Vika gadis ceria dan sedikit tomboy jatuh cinta pada Ihsan yang merupakan teman kecilnya.
Vika terpaksa harus memendam rasa sukanya pada Ihsan karena ada begitu banyak hal yang membuat mereka tak bisa bersama.
Penasaran ....
yuk simak kisah lengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Maelani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
HAPPY READING
Karena rasa rindu setelah beberapa hari tidak bertemu, hari itu juga mereka habiskan bersama dari pagi hingga malam.
Ujang yang sudah dianggap seperti keluarga oleh Nenek Dilla bebas semaunya dia keluar masuk rumah itu.
"Sayang kita jalan-jalan sore yuk, ada pasar melem loh" ajak Ujang
"Kalo pasar malem itu adanya malem lah, kok sore" jawab Vika bercanda.
Ujang hanya tertawa mendengar ucapan Vika, ia pun meminta ijin pada nenek Dilla untuk mengajak Vika keluar
Setelah sholat magrib mereka pun pergi ke pasar malam yang berada tidak jauh dari kampung mereka.
Saat sedang asik melihat-lihat barang mereka bertemu beberapa orang temen mereka.
Tadinya cuma berdua kini mereka jadi berenam.
Malam itu mereka terlihat begitu bahagia bermain bersama setelah beberapa hari tidak bertemu.
Setelah lelah bermain dan tidak lupa jajan receh mereka pun kembali.
Nenek Dilla yang tidak dapat tidur jika Vika belum pulang nampak sedang duduk diteras menunggu cucunya.
Beruntung sebelum kembali mereka sempat membeli martabak ketan hitam.
"Nene kok belum tidur?" tanya Vika saat membuka pintu dan melihat Neneknya masih duduk menunggu dirinya.
"Nene itu nungguin kamu, emang ya kalo lagi pacaran suka lupa waktu sindir nenek Vika sambil tersenyum.
"Maaf lah Nek, tadi ketemu anak-anak disana jadilah bareng-bareng mainnya,kan nenek tau kalo udah ngumpul mah sok lupa" jawab Ujang dengan bahasa yang campur aduk antara Sunda dan Indonesia.
"Bisa aja alesannya, itu bawa apa? sini in kebetulan nenek lapar nungguin kalian pulang " Ujang pun langsung memberikan kantong yang ia bawa.
Nenek Dilla langsung memakan beberapa potong martabak.
Karena sudah larut Ujang pun pamit pulang.
Setelah mencium tangan Nenek Dilla ia pun keluar dan tidak lupa juga mengunci pintu pagar.
" Sayang Aa pulang dulu ya" teriak Ujang dari depan pintu pagar.
"Saat berisik udah melem Jang, pulang sana" usir nenek Dilla.
Ujang pun tersenyum lalu perlahan ia pun menyalakan motornya dan meninggalkan rumah nenek Dilla.
Sementara itu di kediaman Ikhsan, pria itu nampak gelisah, mendapatkan kabar jika saat ini Vika sudah kembali ke kota kembang ada banyak yang ia khawatirkan.
Ia khawatir Vika semakin dekat dengan Ujang dan akhirnya usahanya untuk mendapatkan cinta Vika kembali akan gagal.
Sementara itu hubungannya dengan Rany sudah hampir selesai.
Setelah sekian lama ia baru menyadari jika Rany hanya memanfaatkannya saja.
Ikhsan tidur tidak bisa nyenyak, begitu pun di kampus dan tempat kerja paruh waktunya.
"Yang lagi jatuh cinta kayanya gelisah banget bro" Tio yang dari tadi memperhatikan Ikhsan gelisah akhirnya bertanya juga.
"Gw gak tenang Yo, dia udah balik ke sana, pasti deh nantinya dia makin deket tuh sama tukang angon bebek itu"
Ha ..ha...
Tyo hanya tertawa mendengar ucap Ikhsan
"Lah sama si Rany loe biasa aja,kaga khawatir dia bakal diambil orang, giliran sama ni cewe kayanya loe takut banget kehilangan" ucap Tyo sambil memperhatikan wajah Ikhsan.
"Gw juga gak tau Yo,. padahal dulu gw malah biasa aja sama dia,tapi sekarang malah ...aghhh gak tau lah gw " Ikhsan mengusap wajahnya kasar seperti orang yang sedang frustasi.
Sementara itu di Bandung Vika sudah beraktivitas seperti biasa, pagi ia ke kampus dan siang istirahat lalu menjelang sore ia akan menyusul Ujang di sawah untuk mengangon bebek.
"Hallo Jang,maay ya telat tadi aku beli ini dulu, ayo kita makan bareng" Vika pun mengeluarkan beberapa tusuk telur gulung dan memakannya bersama Ujang.
"Nanti Minggu ada latihan volley, kamu mau ikut gak neng"
"Mau nonton aja boleh gak, masih males aku Aa" Vika pun nyengir membuat Ujang pun ikut tersenyum.
"Jang bebek ini kan udah banyak ya, kemarin ditambahin sama Papa, kapan kita mau bakar-bakaran lagi"
"Ish kamu tuh, gak usah lah neng, mending biarin aja nanti kalo telurnya udah banyak kita bikin telur asin terus kita jual uangnya kita kasih ke Nini pasti dia seneng banget" usul Ujang.
Vika pun diam sesaat memikirkan perkataan Ujang.
"Boleh juga tuh Jang, aku juga suka kok tekur asin" jawab Vika yang setuju dengan usulan Ujang.
Saat hampir sore mereka pun pulang dan setelah bersih mereka pun langsung menuju lapangan voli dengan menggunakan sepeda milik Ujang.
Beberapa teman mereka yang melihat Ujang berboncengan dengan Vika langsung menggoda mereka, ada yang bersiul, ada yang bilang ciee....
Vika yang memang mudah bergaul tidak heran jika ia pun mempunyai banyak teman disana.
Saat menyaksikan Ujang bermain Voly Vika seakan takjub melihat bentuk tubuh kekasihnya yang begitu macho menurutnya.
"Ciee yang liatin aa nya main Voly sampe gak kedip" ucap salah satu teman wanita Vika.
Ia hanya tersenyum mendengar ucapan teman-temannya.
Tiba-tiba saja Vika ingi dengan Kaysa ia pun merekam beberapa menit saat Ujang bermain Voly lalu mengirimnya kepada Vika.
"Cieee yang udah ketemu ayanknya" balas Kaysa melalui pesan singkat.
Vika pun membalasnya dengan emot senyum.
Setelah selesai bermain Voly Ujang pun istirahat sebentar.
Vika nyosorkan satu botol air kemasan untuk Ujang.
Ujang pun tersenyum menerima pemberian Vika.
"Uhukkkk kenapa cuma Ujang aja yang dikasih, kita juga haus atuh" ucap salah satu temannya menggoda Vika dan Ujang.
"Ini sih khusus buat aku, kalo mau pada beli aja " Ujang pun mengeluarkan satu lembar uang merahan lalu menyuruh teman-temannya membeli es cincau yang memang ada tidak jauh dari tempat mereka bermain.
Hampir magrib mereka pun kembali kerumah masing-masing.
Saat tiba dirumah mama Iren menelfon Vika.
"Hallo sayang kamu kok kalau sudah disana susah banget sih buat dihubungin" ucap Mama Iren dari seberang sana.
"Maaf mah, tadi pulang kuliah Vika langsung jadi pengembala bebek, abis itu main Voly sama temen-temen" jawab Vika menjelaskan kegiatannya agar mamanya tidak salah sangka.
"Kamu gak kangen apa Vika sama Mama?" tanya Mama Iren lagi kali ini nada suaranya terdengar sedih.
"Ish mama ya kangen lah, Mama nangis ya?" tanya Vika yang langsung mengubah panggilannya menjadi Vidio call.
Beberapa saat mama Iren tidak mengakat Vidio call dari Vika.
Ia menghapus air matanya, ia tidak ingin Vika tau jika saat ini ia sedang sedih karena merindukannya.
"Mama kok gak diangkat sih, mama marah ya sama Vika" beberapa saat Vika mencoba menghubungi mamanya melalui Vidio Call namun mamanya tidak mau mengangkat akhirnya Vika pun mengirimkan sebuah pesan singkat untuk mamanya.
"Maaf sayang tadi mama ke toilet dulu" balas mama Iren berbohong.