NovelToon NovelToon
A Saintess From The Flower Street

A Saintess From The Flower Street

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: flowy_

Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.

Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.

Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersikap Dewasa?

“F–Flower Street?”

Cedric tampak terkejut.

“Dia berasal dari sana?”

Mendengar itu, Ledian berkata dengan dingin, “Kau diam.”

Violet bisa merasakan ada yang berbeda dari tatapan Cedric kepadanya. Apakah selama ini Cedric tidak tahu bahwa dirinya berasal dari Flower Street?

Pelayan itu seharusnya mendapat hukuman karena ucapannya, tetapi Ledian membiarkannya begitu saja karena dia adalah pelayan yang dibawa oleh keluarga Count Rochester.

Ledian memang selalu baik kepada siapa pun. Berbeda dengan Carlisle, sifatnya jauh lebih lembut, sehingga dia cenderung ragu ketika harus mengambil keputusan tegas seperti ini.

Akhirnya, Meirra tidak tahan lagi dan angkat bicara.

“Nona sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini. Sungguh.”

“Tetapi Tuan Muda Cedric terus keluar-masuk kamar Saintess.”

Pelayan lain menyindir.

“Lalu dari mana kalian mendapatkan pikiran bahwa Saintess memanfaatkan Tuan Muda Cedric?!”

Meirra membentak tajam.

Para pelayan Brianna pun langsung terdiam.

Jika dilihat dari kedudukan, Meirra adalah putri kepala pelayan dan seorang vasal dari keluarga Rivera yang memiliki kedudukan baik. Dia bahkan tumbuh besar bersama Carlise.

Ledian menatap Meirra dan berkata dengan tegas, “Aku yakin kau mengerti bahwa aku tidak bisa sepenuhnya mempercayaimu.”

Sekilas, perkataan itu terdengar masuk akal. Namun, bagi Meirra, Violet, maupun Cedric, ucapan itu tetap terasa tidak adil.

“Dan Saintess... tidak, Violet. Apa kau akan terus membuat masalah?”

Mendengar itu, jantung Violet terasa seperti jatuh.

“Tentu saja, kalian berdua juga sama. Tetapi Violet, sebagai Saintess, tunjukkanlah belas kasih yang seharusnya dimiliki seorang Saintess.”

Belas kasih seperti apa yang seharusnya ditunjukkan seorang Saintess?

Violet menatap Ledian dengan wajah kecewa. Seolah ingin memastikan tidak ada lagi yang bisa dikatakan, Ledian kembali berkata, “Kau yang meminta maaf lebih dulu.”

Jelas-jelas Violet tidak melakukan kesalahan apa pun.

Tubuh Violet menegang. Jantungnya terus berdebar, dan tubuhnya terasa panas karena amarah yang perlahan membara.

Violet menatap wajah Ledian yang begitu tegas. Ia tidak ingin membuat Ledian semakin kecewa kepadanya.

Padahal, baru berapa lama dirinya diadopsi ke dalam keluarga Marquis? Mengapa sekarang meminta maaf saja terasa begitu sulit?

Keraguannya hanya berlangsung sesaat.

Violet membuka bibirnya terlalu mudah.

“Aku rasa aku telah salah memahami Anda. Maafkan aku, Nona.”

Begitu Violet meminta maaf, Brianna tersenyum puas.

“Tidak apa-apa, Saintess. Aku sangat senang.”

Brianna memeluk Violet. Lalu, dia membisikkan sesuatu tepat di telinganya.

“Kau pikir kau bisa melawanku?”

Violet terkejut dan menatap Brianna.

Namun, gadis itu tetap tersenyum dengan wajahnya yang seperti malaikat, sama seperti biasanya.

Melihatnya, Violet merasa takut.

Brianna benar-benar membencinya, persis seperti yang dikatakan Meirra.

“Kalau begitu, bolehkah aku meminta satu hal?”

Brianna tersenyum sambil menunjuk dengan jarinya.

“Bolehkah Meirra tinggal bersamaku selama aku berada di sini?”

“.....”

“Baik saat aku berada di kediaman kami maupun saat aku di sini, Meirra selalu menjadi pelayanku.”

Violet menatap Brianna. Terdengar suara Meirra yang memanggil Brianna dengan lirih.

“Nona.”

“.....”

“Alasan aku ditugaskan untuk melayani Nona adalah karena perintah Tuan Muda Carlise.”

Carlisle yang menugaskan Meirra untuk mendampinginya di sini?

Benarkah?

Meirra jelas merupakan teman yang baik bagi Violet. Mendengar kenyataan yang sama sekali tidak dia ketahui itu, Violet menatap Meirra dengan terkejut.

“Aku akan mengatakannya kepada Kak Carlisle. Dia selalu mendengarkan perkataanku, jadi tidak akan ada masalah.”

Brianna tersenyum cerah sambil menatap Meirra. Senyumannya tampak seperti senyum seorang malaikat, tetapi entah mengapa wajah cantiknya justru terasa mengerikan dan penuh niat buruk.

Violet ingin mengatakan bahwa dia tidak setuju.

Namun, dia yakin Carlisle—Tuan Muda sulung yang kejam itu—pasti akan mengizinkannya.

Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada Meirra?

Ketika Violet masih ragu, Ledian kembali berkata, “Hanya satu minggu, Violet.”

“Tuan Muda!”

“Aku ada di sini menggantikan kakakku. Akulah yang bertanggung jawab di tempat ini sekarang.”

Ledian mengatakannya dengan tegas.

Melihat ekspresi Ledian, Violet memejamkan mata dan menyerah.

“Baiklah.”

“Nona!”

Meirra berteriak.

“Layani Nona Brianna dengan baik, Meirra.”

Wajah Violet dipenuhi kepasrahan.

Brianna berkata dengan wajah puas, “Aku berterima kasih atas kemurahan hati Saintess.”

Meski tersenyum seperti seorang malaikat, kini Violet tidak lagi bisa mempercayai senyum itu. Violet belum menyadari bahwa perasaan menyedihkan yang dirasakannya hari ini adalah rasa kalah. Untuk sekadar menenangkan perasaan asing yang belum pernah dikenalnya itu saja sudah terasa begitu berat.

Begitu memasuki kamar, salah satu pelayan membawakan teh untuknya. Dengan pandangan tertunduk, pelayan itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mungkin dia termasuk orang yang tidak menyukai Violet.

Sejak Violet pergi keluar bersama Dilan, para pelayan mulai menjaga jarak darinya. Secara naluriah mereka memang tetap melayaninya, tetapi tidak mudah bagi Violet untuk merasa nyaman dilayani oleh orang-orang yang akan membicarakannya di belakang ketika dia tidak ada.

Karena itu, Violet memilih diam.

Kamar itu terasa lebih luas tanpa Meirra, sekaligus terasa dingin. Violet berusaha menahan air matanya. Dia sudah terbiasa bersabar dan menahan diri. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan Meirra.

Hanya satu minggu.

Sejak kapan dirinya menjadi begitu serakah?

Hingga malam tiba, Violet hanya duduk termenung sambil memandangi jendela dengan murung. Baru sekarang dia menyadari bahwa Brianna sangat membencinya dan ingin mengambil apa pun yang menjadi miliknya. Bahkan hal-hal yang hanya tersisa sedikit pun ternyata diinginkan Brianna.

Kasih sayang Kak Ledian, Meirra... semuanya telah direnggut darinya.

Ketika cahaya bulan yang jernih mulai menyinari jendela, terdengar suara ketukan di balik pintu.

Violet merasa cemas, ia mengira Brianna mungkin akan datang. Dirinya bahkan sempat berpikir untuk berpura-pura tidur. Namun, pintu itu terbuka tanpa menunggu izinnya, dan seorang anak laki-laki masuk begitu saja.

Ledian tampak murung. Entah kenapa wajahnya terlihat begitu khawatir.

"Kau belum tidur."

Ledian menyapanya dengan lembut seperti biasa.

Violet tidak tahu harus menunjukkan reaksi seperti apa kepadanya sekarang. Ledian menghampiri Violet yang sedang duduk di atas ranjang, lalu duduk di sampingnya. Dia mengulurkan tangan dan membelai rambut Violet.

Violet membiarkan sentuhan itu tanpa berkata apa-apa.

"Kau sangat kecewa, ya?"

Apa yang harus dikatakannya?

Tadi Violet terus menyalahkan dirinya sendiri karena merasa begitu serakah. Namun, ketika Ledian bertanya apakah dia merasa kecewa, Violet mulai berpikir bahwa mungkin memang begitu.

Entah mengapa, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Saat menatap Ledian dengan wajah sedih, dia melihat laki-laki itu tersenyum lembut kepadanya, sangat berbeda dari ekspresinya yang kaku pagi tadi.

"Maafkan aku, Violet. Aku tidak punya pilihan."

"Bibi memang selalu sulit dihadapi. Selain itu, keluarga Count Rochester bertanggung jawab atas Gerbang Keempat di wilayah utara, jadi hubungan antara kedua keluarga sangat penting."

Mendengar Ledian menjelaskan keadaan, Violet bisa melihat betapa lelahnya dia. Tiba-tiba dia teringat bahwa Cedric sangat tidak menyukai bibinya dan sepupunya.

Mungkin Ledian juga sama.

Sekarang Carlisle tidak ada dan Ledian harus mengambil alih tanggung jawab, menerima kedatangan ibu dan anak dari keluarga Count Rochester tentu bukan perkara mudah.

Entah mengapa, Violet tiba-tiba merasa kasihan kepada Ledian.

"Kalau kau ingin boneka itu, seharusnya bilang kepadaku."

Ledian mengatakannya seolah sedang menenangkannya.

"Tidak. Aku benar-benar tidak pernah memintanya."

Violet membela diri karena merasa diperlakukan tidak adil. Ledian hanya tersenyum, seolah sudah mengetahui semuanya.

Melihat ekspresi itu, kekecewaan kembali memenuhi hati Violet. Namun, saat Ledian mengusap rambutnya, Violet hanya menggigit bibirnya dan menundukkan kepala.

Sentuhan tangannya terasa begitu hangat dan lembut.

"Brianna memang masih memiliki sisi kekanak-kanakan. Berbeda denganmu yang jauh lebih dewasa. Dia berpikir semua kasih sayang harus ditujukan kepadanya."

Violet tidak menjawab.

Dadanya justru berdebar karena Ledian baru saja memujinya sebagai gadis yang dewasa.

"Dan soal Meirra, aku benar-benar minta maaf. Sebagai gantinya, aku akan menugaskan pelayan lain untukmu agar kau tidak merasa kesulitan. Kalau aku tidak melakukan ini, aku tidak tahu alasan apa lagi yang akan dia gunakan untuk merengek dan membuat masalah."

Memang, perkataan Ledian ada benarnya. Dengan menyerahkan Meirra, orang yang paling berarti bagi Violet, Brianna mungkin merasa dirinya sudah memenangkan persaingan ini. Karena itu, mungkin dia tidak akan mengusik Violet lagi.

Namun, tetap saja, rasanya tidak adil.

Sebenarnya, Violet ingin mendapatkan Meirra kembali. Namun, setelah Ledian datang dan meminta maaf kepadanya, dia tidak sanggup merengek atau memaksakan keinginannya. Jika dia melakukan itu, bukankah dirinya akan sama kekanak-kanakannya dengan Brianna?

Seperti yang dikatakan Ledian, Violet harus bersikap dewasa.

"Kalau musim semi tiba, kita kembali ke ibu kota, ya."

Entah mengapa, kata-kata itu terasa begitu jauh.

Tempat ini justru membuat Violet semakin kesepian. Dia merindukan Countess Loraine. Bahkan wajah Marquis pun mulai dirindukannya. Namun, jika Marquis mengetahui apa yang telah dilakukan Violet pada musim dingin lalu, dia pasti akan memarahinya.

"Violet, kau adalah adik perempuanku yang kusayangi."

Ledian berbisik.

Mendengar kata-kata itu, entah mengapa mata Violet terasa panas, seolah air mata akan segera tumpah. Apakah karena cahaya bulan? Atau karena nyala lilin yang berkelap-kelip?

Sesaat, mata biru Ledian tampak berkilauan.

"Maukah kau mempercayaiku? Aku selalu memikirkanmu."

Violet mengangguk.

Ledian kemudian menangkup wajah Violet dan mengecup dahinya dengan lembut.

......................

Di depan orang lain, Ledian bersikap seolah-olah masih marah kepada Violet dan sengaja menjaga jarak darinya. Cedric juga tidak datang menemuinya lagi. Sepertinya Cedric hanya tahu bahwa Violet berasal dari kalangan rakyat jelata, tetapi tidak tahu bahwa dia berasal dari Flower Street.

Violet merasa kesepian karena perubahan sikap Cedric. Namun, penghinaan karena latar belakangnya bukanlah sesuatu yang baru baginya. Dia sudah terbiasa menerimanya dalam diam.

Meski harus menjalani hari-hari yang terasa begitu rapuh, Violet tetap mempercayai Ledian. Menambah jumlah pelayan yang menjaganya juga merupakan bentuk perhatian Ledian. Bahkan makanan Violet kini lebih banyak dipenuhi hidangan manis yang disukainya.

Walaupun Ledian tidak mengungkapkannya dengan kata-kata, Violet bisa merasakan bahwa dia benar-benar memperhatikannya. Hatinya pun terasa hangat.

Jika ibu dan anak itu pergi, semuanya mungkin akan kembali seperti semula.

Violet memang sedih karena tidak bisa keluar dan bertemu Meirra, tetapi dia tidak ingin menimbulkan masalah baru atau memicu pertentangan.

Pada akhirnya, hanya ada satu hal yang bisa Violet lakukan: mengurung diri di kamar yang sepi.

Angin dingin musim dingin telah berlalu dan musim semi mulai mendekat, tetapi Violet justru semakin meringkuk, seolah masih berada di tengah musim dingin.

Tanpa terasa, Anoxi Glory pun semakin dekat.

Saat masih tinggal di Flower Street, Violet beberapa kali pergi ke kota hanya untuk melihat perayaan itu.

Saat lentera-lentera langit diterbangkan untuk mendoakan kebahagiaan dan keselamatan sepanjang tahun, tanpa memandang apakah seseorang adalah raja, Paus, bangsawan, rakyat jelata, atau bahkan orang dari kalangan rendah, langit malam yang gelap akan berubah menjadi lautan cahaya keemasan yang indah.

Saat itu, semua orang hanya terpaku pada lentera-lentera yang menghiasi langit. Bahkan para perempuan di Flower Street bisa menikmati malam itu tanpa perlu memedulikan tatapan orang lain.

Di dalam hati mereka, hanya ada satu harapan—semoga tahun yang akan datang membawa kedamaian bagi semua orang.

Selama festival itu, untuk sesaat mereka melupakan perbedaan status dan merasakan kebersamaan sebagai satu kesatuan.

Sejak pagi, Brianna sudah tampak sangat bersemangat.

"Kak Ledian! Lentera yang mana yang akan kita terbangkan? Ayo terbangkan yang paling besar di sini! Aku yang akan menerbangkannya lebih dulu. Jadi, Kakak harus menemaniku, ya?"

Violet sempat bingung apakah mereka harus membuat lentera sendiri atau menerbangkan lentera yang sudah disiapkan. Saat sedang berjalan menuju kamar Ledian, suara ceria Brianna terdengar dari balik pintu.

Violet berhenti sejenak di depan pintu. Setelah menarik napas dalam-dalam, akhirnya dia masuk.

"Astaga, Saintess. Lama tidak bertemu."

Brianna berkata sambil merapat ke sisi Ledian.

Violet melihat Meirra yang berdiri di sudut kamar Ledian. Begitu mata mereka bertemu, Meirra menundukkan kepala.

"Ada keperluan apa, Saintess?"

Ledian berbicara dengan nada yang seolah menjaga jarak. Violet berusaha menyembunyikan rasa kecewanya, lalu menjawab dengan ragu.

"Aku datang untuk mengambil lentera. Kalau belum disiapkan, aku pikir mungkin aku harus membuatnya sendiri..."

Mendengar itu, Brianna yang berdiri di sampingnya mendengus kecil.

"Astaga, Saintess. Kau juga akan ikut keluar?"

Apa maksudnya?

Bukankah semua orang memang akan keluar? Ini adalah perayaan yang sudah menjadi tradisi setiap tahun.

Violet menatap Ledian. Dengan berat hati, Ledian berkata, "Saintess, kau tidak diperbolehkan keluar dari kastel."

Wajah Violet seketika memucat.

Belum pernah sekalipun dia mendengar hal itu.

“Carlisle yang memberikan perintah itu sebelum pergi. Sepertinya aturan tersebut tidak akan dicabut sampai dia kembali...”

Violet memang pernah membuat masalah besar pada musim dingin lalu. Sepertinya karena itulah Carlisle melarangnya keluar dari kastel.

Violet ingin membela diri karena merasa tidak adil. Kastel ini bahkan tidak memiliki tempat yang layak untuk menerbangkan lentera. Kalau begitu, artinya dia benar-benar tidak akan bisa ikut menerbangkannya.

Padahal, festival ini hanya berlangsung sekali dalam setahun. Bahkan ketika masih tinggal di Flower Street, Violet tidak pernah melewatkannya.

Violet menatap Ledian dengan penuh harap. Namun, tak lama kemudian dia menyerah.

Carlisle adalah orang yang tidak ragu membunuh seseorang. Kalau hanya menghukum Ledian, tentu akan jauh lebih mudah baginya.

Violet tidak ingin bersikap manja hingga membuat Ledian berada dalam kesulitan. Akhirnya, dia hanya berkata dengan Lelah, "Baiklah."

Saat hendak meninggalkan kamar, pandangan Violet bertemu dengan Meirra.

Wajah Meirra tampak sedih.

Saat itulah Brianna berkata, "Meirra, ikutlah denganku. Kau juga harus menikmati festival seperti ini, bukan?"

Brianna mengatakannya seolah-olah sedang menunjukkan kemurahan hati yang besar. Seolah ingin memastikan Violet benar-benar terluka, dia bahkan tidak menunggu jawaban Meirra sebelum Violet meninggalkan kamar.

Dari luar, Violet masih bisa mendengar tawa Brianna yang riang. Sepertinya sengaja dibuat agar terdengar olehnya, Brianna mengatakan bahwa mereka akan menerbangkan lentera dari puncak tembok luar kastel, di hadapan orang-orang yang berkumpul untuk menyaksikannya.

Saat menyusuri koridor, Violet melihat Cedric yang sedang membawa lentera dengan wajah penuh semangat. Cedric pun menyadarinya.

"Hei, lama tidak bertemu!"

Cedric tersenyum lebar.

Violet sempat mengira Cedric menjauhinya karena tahu dia berasal dari Flower Street. Namun, sikapnya justru begitu ramah, seolah-olah dia tidak pernah mendengar hal itu. Padahal selama ini Cedric jarang datang menemuinya. Sikapnya yang begitu akrab—bahkan terlihat senang bertemu dengannya—justru membuat Violet kebingungan.

"Kau sudah dapat lentera dari Kak Ledian? Lihat ini! Aku minta yang bentuknya persegi! Punyamu bentuk apa? Kau kan Saintess, jadi mungkin bentuknya juga berbeda, ya? Cepat, coba tunjukkan."

Dengan suara penuh semangat, Cedric menggoyangkan lentera yang dibawanya.

"Aku tidak boleh keluar."

Violet menjawab dengan murung.

Barulah Cedric menyadari bahwa Violet tidak membawa lentera apa pun dan baru saja keluar dari kamar Ledian.

"Apa? Kau juga bisa ikut.Carlisle pasti akan mengizinkan."

"Tidak, sungguh."

Violet takut Cedric akan pergi kepada Ledian dan memaksa agar dia diizinkan ikut. Kalau sampai itu terjadi, sudah pasti Violet akan dituduh menghasut Cedric lagi.

Cedric mengernyit menatapnya, lalu menggerutu.

"Kalau begitu, aku juga tidak mau pergi. kalau kulihat, bentuk perseginya juga kurang bagus."

"Tidak. Kau harus pergi."

"Hei, memangnya kau mau aku pergi tanpa dirimu? Itu namanya mengucilkanmu."

Cedric berkata dengan kesal.

"Kalau kau tidak pergi, nanti aku yang akan dimarahi lagi karena dianggap menghasutmu."

Mendengar ucapan Violet, Cedric mengumpat. Tidak ada satu pun perkataannya yang bisa dibantah.

"Hei, ada makanan yang ingin kau makan?"

"Tidak."

“Kalau ada yang kau inginkan, katakan saja. Nanti aku akan membawakannya untukmu.”

"Tidak ada."

Violet menggeleng. Mendengar Cedric mengatakan bahwa dia tidak akan pergi saja sudah cukup baginya.

Violet tersenyum karena merasa berterima kasih kepadanya. Namun, wajah Cedric justru langsung mengernyit.

“Kau bilang saja aku sedang sakit. Dengan begitu, aku bisa tetap menemanimu, kan?”

"Ledian pasti akan memanggil dokter."

"Cih."

Cedric mendecakkan lidah. Dia menggumam pelan sambil berpikir keras.

"Kalau aku menerbangkan lenteramu sebagai gantimu... Ah, tidak bisa, ya."

Sebenarnya, seseorang memang bisa menerbangkan lentera sebagai pengganti orang lain. Namun, hal itu hanya berlaku untuk orang yang telah meninggal.

Karena itu, jika seseorang menerbangkan lentera yang berisi doa dan harapan dari orang yang masih hidup, tindakan tersebut akan dianggap sebagai pertanda yang sangat buruk.

Tidak ada cara lain.

Bahkan seandainya ada, Violet tidak ingin Cedric dimarahi gara-gara dirinya.

Dia pun membulatkan tekad, lalu tersenyum lebar kepada Cedric.

"Titip salam kepada Ledian. Sampaikan agar dia bersenang-senang. Aku tidak akan keluar untuk mengantarnya."

Sebenarnya, jika Violet keluar untuk mengantar mereka, dia mungkin akan menangis.

Cedric sepertinya bisa menebak perasaannya. Dia mengangguk, lalu menggerutu dengan wajah tidak puas. Saat berjalan menuju kamar Ledian, dia beberapa kali menoleh ke belakang untuk melihat Violet.

Violet menghela napas panjang, lalu kembali ke kamarnya.

Ketika membuka jendela, dia melihat orang-orang sedang bersiap menuju tembok luar kastel. Di antara mereka, rambut Brianna yang berkilauan langsung menarik perhatiannya.

Violet segera menutup tirai, ia mencoba memikirkan cara agar bisa menerbangkan lentera, tetapi tiba-tiba dadanya terasa sesak.

Selama ini, festival selalu terasa begitu menyenangkan karena ada orang-orang di sisinya. Mereka menerbangkan lentera bersama, tertawa, dan bercanda.

Melihat lentera terbang seorang diri tentu akan terasa menyedihkan.

Mendoakan keselamatan dan kedamaian sepanjang tahun pun rasanya percuma. Saat ini saja Violet tidak merasa aman ataupun tenang, dan sepertinya keadaan itu tidak akan berubah dalam waktu dekat.

Haruskah dia membaca buku? Atau melakukan sesuatu yang lain?

Violet berusaha sekuat tenaga melupakan Ledian dan Brianna.

Selain para pelayan muda, para pelayan lainnya juga pergi meninggalkan kastel. Pada akhirnya, mereka pun tidak terikat di tempat ini seperti Violet.

Violet akhirnya keluar dari kamarnya. Beberapa pelayan mengikutinya, tetapi dengan tegas dia mengatakan bahwa dia akan pergi ke perpustakaan dan mereka tidak perlu mengikutinya.

Perpustakaan Marquis yang baru pertama kali didatanginya ternyata sangat luas. Buku-buku yang tersimpan di sana begitu banyak hingga bahkan tersedia tangga sungguhan, bukan sekadar tangga kecil untuk menjangkau rak-rak tinggi.

Seperti yang sudah diduganya, tidak ada seorang pun di sana.

Jendela-jendela perpustakaan tertutup tirai berwarna merah, tetapi jendelanya sendiri begitu besar, hampir setinggi tubuh Violet. Dari celah jendela yang terbuka, dia bisa melihat ke luar.

Jendela di sisi ini menghadap ke luar kastel.

Saat memandangi mereka yang tampak kecil dari kejauhan, Violet mulai membayangkan keadaan di bawah sana.

Pasti ada pedagang yang menjual kalung cantik berwarna biru. Ada juga penjual hewan yang membawa binatang-binatang aneh. Mungkin para pedagang keliling pun datang membawa berbagai benda langka dan unik untuk dijual.

Dan di sana, Brianna pasti sedang tersenyum manis sambil menjadi pusat perhatian.

Bersama ibunya, Ledian, Cedric dan juga Meirra.

Brianna pasti sedang menikmati waktu yang bahagia, dikelilingi semua orang yang memperhatikannya, menebarkan senyum cantiknya—berbeda dengan Violet.

Mungkin para gadis dari kalangan rakyat jelata seperti Violet bahkan akan mengagumi kecantikan Brianna.

Rambut pirang yang jelas menunjukkan darah bangsawan, serta wajah cantik seperti boneka.

Brianna pasti akan menjadi idola bagi para gadis.

Saat memikirkan hal itu, Violet baru menyadari bahwa dirinya berada di sebuah perpustakaan yang tidak pernah dikunjungi siapa pun, tanpa seorang pun di sisinya.

Apakah Brianna memang ingin membuatnya menyadari kenyataan seperti ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!