Leonel Stevano_ CEO tampan pemilik perusahaan Ternama. seorang yang nyaris sempurna. terlahir dan di besarkan dengan kemewahan sebagai pewaris di perusahaan Stevano corp, membuatnya menjadi pribadi yang dingin, angkuh dan arogan. Sorot matanya yang mengintimidasi membuatnya menjadi sosok yang di segani di kalangan masyarakat.
Namun siapa sangka. Sosok nyaris sempurna sepertinya tidak pernah merasa tertarik dengan lawan jenis. Tentu saja dia bukan Homo! tolong di garis bawahi. Karena menurutnya, wanita itu ribet! Segala apa yang Mereka lakukan nampak membingungkan. Itu sebabnya ia tidak begitu tertarik menjalin hubungan serius dengan perempuan. Leon tidak suka hal yang berbau ribet dan merepotkan.
Di dunia ini. Hanya ada satu orang yang mampu membuat nya mau di repotkan. Karna baginya justru itu adalah suatu kebahagiaan nya, membuatnya merasa Menjadi bagian penting dalam kehidupan wanita itu.
Shevana maurer_ Gadis biasa yang hidup seorang diri. Gadis manis yang memiliki lesung pipit di kedua pipinya. Ceroboh, keras kepala dan terkenal dengan sifat bodo amatan nya.
Bekerja menjadi salah satu pegawai di Perusahaan ternama. Selama hidup.. Dia belum benar-benar tahu apa yang menjadi tujuanya.
Sampai suatu ketika ia bertemu dengan lelaki dingin yang arogan dalam suatu insiden karena kecerobohan nya. Bahkan tidak berhenti sampai di situ, karena faktanya pria itu terus saja mengusik hidup tenang Shevana.
He is the Devil Teaser!
Tetapi siapa sangka, kemunculan pria itu di hidupnya justru membuat dia sedikit demi sedikit mengerti tujuan hidup nya. Kehidupan nya yang biasa saja berubah menjadi penuh kejutan. Karena di balik sifat dinginya, pria itu begitu senantiasa menjaga dan melindunginya.
Bagai duri bagi yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_Quella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Dua dua Fakta sebenarnya
"Papa.. Aku tadi bertemu kakak tapi dia mempermalukanku. Ia mengaku tidak mengenalku." adu Stella masuk kedalam ruang kerja John Parker. Ia duduk dengan mengerucutkan bibirnya kesal.
John meletakkan pena di tangannya lalu beralih melihat putri keduanya. "Coba bicara pelan-pelan. Apa yang terjadi sebenarnya?"
Stella melipat kedua tangannya di depan dada. Balas menatap ayahnya sendu. "Tadi aku bertemu kakak di acara pargelaran busana. Papa tahu apa yang dia katakan padaku? Dia dengan gamblang mengatakan tidak mengenalku dan membuatku malu di hadapan banyak orang. Sungguh, aku tidak mengerti dengannya." jelas nya dengan wajah murung.
John berdiri. Mengelus puncak kepala Stella sayang.
"Maafkan kakak mu, ya. Mungkin dia sedang banyak masalah." jawab John tenang. Stella kembali memelaskan wajahnya.
"Bukan hanya itu Pa, kakak dengan jelas memperlihatkanku kartu identitasnya. Di sana tertulis jelas jika namanya adalah Shevana Maurer dan bukan Misha Parker. Ini keterlaluan, pa! Papa seharusnya sudah mengambil tindakan 'kan?" ucap Stella menggebu.
John terlihat berfikir. Ada benarnya mereka memang harus bertemu dan menyelesaikan masalah yang masih abu-abu ini. John juga harus meminta penjelasan putri sulungnya tentang surat pemutusan hubungan dengan keluarga Parker. Ia masih tidak percaya jika putrinya menolak keras hidup bersamanya.
Entahlah.. John hanya merasa sedih setelah kepergian Shevana tetapi tidak bisa berbuat banyak ketika dengan terang-terangan Shevana memberinya sebuah surat pemutusan hitam di atas putih.
"Papa akan membicarakan ini dengan kakakmu. Jangan masukkan ke hati ya ucapan kakak."
Stella tersenyum. "Tentu saja tidak. Aku sudah memaafkannya."
"Anak pintar." puji John menepuk puncak kepala Stella bangga.
Stella tersenyum simpul lalu pamit untuk kembali kekamarnya. John menghela napas panjang. Ia harus menyelesaikan ini semua. Entah apa yang akan ia dengar nanti, tapi John berharap putri sulungnya mau kembali untuk tinggal bersama keluarga Parker.
Setelah di depan pintu Stella mencebikan bibirnya kesal. Senyumnya memudar diiringgi seringaian puas, tatapan melasnya hanyalah topeng untuk membuat ayahnya percaya dengan perkataannya. Ia berjalan menuju kamar dengan mendumel. "Memaafkannya? Omong kosong!" ucapnya sengit.
**
Shevana mendumel saat Leon terus saja membawanya kemana-mana. Bahkan saat pria itu bekerja Leon menyuruhnya untuk duduk diam di ruangannya. Shevana sempat menolak tetapi Leon tetaplah Leon, perkataannya sudah pasti sulit di bantah apalagi setelah kepindahannya ke mansion pria itu Shevana harus menyabarkan hati setiap kali Leon mendikte kegiatannya. Sangat menyebalkan memang.
Namun kali ini Shevana juga harus berterima kasih pada Leon yang menyediakan Shevana laptop khusus untuk mendesain. Ya, Shevana memang terjun dalam bidang perancangan. Dan cita-citanya sedari dulu adalah ingin mendirikan perusahaan wedding organizersnya sendiri.
Shevana sangat suka mengatur dan mendesain suatu acara besar. Dan Leon memberinya kebebasan itu. Meski ia sendiri belum mampu mendirikan perusahaannya sendiri tetapi Shevana tetap merasa senang. Setidaknya ia masih bisa mendesain dan melanjutkan hobinya meski tidak terealisasikan.
Miris sekali.
Dering ponsel dari dalam tas membuat Shevana mengalihkan atensi kemudian merogoh tas untuk mencari ponselnya.
JP
Shevana megepalkan sebelah tangan—mengabaikannya ketika melihat nama yang yang telah ia tandai. Shevana merasa tidak memiliki urusan dengan si pe nelpon lalu kembali sibuk dengan kegiatannya sendiri. Leon yang sedari tadi mencuri pandang kerahnya menakutkan kedua alisnya.
"Kenapa tidak kau angkat?"
Shevana terlihat terkejut. Namun dengan cepat merubah expresinya. Ia mengendik acuh.
"Malas." jawabnya singkat.
Kembali dering ponsel Shevana berbunyi beberapa kali dan Shevana sudah bisa menebaknya tanpa harus melihat lagi ponselnya.
Leon meliriknya sekilas. "Apa kau tahu itu mengganggu?" ucap Leon tanpa melihatnya.
Shevana menghela napas berniat mematikan ponselnya namun tidak jadi saat sebuah notif muncul di layar ponselnya. Jemari lentiknya bergerak untuk membuka namun ia berhenti dengan kembali mematikan ponselnya.
"Tidak bisakah kau sedikit dewasa?"
"Ha? Apa?"
"Tidak akan ada masalah yang selesai begitu saja saat kau menolak untuk menyelesaikannya. Dewasalah."
Shevana mendegkus mendengar cibiran Leon. Tak urung ia tetap mendengarkan pendapatnya. Berulang kali merapalkan gumamman yang hanya dia sendiri yang bisa memahaminya.
Shevana menghembuskan napas pelan. Benar. Tidak ada masalah yang akan selesai tanpa di bicarakan. Siap tidak siap Shevana memang harus menyelesaikan semua ini, bukan?
JP
Papa tahu kau akan membacanya.
Temui papa di tempat biasa. Kita harus membicarakan ini baik-baik Misha. Papa merindukanmu.
Shevana terdiam dengan memejamkan mata, kedua tangannya terkepal kuat.
"Apa kau berpikir bisa meremukan benda tidak bersalah itu?"
Suara Leon membuat Shevana tersadar bahwa genggamannya pada benda tidak bersalah di tangannya hanya akan sia-sia.
"Kau harus menemuinya. Disini beliau tidak bersalah. Tapi kau terus menghukumnya selama ini." ucap Leon lagi ketika Shevana memilih diam. Pria itu berjalan menghampiri Shevana lalu meremas bahunya —memberinya dukungan. Shevana tersentak kaget melihat Leon sudah berdiri menjulang di sampingnya.
"Pergilah. Aku akan mendampingimu. Jangan khawatir." ucapnya tersenyum menenangkan.
Shevana menghela napas panjang. Mengangguk - berdiri lalu berjalan di ikuti Leon di sampingnya.
Tidak sampai duapuluh menit mereka sampai di tempat tujuan. Cafetaria favorite Shevana semasa masih baik-baik saja dengan John Parker. Leon menggenggam jemarinya lembut seolah menguatkan. Kemudian pria itu menarik tangan Shevana masuk kedalam dan menjelajahi isi ruangan. Tepat saat melihat John di kejauhan Leon melepaskan genggamannya pada Shevana dan memberi kode untuk Shevana menghampirinya.
Leon mengambil duduk dua meja dari tempat John. Entah benar atau salah tetapi Leon dapat melihat John dengan gelisah memantau ponselnya.
Shevana masih bergeming di tempatnya sebelum seruan Leon menyadarkan wanita itu. "Pergilah. Aku akan memantaumu dari sini."
"Tapi.."
"Kau harus menyelesaikannya. Aku tidak akan kemana-mana." ucap Leon meyakinkan.
Shevana terdiam beberapa saat sambil memandangi Leon yang tampak mengangguk meyakinkannya. Shevana kemudian menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya menyeret kedua kakinya menghampiri meja John.
Melihat kedatangan Shevana, John Parker langsung memeluknya —sirat penuh kerinduan. Shevana menutup mata merasakan sesak di hatinya lalu melepaskan pelukan John darinya.
"Saya tidak punya banyak waktu Mr. Parker. Semoga anda mengerti."
Tegas dengan pembawaan yang anggun. John menatap putri sulungnya sendu. Mempersilakan duduk. Untuk beberapa saat keheningan mengambil alih udara diantara ayah dan anak itu hingga akhirnya John mengeluarkan sebuah dokumen lalu meletakkannya di atas meja—menatap Shevana meminta penjelasan.
Shevana dengan jelas dapat mengingat dokumen berisikan tanda tangan dirinya beberapa lima tahun lalu. Surat yang menjadi alasan kuat Shevana untuk mengubah identitasnya. Shevana mengalihkan pandangan melihat Binar kerinduan dari sepasang mata yang menuntut penjelasan darinya.
Bohong jika Shevana mengatakan kalau dia tidak merindukan sosok ayah yang sempat di kenalnya sebelum surat sial itu mengubah semuannya. Ia juga merindukan sosok ayahnya tetapi Shevana tidak bisa berbuat banyak. Keluarga Parker telah membuangnya. Dan ia sadar diri.
"Bisa kau jelaskan ini, Misha.. Papa benar-benar tidak mengerti maksudmu? Tolong katakan dengan jujur."
Shevana menundukkan kepala. "Maaf Sir, nama saya Shevana Maurer. Bukan Misha." Kedua tangannya terkepal. "Dan mengenai berkas itu, Mengapa anda bertanya kepada saya? Ini bukan hak saya untuk menjelaskan." lanjutnya dengan menggigit bibir bawahnya menahan tangis.
John terlihat terkejut. "Apa maksudmu, Misha?"
"Mr- "
"Siapapun kau, entah Misha ataupun Shevana kau tetap anakku. Darah dagingku. Jangan membuat dinding pembatas pada ayahmu ini. Papa sungguh tidak paham ini semua." potong John cepat.
Shevana mengusap sudut mata nya yang berair. Ia tidak boleh terlihat lemah. Shevana Maurer.. Tunjukan dirimu.
Perlahan Shevana mengangkat wajah hingga bertatap muka dengan John Parker. Ayahnya. Pandangan mereka terkunci. Sorot matanya terpancar kerinduan yang sangat mendalam dan Shevana bisa merasakannya.
"Saya merasa tidak memiliki kuasa untuk menjelaskan kepada anda, Sir."
"Lalu siapa yang bertanggung jawab atas surat ini .."
John membuka lembaran yang terdapat tanda tangan Shevana di bawahnya.
Shevana menarik napas dalam, "lima tahun lalu.. Mrs. Parker mengajak Saya bertemu dan memberikan surat yang ada di tangan anda. Saya tahu, saya memang tidak pantas untuk masuk kedalam anggota keluarga Parker. Anak haram sepertiku hanyalah benalu dalam keluarga anda untuk itu saya sadar diri. " Shevana mengusap air matanya yang sudah tidak mampu ia tahan.
"Dengan hadirnya surat itu, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi Mr. Parker. Mohon setelah ini anda tidak mengganggu saya lagi." ucap Shevana berdiri—hendak pergi namun dengan cepat John tahan.
"B-bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa kau tidak memberitahu papa sejak awal, Misha?"
Shevana menoleh, "Apa itu berpengaruh? Dulu ataupun sekarang semua itu tidak akan merubah keadaan. Anak haram tidak pantas tinggal satu atap dengan orang terpandang seperti anda. Sejak dulu, status kita memang berbeda. Aku hanyalah anak seorang wanita miskin. Tapi aku bangga, beliau dengan sabar membesarkanku dengan penuh cinta. Tidak seperti anda yang bergelimang harta namun tidak mampu melakukan apapun demi kebahagiaannya sendiri. "
Shevana terengah. Demi tuhan ini kali pertama dia berbicara panjang lebar dengan orang yang di sebut papanya. Entah mendapat kekuatan dari mana ia bisa mengatakan kegelisahannya selama ini. Shevana berhasil menyampaikan sesuatu yang sedari lama menganjal di hatinya. Dan ia merasa lega.
"Bukankah itu menyedihkan, Sir?"
John membeku mendengar kegelisahan putri sulungnya.
Jadi selama ini putrinya merasa tertekan tinggal bersamanya?
John menatap Shevana dengan tatapan bersalah. Perlahan air matanya meluruh. Apa yang dikatakan Shevana memang benar adanya. Dia sosok ayah yang buruk. Tidak mampu memperjuangkan kebahagiaannya sendiri. Dan menyakiti orang yang di cintainya.
"Maafkan papa Misha.. Maafkan papa.." lirih John terisak.
Melihat itu Leon menghampiri mereka dan langsung memeluk Shevana menenangkan. Bahunya naik turun menahan isakan.
Leon menatapnya datar. "Setelah hari ini, tolong jangan lagi mengusik wanitaku Mr. Parker. Meski Anda adalah ayah kandungnya, bukan berarti saya harus segan pada seseorang yang telah membuang berlianku. Saya harap anda mengerti posisi anda." ucap Leon tegas tak terbantahkan, kemudian menggiring Shevana hendak keluar. Baru beberapa langkah Leon membalikkan badan.
"Dan tolong peringatkan putri anda untuk tidak sembarangan bicara mengenai Shevana. Meski ibunya hanya membesarkan dia seorang diri, tetap tidak sepantasnya putri anda mengatakan jika ia wanita penggoda. Permisi."
John Parker mengepalkan kedua tangannya erat hingga buku-buku tangannya memutih. Ia marah. Ia kecewa pada dirinya sendiri. Namun semuanya sudah terlambat. Putrinya sudah terlanjur membencinya.
Shevana masih terisak. Perasaannya kacau. Marah, kesal dan sedih bercampur menjadi satu. Shevana membutuhkan pelukan ibunya. Dan ia sangat-sangat merindukan ibunya. Shevana benar-benar berharap ibunya datang lalu memeluknya—menenangkanya seperti yang biasa ia lakukan padanya dulu. Iya Dulu.. Sebelum Tuhan memintanya pulang.
Sesampainya di mobil Leon merengkuh tubuh Shevana lembut. Seolah ia adalah benda rapuh yang akan hancur jika terlalu erat di genggam. Shevana terisak pilu. Ia tidak tahu caranya menghentikan ini semua. Ini sangat menyiksanya.
Bertahun-tahun dan akhirnya Shevana sudah bisa menjadi dirinya sendiri.
Leon mengangkat wajah Shevana. Wanitanya masih tersedu. Dengan perlahan ia membelai tengkuk Shevana —menciumnya lembut dan penuh perasaan. Seketika Shevana menegang. Tangisnya berhenti. Leon benar-benar memperlakukannya dengan sangat lembut membuat Shevana terlena. Shevana tidak menolak terbukti dengan ia membalas ciuman Leon dengan gerkakan kaku. Leon menghentikan ciuman mereka dengan deru napas mereka yang memburu. Ia menatap Shevana lekat-lekat.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti wanitaku. Jika suatu saat nanti ada seseorang yang membuatmu menteskan air mata, percayalah. Aku akan menghancurkannya. Untuk itu, berjanjilah untuk tidak menangis lagi setelah ini." ucap Leon penuh penekanan.
Saat hendak menjawab pria itu sudah lebih dulu melumatnya lagi. Seolah menegaskan jika dia tidak menerima bantahan.
Shevana mengerang.
'Ini tidak benar.' Leon benar-benar mengendalikannya.
***
Like and coment, Waktu dan tempat saya persilahkan!
Tangkyuuu ❣️
semoga segerah menikha 😃💪
semangat nulis terus ya thor!!!