Di pundaknya tercatat sejarah selama ribuan tahun.
Cerita masa lalu yang turun - temurun terus diwariskan tidak akan putus oleh yang namanya zaman.
Perjalanan penuh dendam dan lika - liku berakhir dengan sebuah tujuan yang nyata dan jelas.
Kisah seorang pemuda yang akan menantang seluruh dunia setelah mengetahui kebenaran masa lalu.
Sejarah tidak akan hilang dari dunia walaupun banyak orang yang berusaha menutupinya.
Takdir yang saling terhubung dari kisah yang terlupa, perlahan namun pasti serpihan ingatan akan menuntun jalannya untuk menyingkap tabir kebenaran yang disembunyikan.
Pemberitahuan Jadwal Rilis :
Kagutsuchi Nagato : Senin - Minggu.
Love in Jiu War : Senin - Minggu.
Special Forces of Demon Hunter : Minggu, Selasa dan Jumat.
Catatan : Untuk jam tidak menentu up nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Bulu Merah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 22 - Manusia Buas
X1 dan X 3 sedang menyusun rencana kemudian mereka berdua berniat membagi pasukan manusia buas menjadi tiga kelompok, namun X 2 menolak rencana mereka karena dia akan bergerak sendiri, mendengar hal itu X 1 murka dan hendak memukul wajah X 2 yang tersenyum lebar seolah dia tidak takut melihat kekuatan yang dikeluarkan X 1.
X 1 mempunyai badan yang paling besar diantara mereka bertiga bahkan badan X 1 berotot membuat tubuhnya menjadi keras, memiliki kekuatan yang besar membuatnya menjadi semakin berkuasa walaupun dia hanya kelinci percobaan dari Pemimpin Sekte Pemuja Iblis dan tangan kanannya.
"X 2, jika kita mampu menguasai kekuatan ini, bukan tidak mungkin kita akan bebas dari cengkeraman orang itu!" Teriak X 1 dengan suara lantang pada X 2, mendengar ketiga orang yang mengawasi mereka sedang ribut sendiri, para pria yang menjadi kelinci percobaan terlihat penasaran dengan pembicaraan mereka yang membuat X 1 dan X 2 hampir bertarung satu sama lain.
"Hem ..aku berniat menjadi kelinci percobaan dan menyusup ke kota itu sendiri, lagi pula umurku sudah tidak lama lagi, jadi biarkan aku mati dengan air yang dibuat oleh beliau, bukankah ini menguntungkan kalian ketika aku mengamuk di tengah kota, kalian bisa menyerang melewati gerbang kota tanpa kendala karena bagaimanapun para prajurit kota maupun pendekar yang ada di kota itu, pasti mengkhawatirkan nyawa para penduduk!" X 2 menjelaskan panjang lebar pada X 1 walaupun dia berbohong soal umurnya, namun setelah melihat raut wajah X 2 yang memasang wajah sedih, X 1 mempercayai perkataannya.
"Baiklah! Aku akan bergerak sesuai rencanaku dan kau lakukan sesukamu!" ucap X 1 pada X 2, kemudian pria berbadan besar dan berotot itu meninggalkan mereka berdua.
"Aku akan mengikuti orang itu, jadi jaga dirimu X 2!" X 3 berjalan meninggalkan X 2 dan mengikuti X 1 dari belakang.
Setelah mereka berdua kian menjauh, X 2 tersenyum lebar dan dalam hatinya dia tertawa sekeras - kerasnya.
"Memang benar, air ini memiliki kekuatan yang luar biasa namun kalian berdua tidak akan mampu mengontrol kekuatan maupun emosi didalam diri kalian, sehingga kalian akan sama dengan monster yang tidak mempunyai akal yang akan menyerang apa saja yang ada dihadapan kalian!" batin X 2 sambil menatap ratusan pria, X 1 dan X 3 yang berada jauh dari pandangan matanya.
Kemudian X 2 berjalan menuju tempat mereka untuk melihat wajah para pria yang menjadi kelinci percobaan.
X 1 dan X 3 melihat dan mengawasi para pria didepan mereka, tidak lama X 2 datang menghampiri mereka, pria itu tersenyum kepada mereka berdua.
"Haaah! Wajah kalian benar - benar menyedihkan itulah takdir sebagai orang lemah, kita hanya akan dipermainkan oleh orang yang lebih kuat dan berkuasa dari kita! Itulah cara kerja dunia ini." batin X 2 sambil memandang ratusan para pria didepannya, dirinya tersenyum kecut dan mengepalkan tangannya.
Ketika tengah malam tiba, bulan purnama bersinar terang, menerangi mereka yang sedang bersembunyi didalam hutan, X 1 tersenyum lebar kemudian dia berteriak dengan keras menyuruh ratusan pria didepannya yang sedang beristirahat untuk melanjutkan perjalananan.
Pria budak hanya berharap mereka akan segera melepas dahaga dan mengisi perut melihat hal itu X 2 berusaha menahan tawanya.
"Saatnya, kita akan menggila!" batin X 2 sambil menghampiri X 1 dan X 3.
X 2 berbicara kepada mereka berdua, kedua orang temannya itu hanya mengangguk pelan dan menuruti seluruh perkataannya, mereka berdua merasa bahwa X 2 mempunyai aura yang berbeda karena pria itu mampu mengendalikan para ratusan pria yang akan menjadi kelinci percobaan yang sedang kelelahan itu dengan kata - katanya.
"Baiklah, semuanya dengarkan aku! Aku akan pergi ke kota itu sendirian, untuk memesan makanan dan minuman untuk kalian semua, jadi kalian hanya perlu dengarkan perintah Tuan X 1 ini, aku akan meninggalkan kalian sebentar saja!" ucap X 2 dengan senyum ramah yang ditujukan kepada ratusan pria didepannya, walau senyuman itu adalah senyuman hina yang tidak menunjukkan belas kasih dan hanya mempermainkan perasaan seseorang.
"Terima kasih tuan."
"Kami akan mengikuti perintah tuan X 1."
"Akhirnya kita bisa makan setelah sekian lama." Ratusan para pria itu hanya percaya pada perkataan X 2 dan mereka tersenyum gembira, tanpa menunggu waktu lama mereka mengikuti X 1 dan X 3 pergi menuju gerbang kota.
"Manusia yang terlalu baik dan bodoh itu mudah dimanfaatkan!" batin X 2 sambil tersenyum lebar melihat ratusan pria yang pergi mengikuti X 1 dan X 2.
"Aku menjadi seperti ini karena beliau! Mempermainkan manusia yang lebih rendah dari kita memang sesuatu menyenangkan!" X 2 tersenyum jahat kemudian dia beranjak pergi menuju tengah Kota Yasai.
Sementara itu di tembok bagian timur Kota Yasai, Hana bersama dua kepercayaannya yang bernama Tsubomi dan Kafun sedang mengawasi pergerakan musuh dari atas tembok.
"Tetua Hana, sepertinya ada yang aneh dari pergerakan mereka?" ucap Kafun pada Hana, perempuan yang mempunyai rambut sebahu dan mempunyai wajah yang cukup manis itu merasakan hawa keberadaan musuh mulai menjauh dari tembok timur.
"Seperti biasa kau cukup berbakat untuk mendeteksi hawa keberadaan musuh, aku juga merasakannya!" jawab Hana sambil mengawasi hutan yang sedang dia tatap dari atas tembok.
Kafun tersenyum mendengar pujian dari Hana, gadis itu senang karena gurunya memuji dirinya.
"Tetua Hana, apa mereka hendak menyerang dari gerbang depan, tapi menurutku mereka terlalu percaya diri jika mereka melakukan hal itu!" Tsubomi memandang Hana, gadis berambut ikal itu sedang memperhatikan gurunya yang terlihat serius itu.
"Ya, menurutku mereka tidak mengetahui keberadaan para pendekar di kota ini dari Klan Misuzawa maupun dua klan lainnya!" Hana tersenyum tipis ke arah Tsubomi, kemudian dia menyuruh para pendekar dari Klan Misuzawa yang sedang berada di bawah tembok untuk melaporkan pada para penjaga kota yang berjaga di gerbang kota bagian depan.
Hana memejamkan matanya sesaat kemudian mencoba sekali lagi untuk memusatkan kemampuan pendeteksinya sambil merasakan hawa keberadaan di sekitar hutan yang barusan ditinggalkan oleh ratusan pria budak itu.
"Disini, satu orang! Ada satu orang yang tidak bergerak!" batin Hana sambil mencoba merasakan hawa keberadaan orang itu namun orang yang dalam jangkauannya menyadarinya dan berlari mengikuti ratusan para pria yang bergerak menuju gerbang depan Kota Yasai.
"Dia menyadarinya! Sepertinya orang itu cukup hebat karena bisa menyadariku! gumam Hana pelan kemudian dia membuka matanya secara perlahan, kedua gadis yang menjadi orang kepercayaanya hanya berdecak kagum dan tertegun karena bisa merasakan konsentrasi yang luar biasa yang barusan dilakukan oleh Hana.
"Kemungkinan besar mereka akan menyerang secara bersamaan dari tembok selatan." batin Hana cemas.
***
Tembok bagian selatan disana berkumpul para pendekar dari Klan Kitakaze yang sedang berjaga di tembok bagian selatan, mereka semua tidak menurunkan kewaspadaan penjagaan sedikitpun, namun para penjaga kota dan pendekar yang menjaga gerbang selatan tidak merasakan hawa keberadaan maupun pergerakan yang dilakukan oleh musuh.
"Aku tidak merasakan keberadaan manusia sedikitpun di sekitar hutan bagian selatan ini! " batin Reto merasa cemas sementara itu Miake juga merasakan kecemasan Reto karena pria itu berada di sampingnya.
Gerbang kota bagian selatan adalah tempat yang dituju oleh X1 dan X 3 bersama ratusan pria yang bersamanya.
Perasaan Reto yang cemas itu akhirnya terbukti ketika dia mencoba merasakan hawa keberadaan musuh ada pergerakan ratusan orang yang menuju ke gerbang depan Kota Yasai bagian selatan, walau jarak mereka menuju gerbang selatan masih cukup jauh.
"Jadi mereka berniat menyerang lewat gerbang depan secara terang - terangan!" batin Reto sambil mencoba merasakan lebih jauh namun ada sesuatu yang tidak beres menurutnya karena ratusan hawa keberadaan yang dirasakannya tidak memiliki aura seorang pendekar.
"Jadi perkataan Senior Hyogoro itu benar! Ini benar - benar situasi yang berbahaya!" ucap Reto pelan beberapa para penjaga kota dan pendekar dari Klan Kitakaze mendengar suaranya.
Tidak lama setelah dia merasa khawatir, Hana bersama para pendekar dari Klan Misuzawa datang dan menghampiri Reto karena menurut mereka juga ada sesuatu yang cukup janggal.
"Senior Reto, sepertinya mereka berniat menyerang secara terang - terangan dari gerbang ini!" sapa Hana yang berjalan menghampiri Reto.
"Ternyata Senior Hana kukira siapa? Tetapi bagaimana dengan tembok bagian timur? Apakah baik - baik saja jika seluruh anggota dari Klan Misuzawa membantu disini!" balas Reto sambil menatap pendekar dari Klan Misuzawa.
"Aku sudah mengawasi pergerakan mereka, semua hawa keberadaan manusia berjalan menuju ke gerbang ini, walau ada satu orang yang menyadarinya tapi orang itu langsung pergi bersama ratusan hawa keberadaan manusia itu!" jawab Hana kemudian dia melompat ke atas tembok kota di atas gerbang sambil mengamati sekelilingnya diikuti Tusbomi dan Kafun dari belakang.
Hana menatap tajam karena merasakan ada sesuatu yang semakin mendekat ke gerbang depan dari arah hutan.
X 1 dan X 3 keluar dari hutan secara bersamaan diikuti ratusan pria budak dari belakang, melihat hal itu Hana dan seluruh pendekar yang sedang mengamati pergerakan mereka terkejut, karena Sekte Pemuja Iblis berniat menyerang dengan menggunakan para penduduk yang dijadikan budak.
X 1 menyuruh ratusan pria budak untuk segera berbaris didepan gerbang kota, mereka yang tidak mengetahui maksud dari X 1 hanya mengikuti perintahnya dan berharap diberikan makanan atau minuman karena mereka semua selama beberapa hari kebelakang belum makan dan minum bahkan mereka semua dikurung didalam ruangan kecil di tempat persembunyian Sekte Pemuja Iblis.
X 3 membagikan botol kecil kepada ratusan pria budak dan menyuruh mereka meminumnya.
"Botol kecil seperti ini mana cukup untuk melepas dahaga." ucap salah seorang pria paruh baya.
"Jangan mengeluh, kita harus bersyukur dan kita juga harus menunggu Tuan X 2." sahut pria yang lain.
"Jangan ada yang minun! Kalian harus menunggu perintahku!" Teriak X 1 kepada ratusan pria budak didepannya.
Ratusan pria budak hanya menelan ludah dan menunggu perintah X 1.
X 1 dan X 3 menatap tajam para pendekar dan penjaga gerbang kota yang sedang mengawasi mereka di gerbang depan Kota Yasai.
Hana menatap tajam ratusan orang didepannya, kemudian matanya tertuju pada X 1 dan X 3 yang terlihat seperti pemimpin kelompok tersebut.
Reto bersama Miake melompat ke atas tembok dan ikut mengawasi pergerakan mereka.
"Senior Hana, sepertinya kedua pria itu terlihat cukup kuat!" tanya Reto yang berdiri disamping Hana.
"Ya, menurutku juga seperti itu, Senior Reto!" Hana memfokuskan auranya pada matanya kemudian dia bisa melihat lebih jelas apa yang sedang mereka lakukan.
X 1 mencoba untuk memperkirakan kekuatan pendekar yang sedang berjaga di gerbang kota, dirinya tersenyum dan merasa percaya diri bisa menggunakan kekuatan manusia buas yang ada di dalam botol kecil yang digenggamnya.
"Jika aku berhasil menggunakan kekuatan ini maka aku bisa bebas dari orang itu!" batin X 1 sambil tersenyum lebar.
X 1 membalikkan badannya dan menghadap ratusan pria budak yang dari tadi sudah menunggu perintahnya.
"Di bawah bulan purnama ini, kita akan kembali hidup - hidup dan menyelesaikan tugas ini, kita tunjukkan kepada beliau! Bahwa kita mampu mengendalikan kekuatan ini!" Teriak X 1 dengan lantang, membuat ratusan pria budak kebingungan karena tidak mengerti maksud dari perkataan X 1.
Ratusan pria budak tidak mengerti apa yang terkandung didalam air tersebut, mereka hanya tersenyum lebar sambil membuka tutup botol kecil setelah itu mereka meminum air yang berada di dalam botol kecil tersebut.
"Gluk .... Gluk .... Gluk .... !"
Setelah semua orang meminumnya, mereka saling memandang satu sama lain dan tidak terjadi apa - apa.
Namun setelah beberapa detik kemudian ratusan pria budak mengerang kesakitan mereka semua memegang kepalanya setelah beberapa detik dari mata, hidung dan telinga mereka keluar darah.
"Argh!" teriakan salah satu pria budak yang kesakitan ketika tubuhnya membesar.
"Argh! Ayah kepalaku .... sakit!" Teriakan dari ratusan pria budak terdengar hingga gerbang kota, tidak berapa lama X 1 dan X 3 mengalami hal serupa mereka berdua mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya dengan erat.
"Aku tidak bisa berpikir secara jernih!" X 1 dan tubuhnya membesar terlihat mengerikan, matanya memerah dipenuhi darah, dia kehilangan kendali tidak bisa mengontrol kesadarannya dan X 1 berubah menjadi manusia buas setinggi tujuh meter.
"Dia membesar! Aku menyesal telah meminum ini-!" X 3 mengerang kesakitan tak lama tubuhnya membesar dan terlihat mengerikan namun dia hanya setinggi lima meter tidak seperti X 1.
Ratusan budak terkejut melihat teman - teman mereka dan kedua orang yang memimpin kelompok mereka berubah menjadi monster yang menakutkan, dan tidak lama mereka juga berubah menjadi manusia buas, mereka tidak mampu mengendalikan emosi, mereka tidak terlalu besar dan tidak terlalu tinggi namun tetap saja terlihat mengerikan karena wujud mereka terlihat seperti manusia namun juga bisa bukan disebut dengan manusia, tinggi ratusan pria budak berkisar dari tiga meter sampai empat meter.
Setelah berubah menjadi manusia buas, mereka berteriak dengan keras namun suaranya seperti raungan hewan buas, suaranya terdengar ke seluruh pelosok Kota Yasai.
Hutan di sekitar Kota Yasai menjadi berisik karena burung - burung berterbangan ketika mendengar raungan tersebut, bahkan banyak hewan yang berlari ketakutan.
Ratusan pria budak berteriak, teriakannya terdengar begitu sedih dan berharap mereka semua dibunuh secepatnya karena tidak tahan dengan rasa sakit dan penderitaan mereka alami lebih lama lagi.
..
yang nener aja lu thor,, 5th dah kek remaja perlakuan lawan jenis.. buset dah..
yg lo tulis dichapter trakhir LTI lo dikarantina thor, gw ikutin ig sma fb lu, ternyata lu masih 20 thn. Gw berharap lu comeback. Gw kadang mikir setiap MC dri karya yg lo buat ini gk ada satupun menceritakan kebahagiaan MC sama ortu/org disekitarna..
MC mencoba bundir punya sisi gelap
apapun itu pokokna gw pngin lo lekas smbuh tor, banyak yg menanti karyamu
abaikan cacian yg ngatain lo bundir ape terkena corona
lo ngga sendiri tor
yg udah ditulis duluan itu aja yang di selesaikan dulu cerita x😔
gimana ceritanya hizen saudaraan ma pandu.yamata hizen dan kagutsuci pandu.apakah mereka beda ibu atau gimana???🙏