gaharu merebahkan tubuh mungil berbalut piyama gaun dengan bahu model tali itu, dengan lembut dan hati-hati, seakan-akan takut kalo dia bisa retak bila terlalu keras menjatuhkannya.
Syakila menarik leher Gaharu sehingga suaminya terjatuh dan berbaring di sampingnya."Jangan ngambek lagi ya, aku tersiksa bila kamu diamkan seperti ini" Gaharu memeluk tubuh Syakila yang memunggunginya.
"Makanya jangan genit -genit, jangan tebar pesona" gerutu Syakila.
Gaharu terkekeh, dia senang akhirnya Syakila mau bicara juga, biarpun agak jutek sih, yang penting malam ini tidak kedinginan tidur di sofa. Ah, ternyata mudah juga menaklukan hati istrinya.
"Iya maaf sayang, lain kali aku akan bawa tulisan yang besar dan aku kalungkan ke leherku. Maaf, sold out! gitu ya" canda Gaharu garing.
"Nggak lucu" ucap Syakila, walaupun Gaharu merasakan sedikit guncangan ditubuh istrinya, karena menahan tawa.
"Memang bukan pelawak, ng....ini serius mau gini aja? nggak olah raga dulu" pancing Gaharu.
"Itu mulu"
"Iya emang kebutuhan sayang, kita kan suami istri, kebutuhan sahwat kan harus disalurkan ke jalan yang benar, karena di rumah ada istri, ya tentu saja minta kepada istri" Gaharu menggigit pundak mulus istrinya gemas.
"Aww, sakit mas. Dih, itu sih bisa-bisanya kamu aja, biar aku mau, iya kan?" Syakila masih mengomel.
"Benar sayang, kalo nggak percaya tanya aja pada rumput yang bergoyang" Gaharu tergelak.
Syakila membalik tubuhnya dengan kesal, dicubitnya pinggang suaminya yang terbalut kaos tipis warna hitam itu.
"Aww....sakit sayang!" Gaharu memekik dengan manja, dia segera mengungkung tubuh istrinya, memulai petualangan ke negeri khayangan, hingga tak ada lagi perdebatan yang terdengar, hanya suara desah*n dan juga erang*n manja yang mendominasi percintaan mereka yang begitu membara.
Entah berapa kali Gaharu membawa istrinya ke puncak kenikmatan yang begitu memabukkan dan serasa candu, hingga ingin mengulang lagi dan lagi.
Hingga keduanya lelah dan tertidur dengan saling berpelukan. "Aku mencintaimu sayang" bisik Gaharu di akhir percintaan mereka.
🌸
🌸
Sementara itu dikediaman Bramantyo, mereka sedang duduk mengobrol di ruang keluarga, Bramantyo, Fira dan juga Gala.
"Syakila lama nggak main mah?" Gala membuka suara, sambil mengunyah cemilan hasil kreasi sang mama.
"Ya sejak nikah belum pernah ke sini kan?"
"Ke sini waktu mama dan papa pergi dulu"
"Ah, iya, gimana adik kamu, tambah gemuk apa tambah kurus,?" tanya Fira kepo.
"Ma..." Bramantyo mencegah istrinya supaya tidak terlalu kepo.
"Hais, apa sih pa? mama kan cuma pengen tau keadaan putri bungsuku saja, apa nggak boleh?" mata Fira melotot tajam, membuat Bramantyo bergidik dan memilih abai saja.
"Gala, coba kamu undang adik kamu makan malam disini, besok atau kapan gitu bisanya" kata Fira antusias. Dia sungguh merasa rindu dengan putri bungsunya yang biasa manja itu.
" Iya seh ma, Gala juga kangen sama si bawel, besok aja ya, sekarang sudah malam, takutnya mereka lagi setengah jalan" Gala menutup mulutnya dengan kelima jarinya, dan sontak kedua orang tuanya melotot ke arahnya.
"Kamu masih perjaka kan?" tanya Fira sangsi.
"Tentu saja ma, enak aja, emang Gala cowok apaan?" Gala merengut, dia kan selama ini pacaran sehat dengan Chika.
"Lalu bicara apa tadi?" omel Fira, Bramantyo hanya menggelengkan kepala saja, tapi dia percaya anak laki-lakinya bisa di percaya.
"Kan asal ngomong ma"
"Ya udah, undang Chika juga ya, kalo Syakila bisa" Fira mengakhiri perdebatan dah mengajak suaminya masuk ke dalam kamar.
"Ya elah ma, pa...masak masih sore mau bikin adik sih" Gala mengomel, karena dia di tinggal sendirian.
"Jangan berisik"
*Bersambung..
🌸
🌸*