Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022: Rahasia Livia
Livia sudah tiga hari tidak pulang.
Kalimat itu jatuh di ruang tengah seperti mangkuk pecah.
Jason duduk dengan mata merah. Biasanya, kalau marah, ia akan berdiri, berteriak, atau memukul meja. Malam itu ia hanya duduk, menggenggam gelas kosong sampai Margaret takut gelas itu pecah di tangannya.
"Dia bilang apa terakhir kali?" tanya Margaret.
"Lembur."
"Di mana?"
"Toko."
"Tiga hari?"
Jason menunduk. "Aku tanya ke tempat kerjanya. Mereka bilang Livia izin keluar kota untuk urusan pembelian. Tapi temannya bilang dia masih terlihat di Semarang."
Margaret tidak terkejut.
Sejak awal, Livia membawa hawa dingin ke rumah ini. Ia makan dengan wajah tidak puas, memandang Jason seperti orang melihat barang bekas, dan setiap kali uang bulanan dibahas, matanya selalu bergerak cepat.
"Besok kamu ikut dia," kata Margaret.
Jason mengangkat kepala. "Kalau ketemu, aku tarik pulang."
"Tidak."
"Mama!"
"Kamu mau menang satu hari atau menang sampai selesai?"
Jason terdiam.
Margaret mengeluarkan sebuah Nokia berkamera milik Adrian yang dipinjamnya sebelum pergi ke Ungaran. Layarnya kecil, kameranya lambat, tetapi cukup untuk menangkap wajah.
"Bawa ini. Kalau lihat sesuatu, foto. Jangan pukul."
Jason menatap benda itu seolah Margaret memberinya batu bata, bukan telepon.
"Aku tidak pandai pakai."
"Oscar ajari malam ini."
Oscar yang baru masuk membawa air langsung berhenti. "Aku?"
"Kamu paling sering main HP."
"Itu karena Ko Adrian pelit pinjamnya, jadi aku harus cepat-cepat belajar."
Tidak ada yang tertawa.
Hari pertama, Jason mengikuti Livia dari jauh.
Livia pulang sebentar menjelang siang, berganti baju, lalu keluar lagi dengan tas kecil. Ia tidak masuk ke department store tempatnya bekerja. Ia justru naik angkot ke arah pusat kota, turun di dekat deretan toko kain, lalu masuk ke gang belakang.
Jason pulang malam dengan wajah gelap.
"Aku kehilangan dia."
"Besok lagi," kata Margaret.
Hari kedua, Margaret ikut.
Ia tidak mempercayai amarah Jason sendirian di jalan. Mereka menunggu di depan warung fotokopi seberang department store. Margaret membeli koran dan pura-pura membaca. Jason berdiri terlalu kaku sampai Margaret menyuruhnya duduk.
"Kalau kamu berdiri begitu, pencuri ayam juga tahu kamu sedang mengintai."
Jason duduk, rahangnya bergerak-gerak.
Menjelang sore, Livia muncul.
Ia memakai blus putih dan rok cokelat, rambutnya disisir rapi. Wajahnya tidak seperti perempuan yang baru tiga hari meninggalkan rumah suami. Ia terlihat segar, bahkan sedikit bersinar.
Seorang laki-laki menunggunya di depan toko kopi kecil.
Usianya lebih tua dari Jason beberapa tahun. Kemejanya rapi, sepatu mengilap, tangan memegang rokok yang belum dinyalakan. Saat Livia mendekat, wajah laki-laki itu melunak.
"Itu Martin," kata Margaret pelan. "Manajer pembelian."
Jason menoleh. "Mama kenal?"
"Dengar dari orang."
Livia duduk di meja pojok bersama Martin. Awalnya mereka tampak seperti rekan kerja. Mereka membuka map, menunjuk beberapa kertas, berbicara pelan.
Lalu Martin mengambil gelas Livia dan memutar sedotannya.
Gerakan kecil.
Terlalu akrab.
Livia tidak menarik tangan ketika jari Martin menyentuh punggung tangannya.
Jason berdiri.
Margaret langsung mencengkeram pergelangan tangannya.
"Duduk."
"Mama, dia..."
"Foto."
"Aku mau masuk."
"Kalau kamu masuk sekarang, mereka bilang cuma urusan kerja. Kamu pulang dengan tangan berdarah dan tidak punya bukti."
Mata Jason merah.
Margaret menekan suaranya. "Foto."
Tangannya gemetar saat membuka kamera Nokia. Gambar di layar buram. Jason mengumpat pelan. Margaret mengambil alih, menunggu ketika Martin condong ke arah Livia.
Livia tertawa.
Martin menyelipkan sesuatu ke tasnya. Amplop kecil.
Margaret menekan tombol.
Klik.
Suara kecil itu terdengar seperti palu jatuh di dada Jason.
Mereka mendapat tiga foto. Satu buram. Satu memperlihatkan Livia dan Martin duduk sangat dekat. Satu lagi memperlihatkan tangan Martin di punggung kursi Livia, hampir seperti merangkul.
"Cukup?" tanya Jason.
"Belum."
Jason menatap ibunya seperti tidak percaya.
"Belum?"
"Aku perlu bukti uang. Uang bulananmu ke mana selama ini? Kenapa dia selalu bilang tidak cukup? Kenapa lauk rumahmu lebih tipis daripada rumah orang kos?"
Jason tidak menjawab.
Di perjalanan pulang, ia duduk diam. Semua amarah yang biasanya keluar sebagai teriakan kini tenggelam ke dalam. Margaret melihat bahunya yang besar tampak lelah, dan untuk pertama kalinya hari itu ia merasa anak laki-lakinya masih sangat muda.
"Jason," katanya pelan, "cerai bukan akhir dunia."
Jason menatap jalan.
"Rasanya seperti kalah."
"Bukan. Kalah itu tetap hidup dengan orang yang meremehkanmu karena takut malu."
Jason menutup mata.
Malam itu, Livia pulang.
Ia membawa satu kotak mochi dari toko terkenal, masuk rumah dengan wajah lelah yang dibuat-buat.
"Ko," katanya pada Jason, "aku bawakan kesukaanmu."
Jason menatap kotak itu.
Tangannya mulai bergetar.
Livia seperti tidak melihat. Ia meletakkan kotak mochi di meja, lalu mengeluh bahwa perjalanan pembelian sangat melelahkan. Ia berkata hotelnya buruk, makanan tidak enak, dan orang toko terlalu cerewet. Semua kalimatnya rapi. Terlalu rapi.
Vanessa, yang sedang membawa piring ke dapur, hampir membuka mulut. Margaret menatapnya sekali. Vanessa langsung menggigit bibir dan pura-pura sibuk mencuci sendok.
Livia duduk di dekat Jason, tetapi jaraknya aneh. Dekat untuk dilihat orang, jauh untuk disentuh suami.
"Ko, kamu marah?" tanyanya.
Jason membuka mulut.
Margaret menekan punggung tangannya lebih kuat.
"Dia capek," kata Margaret lebih dulu. "Tiga hari kamu tidak pulang, tentu dia khawatir."
Livia tersenyum kecil. "Aku kan kerja, Mama. Kalau tidak kerja, nanti siapa yang bantu ekonomi?"
Kalimat itu membuat rahang Jason bergerak.
Margaret tahu ia hampir pecah.
Margaret duduk di sampingnya dan menekan punggung tangannya ke meja.
"Tiga hari lagi," bisiknya. "Mama perlu bukti lebih banyak. Bukan cuma dia jalan dengan laki-laki itu, tapi juga uang bulananmu masuk ke mana."
Jason menggigit rahang sampai keras.
Livia tersenyum tipis, seolah tidak ada yang berubah.
Kotak mochi di meja belum dibuka. Kertas pembungkusnya merah muda, manis, dan bersih. Di mata Jason, benda itu tampak seperti lelucon yang terlalu kejam.
Tidak satu pun orang menyentuh mochi itu.
Di bawah meja, tangan Jason masih gemetar.