Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : Sisa Tenaga di Atas Sebuah Pengharapan
Prasetio yang sudah sangat lemah terkulai layu di atas bahu Genta yang memanggulnya. Matanya terpejam rapat menahan mual luar biasa, akibat rasa pusing hebat dan kehilangan banyak darah.
Meski tubuhnya tak lagi berdaya, kesadarannya masih bertahan. Ia tahu keadaan sekitar dan bisa merasakan ayunan langkah kaki Genta yang memanggul tubuhnya membawa dari kegelapan hutan.
Tepat saat suara kokok ayam jantan hutan terdengar bersahut-sahutan menandakan fajar mulai menjelang, dari kejauhan terpancar cahaya kuning keemasan. Cahaya obor itu berasal dari depan Sudung.
"Pras! Pras, lihat! Kita sudah sampai!" teriak Pandi berucap gembira seraya menoleh antusias pada sahabat masa kecilnya itu.
Genta makin mempercepat langkah. Tanpa mengulur waktu lagi, mereka bertiga segera masuk ke dalam ruangan Sudung dengan Genta yang masih memanggul tubuh Prasetio.
Kehadiran mereka disambut oleh seorang wanita tua suku yang dipanggil Induk, sosok yang sejak awal ke empat anak muda itu pergi, dengan setia menjaga Pak Burhan. Begitu melihat kondisi Prasetio yang lemas terkulai serta darah yang mengalir deras membasahi pakaian dan telapak tangannya, raut wajah perempuan tua itu seketika berubah tegang.
"Genta! Segera baringkan anak kota ini di atas bale-bale bambu!" perintah Induk tegas dengan suara seraknya.
Genta bergerak cepat namun hati-hati, menurunkan tubuh Prasetio perlahan agar terlentang di atas bale-bale bambu yang di atasnya dilapisi kulit kayu yang sudah sangat mengering, salah satu peralatan ciri khas Suku Anak Dalam, yang pakaian untuk rumah menggunakan bahan bahan alami dari pepohonan, kulit kayu itu sudah sangat terlihat halus. Pertanda bahwa bale- bale bambu itu sudah teramat sering digunakan selama ini.
"Pandi, serahkan kotak obat itu pada Induk sekarang!" seru Meranting seraya membantu menahan kepala Prasetio agar merasa lebih nyaman.
Pandi yang gemetar cepat-cepat menyerahkan kotak kayu berisi obat penawar yang sedari tadi dipeluk erat di dadanya. Namun Induk tidak langsung menyentuh kotak itu untuk Prasetio. Tatapan mata tuanya yang tajam langsung mengenali bahwa kotak obat penawar dari tengah hutan itu adalah satu-satunya harapan bagi Pak Burhan yang terbaring lemah.
"Pandi! Bawa kotak obat penawar itu dan letakkan tepat di samping kepala Pak Burhan! Jangan sampai tersenggol!" tegur Induk seraya menunjuk bale-bale Pak Burhan. "Obat di kotak itu milik bapaknya. Untuk budak ini, rimba punya obatnya sendiri!" berkata perempuan tua yang biasa dipanggil Induk oleh semua orang.
Prasetio berusaha membuka sedikit kelopak matanya yang berat. Samar-samar, ia melihat sosok sang ayah, Pak Burhan, terbaring tak jauh dari bale-balenya dengan napas yang masih terengah-engah lemah.
"Ayah..." bisik Prasetio lirih, hampir tak terdengar, sebelum akhirnya kesadarannya benar-benar berada di ambang batas.
Melihat kondisi Prasetio yang kian kritis akibat pendarahan hebat, Induk bergerak sigap menuju sudut Sudung tempat ia menyimpan aneka dedaunan dan akar obat ramuan Suku Anak Dalam.
"Genta, bantu tahan bahunya! Meranting, pegang erat kakinya! Jangan biarkan dia banyak bergerak!" perintah Induk dengan suara berwibawa.
Induk mengambil segenggam pucuk daun Senduduk dan daun Gempol segar, lalu menumbuknya di atas batu pipih bersama sedikit getah batang pisang hutan. Jemari tuanya menumbuk racikan herbal itu dengan sangat telaten dan lincah.
Dengan gerakan cepat, Induk menutup luka robek di telapak tangan Prasetio menggunakan lumatan herbal itu tepat di atas pusat pendarahan.
Sensasi dingin beradu perih yang amat sangat seketika membuat tubuh Prasetio refleks terlihat sedikit kejang. Suaranya keluar terdengar merintih menahan sakit. Namun tahanan kuat dari Genta dan Meranting menjaga tubuhnya agar tetap stabil.
Kemudian Induk mengambil beberapa helai serat kulit kayu terap yang telah di rendam hingga menjadi lembut, serat kayu alam ini diikatkan mengelilingi ramuan yang menempel di luka Prasetio sebagai pengikat alami pengganti perban.
Setelah itu Induk mengambil sepotong Rimpang Bangle serta akar aromatis, lalu membakarnya sebentar di ujung obor. Ia mengipaskan asap agar aroma Bangle itu tercium di hidungnya Prasetio. Lalu Induk membalurkan ampasnya yang sudah di tumbuk halus hingga menyerupai param ke bagian perut Prasetio. Pandi menyaksikan dengan seksama cara kerja wanita yang tadi dimintai tolong untuk menjaga Pak Burhan.
Dengan setia Pandi serta Induk dan juga Genta yang berdiri di samping Meranting, menjaga Prasetio dengan rasa harap dan cemas orang orang baik itu menanti reakasi obat yang sudah di balurkan itu. Tidak lama kemudian dada Prasetio mulai terlihat bernapas tenang memanjang dan teratur, lalu mungkin karena pengaruh obat dan tubuhnya yang memang sudah teramat lelah, membuatnya menjadi sangat ngantuk lalu dalam sekejap pemuda itu sudah tertidur.
Melihat Prasetio tertidur, Induk kembali memastikan napas dan denyut nadi Prasetio. Terlihat perempuan tua yang baik hati itu bernapas lega karena semua sudah terlihat kembali stabil, Induk mengusap pelan dahi anak muda itu dan terlihat jelas terpancar rasa lega di raut wajahnya yang sudah nampak keriput itu. Induk kemudian berbalik menyapu pandangan ke arah Pandi dan kotak kayu penawar Pak Burhan.
"Sekarang," ucap Induk perlahan sambil melangkah mendekati bale-bale Pak Burhan, "saatnya kita selamatkan bapaknya."
Induk berlutut di samping bale-bale bambu yang menampung tubuh Pak Burhan. Wajah lelaki paruh baya itu sudah pucat kebiruan, guratan-guratan garis memanjang hitam terlihat di sepanjang pembuluh darah lehernya. Napasnya pendek-pendek dan sangat lemah, seolah setiap helaan napas bisa menjadi saat saat terakhir.
Dengan kedua tangan yang bergetar, Induk mengangkat penutup kotak kayu ukir tua itu. Di dalamnya terdapat akar herbal yang biasa disebut pasak bumi. Ramuan penawar utama—sebuah ekstrak akar langka.
"Meranting, ambil wadah tempurung kelapa dan air hangat dari perapian!" titah Induk tanpa mengalihkan pandangannya dari Pak Burhan.
Meranting menyambar tempurung kelapa berisi air hangat dari atas perapian Sudung dan menyerahkannya cepat. Induk mengambil potongan kecil dari tumbuhan tersebut lalu memotongnya tipis-tipis. Racikan tumbuhan hutan yang di dapat dengan susah payah oleh ke empat pemuda itu direbusnya.
Setelah air mendidih bergolak dan sedikit mengering Induk mengangkat ramuan itu, lalu mendinginkannya dan diletakkan dalam cangkang kelapa yang sudah terlihat hitam, karena sudah lama. Ia mencampurkannya dengan beberapa tetes madu hutan murni sebagai bahan campuran.
Setelah memastikan rebusan obat itu benar benar dingin Induk menitah Genta untuk menolongnya meminumkan rebusan air obat yang sudah siap "Genta, bantu angkat sedikit kepala Pak Burhan," bisik Induk lembut dan sekali lagi sedikit ujung jarinya menyentuh permukaan air untuk memastikan bahwa air ramuan itu sudah benar benar dingin.
Genta bergerak perlahan, menyangga bagian belakang kepala Pak Burhan agar posisinya sedikit terangkat. Dengan sangat hati hati, Induk meneteskan ramuan penawar pekat itu sendok demi sendok bambu melewati bibir Pak Burhan yang mengering dan mengatup rapat.
Setelah itu Induk meletakkan tangannya di atas dada Pak Burhan, membacakan rapalan mantra jiwa untuk kesembuhan Pak Burhan. Mantra ciri khas Suku Anak Dalam, dengan nada bergumam halus hampir tidak terdengar.
Setelah hampir tiga jam menunggu, reaksi obat mulai terlihat. Garis-garis kebiruan di leher Pak Burhan berangsur memudar. Dada Pak Burhan terangkat naik saat ia menghela napas panjang sebuah tanda bahwa napasnya yang semula tersengal kini berubah menjadi embusan yang teratur dan tenang.
Melihat pemandangan yang menggembirakannya itu, Pandi menghela napas panjang pancaran kegembiraan meronai wajahnya, Ia duduk bersandar ke dinding bambu Sudung, sementara Genta dan Meranting saling berpandangan dengan senyuman penuh rasa syukur di wajah mereka yang berselimut peluh. Perjuangan panjang mereka mulai dari menjelang malam kemarin, pagi ini terlihat hasilnya dengan sangat melegakan.
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇