"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Setelah berbincang sebentar dan mengucapkan terima kasih sekali lagi, Abi memutuskan untuk pamit pulang. Ia mengunci kembali pintu rumah barunya, lalu menaiki motor sambil membawa wadah kue pemberian keluarga Pak Darno.
Sesampainya di rumah, Abi memarkirkan motor di halaman. Dari kejauhan, terlihat Akbar dan Aqil sedang asyik bermain kejar-kejaran di pinggir jalan depan rumah. Udara siang itu mulai agak sepi, namun beberapa kendaraan sesekali melintas dengan lumayan kencang.
"Bar, Qil! Mainnya jangan di dekat jalanan, nak! Di halaman saja!" teriak Abi mengingatkan sambil melangkah membawa tempat kue ke arah teras.
Namun, anak-anak yang sedang asyik bermain sering kali lupa dengan peringatan orang tua. Akbar berlari mengejar Aqil yang memegang mainan mobil-mobilannya. Aqil sambil tertawa-tawa melangkah mundur, lalu tiba-tiba berbalik dan berlari kencang bermaksud menyeberang ke arah gang seberang.
"Aqil, awas!" jerit Akbar mendadak.
Dari arah tikungan gang, sebuah sepeda motor melaju lumayan kencang. Pengendaranya kaget melihat bocah kecil mendadak muncul berlari di tengah jalan.
Ciiiiithhh!
Suara rem berdecit tajam membelah kesunyian siang. Pengendara motor berusaha membanting stang, namun jaraknya sudah terlalu dekat. Bagian samping motor menyenggol tubuh mungil Aqil hingga bocah itu terpental dan jatuh menghantam batu pembatas jalan di pinggir gang.
KLEK! BRUK!
"Akillll!" teriak Abi histeris. Tempat kue di tangannya terlepas begitu saja hingga isinya berserakan di tanah.
Kepala Aqil terbentur keras pada batu tajam itu sebelum tubuh kecilnya terkulai di tanah. Seketika darah segar berwarna merah pekat mengalir dari pelipis dan keningnya, membasahi wajah dan baju kaos mungilnya.
Abi berlari bagai kesetanan menghampiri anak bungsunya. Panik luar biasa menjalar hingga ke ujung jari, dadanya terasa seperti dihantam beban berat saat melihat darah mengalir di wajah anak kecilnya.
"Akil! Ya Allah, Nak! Akil!" Abi merengkuh tubuh mungil Aqil yang mulai menangis histeris dengan suara melengking menahan sakit. Tangannya yang gemetaran mencoba menahan aliran darah di kening sang bungsu menggunakan lengan kemejanya.
Pengendara motor buru-buru turun dengan wajah pucat pasi. "Mas Abi! Maaf Mas, tadi adeknya tiba-tiba lari menyeberang, saya ndak sempat rem..."
Bu Marni yang mendengar jeritan langsung berlari keluar rumah. Ia menjerit tertahan saat melihat darah mengucur di wajah cucu bungsunya.
"Ya Allah, Aqil! Bi, darahnya banyak banget itu!"
Rasa takut kehilangan dan kepanikan hebat membuat pikiran Abi gelap seketika. Emosinya membumbung tinggi. Ia berdiri sambil menggendong rapat Aqil yang terisak hebat dalam pelukannya, lalu menatap tajam ke arah Akbar yang berdiri mematung di pinggir jalan. Wajah bocah itu pucat pasi, matanya membelalak ketakutan melihat adiknya bersimbah darah.
"AKBAR!" bentak Abi dengan suara menggelegar, belum pernah ia membentak putra sulungnya sekasar dan sekeras itu.
"Ayah kan sudah bilang jangan main di dekat jalanan! Kenapa kamu malah ngejar adikmu sampai ke jalan?! Kalau adikmu kenapa-napa gimana, Bar?!"
Akbar gemetaran hebat, air mata langsung menetes deras membasahi pipinya. "A-Akbar ndak sengaja, Ayah... Akbar cuma..."
"Gak ada alasan!" potong Abi panik bercampur amarah yang tak terkontrol, matanya memerah menahan tangis.
"Kamu itu kakak! Harusnya jaga adikmu, bukan malah bikin adikmu sampai berdarah begini!"
"Sudah, Bi! Sudah! Jangan bentak Akbar lagi, dia juga kaget melihat adiknya!" sela Bu Marni cepat sambil merangkul Akbar yang kini menangis sesenggukan ketakutan.
"Sekarang cepat bawa Aqil ke mantri atau puskesmas! Lukanya harus segera diobati, Bi!"
Tiba-tiba sebuah mobil silver pelan melintas di depan rumah. Itu mobil Pak RT yang kebetulan baru kembali dari luar desa. Melihat kerumunan dan kondisi Aqil yang bersimbah darah, Pak RT langsung menghentikan mobilnya dan membuka jendela.
"Ada apa ini, Mas Abi? Astagfirullah, Aqil kenapa?!" tanya Pak RT kaget.
"Pak RT! Tolong, Pak! Anak saya kecelakaan, keningnya berdarah!" seru Abi panik.
"Ayo, ayo naik mobil saya! Cepat kita bawa ke Puskesmas!" tegas Pak RT tanpa membuang waktu.
Abi langsung melangkah cepat membawa Aqil masuk ke dalam mobil Pak RT. Tanpa membuang waktu lagi, Pak RT menancap gas membelah jalanan desa menuju Puskesmas.
Sesampainya di halaman Puskesmas, Abi langsung melompat keluar sambil menggendong rapat Aqil yang terus menangis menahan sakit. Ia berlari panik menerobos pintu instalasi gawat darurat.
"Bu Bidan! Bu Bidan, tolong anak saya!" teriak Abi dengan suara bergetar dan napas memburu.
Bu Bidan yang sedang bertugas bersama perawat kaget dan langsung berlari menghampiri.
"Ya Allah, Mas Abi! Cepat baringkan adeknya di atas kasur periksa!"
Dengan sigap Bu Bidan dan perawat menyiapkan peralatan medis. Luka di kening Aqil dibersihkan dengan cairan antiseptik, membuat bocah kecil itu menjerit kesakitan dan memegang erat jemari Abi.
"Sakit, Yah... Akil sakit..." terisak Aqil pasrah, menyandarkan kepalanya yang dibalut kasa di dada sang ayah.
"Tahan ya, Nak... Tahan sebentar, ada Bu Bidan yang ngobati," bisik Abi lembut, menahan air mata yang hampir menetes melihat anak bungsunya meringis kesakitan.
"Beruntung benturannya tidak meretakkan tulang, Mas Abi. Tapi lukanya lumayan dalam, jadi harus dijahit beberapa jahitan supaya darahnya berhenti," jelas Bu Bidan tenang namun cekatan menyiapkan peralatan jahit medis.
"Lakukan yang terbaik, Bu... Yang penting anak saya selamat," sahut Abi dengan napas masih berhembus kencang.
Proses penjahitan berlangsung dramatis. Aqil menangis histeris sambil memanggil-manggil ayahnya, sementara Abi terus memeluk kepala sang anak, membisikkan doa dan kata-kata penenang meski hatinya sendiri hancur berkeping-keping.
Setelah beberapa jahitan bersarang di keningnya dan perban putih rapi terpasang, tangis Aqil perlahan mereda. Bocah kecil itu mulai kelelahan karena terlalu banyak menangis, hingga akhirnya tertidur lelap dalam dekapan Abi di atas ranjang periksa.
Bu Bidan merapikan sisa kasa berdarah lalu memandang Abi. "Sudah aman ya, Mas Abi. Obat pereda nyeri dan antibiotiknya nanti diminumkan teratur. Biarkan dia istirahat dulu."
"Matur nuwun sangat, Bu Bidan... Pak RT juga, matur nuwun sudah mengantar," bisik Abi lega, dadanya yang tadinya bergemuruh perlahan mulai tenang.
Saat Abi masih memandangi wajah lelap Aqil yang terbaring dengan perban di keningnya, suara langkah kaki terburu-buru dan isak tangis pelan terdengar mendekati pintu ruang perawatan Puskesmas.
Abi menoleh dan melihat Bu Marni masuk sambil menggandeng erat tangan Akbar. Di belakang mereka, tampak Tejo pemuda tetangga desa yang tadi tak sengaja menabrak Aqil berjalan menunduk penuh rasa bersalah dan cemas.
"Bi... Gimana keadaan Aqil, Bi?" tanya Bu Marni.
"Sudah aman, Bu. Tadi sudah dijahit sama Bu Bidan, sekarang anaknya tidur karena capek menangis," jawab Abi pelan.
Mendengar hal itu, Bu Marni mengelus dada lega, mengucap syukur berkali-kali. Sementara Tejo melangkah mendekat dengan wajah pucat pasi.
"Mas Abi... Saya minta maaf banget, Mas," bisik Tejo penuh penyesalan, matanya berkaca-kaca. "Saya bener-bener ndak sengaja. Tadi motor saya memang agak cepat bawa motornya, tapi Dek Aqil mendadak lari menyeberang. Semua biaya pengobatan di sini nanti saya yang tanggung jawab penuh, Mas."
"Ndak apa-apa, Jo. Ini musibah, kamu juga ndak sengaja. Yang penting Aqil sudah ditangani Bu Bidan dan selamat. Matur nuwun ya sudah mau mengantar Ibu sama Akbar ke sini."
Tejo mengangguk lega, matanya berkaca-kaca menatap ketulusan hati Abi yang tidak menaruh dendam padanya.
Namun, perhatian Abi seketika teralih sepenuhnya pada sosok mungil yang berdiri di samping Bu Marni. Akbar berdiri menunduk dalam-dalam, jemari tangannya meremas ujung bajunya erat-erat. Wajah bocah itu masih sembap, matanya merah karena tak berhenti menangis sejak tadi. Ia bahkan tak berani mendongak menatap mata ayahnya, takut kembali dibentak.
Melihat putranya ketakutan seperti itu, dada Abi terasa seperti ditusuk sembilu. Penyesalan hebat merayapi hatinya. Abi perlahan berjongkok di hadapan Akbar, menyamakan tingginya dengan sang putra sulung.
"Mas Akbar..." panggil Abi lembut.
Akbar bergeming sejenak, tubuh kecilnya sedikit gemetaran. Perlahan, ia mendongakkan wajahnya yang penuh air mata, menatap ayahnya dengan rasa takut dan rasa bersalah yang teramat besar.
Begitu tatapan mereka beradu, pertahanan Akbar runtuh seketika. Bocah itu langsung melepaskan genggaman tangan neneknya dan berhambur menubruk pelukan Abi. Akbar meremas kencang kemeja ayahnya, menangis histeris dengan bahu yang naik turun hebat.
"Ayah... hiks... maafin Mas Akbar, Yah! Maafin Mas..." racau Akbar terputus-putus di balik dada Abi, suaranya parau bercampur isak tangis yang begitu pilu.
"Mas Akbar yang salah, Yah... Hiks, tadi Mas Akbar yang ngejar Akil... Mas Akbar ndak bisa jaga Akil... Jangan marahi Mas Akbar lagi, Yah..., Akil jangan mati, Yah... Mas Akbar takut..."
Ocehan polos dan ketakutan luar biasa dari anak enam tahun itu membuat air mata Abi mendadak menetes basah. Abi merengkuh erat tubuh mungil putra sulungnya, mengusap punggung dan kepala Akbar dengan penuh penyesalan.
"Nggak, Nak... Nggak... Mas Akbar nggak salah," bisik Abi dengan suara bergetar, mencium puncak kepala Akbar berkali-kali.
"Ayah yang minta maaf ya, Sayang. Tadi Ayah refleks bentak Mas Akbar karena Ayah panik luar biasa lihat darah Adik. Ayah yang salah, Ayah minta maaf ya, Mas..."
"Akil ndak apa-apa kan, Yah? Hiks... Kening Akil ada darahnya banyak banget tadi..." celetuk Akbar lagi masih meracau dengan napas tersendat-sendat.
"Adik sudah ndak apa-apa, Nak. Lihat itu, Adik cuma tidur karena capek. Lukanya sudah diobati Bu Bidan, sudah di-perban rapi," tutur Abi lembut sambil mengurai pelukan dan mengusap air mata yang membasahi pipi Akbar dengan ibu jarinya.
Akbar perlahan mendongak, matanya yang sembap menatap ranjang periksa. Melihat adiknya tertidur pulas dengan perban putih di kening namun napasnya teratur, napas Akbar yang tadinya memburu perlahan mulai tenang.
"Mas Akbar anak hebat, anak pintar... Jangan nangis lagi yaaa," bisik Abi menatap dalam mata putra sulungnya, lalu membawa Akbar kembali ke dalam pelukan hangatnya.
Abi + Kayla
Abi+ Dinda.
Kayla+ Pardi
Abi + Yanti