Sejatinya anak adalah Mutiara di dalam sebuah pernikahan. namun tidak demikian dengan Tiara yang justru dianggap pembawa sial oleh wanita yang sudah melahirkannya.
Ia disalahkan sebagai penyebab hancurnya impian sang ibu, yang jelas jelas bukan salahnya.
Bu Nani belum bisa berdamai dengan keadaan dan melampiaskan kekecewaannya kepada Tiara.
Yuk baca kisah Tiara selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dara Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
"Wahyu, katanya kamu gak mau ikut, gak lapar? " Ujar bayu
"Gak jadi"
Mereka pun memesan makanan.
Ia melihat Tiara bersama ketiga sahabatnya bercanda dan tertawa sambil melahap makanan mereka. Ia merasa kecewa dengan keputusan Tiara yang menolaknya tanpa alasan yang jelas.
Tiara menyadari Wahyu melihatnya tak jauh dari tempat duduk mereka.
Tiba tiba Aldo nimbrung di antara Tiara dan teman-temannya, Tiara membiarkan Aldo ikut duduk dengan mereka.
"Aduh, kutu jauh-jauh sana!" Celetuk Rani.
"Aku gak mau, kalian mau apa? "
"Biarin aja guys, Gak pa pa" Sahut Tiara.
"Noh Tiara aja gak pa pa" Menyeruput minuman Tiara.
Dalam hatinya ia kesal atas kelakuan Aldo rasa ingin melayangkan pukulannya pada Aldo.
Sesekali mata Tiara melirik Wahyu yang terus memperhatikannya.
ia ingin Wahyu tau kalau dia baik-baik saja dan tidak ada perasaan terhadapnya.
"Brak! " Wahyu menggebrak meja lalu pergi meninggalkan kantin di susul oleh Nino & Bayu.
Ia tidak tahan melihat Tiara dan Aldo, hatinya panas.
"No, kamu nyium bau bakaran gak? " Bayu mengendus-ngendus.
"iya, bau hati terbakar" sahut Nino
"apaan sih kalian berdua, dasar jomblo"
"kita mah mendingan jomblo dari pada... "
"dari pada apa" potong Wahyu dengan tatapan membunuhnya.
"sorry bro becanda, a elah sensi amat kaya cewek PMS" tukas Bayu, namun tidak di gubris oleh Wahyu.
"Tenyata dia alasan kamu nolak aku Mut" Gumam Wahyu
"Ok, mulai sekarang aku akan jauhi kamu" Batin Wahyu.
Semenjak hari itu Wahyu benar-benar tidak pernah menemui Tiara lagi, meskipun berpapasan mereka seperti orang asing.
Yang wahyu tahu Tiara sudah memiliki Aldo, orang yang di sayangi Tiara, orang yang di inginkan Tiara bersamanya & yang pasti Tiara bahagia bersamanya karena pantang bagi Wahyu mengganggu milik orang lain apalagi merebut.
Hari-hari Tiara lewati tanpa ada Wahyu lagi.
Tanpa kehadirannya Tiara hampa, kesepian, ia baru merasa kehilangan sosok Wahyu yang selalu membuatnya tersenyum.
Waktu terus berjalan seminggu, dua minggu hingga satu bulan.
Di rumah...
Tiara berbaring di atas tempat tidurnya dengan posisi tengkurap. Ia menuliskan isi hati & perasaannya di buku diary kesayangannya itu.
Dear Diary
Pelangi Ku telah pergi...
Langit Ku tak lagi indah
Hariku tak lagi berwarna
Karena pelangi ku telah sirna dan berganti awan hitam
Awan hitam membawa badai
Memporak porandakan hati ini.
Begitulah tulis Tiara.
"Tok tok tok" Pintu rumah di ketuk.
Tiara melangkah keluar kamar untuk membuka pintu namun sudah di buka terlebih dahulu oleh pak Yasir.
Kebetulan pak Yasir tidak bekerja hari ini.
Tiara kembali ke kamarnya.
"Ceklek" Nampak Lah pak rahman teman pak Yasir.
"Silahkan masuk" Pak Yasir mempersilahkan pak Rahman masuk.
"Bu.... " Pak Yasir memanggil istrinya.
"Iya... " Bu Nani menghampiri suaminya,
Pak Yasir memberikan kode minta di buatkan minuman untuk dirinya dan tamunya.
Bu Nani mengerti itu ia pun segera menghampiri Tiara di dalam kamarnya.
"Tiara" Tiara yang sedang tiduran terbangun mendengar suara ibunya.
"Kamu tu ya udah tau ada tamu bukan di bikinin minuman malah enak-enakan tidur di kamar! "
"Baik bu Tiara akan buat sekarang" Tiara segera melangkah ke dapur.
"Anak itu selalu membuatku darah naik" Meremas jari-jarinya lalu menghampiri suaminya dan duduk di sampingnya.
Pak Rahman mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya.
sebuah kotak handphone.
"pak tolong saya, tolong belilah handphone anak saya ini saya butuh uang buat berobat istri saya. saya kepepet pak. handphonenya baru satu bulan terpakai masih mulus "
pak Rahman mengeluarkan handphone dari kotaknya agar pak Yasir memeriksanya.
pak Yasir melihat handphone tersebut kebetulan kemarin ia baru saja narik arisan.
"masih bagus banget pak, belum ada cacat"
"tolong pak" tambah pak Rahman.
Tiara datang membawa dua gelas kopi & camilan berupa wafer lalu menaruhnya.
pak Yasir melirik putrinya yang malang itu.
✨💎💎✨💎💎✨
💎💎💎💎💎💎💎
💎💎💎💎💎💎💎
✨💎💎💎💎💎✨
✨✨💎💎💎✨✨
✨✨✨💎✨✨✨