Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Badai Terakhir Sebelum Teduh
Langit pagi itu kelabu, seolah ikut merasakan ketegangan yang tiba-tiba menyelimuti kembali kediaman Adhyaksa. Kabar yang dinanti sekaligus dikhawatirkan akhirnya tiba: Dimas Pratama dan Aisyah telah resmi melancarkan serangan terakhir mereka. Melalui berita utama di koran dan laman berita daring, mereka menyebarkan tuduhan serius—mengklaim bahwa Argan melakukan kecurangan dalam pengelolaan perusahaan, dan bahwa pernikahannya dengan Aruna hanyalah skandal yang disembunyikan demi menutupi kesalahan-kesalahan besar.
Seluruh kota seketika berbicara tentang hal itu. Para investor mulai gelisah, saham perusahaan kembali turun tajam, dan pertanyaan-pertanyaan tajam mulai menghujani Argan dari segala arah.
Aruna menemui Argan di ruang kerjanya yang tertutup rapat. Pria itu duduk diam di balik meja, menatap layar ponsel yang menampilkan berita-berita buruk itu satu per satu. Wajahnya tak lagi tenang seperti biasanya, namun tak ada jejak keputusasaan di matanya—yang ada hanyalah kemarahan bercampur kesedihan yang mendalam.
“Mereka berani sekali melangkah sejauh ini,” ucap Argan pelan, suaranya berat namun tegas. “Mereka tahu tuduhan ini tidak benar, namun mereka tetap melakukannya. Karena mereka berpikir dengan menjatuhkan nama baikku, mereka bisa mengambil alih perusahaan tanpa perlawanan.”
Aruna melangkah mendekat, meletakkan tangannya di bahu Argan. “Mereka berbohong, dan kebenaran pasti akan terungkap. Kita punya bukti-bukti yang membuktikan sebaliknya, bukan?”
“Bukti itu ada,” jawab Argan sambil menatap tajam ke arah jendela yang tertutup tirai. “Tapi menyebarkan kebohongan jauh lebih cepat daripada membersihkannya. Saat kebenaran siap tampil, banyak orang sudah lebih dulu percaya pada kebohongan itu. Dan kerusakan yang ditimbulkan bisa sangat besar.”
Hari-hari berikutnya berlalu bagai badai yang tak kunjung reda. Argan dan timnya bekerja siang dan malam, menyusun laporan, mengumpulkan bukti, serta berkoordinasi dengan pengacara dan pihak berwenang. Aruna tak tinggal diam. Ia membantu memilah dokumen-dokumen penting, memastikan tak ada satu pun yang terlewat, dan menjadi tempat beristirahat bagi Argan saat lelah mulai menyergap tubuh dan pikirannya.
“Simpan kekuatanmu, Argan,” bisiknya saat melihat pria itu memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. “Ini memang badai yang dahsyat. Tapi ingatlah, badai paling hebat pun pasti berlalu. Dan setelah itu, langit akan kembali jernih.”
Argan menatapnya lekat, lalu meraih tangan gadis itu dan menempelkannya ke pipinya. “Kau tahu apa yang paling membuatku takut sekarang? Bukan kehilangan perusahaan atau harta benda. Yang membuatku takut adalah jika mereka menyakitimu karena ingin melukai hatiku. Kau tak bersalah dalam hal ini, Aruna. Kau tak pantas menerima keburukan yang ditimbulkan oleh kakakmu dan orang jahat itu.”
Aruna tersenyum tipis, lalu mengusap wajah Argan dengan lembut. “Saya tidak akan pergi, Argan. Biarkan badai datang sekuat tenaganya. Selama kita berdiri bersama, tak ada yang mampu merobohkan kita. Kebohongan mereka hanyalah angin yang berhembus sesaat. Tapi kebenaran yang kita pegang adalah batu karang yang tak akan goyah walau diterjang ombak beribu kali.”
Kata-kata itu menenangkan hati Argan. Ia kembali menguatkan tekadnya. Ia tidak akan membiarkan kejahatan menang. Ia tidak akan membiarkan ketulusan Aruna sia-sia.
Pada hari ketujuh, saat tekanan hampir mencapai puncaknya, kebenaran akhirnya mulai terungkap. Bukti-bukti yang dikumpulkan Argan dan timnya cukup kuat untuk membantah setiap tuduhan yang dilontarkan. Rekaman percakapan, jejak data, serta saksi-saksi yang mengetahui rencana jahat Dimas dan Aisyah mulai muncul satu per satu. Perlahan namun pasti, keseimbangan mulai berbalik. Publik mulai menyadari bahwa selama ini merekalah yang telah dibohongi.
Saat berita pembantahan resmi disebarkan dan bukti-bukti dipajang secara terbuka, suasana berubah drastis. Yang tadinya menghujat kini mulai meminta maaf. Yang tadinya ragu kini kembali percaya. Namun yang paling penting, Argan dan Aruna tetap berdiri tegak—tak goyah, tak menyerah, dan tak pernah saling meninggalkan.
Malam itu, setelah segalanya mulai mereda, mereka duduk bersama di teras rumah, menatap langit yang kini mulai bersih kembali. Bintang-bintang tampak kembali bersinar terang, seolah menandakan bahwa masa-masa sulit telah berlalu.
“Badai terakhir telah berlalu,” ucap Argan pelan sambil menggenggam tangan Aruna erat di pangkuannya. “Mereka gagal menjatuhkan kita. Dan justru sebaliknya... kita semakin kuat setelah melewatinya.”
“Karena kita menghadapinya bersama,” jawab Aruna lembut. “Setiap badai datang untuk menguji seberapa kuat ikatan yang kita miliki. Dan hari ini kita tahu... tak ada badai yang mampu memisahkan kita.”
Argan menarik napas panjang, merasakan kedamaian yang kembali menyelimuti hatinya. Ancaman dari Dimas dan Aisyah belum sepenuhnya hilang—mereka masih harus menghadapi proses hukum dan penyelesaian sengketa yang masih berjalan. Namun ia yakin, setelah melewati badai terberat ini, tak ada lagi yang perlu ditakuti. Karena di sampingnya berdiri seseorang yang tak pernah lari saat angin bertiup kencang, dan karena kebenaran serta kasih sayang yang tulus pada akhirnya akan selalu menang.
Lanjut ke Bab 20?