NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Jangan Menghalangi Jalan

Suara klakson motor butut itu menggema di tengah gurun.

Karena kabelnya sudah tua dan hampir putus, bunyinya sama sekali tidak terdengar normal.

“Tiit—gak!” ( klaksonnya rusakk wkwkwk🤣 )

Suara serak dan sumbang itu justru terdengar seperti jeritan besi yang sedang sekarat.

Adrian memelintir gas sambil terus membunyikan klakson.

“Yang di depan! Minggir!”

Dia berteriak dalam bahasa Inggris.

“Jangan parkir sembarangan di tengah jalan! Saya sedang kerja!”

Suasana di medan pertempuran mendadak hening.

Pemimpin kecil Blood Viper yang sedang mengisap cerutu membeku.

Dia bahkan sempat mengorek telinganya, memastikan dirinya tidak salah dengar.

Seorang pemuda dengan motor hampir rongsok, mengenakan helm anak-anak berwarna merah muda, baru saja menerobos masuk ke wilayah mereka.

Dan bukannya takut...

Dia malah menyuruh mereka minggir karena menghalangi jalan.

“Fuck!”

Pemimpin itu akhirnya meledak.

Dia melempar cerutunya ke pasir dan menunjuk Adrian dengan wajah merah padam.

“Bunuh dia!”

“Hancurkan motor itu sekalian!”

Penembak senapan mesin yang sejak tadi berada di atas salah satu kendaraan langsung menyeringai.

“Dengan senang hati!”

Tangannya segera menarik pelatuk.

“DADADADADADAD!”

Rentetan peluru berkaliber besar langsung menyapu gurun.

Pasir berhamburan.

Tanah di depan Adrian tercabik menjadi puluhan lubang.

Peluru-peluru itu bergerak seperti hujan logam, mengejar motor tua yang terus melaju.

Sienna yang masih terjatuh di pasir langsung memalingkan wajah.

Dia tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi.

Namun...

Tidak ada ledakan tubuh.

Tidak ada darah.

Tidak ada motor yang hancur.

Di tengah hujan peluru itu, Adrian justru tetap tenang.

Tangan kirinya mengendalikan stang motor.

Tangan kanannya meninggalkan gas.

Dia mengulurkan tangan ke samping.

Ruang kosong di sampingnya beriak.

Sebuah AK-47 muncul begitu saja di tangannya.

[Ruang Penyimpanan Sementara — Penarikan berhasil.]

Adrian bahkan tidak menghentikan motornya.

Motor tua itu masih melaju dengan kecepatan sekitar enam puluh kilometer per jam.

Suspensinya yang rusak membuat tubuhnya terus berguncang.

Namun matanya tetap tenang.

Dia mengangkat AK-47 dengan satu tangan.

Tidak menggunakan bidikan khusus.

Tidak mengambil posisi menembak.

Hanya satu gerakan sederhana.

Klik.

Pengaman dilepas.

Adrian menarik napas pendek.

Lalu—

DOR!

Satu tembakan terdengar.

Hanya satu.

Di tengah suara senapan mesin yang menggelegar, suara itu bahkan nyaris tidak terdengar.

Namun sesaat kemudian...

Suara senapan mesin mendadak berhenti.

Penembaknya membeku.

Sebuah lubang kecil muncul tepat di antara kedua alisnya.

Tubuhnya kehilangan tenaga.

Tangannya terlepas dari senapan mesin.

Bruk!

Tubuh pria itu jatuh dari atas kendaraan dan menghantam pasir.

Hening.

Benar-benar hening.

Bahkan anak buah Blood Viper tidak langsung bereaksi.

Pemimpin mereka menatap mayat itu dengan mata membelalak.

Kemudian pandangannya berpindah kepada Adrian.

Jarak mereka masih ratusan meter.

Motor Adrian terus berguncang di atas jalan gurun.

Orang itu bahkan menembak dengan satu tangan.

Dan hanya dengan satu peluru...

Tepat mengenai kepala.

“Apa-apaan...?”

Untuk pertama kalinya, rasa takut muncul di wajah pemimpin Blood Viper.

Namun Adrian tidak peduli.

Dia terus melaju.

Mesin motor tuanya meraung dan batuk-batuk.

“Tok... tok... tok...”

Asap hitam mengepul dari knalpot.

Beberapa detik kemudian, Adrian sudah mendekati posisi Sienna.

“Ciiit!”

Dia menarik rem depan.

Roda belakang motor bergeser di atas pasir dan membuat lintasan setengah lingkaran sebelum akhirnya berhenti tepat di depan Sienna.

Debu beterbangan.

Sienna sampai harus menutup wajahnya dengan tangan.

Ketika debu mulai turun, dia menatap pria aneh di depannya.

Kaos putih.

Celana pendek bermotif mencolok.

Sandal jepit.

Dan helm anak-anak berwarna merah muda.

Namun di tangannya terdapat AK-47.

Kontras itu benar-benar absurd.

Sienna segera sadar bahwa pria ini mungkin satu-satunya alasan dirinya masih hidup.

Dia menahan rasa sakit di pergelangan kakinya.

Dengan cepat, dia mengangkat satu tangan.

Jari-jarinya membentuk beberapa isyarat taktis.

Dia menunjuk ke arah kendaraan Blood Viper.

Kemudian mengepalkan tangan dan menyilangkan dua jarinya.

Musuh memiliki kekuatan besar. Mundur dengan perlindungan bergantian.

Itulah pesan yang ingin dia sampaikan.

Sienna membuka mulut.

“Kita harus—”

“Bentar.”

Adrian mengangkat tangan.

Sienna terdiam.

Adrian mengangkat kaca helm merah mudanya.

Kemudian dia menatap Sienna dari atas motornya.

“Bisa geser sedikit?”

Sienna membeku.

“...Apa?”

Adrian menunjuk tanah di sampingnya.

“Kamu pas banget tiduran di tempat saya mau putar balik.”

Sienna menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.

Dia baru saja dikejar puluhan orang.

Kakinya terluka.

Dia hampir ditembak mati.

Dan pria yang datang menyelamatkannya justru mengeluhkan bahwa dirinya menghalangi jalan?

“Kita harus pergi!”

Sienna buru-buru berkata.

“Mereka masih banyak! Kita harus mencari tempat berlindung!”

“Pergi?”

Adrian mengerutkan kening.

“Saya sudah jauh-jauh datang ke sini.”

Dia melirik jam digital murah di pergelangan tangannya.

“Kalau sekarang pergi, saya belum dapat uang.”

Sienna terdiam.

“...Uang?”

“Ya.”

Adrian menunjuk ke arah kelompok bersenjata di depan.

“Kerjaan saya.”

Sienna benar-benar tidak mengerti.

Pria ini sedang menghadapi puluhan orang bersenjata lengkap.

Namun yang dipikirkannya justru bayaran pekerjaan.

Adrian kemudian menoleh.

Dia menghitung jumlah musuh secara kasar.

Satu.

Dua.

Lima.

Sepuluh.

Lebih dari dua puluh orang.

Matanya langsung berbinar.

“Lumayan.”

Sienna menatapnya.

“Lumayan?”

Adrian mengangguk puas.

“Target kerja bertambah.”

Dia turun dari motor.

Klik.

Magasin AK-47 dilepas.

Sebuah magasin baru muncul dari Ruang Penyimpanan Sementara dan langsung terpasang di tangannya.

Sienna semakin bingung.

“Kamu sebenarnya siapa?”

“Adrian.”

Jawabannya singkat.

Kemudian dia menunjuk sebuah cekungan pasir di samping Sienna.

“Kalau bisa, merangkak sedikit ke sana.”

“Kenapa?”

“Biar tidak menghalangi saya.”

Sienna terdiam selama beberapa detik.

Kemudian dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

Pria ini...

Gila.

Sementara itu, pemimpin Blood Viper akhirnya sadar.

Wajahnya berubah menjadi penuh kemarahan.

Pria asing itu bukan hanya membunuh penembak mereka.

Dia bahkan berbicara dengan Sienna seolah-olah mereka sedang berada di tempat santai.

“Jangan biarkan dia hidup!”

Pemimpin itu meraung.

“Habisi dia!”

Lebih dari dua puluh anggota Blood Viper langsung turun dari kendaraan.

Mereka menyebar.

Gerakan mereka kali ini jauh lebih teratur.

Tidak ada lagi tawa.

Tidak ada lagi sikap meremehkan.

Mereka membentuk formasi setengah lingkaran.

Senapan otomatis diarahkan kepada Adrian.

Pemimpin itu juga tidak sebodoh anak buahnya.

Satu tembakan tadi sudah cukup membuatnya memahami bahwa pria di depannya bukan target biasa.

Dia menarik radio komunikasi.

“Pusat, ini tim patroli.”

“Jalan 04 mengalami kontak dengan target tak dikenal.”

“Target memiliki kemampuan menembak tingkat tinggi.”

Dia berhenti sejenak.

Kemudian berkata dengan nada tegang.

“Kami membutuhkan bantuan berat.”

“Segera kirim kendaraan lapis baja!”

Radio berderak.

“Bantuan sedang bergerak.”

Pemimpin itu mengembuskan napas lega.

Kemudian dia mengangkat tangannya.

“Siap!”

Semua senapan langsung terangkat.

Sienna melihat situasi itu dan wajahnya berubah.

“Adrian!”

Ini pertama kalinya dia memanggil nama pria itu setelah mendengarnya memperkenalkan diri.

“Berlindung!”

Adrian justru berdiri santai.

Dia memeriksa magazin AK-47.

Masih penuh.

Kemudian dia melihat ke arah puluhan moncong senapan yang mulai menyala.

“Wah.”

Sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Kalau begini, lembur saya hari ini lumayan.”

Tangan pemimpin Blood Viper turun.

“Buka—”

DADADADADADAD!

Puluhan senapan menyalak bersamaan.

Peluru-peluru melesat menembus udara dan membentuk tirai kematian yang bergerak menuju Adrian dan Sienna.

Sienna menggertakkan gigi.

Dia meraih pasir dengan kedua tangannya dan memaksa tubuhnya bergerak menuju cekungan.

“Cepat berlindung!”

Namun Adrian masih berdiri.

Tatapannya berubah.

Bukan takut.

Bukan panik.

Melainkan fokus.

Instingnya tiba-tiba menangkap sesuatu.

Bahaya.

Kemampuan Prediksi Krisis Tingkat Dasar yang baru diperolehnya aktif.

Dalam sepersekian detik, dunia seolah melambat.

Lintasan peluru.

Posisi kendaraan.

Jarak antar penembak.

Batu besar di sebelah kanan.

Cekungan pasir di belakang.

Semuanya tersusun jelas di dalam pikirannya.

Adrian menggeser satu langkah.

Satu peluru melintas beberapa sentimeter dari telinganya.

Dia menunduk.

Dua peluru lainnya lewat di atas kepalanya.

Kemudian tubuhnya bergerak.

Cepat.

Sangat cepat.

Adrian menerobos di antara rentetan peluru sambil tetap menggenggam AK-47.

“Sekarang giliran saya.”

Dia mengangkat senjatanya.

Tatapannya mengarah tepat kepada barisan Blood Viper.

Dan untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai...

orang-orang Blood Viper menyadari sesuatu yang sangat mengerikan.

Mereka bukan sedang memburu Adrian.

Mereka baru saja menjadi targetnya.

- Catatan Author:

Pembaca sekalian, ada satu pelajaran penting dari bab kali ini.

Kalau kalian melihat orang memakai helm anak-anak warna merah muda, sandal jepit, naik motor hampir rongsok, sambil membawa dua dus mi instan...

Jangan ditertawakan.

Karena bisa jadi dia bukan orang gila.

Bisa jadi dia sedang berangkat kerja. 😂

Dan kalau kalian kebetulan menjadi anggota Blood Viper lalu melihat orang seperti itu datang ke markas kalian...

Saran Author: jangan tanya dia mau ke mana. Langsung minggir.

Karena Adrian datang bukan untuk mencari masalah.

Dia cuma ingin menyelesaikan pekerjaan, mendapatkan 15 miliar, lalu pulang makan mi instan dengan tenang. 🤣

Sementara Sienna mungkin sedang berpikir:

“Kenapa orang yang datang menyelamatkanku justru lebih aneh daripada musuh yang mengejar ku?”

Jadi, menurut kalian...

Adrian ini sebenarnya pekerja keras, orang gila, atau calon karyawan terbaik sepanjang sejarah? 😂🔥

diskusi di kolom komentar 🤣

1
Aisyah Suyuti
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!