Yurina, gadis 20 tahun terpaksa mengandung dari seorang CEO tempat ia berkerja, akibat insiden yang terjadi di malam ulang tahun perusahaan.
Selama beberapa bulan Yurina dan Moranno hidup bersama dalam ikatan pernikahan, tanpa di sadari cinta hadir diantara mereka.
Lika - liku perjalanan rumah tangga mereka diwarnai orang - orang yang ingin memisahkan hubungan mereka.
Baik Yurina maupun Moranno, sama - sama menjaga hati mereka untuk sang pasangan hidup.
Berdoa yang benar, berpikir yang benar, dan hidup yang benar, akan membawamu bertemu dengan kebahagiaanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 "Tambah lagi"
Yurina terbangun dari tidurnya, ia melihat ke jam dinding yang menunjukan hampir jam dua pagi. Tempat tidur disebelahnya masih rapi, menandakan suaminya belum kembali.
Rasa lapar membawanya beranjak keluar kamar. Saat menuju kedapur, Yurina melewati ruang kerja Moranno, ia melihat pintunya sedikit terbuka, suaminya itu masih sibuk didepan laptopnya.
"Apa aku boleh masuk?" Tanyanya didepan pintu.
"Masuklah." Moranno menatap sekilas kearah isterinya yang berjalan kearahnya, lalu kembali melihat laptop didepannya.
"Apa pekerjaanmu masih banyak?" Tanya Yurina.
" Hmmm" Katanya sambil tetap pokus menatap laptopnya.
"Aku lapar, dan akan kedapur, apa kau ingin aku buatkan sesuatu?"
"Tidak, kau saja..." Katanya acuh.
Yurina lalu segera berlalu, Moranno memandang punggung isterinya itu yang menghilang dibalik pintu.
Didapur Yurina membuka lemari pendingin, mengambil beberapa bahan sayuran dan daging secukupnya yang sudah dibersihkan.
Membuat bumbu dan menumisnya, lalu memasukan bahan-bahan yang telah ia siapkan. Aroma masakannya memenuhi segala penjuru, beberapa menit kemudian, masakannya yang sudah matang ia tuangkan kedalam piring saji dan membawanya kemeja makan.
"Kenapa kau ada disini?" Yurina terkejut melihat Moranno sudah duduk dimeja makan.
"Aku mau makan." Jawabnya singkat.
"Tapi aku membuatkannya sedikit saja, karena saat ku tawarkan kau tak mau."
"Sekarang buatkan untukku juga."
"Baiklah... " Yurina lalu segera bergegas mengambil bahan yang sama didalam lemari pendingin, membuat bumbu dan menumisnya, lalu memasukan semua bahan yang telah disiapkan. Tak menunggu lama, masakan yang telah matang dimasukan ke dalam piring saji dan dibawa kemeja makan.
"Ayo makan..." Kata Yurina sambil menyodorkan piring yang telah ia isi dengan makanan di hadapan Moranno suaminya.
Moranno segera menyendok makanannya dan memasukannya kemulutnya. Seperti biasa ia makan dengan tenang, tanpa berbicara, ya itulah yang biasa ia lakukan sesuai pengajaran dalam keluarganya.
"Bolehkah aku tambah lagi?" Kata Moranno sambil menatap wajah Yurina.
"Tentu saja, aku membuatnya lebih."
Yurina lalu memasukan kembali makanan ke dalam piring Moranno, dan meletakan dihadapan suaminya itu
Moranno kembali memakan makanannya suapan demi suapan dengan gayanya yang elegan.
Yurina pun kembali melanjutkan makannya.
"Aku mau tambah lagi." Kata Moranno tiba-tiba.
Yurina ternganga, karena ia baru saja menyuap beberapa suapan, tapi suaminya yang terlihat tenang dan elegan saat makan tak disangka telah menghabiskan makanannya.
"Kenapa?" Tanya Moranno yang melihat wajah isterinya terkejut.
"Aaaa.... Ah, tidak..." Yurina agak tergagap.
"Apa kau benar-benar lapar, biasanya makan mu tidak sebanyak ini?"
Yurina lalu menuangkan semua makanan yang masih ada sedikit di piring saji ke piring Moranno.
"Entahlah... Selera makanku sedang baik sepertinya."
Moranno segera memakan makanannya kembali hingga tak tersisa dipiringnya.
Yurina segera membereskan meja makan dan membersihkan peralatan makan yang mereka gunakan. Saat ia berbalik kemeja makan, ternyata suaminya masih duduk disana.
"Kenapa masih disini?" Tanya Yurina yang melihat Moranno masih duduk di meja makan.
"Aku menunggumu." Jawab Moranno yang segera berdiri, saat Yurina berjalan kearahnya.
Ia segera menggenggam telapak tangan isterinya itu dan melangkah meninggalkan dapur diikuti Yurina yang hanya terdiam sambil mengikuti langkahnya. Yurina merasa sikap Moranno begitu baik padanya, hatinya merasa nyaman saat laki-laki itu ada disisinya.
Diam-diam ia merasa selalu ingin ada dalam situasi itu.
"Apa kau tidak lanjut berkerja?" Tanya Yurina saat mereka melewati pintu ruang kerja suaminya.
"Tidak, aku sudah sangat mengantuk, mungkin karena terlalu banyak makan. lagi pula ini sudah terlalu larut malam, dan besok aku akan bekerja kembali." Kata Moranno menatap sekilas kearah isterinya yang melangkah disampingnya.
"Iya kau benar..." Yurina sedikit memberi senyuman.
Moranno terpaku, langkahnya terhenti, tiba-tiba debaran halus dihatinya muncul lagi melihat senyum isterinya itu.
"Kau kenapa?" Tanya Yurina sambil menggoyangkan tangannya yang masih digenggam Moranno.
"Tidak... " Moranno yang tersadar segera memalingkan wajahnya dan kembali melangkah diikuti langkah Yurina disampingnya.
"Bolehkah besok aku bertemu Lisa, aku merindukannya, setelah aku tinggal disini aku belum pernah bertemu dengannya lagi."
"Dimana?"
"Di restorant tempat ia berkerja."
" Baiklah, besok kau diantar Pak Kasan."
"Aku bisa naik taxi saja."
"Bila kau tak ingin diantar Pak Kasan, kau tak boleh kemana- mana."
"Tapi... Siapa yang mengantarmu berkerja."
"Apa kau lupa aku bisa menyetir sendiri, lagi pula aku sudah menyiapkan satu mobil untukmu bila kau hendak pergi."
"Terima kasih..." Kata Yurina sambil memandang wajah Moranno yang berjalan disampingnya.
"Hmmm" Moranno hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun.
Keduanya lalu memasuki kamar. Setelah menggossok giginya masing-masing, mereka segera naik ke tempat tidur.
Moranno yang memang mengantuk dan terlihat lelah langsung tertidur. Yurina perlahan menyelimuti tubuh suaminya itu dengan selimut, dan tak lama ikut terridur disebelahnya.
***
Moranno yang sudah rapi dan siap berangkat berkerja pagi itu merasa perutnya mual kembali saat mencium aroma masakan bibi Nur yang telah tersaji diatas meja.
"Mom, aku langsung berangkat berkerja." Kata Moranno berpamitan sambil mencium pungging tanggan ibunya.
"Sarapan dulu, nanti asam lambungmu kambuh. Apalagi sekarang kan kamu yang menggantikan isterimu mengalami mual dan muntah. Sindir ibu Moranno sambil melirik ke arah Yurina yang berdiri dan hanya bisa sedikit menunduk di samping Moranno.
"Maafkan saya nyonya." Kata Yurina merasa tak enak pada kata- kata ibu mertuanya itu.
"Mom, jangan berkata begitu, ini bukan salah Yurina."
"Aku merasa mual saja mencium bau masakan bibi Nur."
"Bukankah itu masakan kesukaanmu, bibi Nur sengaja membuatkannya untuk mu Moranno." Kata ibu Moranno mengingatkan.
"Iya mom, tapi saat aromanya sampai kehidungku, rasanya perutku langsung bergejolak." Jawab Moranno pada ibunya.
"Bagaimana kalau aku membuatkan mu sarapan pagi ini?" Kata Yurina sambil menatap suaminya itu minta persetujuan.
"Hmmm." Moranno hanya menganggukan kepalanya tanda setuju.
Yurina segera beranjak ke dapur dan mengambil bahan-bahan sayuran, udang, dan bahan lainnya untuk membuat menu sarapan pagi. Dengan cekatan ia merajang bahan-bahan sayuran dan bawang.
Aroma masakan segera tercium memenuhi dapur hingga kemeja makan. Tak lama berselang, Yurina menyelesaikan masakannya dan membawanya ke meja makan.
Wajah Moranno langsung berbinar melihat capcay goreng buatan isterinya yang diletakan diatas meja makan.
Ibu Moranno yang melihat wajah putranya sedikit mengerutkan keningnya.
Yurina mengambilkan piring dan memasukan menu yang baru ia masak kedalam piring dan meletakan piring berisi sarapan itu dihadapan Moranno.
"Nyonya, apakah anda mau, saya memasaknya cukup banyak." Kata Yurina menawarkan pada mertuanya itu.
"Tidak, saya tak biasa makan hasil tangan sembarang orang yang tidak terjamin higienisnya." Kata nyonya Agatsa dengan wajah tidak sukanya.
"Yurina kau makanlah, mommy sudah terbiasa dengan masakan bi Nur." Kata Moranno yang memotong pembicaraan antara ibu dan isterinya itu.
Moranno lalu mulai menyendok sarapannya suapan demi suapan dengan gaya elegannya seperti biasa hingga isi piringnya kosong.
"Tambah lagi." Kata Moranno sambil menyodorkan piringnya pada Yurina isterinya.
Ibu Moranno hanya melirik sekilas kearah putranya dan melanjutkan sarapan paginya.
Yurina lalu memberikan piring yang telah ia isi dengan makanan kehadapan Moranno. Moranno lalu segera memakannya kembali. Yurina pun melanjutkan sarapannya.
"Tambah lagi." Kata Moranno yang menyodorkan piringnya lagi kearah Yurina.
"Moranno... Apa yang merasukimu, mengapa kau makan sebanyak ini sebelumnya tidak pernah seperti itu."
"Aku masih lapar mom." Kata Moranno sekenanya saja.
Moranno lalu menyuap kembali sarapannya ke mulutnya. Melihat putranya yang menyuap makanan suapan demi suapan tanpa ragu, ibu Moranno pun mengambil masakan capcay goreng Yurina dengan ujung sendok. Perlahan ia memasukan kemulutnya.
Cita rasa masakan terasa begitu lezat dilidahnya. Ingin rasanya mengambil lagi, tapi ia mengurungkannya.
"Biasa saja." Katanya sambil mengambil tissue dan membersihkan sisa sarapan disela-sela mulutnya.
"Mommy berangkat dulu." Katanya sambil berdiri.
"Iya mom..." Moranno yang sudah menyelesaikan makannya juga segera berdiri dan mencium punggung tangan ibunya.
Yurina yang meraih tangan mertuanya untuk melakukan hal yang sama dengan suaminya segera dihempaskan tangannya oleh mertuanya itu hingga membuat Yurina terkejut.
"Mom, biarkan Yurina melakukannya, ia menantu mommy."
"Dia isterimu, dan mommy masih belum bisa mengakuinya. Jadi mommy tak ingin disentuh olehnya." Katanya Ketus.
Setelah berkata demikian, nyonya Agatsa segera beranjak dari meja makan dan segera menuju lantai satu dan berangkat dengan mobilnya.
"Maafkan mommy atas sikapnya padamu. Mommy punya alasan karena pengalaman masa lalu keluarga." Kata Moranno yang tiba-tiba teringat kejadian beberapa tahun silam yang dialami keluarga Agatsa.
"Iya tidak masalah bagiku, semua tindakan pasti ada alasannya. Walau bagaimanapun aku tetap berusaha melakukan yang terbaik yang bisa ku lakukan, termasuk menghargai setiap tindakan ibumu padaku."
"Terima kasih. Ayo kita kebawah." Kata Moranno sambil menggenggam tangan isterinya itu dengan lembut. Tanpa Yurina sadari moment seperti itu selalu ia nantikan dan harapkan dari suaminya itu, ia lalu berjalan beriringan dengan suaminya menuruni tangga ke lantai satu lalu menuju halaman.
"Tuan, nyonya...." Asisten Rudi yang sudah menunggu di samping mobil membungkukkan sedikit tubuhnya memberi hormat.
Moranno dan Yurina kompak memberikan senyuman pada asisten Rudi.
"Kapan kau akan menemui Lisa?"
"Siang ini, sekalian makan siang dengannya."
"Baiklah, nanti kau bisa ambil kartu ATM di atas meja kerjaku, ada didalam amplop beserta pinnya. Tadi malam aku lupa memberikannya padamu.
"Aku masih punya uang." Kata Yurina menolak dengan halus.
"Simpan saja uangmu, kau isteriku, akulah yang akan membiayai seluruh kebutuhanmu. Ingat nanti pak Kasan yang akan mengantarkanmu."
"Baiklah, terima kasih."
"Berikan aku kecupan, jangan terima kasih saja." Kata Moranno sambil menunjuk pipinya dengan jarinya.
Yurina lalu menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan tidak ada seorangpun yang melihatnya melakukan hal itu.
"Ayo, tak perlu memperhatikan sekitarmu, kau kan isteriku, dan aku suamimu." Kata.Moranno yang melihat tingkah isterinya yang masih malu-malu.
Yurina segera menghapus lipstik dibibirnya menggunakan tissue ditangannya.
"Cup..."
"Terima kasih. Cup..." Moranno lalu membalas mengecup pipi isterinya dengan cepat membuat tubuh Yurina terpaku ditempat.
Moranno segera berlalu menuju mobilnya. Asisten Rudi lalu menutup pintu mobil saat tuannya sudah masuk. Ia segera menghidupkan mesin mobil dan perlahan mobil merayap meninggalkan rumah besar itu. Asisten Rudi melirik tuannya yang tersenyum sendiri duduk di jok belakang.