NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB : 22

Marko membeku, lidahnya terasa begitu kelu. Tatapan polos namun penuh harap dari Luna tepat di depan matanya membuat dada pria matang itu berkecamuk hebat.

"Aluna... saya..." Marko menghentikan ucapannya, menarik napas panjang seraya mengusap wajahnya kasar. "Saya bingung harus menjawab apa."

"Kenapa, Om?" bisik Luna, menyentuh lengan kokoh Marko. "Kan Om sendiri yang bilang kalau Om sayang dan cinta sama aku?"

Marko menatap Luna dalam-dalam, sorot matanya sarat akan kecemasan. "Perbedaan usia kita sangat jauh, Aluna. Kamu masih muda, masa depan kamu masih sangat panjang. Dan yang paling membuat saya takut... kamu itu anak dari Ardi, sahabat karib saya sendiri. Bagaimana kalau Papa kamu tahu? Dia sudah mempercayakan kamu ke saya, tapi saya malah..."

"Aku gak peduli soal perbedaan usia, Om Marko," potong Luna mantap, menatap lurus ke manik mata Marko tanpa ragu sedikit pun. "Soal Papa, kita bisa hadapi bersama-sama nanti. Kita pelan-pelan kasih pengertian ke Papa. Jangan tanggung jawab sendirian, kan ada aku."

Mendengar keteguhan hati gadis di hadapannya, perlahan sudut bibir Marko terangkat. Beban berat di dadanya seolah terangkat sebagian. Namun, akal sehatnya tetap menuntut kewaspadaan.

"Kalau begitu... boleh saya minta satu hal?" panggil Marko lembut, memegang kedua bahu Luna. "Untuk sementara waktu, tolong rahasiakan hubungan kita. Hanya kita berdua yang tahu. Sampai situasi benar-benar tepat untuk bicara ke Papa kamu."

Luna menyunggingkan senyum manisnya yang paling cerah. "Siap, Om! Aku setuju!"

Malam itu, hembusan napas lega membungkus ruang tamu yang remang. Di balik pintu yang tertutup rapat, dua insan beda usia itu resmi menjalin kasih secara diam-diam.

Pagi harinya, suasana meja makan terasa sangat berbeda. Senyum hangat tak pernah sedikit pun lepas dari bibir Marko sejak ia melangkah turun dari lantai atas.

"Om Marko ngapain sih mesam-mesem sendiri dari tadi?" goda Luna sambil mengoleskan selai cokelat ke atas rotinya.

Marko yang sedang menyesap kopi hangatnya hanya terkekeh pelan. "Senang saja. Makanan pagi ini terasa lebih enak dari biasanya."

"Halah, padahal rotinya sama aja kayak kemarin," celetuk Luna jahil, membuat Marko kembali terkekeh dan mencuri tatap gemas ke arah kekasih barunya.

Keceriaan itu berlanjut hingga ke kantor Janitra Group. Di ruang kerja eksekutif, Yoga—asisten pribadi sekaligus sahabat dekat Marko—duduk di depan meja kerja dengan dahi berkerut heran. Sejak tadi, ia memperhatikan bosnya yang terus menyunggingkan senyum tipis sambil memeriksa berkas.

"Ko, lu sehat kan?" tanya Yoga penuh curiga. "Muka lu cerah banget kayak habis menang lotre seratus miliar."

Marko meletakkan pulpennya, bersandar di kursi kebesarannya. Pria itu berdeham pelan, mencoba menahan senyumnya yang hendak meledak. "Ga, gue mau cerita. Tapi lu harus janji jaga rahasia ini rapat-rapat."

Yoga memajukan duduknya, makin penasaran. "Janji. Ada apaan sih?"

"Gue... sama Aluna... sekarang resmi pacaran," aku Marko pelan.

Mata Yoga membelalak sempurna, mulutnya menganga lebar. "Demi apa, Ko?! Lu serius?! Anak si Ardi?!"

"Ssst! Jangan teriak-teriak!" tegur Marko menaruh telunjuk di bibirnya. "Iya, tapi kita jalani diam-diam dulu. Gue nggak mau bikin keributan sebelum waktunya."

Yoga tertawa lepas, menepuk bahu Marko bangga. "Selamat, Brother! Gue beneran bahagia akhirnya lu bisa buka hati dan jatuh cinta lagi setelah sekian belas tahun menduda. Tapi inget, jaga baek-baek tuh anak sahabat lu!"

Sementara itu di divisi pemasaran, Luna menyenggol lengan Rania saat jam makan siang.

"Ran, gue mau kasih tahu rahasia besar," bisik Luna dengan mata berbinar. "Gue sama Om Marko udah resmi pacaran semalam! Tapi backstreet ya!"

Rania yang sedang mengunyah makanannya hampir tersedak. "Seriusan, Lun?! Wah, selamat ya! Akhirnya rencana gila lu berhasil juga bikin tuh bos besar bertekuk lutut."

"Iya dong!" Luna tersenyum bangga, lalu menatap Rania jahil. "Terus lu sendiri gimana sama Kenan? Kemarin pulang bareng kan?"

Pipi Rania seketika merona merah. Gadis itu menunduk malu-malu. "Gue... sama Kenan... sepakat buat coba PDKT dulu, Lun."

"HAH?!" Luna membelalak gembira. "Demi apa?! Wah, bagus banget! Gak sia-sia gue dorong Kenan kemarin!"

"Tapi pelan-pelan dulu, Lun," ujar Rania tersenyum tipis.

"Fix! Kita wajib kencan bareng nantinya!" seru Luna antusias.

Begitu Kenan datang bergabung membawa nampan makanannya ke meja mereka, Luna tak henti-hentinya menggoda Rania dan Kenan. Tiap kali Kenan mengambilkan tisu atau menuangkan air untuk Rania, Luna sengaja berdeham kencang membuat suasana meja makan siang itu dipenuhi gelak tawa dan rona merah di pipi kedua sahabatnya.

Ting!

Ponsel Luna bergetar di atas meja. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang diberi nama Om Marko:

Jangan lupa habiskan makan siangmu, Sayang. Kalau butuh apa-apa bilang ke saya ya. Jangan sampai kecapekan.

Luna menggigit bibir bawahnya menahan jeritan gemas. Pesan singkat itu terasa begitu manis dan penuh perhatian, sukses membuat jantungnya berdesir hebat di tengah riuhnya kantin.

Pukul lima sore, saat jam kantor resmi berakhir dan karyawan lain mulai berhamburan pulang, Luna menyelinap masuk ke ruang kerja Marko.

Klek.

Marko yang sedang merapikan dokumen di mejanya mendongak kaget. "Aluna? Kok belum pulang?"

Tanpa menjawab, Luna melangkah cepat mengitari meja kerja. Sebelum Marko sempat bereaksi, Luna sudah menjinjitkan kakinya dan menempelkan bibirnya di bibir Marko, mendaratkan ciuman singkat yang manis.

Mwah.

Marko tersentak, memegang pinggang Luna seraya menatapnya tak percaya. Wajah pria matang itu merona tipis.

"Aluna..." tegur Marko dengan suara berat dan parau. "Kamu ini... punya kebiasaan baru ya? Jangan suka main nyosor begini kalau cuma kita berdua di ruangan."

"Kenapa emangnya, Om?" goda Luna, mengalungkan tangannya di leher Marko. "Kan udah resmi jadi pacar?"

"Soalnya saya takut..." Marko mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di telinga Luna, "...saya takut nggak bisa menahan diri dan malah melahap kamu di sini."

Bulu kuduk Luna merinding seketika. Wajahnya memerah padam, refleks mundur satu langkah sambil tertawa kaku. "I-iya deh, ampun Om!"

Karena Marko masih harus menyelesaikan lemburan berkas penting, Luna memutuskan untuk menunggu di ruang kerja itu. Gadis itu merebahkan tubuhnya di sofa empuk sambil bermain ponsel, hingga perlahan-lahan matanya terasa berat dan akhirnya tertidur lelap.

Pukul delapan malam, Marko selesai menandatangani dokumen terakhirnya. Ia berjalan menghampiri sofa dan tersenyum lembut melihat Luna yang tertidur pulas dengan napas teratur.

Dengan sangat perlahan dan hati-hati agar tak membangunkan sang kekasih, Marko menyusupkan tangannya ke bawah punggung dan lipatan lutut Luna, memangkunya dengan mudah ke dalam dekapan dada bidangnya.

Marko membawa Luna keluar dari ruangan, berjalan melintasi koridor kantor yang sudah sepi menuju area parkir VIP di bawah tanah. Pria itu menyandarkan kepala Luna dengan nyaman di dada kokohnya sepanjang jalan.

Namun, di balik salah satu pilar beton parkiran yang remang-remang, sebuah lensa kamera ponsel terarah tepat ke arah mereka.

Cklek. Cklek.

Kilatan lampu kecil memantul dari sudut kegelapan. Bayangan seseorang berdiri di sana, menyunggingkan senyum licik nan penuh dendam sambil menatap hasil foto di layar ponselnya—foto yang memperlihatkan dengan sangat jelas sang CEO Janitra Group sedang memangku mesra anak sahabatnya sendiri.

Siapakah sosok misterius yang bersembunyi di balik pilar itu, dan rencana jahat seperti apa yang tengah disiapkannya untuk menghancurkan hubungan rahasia mereka?

1
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
A.J Lim
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
A.J Lim: siap kak, terimakasih udh mampir
total 1 replies
A.J Lim
iya kak, ke makan gengsi nya 🤭
Adiba Adisa
luna bakalan ngaku ngga yaa
Adiba Adisa
panik sendiri kan om marko 😄
Adiba Adisa
hayoh loh ketahuan kan 🤭
Adiba Adisa
bagus ngga ngebosenin, bab awal udh dibikin penasaran kelanjutan nya
Adiba Adisa
bab awal udah bikin panas dingin 😄
Adiba Adisa: lanjutkan kak, ditunggu bab selanjutnya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!