NovelToon NovelToon
DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sasip

Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:

"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian II)

...Rahasia yang Disimpan oleh Para Tetua...

..."Ada rahasia yang disembunyikan karena takut kehilangan kuasa. Namun ada pula rahasia yang disimpan karena kasih belum menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkannya."...

^^^—Petuah Burung Erung^^^

Keheningan menyelimuti Balai Hasurungan. Pertanyaan Deak masih bergantung di udara, seakan menjadi benang yang belum selesai ditenun.

..."Kalau Banua Tonga adalah bagian dari ciptaan Mulajadi Nabolon... mengapa kita hanya menjaganya dari kejauhan?"...

Tak ada satu pun tetua yang segera menjawab.

Nyala api di tengah balairung berpendar pelan. Asapnya naik membentuk pusaran yang menghilang di antara sulur-sulur Hariara Bolon yang menjadi atap alami tempat itu.

Burung Erung memejamkan mata. Nai Tonun menghentikan jemarinya yang sedang menenun. Ompu Tiktik membiarkan Jam Pasir Bintang tetap diam. Keheningan itu sendiri terasa seperti sebuah jawaban.

Beberapa saat kemudian, langkah kaki yang berat terdengar dari pintu balairung. Seorang tetua lain memasuki ruangan.

Tubuhnya tinggi dan tegap, meski rambutnya telah seputih awan musim dingin. Jubahnya berwarna kelabu tua dengan sulaman tiga garis hitam yang melingkar di lengan dan dada. Di pinggangnya tergantung sebilah tongkat pendek dari batu hitam yang telah dipoles halus oleh waktu. Tatapannya teduh, tetapi sulit ditembus.

Semua tetua berdiri memberi hormat. Burung Erung sedikit menundukkan kepala.

"Ompu Ragidup..." bisik Deak.

Inilah pertama kalinya ia bertemu dengan tetua yang namanya hanya sesekali disebut dalam pelajaran-pelajaran terdahulu.

Beliau jarang hadir di acara atau kegiatan pembelajaran yang Deak ikuti. Karena tugasnya memang bukan mengajarkan pengetahuan. Melainkan menjaga hukum-hukum yang telah menopang Banua Ginjang sejak awal penciptaan.

Ompu Ragidup memandang Deak cukup lama. Tidak ada kemarahan di wajahnya yang teduh namun tegas. Hanya kesedihan yang sangat halus.

"Putri. Aku mendengar pertanyaanmu." sapanya kemudian.

Deak membungkuk hormat, Aku tidak bermaksud menentang siapa pun, Opung. Aku hanya ingin menjadi mengerti."

Tetua tua itu tersenyum tipis, "Keinginan untuk mengerti adalah anugerah. Namun... Kamu juga harus memahami kalau tidak semua pintu dibuka pada musim yang sama."

Beliau berjalan perlahan menuju tungku api di tengah balairung. Dengan ujung tongkatnya, beliau menggeser sepotong kayu yang hampir keluar dari nyala. Api kembali seimbang.

"Lihatlah api ini." ujarnya tegas kepada Deak, "Ia memberi terang. Ia memberi hangat. Tetapi jika kayunya didorong terlalu jauh... ia akan padam. Jika terlalu banyak kayu dimasukkan, ia akan membakar habis sekelilingnya"

Beliau menatap Deak, lalu kembali berkata: "Keseimbangan selalu lebih rapuh daripada yang tampak."

Deak mendengarkan dengan hormat. Namun kobar pertanyaan di dalam dirinya belum lagi padam dan ia kembali bertanya: "Kalau begitu, siapakah yang menentukan kapan waktunya membuka sebuah pintu?"

Ompu Ragidup tidak langsung menjawab. Beliau justru menatap seluruh penghuni balairung.

"Sebelum engkau lahir, Putri... kami pernah mengajukan pertanyaan yang sama."

Deak terkejut tidak percaya, "Opung juga pernah ingin pergi ke Banua Tonga?"

Beliau mengangguk pelan dan menjawab: "Aku, Ompu Sinar, Nai Api. Bahkan Burung Erung. Kami semua pernah berdiri di Tebing Pamatang Langit. Semua pernah mendengar samudra itu memanggil. Semua pernah bertanya apakah dunia yang kosong seharusnya dibiarkan kosong."

Mata Deak membesar dan ia kembali bertanya: "Lalu, mengapa Opung tidak pergi?"

Ompu Ragidup memejamkan mata sejenak, lalu menjawab jujur: "Karena kami melihat sesuatu."

Seluruh balairung kembali hening. Deak merasakan bulu kuduknya berdiri ketika kembali bertanya: "Apa yang Opung lihat?"

Tetua tua itu memandang ke arah akar Hariara Bolon yang menjulur jauh ke bawah sesaat sebelum akhirnya menjawab: "Bayangan. Bukan bayangan yang jahat. Bukan pula bayangan yang seakan ingin menghancurkan. Melainkan bayangan dari sebuah masa depan."

Beliau menarik napas panjang dan kembali melanjutkan penjelasannya: "Kami melihat bahwa jika keseimbangan terganggu sebelum waktunya... langit dapat saja menjadi retak, air dapat meluap dan kehidupan yang belum sempat lahir bisa lenyap."

Deak mencoba memahami. Namun justru semakin banyak pertanyaan bermunculan di kepala mungilnya itu dan ia kembali bertanya: "Kalau begitu... bukankah cara terbaik menjaga keseimbangan adalah memahami apa yang ada di sana?"

Ompu Ragidup terdiam. Pertanyaan itu sederhana. Namun sangat tidak mudah untuk dijawab.

Burung Erung perlahan membuka matanya. Ia memandang Deak dengan bangga. Bukan karena pernyataan Deak mengandung kebenaran, melainkan karena ia bertanya bukan untuk membantah. Ia bertanya murni karena kesungguhan untuk dapat mengerti dengan lebih baik.

Nai Api melangkah mendekat dengan perlahan. Rambut apinya menyala lembut ketika berujar: "Putri... Terkadang kasih bukan berarti selalu mendekati. Perwujudan kasih juga dapat berarti menunggu."

Deak menatap beliau dan kembali bertanya: "Tetapi bagaimana jika yang menunggu itu justru sedang kesepian dan berharap segera dihampiri?"

Kalimat itu membuat Nai Api membeku. Tidak ada lagi jawaban yang dapat keluar dari bibirnya.

...****************...

Di luar Balai Hasurungan, awan mulai bergerak perlahan menutupi sinaran sang Mentari. Parmanurung Rambu menghentikan tarian mereka sejenak. Parhobas Rambu yang sedang memperbaiki lengkung pelangi ikut menoleh ke arah balairung. Bahkan Siboru Rintik menghentikan pekerjaannya mengumpulkan tetesan embun di telapak tangannya.

Seolah seluruh Banua Ginjang ikut mendengarkan percakapan penuh pertanyaan itu.

Ompu Sada Uluan yang sejak tadi hanya diam akhirnya berdiri. Beliau mengambil tiga batu kecil dari dekat tungku. Lalu meletakkannya di hadapan Deak dan berkata: "Sebutkan apa yang telah engkau pelajari Putri."

Deak menjawab tanpa ragu, "Dalihan Na Tolu. Tiga penyangga kehidupan. Kasih kepada Mulajadi Nabolon. Kasih kepada sesama. Kasih kepada alam."

Ompu Sada Uluan mengangguk dan kembali berkata: "Lalu katakan kepadaku... apakah Banua Tonga bukan bagian dari alam?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Tidak ditujukan untuk menjebak. Tidak pula untuk menyalahkan. Namun seluruh tetua kembali saling berpandangan.

Bahkan Ompu Ragidup menundukkan kepala. Karena mereka kini menyadari, untuk pertama kalinya sejak ribuan musim, pertanyaan Deak tidak lagi datang sendirian. Kini ia telah menemukan gema dari salah seorang tetua yang paling mereka hormati.

...****************...

Menjelang malam, sidang ditutup tanpa keputusan.

Para tetua terlihat bergerak kembali ke kediaman masing-masing. Namun wajah mereka tidak lagi setenang sebelumnya.

Burung Erung berdiri seorang diri di tepi Hariara Bolon. Ia memandang Banua Tonga yang berkilau diterpa cahaya rembulan. Di balik keheningan itu, ia mendengar sesuatu yang sangat dikenalnya. Bukan suara laut. Bukan pula suara angin. Melainkan suara takdir.

Ia berbisik sangat pelan, seolah hanya semesta yang boleh mendengarnya, "Benih itu... akhirnya mulai bertunas."

Dan jauh di kedalaman Banua Toru, mata Naga Padoha kembali terbuka dan untuk pertama kalinya, senyum tipis terlihat di sudut wajah sang naga purba itu. Bukan sebuah senyum kemenangan, tetapi senyuman seseorang yang mengetahui bahwa roda semesta akhirnya mulai berputar menuju babak yang telah lama dinantikannya.

...****************...

Horas! 🌿

Mauliate godang.. 🤎

📖 Bersambung ke Bab 12 – Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua

1
MayAyunda
mampir kak ..cerita bagus ..lanjut
B042
unyu² sekali siula yak.. 😍
sasip
mohon maaf kalau terasa aneh, namanya jg imajinasi penulis.. semoga suka ya walau aga aneh.. 🙏🏻
Zed Analytical Number Nine
warna kelopak nya indah
sasip: terima kasih.. seindah dukungan kakak loh.. 😍
total 1 replies
Tio Buki
Moga lancar ya thor🙏🙏🙏
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Siapakah dia, siapa namanya?????
Tio Buki: Kisah Sumatra ya. Tapa nuli, atau Toraja nih.
total 2 replies
Tio Buki
Iya, seperti itu
Tio Buki
Oh, begitu ya
Tio Buki: Oke dek. Semangat ya🙏
total 2 replies
Tio Buki
Aneh
Tio Buki
Kok begitu
Tio Buki: Oh begitu ya dek
total 2 replies
MayAyunda
lanjut kak keren
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
B042
cakep² ish gambarnya.. 😍
B042
ternyata bukan manusia yg mempunyai perasaan, tapi perasaanlah yg mempunyai pemilik.. seperti kesunyian atau kesendirian, apakah bisa dimiliki bersama² yak? secara kalo bareng² memilikinya, enggak sendiri dunks ya itu artinya..
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
B042
bagus banged ya kalau manusia bisa berkomunikasi dg alam.. jadi keinget sama mba rara neh.. wkwkwkwkwk..
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/
B042
wow banyak mahluk² ajaibnya.. 😍🥰😘
B042
KEREN..
B042
Ulos adalah kain tenun tradisional Batak (Sumatra Utara) yang melambangkan kehangatan, perlindungan, dan kasih sayang. Dikenal sebagai "pengikat kasih sayang," kain ini sakral dalam budaya Batak karena mendampingi setiap fase kehidupan manusia—mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. (mbah google) 😉
B042
part ini mengingatkan pada sekolah alam yg sempet hapapening beberapa waktu yg lalu itu ya.. 😆😋😏
B042
"air menyimpan kenangan dan ia akan selalu mengingat", jadi kebayang film Frozen 2 yak? macam dengar kata² Olaf gitu deh.. 😋😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!