Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.
Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.
Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma yang Sampai ke Tujuan
Pukul sebelas siang tepat, aku duduk di bangku taman kampus, megenggam ponselku dengan erat. Pikiranku melayang, terbang sejauh beberapa kilometer ke gerbang Universitas Bakti Bangsa. Menurut aplikasi di ponselku, abang ojek online yang mengantar kotak bekal Chicken Katsu hangat itu sudah menyelesaikan tugasnya sepuluh menit yang lalu.
Aku menarik napas panjang, mencoba meredam rasa gugup yang mendadak menyerang. Sesuai perjanjian dengan diriku sendiri, aku tidak boleh mengirim pesan bertubi-tubi yang menuntut jawaban ke Arga. Aku sekarang hanya bisa menunggu.
...----------------...
Di pusat kota, tepatnya di Fakultas Universitas Bakti Bangsa, suasana siang itu sedang cukup ramai. Arga Wijaya baru saja keluar dari ruang kelas matkul struktur bangunan yang menguras energi. Di sampingnya, Danu berjalan sambil meregangkan otot-otot lehernya yang kaku.
"Gila, itu dosen kalau ngasih materi gak pakai titik koma. Otak gue serasa mau meledak," gerutu Danu sambil menepuk perutnya.
"Kantin yuk, Ga. Laper banget gue."
Arga hanya bergumam pendek, tangannya merogoh saku celana untuk mengambil ponsel yang baru saja bergetar. Sebuah pesan dari nomor asing yang ternyata adalah abang ojek, mengabarkan bahwa ada kiriman paket makanan untuk Arga Wijaya dari Via yang dititipkan di pos satpam depan.
Langkah kaki Arga sempat terhenti sejenak. Alisnya bertaut tipis, namun sedetik kemudian ekspresi wajahnya kembali datar seperti biasa. Dia mengubah arah langkahnya menuju gerbang depan.
"Eh, mau ke mana lu. Kantin kan arahnya ke kiri, Ga!" seru Danu bingung, namun tetap mengekor di belakang temannya itu.
Arga tidak menjawab sampai mereka tiba di pos satpam. Dia menerima sebuah bungkusan kain bermotif bunga kecil yang rapi dari tangan pak satpam. Begitu melihat bungkusan itu, Danu langsung menjentikkan jarinya dan tersenyum lebar penuh arti.
"Wah, wah... kiriman dari Via lagi ya?" goda Danu, menyenggol bahu Arga pelan.
"Bau katsunya sampai kecium keluar nih. Niat banget ya itu anak."
"Berisik, Danu" sahut Arga ketus, sambil memegang bungkusan itu dengan sangat hati-hati, seolah takut isinya akan miring atau tumpah.
Mereka berdua akhirnya berjalan menuju meja panjang di sudut basecamp basket yang siang itu masih sepi. Arga duduk, lalu dengan perlahan membuka simpul kain pembungkus kotak bekal itu. Begitu tutupnya dibuka, aroma gurih dari daging ayam yang di goreng krispi bercampur dengan keharuman manis dari saus asam manis non-pedas langsung menguar, memenuhi ruangan.
Sesuai instruksi Rara dini hari tadi, semuanya tertata sangat estetik. Potongan Chicken Katsu yang tebal bersanding rapi dengan salad sayur segar dan wadah saus yang terpisah. Di sudut kotak, terselip secarik kertas kecil dengan tulisan tanganku yang rapi.
'Buat nemenin jam istirahat kamu setelah kelas padat. Dimakan sampai habis ya, Arga. Semangat! - Via'
Danu yang ikut mengintip dari samping langsung menelan ludah. "Sumpah, Ga. Ini kelihatan enak banget. Gue minta dong ga, satu aja, gak papa potongan kecil juga."
Arga dengan kilat langsung menarik kotak bekal itu lebih dekat ke arah tubuhnya, menepis tangan Danu yang hendak meraih garpu. "Gak ada. Ambil makanan lu sendiri di kantin."
"Elah, pelit amat lu. Biasanya juga makanan lu selalu gue yang ngabisin," protes Danu sambil tertawa melihat tingkah protektif temannya itu, yang sangat tidak biasa.
"Lu mulai luluh ya sama dia, ya Ga?"
Arga tidak menjawab pertanyaan Danu. Dia mengambil sumpit, lalu menyuapkan potongan pertama Chicken Katsu yang sudah dicelupkan ke dalam saus asam manis ke dalam mulutnya. Sensasi renyah diluar tapi empuk di dalam langsung memanjakan lidahnya. Rasa sausnya pas, manis dan segar, sama sekali tidak ada jejak rasa pedas yang dibencinya. Arga mengunyah dalam diam, namun Danu bisa melihat kilatan mata temannya nya yang tidak bisa berbohong. Makanan itu jelas terlihat sangat enak.
"Gimana. Enak ya?" pancing Danu lagi.
"Biasa aja," jawab Arga datar, namun tangannya dengan cepat mengambil potongan kedua, ketiga, hingga dalam waktu singkat seluruh isi kotak bekal itu sudah berpindah ke dalam perutnya.
Danu hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Dia tahu betul sifat Arga, jika Arga tidak menyukainya, makanan itu pasti sudah teronggok di tempat sampah sejak awal, atau sudah berpindah keperut Danu.
Tindakan Arga yang menghabiskan makanan itu sendiri tanpa mau berbagi adalah bentuk jawaban jujur yang disembunyikan oleh gengsinya.
...----------------...
Kembali ke kampusku, ponsel di genggamanku akhirnya bergetar pendek. Aku buru-buru membuka layarnya dengan jantung yang bertabuh kencang. Sebuah pesan gambar masuk dari Arga.
Foto kotak bekal yang kini sudah bersih total, tanpa ada sebutir nasi atau selembar sayur pun yang tersisa. Di bawah foto itu, tertera sebaris kalimat pendek khas dari sang gunung es.
“Udah habis. Sausnya pas. Makasih.”
Aku langsung membekap mulutku, menahan pekikan girang agar tidak mengganggu ketenangan taman kampus. Air mata haru hampir saja menetes di sudut mataku. Pujian singkat 'sausnya pas' dari seorang Arga Wijaya rasanya jauh lebih berharga daripada untaian kalimat puitis mana pun. Perjuangan bangun jam setengah empat dini hari bersama Rara terbayar lunas tanpa sisa.
...----------------...
Malam pun tiba, sisa rasa bahagia dari kotak bekal yang habis tak bersisa itu masih membekas dibenak ku. Setelah merayakan keberhasilan kecil ini bersama Rara lewat es krim di depan kosan, aku merebahkan diri di kasur. Pandanganku masih tidak lepas dari foto kotak bekal kosong yang dikirimkan Arga siang tadi. Senyum di bibirku bahkan belum surut sejak sore.
Ting!
Sebuah notifikasi baru muncul di bagian atas layar ponselku. Namun, kali ini bukan dari aplikasi pesan singkat biasa, melainkan sebuah pemberitahuan dari Instagram.
“@alya.wjya mengirimkan sebuah pesan.”
Jantungku refleks berdegup kencang. Alya? Adiknya Arga mengirimiku pesan via Direct Message?
Aku langsung mengklik notifikasi aplikasi itu dengan gerakan cepat, untuk membaca isi pesannya.
“Kak Viaaa! Sumpah, Kakak hebat banget deh. Aku mau berguru dong, ini aku Alya adiknya kak Arga kak!”
Aku mengernyitkan dahi, tertawa kecil melihat gaya mengetiknya yang penuh semangat, sama persis dengan kepribadiannya saat kami bertemu di supermarket kemarin, dengan segera aku membalas pesannya.
“Eh, hai Alya. Hebat, hebat apanya ya? Hehe...”
Hanya butuh beberapa detik bagi Alya untuk langsung membalas pesanku. Balon teksnya langsung memanjang di layar.
“Itu lho, Kak. Soal bekal Chicken Katsu yang Kakak kirim untuk ka Arga, gak nyangka kakak jago masak juga ya. Aku tau hal ini dari Kak Danu tadi sore waktu dia main kerumah, dia cerita heboh banget ke aku. Katanya Kak Arga protektif banget pas makan, sampai-sampi kak Danu gak boleh minta, tangannya kak Danu langsung ditepis kasar sama Kak Arga. Kata kak Arga 'Gak usah minta-minta. Ambil makanan kantin aja sana.' Hahaha... Sumpah aku ngakak banget pas denger cerita itu dari Kak Danu.”
Membaca cerita dari sudut pandang Alya membuat pipiku mendadak terasa panas. Bayangan Arga yang biasanya sedingin es batu, berubah menjadi pelit hanya demi mempertahankan makanan buatanku, benar-benar membuatku gemas setengah mati saat mengerahuinya.
“Haha..., masa sih sampai segitunya, Al. Kak Danu gak lagi melebih-lebihkan cerita, kan?” tanyaku, mencoba memancing informasi lebih banyak.
“Enggak, Kak. Kak Danu gak bohong. Soalnya pas Kak Arga pulang ke rumah tadi sore, aku sengaja intip kamarnya. Dia lagi nyimpen kotak bekal kosong punya Kakak di atas mejanya dengan rapi banget. Pas aku ledek, 'Ciyee, bekal dari calon Kakak ipar enak ya?', tebak muka dia gimana. Langsung merah tau, terus aku diusir keluar kamarnya! Hahaha!”
Aku membekap mulutku dengan bantal di atas kasur, menahan tawa girangku sendiri. Informasi dari Alya malam ini benar-benar seperti asupan energi baru bagiku.
“Aduh, Alya... maaf ya jadi bikin Kakak kamu jengkel gara-gara aku, hehe,” ketikku jujur.
“Ih, gak apa-apa, Kak. Justru aku seneng banget. Kak Via harus tahu, Kak Arga itu udah lamaaaa.... banget gak pernah peduli atau sedekat ini sama cewek semenjak... ya, semenjak kejadian dulu. Tapi pas makan katsu buatan Kak Via, Kak Danu bilang kilatan mata Kak Arga itu beda. Dia beneran menikmati masakan Kakak. Makanya aku DM Kakak malam ini, mau bilang kalau masakan Kakak enak banget kata Kak Arga (walaupun dia gak bakal mau ngaku langsung ke Kakak karena gengsinya setinggi langit).”
Aku tertegun sejenak membaca pesan Alya. Kalimat 'semenjak kejadian dulu' langsung mengingatkanku pada cerita yang disampaikan Danu tempo hari. Hatiku mulai bergetar pelan, ketulusan yang kukirimkan lewat kotak bekal, ternyata benar-benar sampai ke tujuannya, menembus sedikit demi sedikit celah di benteng pelindungnya.
“Makasih banyak ya, Alya, udah kasih tahu aku hal ini. Berarti besok-besok aku harus masak lebih enak lagi dong ya?” balasku sambil menyisipkan emoji senyum lebar.
“Wajib, Kak. Pokoknya kalau Kak Via butuh bocoran tentang apa aja yang Kak Arga suka atau gak suka, tanya aku aja. Aku siap jadi agen mata-mata Kak Via di rumah, free gak pakai bayar, hahaha... Semangat ya Kak Via taklukan si monster es itu. Aku dukung seratus persen!”
“Siap, Alya. Makasih banyak atas dukungannya ya!”
Setelah menutup obrolan dengan Alya, aku meletakkan ponselku di atas dada, menatap langit kamar kos dengan perasaan yang luar biasa lega. Hari keenam dari taruhan satu bulan kami telah ditutup dengan sangat manis.
Tembok es di sekeliling Arga Wijaya memang belum sepenuhnya runtuh, tetapi malam ini, dengan adanya Danu yang tulus mendampingi dan Alya yang siap menjadi sekutu rahasiaku, aku tahu bahwa aku tidak lagi berjalan sendirian untuk mencairkan hati sang gunung es.