Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Kenapa orang ini malah menikmatinya?!"
Pemimpin geng perundung itu berteriak dengan wajah berkerut jijik.
Ia menginjak bahu Lisa yang terkapar di lantai kamar mandi sekolah yang basah dan kotor.
Namun, bukannya meringis atau memohon ampun, Lisa yang tengkurap justru memiringkan kepalanya.
Dari balik kacamatanya yang retak dan rambutnya yang lepek oleh air keruh, sudut bibirnya terangkat membentuk ukiran senyuman tipis yang mengerikan.
Pupil matanya melebar, memancarkan kepuasan aneh.
"Lagi..." bisik Lisa dengan suara serak yang tenang. "Tekan lebih keras... Hantam lagi..."
Anak-anak nakal yang berdiri di sekelilingnya mendadak terdiam kaku.
Rasa superioritas yang biasanya mereka rasakan saat menyiksa murid lain seketika menguap, berganti dengan bulu kuduk yang berdiri tegak.
Sensasi tidak nyaman dan rasa takut yang menjalar membuat mereka mundur beberapa langkah.
"Gila... ini anak benar-benar gila," gumam salah satu dari mereka, suaranya gemetar.
"Lebih baik kita pergi, biarkan saja dia. Sepertinya dia cuma orang gila," ucap si pemimpin geng dengan terburu-buru, mencoba menutupi rasa takut yang mulai menguasainya.
Tanpa membuang waktu lagi, mereka berempat berbalik dan berhamburan keluar dari kamar mandi, meninggalkan Lisa sendirian.
Suasana kamar mandi kembali hening, hanya diselingi suara tetesan air dari keran yang bocor.
Lisa perlahan duduk di lantai dingin. Pakaian seragamnya basah kuyup, lengannya dipenuhi memar biru, dan sudut bibirnya meneteskan darah tipis.
Ia melepas kacamatanya, mengusap kacanya yang kotor ke kemejanya yang basah, lalu memasangnya kembali.
Raut wajahnya berubah total,kembali datar, dingin, dan tanpa ekspresi.
"Ah... mereka tidak seru," gumam Lisa kecewa sambil menghembuskan napas panjang. "Ya sudahlah. Sebentar lagi pekerjaan ini selesai."
Malam harinya, di rumah kediaman Nathan.
Lampu meja menyala terang menerangi tumpukan berkas yang berserakan di atas meja kerja.
Nathan duduk bersandar di kursinya, memperhatikan layar monitor laptop yang memutar ulang rekaman video dari kamera yang ia pasang di sudut-sudut sekolah.
Di samping laptop, tertumpuk dokumen visum medis Sintia, bukti transfer uang pemerasan dari ponsel para pelaku, serta salinan rekaman penyiksaan terhadap Lisa selama beberapa waktu terakhir.
Nathan memijat pelipisnya yang berdenyut. Secara moral, ia sadar bahwa metode yang ia gunakan, menjadikan Lisa sebagai umpan, terkesan buruk dan manipulatif.
Namun dalam realita hukum, menghadapi anak-anak dari keluarga berpengaruh yang berlindung di balik status "di bawah umur" membutuhkan bukti yang sangat mutlak tanpa celah sedikit pun.
"Semuanya sudah siap," batin Nathan mantap.
"Aku hanya tinggal memproses semua berkas ini ke kejaksaan dan mengurus pemulihan hidup anak itu."
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu depan memecah keheningan malam.
Nathan menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Siapa malam-malam begini?" gumamnya heran.
Nathan berdiri, berjalan menuju pintu depan, lalu memutar gagang pintu.
Saat pintu terbuka, berdiri sosok Lisa di sana.
Wanita itu mengenakan kaos oblong longgar dan celana kain sederhana.
Luka lebam di pipi dan pelipisnya terlihat sangat jelas di bawah sorotan lampu teras.
"Hai," sapa Lisa datar.
Nathan melotot kaget. "Hah? Kenapa kamu ke sini? Sudah aku bilang ke rumah sakit! Aku jadi merasa bersalah... seharusnya aku tidak membiarkan mereka berbuat seberlebihan ini padamu. Maafkan aku."
Lisa memperbaiki posisi kacamatanya yang tebal dengan gaya santai. "Tidak apa-apa. Aku senang bisa bekerja seperti ini. Kapan lagi aku dibayar tinggi hanya untuk bersenang-senang?"
Nathan menghela napas panjang, meraup wajahnya dengan telapak tangan.
Ia meraih pergelangan tangan Lisa dan menariknya masuk ke dalam rumah. "Kamu ini benar-benar wanita yang aneh. Sepertinya kamu harus aku bawa ke psikolog."
"Tidak perlu. Aku normal," sahut Lisa santai sambil berjalan menuju kursi.