NovelToon NovelToon
Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / Pengasuh / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Stellune

Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Telepon dari Salsa datang saat Naura sedang menyiapkan sup untuk Arkan.

Nama adiknya muncul di layar, bersama foto profil perempuan muda bermata cerah dengan rambut sebahu. Di keluarga asal, nama lahirnya Salsabila nyaris tidak pernah dipanggil lembut. Setelah diangkat anak oleh keluarga Pak Beni dan Bu Lilis, ia menjadi Salsa yang lebih bebas bernapas.

Naura mengangkat dengan senyum kecil.

"Sa?"

Di seberang, suara Salsa terdengar terlalu ceria.

"Kak, lagi sibuk?"

Naura langsung tahu ada yang salah.

Salsa selalu terlalu ceria ketika sedang takut.

"Aku sedang kerja, tapi bisa bicara. Ada apa?"

"Nggak apa-apa. Cuma..."

Ada suara ramai di belakang. Musik pelan, tawa laki-laki, denting gelas.

Naura meletakkan sendok.

"Kamu di mana?"

"Acara makan sama tim produksi."

"Sekarang?"

"Iya. Habis reading. Kak, aku..."

Suara Salsa mengecil.

Lalu terdengar suara perempuan lain. "Salsa, sini dong. Produser nunggu."

Salsa menjawab jauh dari ponsel, "Iya, sebentar."

Naura berdiri lebih tegak.

"Sa, kirim lokasi."

"Kak, nggak usah. Aku bisa..."

"Kirim lokasi sekarang."

Salsa diam sebentar.

"Kakak jangan marah."

"Aku belum marah."

"Itu artinya sebentar lagi."

Naura menutup mata. "Lokasi."

Beberapa detik kemudian, lokasi masuk. Sebuah restoran lounge di Senopati.

Naura membuka chat Rani.

`Aku butuh bantuan. Salsa di acara produksi, sepertinya ada masalah. Aku kirim lokasi.`

Rani membalas dalam hitungan detik.

`Aku meluncur. Bawa helm emosional.`

Naura hampir tertawa, tapi tidak sempat.

Ia harus izin.

Arkan turun dari lantai dua saat Naura melepas apron.

"Ada masalah?"

"Adik saya."

"Salsa?"

Naura terkejut. "Bapak ingat?"

"Kamu pernah menyebut."

Ia bahkan tidak sadar pernah bercerita. Mungkin saat Bu Marini bertanya tentang keluarga yang ia pilih.

"Dia di acara produksi. Saya harus menjemput."

Arkan mengambil kunci mobil tanpa bertanya lagi.

"Saya antar."

"Tidak perlu. Saya bisa pesan..."

"Naura."

Satu kata.

Naura berhenti.

Wajah Arkan tidak memberi ruang basa-basi. Bukan memaksa untuk menguasai, melainkan sudah masuk mode krisis.

"Kamu tidak tahu situasi di sana. Kalau terjadi sesuatu, lebih baik kamu tidak datang sendirian."

Naura ingin menolak.

Lalu teringat restoran, laki-laki mabuk, produser, kontrak, karier adiknya yang baru mulai.

"Baik."

Di mobil, Naura menghubungi Salsa lagi. Tidak diangkat.

Ia mengirim pesan:

`Jangan minum apa pun. Jangan tanda tangan apa pun. Aku datang.`

Pesan centang dua, tidak dibalas.

Arkan mengemudi lebih cepat dari biasa, tetapi tetap terkendali.

"Salsa aktris?"

"Baru mulai. Peran pendukung di web series."

"Agensi?"

"Kecil. Manajernya ikut, tapi aku tidak yakin bisa melindungi dia."

"Produser siapa?"

Naura membuka info dari Salsa. "Tama Wiratama."

Arkan mengerutkan dahi.

"Saya tahu."

"Bagaimana?"

"Investor di beberapa proyek hiburan. Reputasinya buruk kalau minum."

Darah Naura terasa dingin.

Arkan meliriknya. "Kita akan sampai dalam dua belas menit."

"Saya harus masuk sendiri."

"Tidak."

"Pak Arkan, kalau Bapak masuk, masalahnya bisa melebar."

"Kalau kamu masuk sendiri, masalahnya bisa membahayakan."

Naura menatapnya.

Arkan melanjutkan, "Saya tidak akan bicara dulu. Kamu pimpin. Saya di belakang."

Kalimat itu membuat Naura diam.

Kamu pimpin.

Ia mengangguk.

Ketika mereka sampai, Rani sudah berdiri di depan restoran, memakai blazer kantor dan wajah siap perang.

Begitu melihat Arkan turun dari mobil, Rani membeku.

"Pak Arkan?"

Arkan mengangguk. "Rani."

Rani menatap Naura dengan mata melebar.

Naura berkata cepat, "Nanti."

"Harus panjang nanti-nya."

"Rani."

"Oke. Fokus."

Mereka masuk bertiga.

Restoran itu remang, mahal, dan terlalu berisik untuk makan malam kerja biasa. Di salah satu ruang VIP, suara tawa terdengar keras.

Naura menyebut nama Salsa kepada staf. Mungkin karena melihat Arkan di belakangnya, staf tidak banyak bertanya dan langsung mengantar.

Pintu ruang VIP terbuka.

Di dalam, ada sekitar dua belas orang. Beberapa aktor muda, dua perempuan yang tampak seperti manajer, sutradara, dan seorang laki-laki gemuk berwajah merah yang memegang gelas.

Salsa duduk di sisi tengah. Wajahnya tegang, senyumnya kaku. Di depannya ada gelas berisi minuman yang belum disentuh.

Laki-laki gemuk itu sedang berkata, "Salsa, masa segelas saja tidak mau? Kamu mau masuk industri ini tapi tidak bisa menghargai orang?"

Naura masuk.

"Dia tidak perlu minum."

Semua kepala menoleh.

Salsa langsung berdiri. "Kak."

Tama Wiratama menatap Naura dari atas sampai bawah.

"Ini siapa?"

Naura berjalan ke sisi Salsa.

"Kakaknya."

Salah satu aktris muda berbisik, "Cantik banget."

Rani masuk di belakang dengan wajah galak. Arkan berdiri dekat pintu, diam. Kehadirannya belum dikenali semua orang, tetapi auranya membuat ruangan sedikit menegang.

Tama tertawa.

"Kakak? Wah, tambah ramai. Duduk, Mbak. Kita lagi santai."

"Saya jemput adik saya."

"Tidak bisa begitu. Acara belum selesai."

Naura menatap meja. Ada beberapa botol minuman, kontrak tambahan, dan ponsel yang merekam story.

"Acara kerja atau acara minum?"

Wajah Tama berubah.

Manajer Salsa buru-buru berdiri. "Mbak Naura, maaf, ini cuma salah paham. Pak Tama hanya..."

"Memaksa aktris baru minum?"

Ruangan hening.

Tama meletakkan gelas keras di meja.

"Mbak, jangan sok suci. Di dunia entertainment, relasi itu penting. Kalau adikmu terlalu kaku, susah maju."

Salsa menggenggam tangan Naura.

Tangannya dingin.

Naura menepuknya pelan.

"Kalau karier harus dibeli dengan membiarkan produser mabuk memaksa minum, lebih baik dia tidak maju lewat jalan itu."

Tama berdiri.

"Kamu tahu saya siapa?"

Sebelum Naura menjawab, Arkan melangkah maju sedikit.

Cahaya ruangan mengenai wajahnya.

Sutradara yang duduk di ujung meja langsung pucat.

"Pak Arkan?"

Tama menoleh.

Wajah merahnya berubah.

Arkan tidak menaikkan suara.

"Saya juga ingin tahu, Pak Tama. Anda siapa sampai merasa berhak memaksa perempuan minum untuk mendapat pekerjaan?"

Ruangan mendadak beku.

Rani berbisik di telinga Naura, "Aku mulai suka plot ini."

Naura ingin menyikutnya, tapi situasinya terlalu tegang.

Tama mencoba tersenyum. "Pak Arkan, ini salah paham. Kami hanya bercanda."

Arkan menatap gelas di depan Salsa.

"Bercanda yang membuat orang takut biasanya bukan bercanda."

Tama kehilangan kata.

Naura mengambil tas Salsa.

"Kita pulang."

Salsa mengangguk cepat.

Namun saat mereka hendak keluar, seorang aktris bernama Vika tiba-tiba berkata dengan nada sinis, "Enak ya punya kakak backing-an orang kaya. Pendatang baru tapi gayanya seperti bintang utama."

Salsa berhenti.

Naura menoleh pelan.

Ia menatap Vika.

"Namamu Vika, kan?"

Perempuan itu terkejut. "Kenapa?"

"Agensimu masih di bawah Nawasena Entertainment?"

Wajah Vika berubah.

Naura tersenyum tipis. "Aku pernah mengurus due diligence Nawasena waktu mereka mencari pendanaan. Kalau kamu ingin membahas backing, kita bisa bahas siapa saja yang selama ini membuat kariermu tetap berjalan."

Vika langsung diam.

Rani menatap Naura dengan mata berbinar.

"Astaga, aku rindu mode corporate kamu."

Naura tidak menanggapi.

Ia membawa Salsa keluar.

Di koridor, Salsa langsung memeluknya.

"Kak, maaf."

Naura memeluk balik.

"Tidak perlu minta maaf karena hampir dijebak orang."

Salsa gemetar.

Arkan berdiri beberapa langkah di belakang, memberi ruang.

Namun matanya tetap mengawasi sekitar.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Naura merasa masa lalunya di dunia corporate yang pahit bisa menjadi pisau untuk melindungi orang yang ia sayang.

Dan kali ini, ia tidak menggunakannya sendirian.

1
Rahman Hayati
mantul lanjut terus
jgn setengah 2 ya
Lili Inggrid
ceritanya bagus
Yusar bin ajo
cerita yg sangat bagus sekali
Yusar bin ajo
semangat ya author ceritanya sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!