NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 022: Dunianya Hening

Keira terbangun karena lengan di pinggangnya.

Untuk beberapa detik, ia tidak tahu di mana dirinya berada. Ruangan masih remang. Tirai Ruang Kerja tertutup rapat, tetapi garis cahaya pagi sudah menyelinap di lantai. Punggungnya sedikit pegal karena tidur di sofa, lehernya masih terasa kaku di bawah scarf, dan satu sisi tubuhnya hangat.

Lalu ia sadar.

Darren tertidur di belakangnya.

Tangannya melingkar di pinggang Keira, tidak kuat, tetapi cukup untuk membuatnya tidak bisa bergerak tanpa membangunkannya. Napasnya menyentuh rambut Keira dengan ritme yang lebih tenang daripada hari-hari sebelumnya.

Keira menahan napas.

Semalam.

Ciuman.

Kalimat itu.

Kebaikanku di dunia ini, hanya untukmu seorang.

Wajah Keira langsung panas.

Ia ingin menutup wajah dengan bantal, tetapi tidak ada bantal, dan gerakan sekecil apa pun bisa membangunkan pria yang akhirnya tidur setelah menghancurkan seluruh dunianya sendiri.

Jadi ia diam.

Pelan-pelan, Keira memiringkan kepala untuk melihatnya.

Darren tidur dengan alis yang tidak lagi berkerut. Wajahnya masih pucat, bibirnya kering, tangan kanannya terbalut lebih rapi daripada semalam. Mungkin Pak Ji masuk setelah mereka tertidur dan mengganti balutan. Atau Darren melakukannya sendiri dalam setengah sadar.

Untuk pertama kalinya sejak Keira mengenalnya, wajah Darren tampak muda.

Bukan CEO Hendrawan.

Bukan pria yang ditakuti orang satu kota.

Hanya seseorang yang sangat lelah, dan akhirnya punya tempat untuk meletakkan lelahnya.

Keira bergerak hati-hati. Ia berhasil melepaskan diri dari pelukan itu tanpa membangunkannya, lalu mengambil selimut tipis dari sandaran sofa. Saat ia menutupkannya ke dada Darren, pria itu bergerak sedikit.

Keira membeku.

Darren tidak bangun.

Ia hanya menggumam sangat pelan, nyaris tidak berbentuk.

"Jangan pergi."

Dada Keira melunak sampai sakit.

Ia duduk kembali di tepi sofa dan menunggu sampai napas Darren stabil lagi.

Pagi itu, mereka akhirnya keluar dari Ruang Kerja.

Pak Ji berdiri di koridor seperti seseorang yang sudah menjaga pintu sebuah dunia semalaman. Ketika melihat Darren berjalan keluar dengan pakaian kusut tetapi mata lebih jernih, lelaki tua itu menunduk dalam.

"Pak."

Darren hanya mengangguk.

Tidak ada penjelasan.

Tidak perlu.

Keira kembali ke Sayap Giok untuk mandi dan mengganti baju. Ningsih hampir menangis ketika melihatnya pulang, tetapi Ratna menahan bahunya dengan tenang. Keira hanya berkata ia baik-baik saja, lalu kali ini menambahkan, "Benar-benar."

Ningsih masih tidak percaya, tetapi setidaknya tidak mengejar pertanyaan.

Menjelang sore, Darren mengirim pesan singkat melalui Pak Ji.

Ia menunggu di mobil.

Keira turun dengan dress sederhana berwarna biru muda dan scarf yang menutup lehernya. Di halaman, Darren sudah berdiri di samping mobil hitam. Ia sudah mandi, berganti kemeja gelap, dan kembali tampak seperti pria yang bisa membuat seluruh ruang rapat diam.

Tetapi ketika matanya jatuh pada Keira, sesuatu di sana berbeda.

Bukan lagi tatapan yang menilai.

Bukan sekadar melindungi.

Itu tatapan seseorang yang menemukan sesuatu lalu memastikan benda itu masih ada.

"Kita ke mana?" tanya Keira saat masuk mobil.

"Tower."

"Kerja?"

Darren menatapnya sekilas. "Tidak."

Jawaban itu lebih mengejutkan daripada kalau ia bilang mereka akan pergi membeli pulau.

Mobil melaju keluar dari compound menuju Sudirman. Jakarta sore bergerak dalam warna emas dan abu-abu. Gedung-gedung kaca memantulkan matahari, ojek online menyelip di antara mobil, dan dari kejauhan suara kota terdengar seperti ombak yang tidak pernah berhenti.

Di Hendrawan Tower, mereka tidak turun di lantai kantor.

Lift membawa mereka terus naik.

Sampai Rooftop.

Ketika pintu terbuka, angin sore menyambut wajah Keira. Di depan mereka, Jakarta terbentang luas. Gedung-gedung tinggi berdiri seperti barisan kaca dan baja. Di kejauhan, garis Java Sea tampak biru gelap di bawah cahaya senja.

Keira berjalan sampai pagar kaca.

"Aku kira orang kaya melihat pemandangan seperti ini setiap hari sampai bosan."

"Tidak."

"Tidak bosan?"

"Tidak sempat melihat."

Keira menoleh.

Darren berdiri di sampingnya. Angin menggerakkan ujung rambutnya. Wajahnya masih lelah, tetapi ada ketenangan yang kemarin tidak ada.

"Dunia di sekitarku selalu ribut," katanya.

Keira diam.

Darren jarang bicara panjang. Ketika ia mulai, Keira merasa bahkan angin perlu menurunkan suara.

"Orang-orang berbicara, tapi tidak ada yang mengatakan hal penting. Mereka datang, tapi tidak ada yang benar-benar hadir." Pandangannya tertuju pada kota di bawah. "Setiap hari ada angka, tanda tangan, keputusan, ketakutan orang lain. Semua bergerak. Semua meminta sesuatu."

Ia berhenti.

Lalu menatap Keira.

"Tapi saat kamu di sini, semuanya hening."

Mata Keira panas.

Ia mencoba tersenyum agar tidak langsung menangis seperti orang yang kerjaannya hanya menangis di tempat mahal.

"Darren Hendrawan ternyata bisa bicara seperti ini. Kenapa dulu tidak dipakai?"

Sudut bibir Darren bergerak sedikit.

"Karena sebelumnya tidak ada yang perlu mendengarnya."

Keira kalah.

Air matanya benar-benar jatuh.

Darren mengangkat tangan, mengusapnya dengan ibu jari. Tidak bertanya kenapa. Mungkin ia sudah tahu ada beberapa tangis yang tidak perlu diperiksa sebabnya.

"Aku bukan orang yang pintar mendengar hal seperti ini," kata Keira, berusaha menyelamatkan harga diri yang sudah jatuh dari Rooftop. "Biasanya kalau ada orang bilang dunia jadi hening karena aku, aku akan curiga dia kurang tidur."

"Aku memang kurang tidur."

Keira tertawa di antara air mata.

Darren melihatnya dengan tenang, seolah suara kecil itu lebih penting daripada seluruh kota yang menyala di bawah mereka.

"Tapi bukan itu alasannya," katanya.

Keira tidak bertanya lagi.

Ada jawaban yang lebih baik dibiarkan tinggal di dada, karena kalau dipaksa keluar semuanya, manusia bisa kewalahan oleh bahagianya sendiri.

Mereka tetap di Rooftop sampai langit gelap.

Lampu-lampu Jakarta menyala satu per satu, seperti seseorang menaburkan bintang ke tanah. Angin malam lebih dingin. Darren berdiri di belakang Keira, kedua tangannya melingkar di pinggangnya. Dagunya bertumpu ringan di puncak kepala Keira.

Keira tidak bicara.

Untuk sekali ini, ia tidak merasa perlu mengisi keheningan.

Malamnya, Darren membawanya ke Penthouse Utama.

Pintu terbuka ke ruang yang luas, dingin, dan terlalu rapi. Abu-abu, hitam, kayu gelap, kaca. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada benda lucu. Tidak ada tanda bahwa manusia tinggal di sana selain buku, dokumen, dan aroma cedar yang samar.

"Ini rumah atau ruang tunggu orang kaya yang depresi?" gumam Keira.

Darren menatapnya.

Keira langsung batuk kecil. "Maksudku, sangat bersih."

"Kamu boleh mengubahnya."

Keira berhenti.

Kalimat itu sederhana, tetapi di ruangan seperti ini, dari mulut Darren, artinya tidak sederhana.

Ia tidak berkata kamu boleh berkunjung.

Ia berkata kamu boleh mengubahnya.

Malam turun lebih dalam.

Lampu utama tidak dinyalakan. Hanya cahaya kota dari jendela besar yang masuk ke kamar, memantul di lantai dan tepi ranjang. Keira tidak ingat siapa yang lebih dulu mendekat. Mungkin Darren. Mungkin dirinya.

Ia hanya ingat napas Darren di dekat telinganya.

Ingat tangannya yang sangat hati-hati membuka scarf di leher Keira, lalu berhenti lama di bekas gigitan yang mulai mengering.

"Masih sakit?"

"Sedikit."

"Aku akan lebih hati-hati."

Keira menutup mata.

Di luar jendela, Jakarta tetap menyala.

Di dalam kamar, hanya ada napas, bisikan yang terlalu pelan untuk menjadi kalimat, dan sentuhan Darren yang bergerak seolah sedang menghafal setiap luka lama di tubuh Keira. Bekas di lengannya. Perban di telapak tangan. Memar yang hampir hilang di lutut.

Ia tidak terburu-buru.

Tidak menuntut.

Seperti seseorang yang memegang sesuatu yang pernah terlalu sering dijatuhkan orang lain, lalu bersumpah dalam diam untuk tidak menjadi tangan berikutnya yang melukainya.

Ketika lampu kota menjadi satu-satunya cahaya, Keira mendengar Darren berbisik di dekat telinganya.

Ia tidak menangkap semua kata.

Tetapi ia tahu satu kata itu.

"Sayang."

Pagi datang dengan cahaya emas.

Keira terbangun di ranjang yang begitu lembut sampai tubuhnya sempat curiga ini bukan barang untuk manusia biasa. Di balik jendela besar, Jakarta basah oleh sinar pagi. Ia mengerjap, lalu menyadari selimut menutupi tubuhnya sampai bahu.

Darren berbaring di sampingnya.

Tidak tidur.

Ia menatap Keira.

Tatapan itu begitu lembut sampai Keira yang masih setengah sadar hampir lupa cara menjadi sinis.

"Kamu dari tadi melihatku?"

"Ya."

"Berapa lama?"

"Cukup lama."

Keira menarik selimut sedikit lebih tinggi, wajahnya panas. "Pak Darren, itu terdengar agak menyeramkan."

"Aku takut kamu mimpi buruk."

Kalimat itu membuat semua rasa malu Keira berhenti bergerak.

Ia menatap Darren.

Mata pria itu tenang. Tidak bercanda. Tidak mencari alasan romantis yang indah. Ia hanya mengatakan fakta, seolah menjaga tidur Keira adalah pekerjaan paling wajar setelah menandatangani kontrak miliaran rupiah.

"Kamu tidak tidur?"

"Sedikit."

"Bohong."

Darren tidak menyangkal.

"Aku pernah melihatmu bangun dari mimpi buruk," katanya. "Kamu tidak berteriak. Itu yang membuatku lebih khawatir."

Keira terdiam.

"Orang yang masih bisa berteriak berarti tahu ada orang yang mungkin mendengar." Jari Darren menyentuh rambutnya pelan. "Kamu bangun seperti orang yang sudah terbiasa tidak didengar."

Kali ini Keira tidak punya kata-kata untuk menangkis.

Karena ia benar.

Di kehidupan ini maupun di kehidupan yang datang seperti pecahan mimpi, ia memang terlalu sering belajar menangis tanpa suara.

Keira bergerak mendekat dan menempelkan dahi ke dadanya. Jantung Darren berdetak lambat di bawah telinganya.

Untuk beberapa menit, dunia benar-benar hening.

Lalu ponsel Darren bergetar di meja samping ranjang.

Ia mengambilnya dengan satu tangan, masih membiarkan Keira berada di dekatnya.

"Ji."

Suara Darren berubah.

Bukan dingin pada Keira.

Dingin untuk dunia di luar kamar ini.

Ia mendengarkan sebentar, lalu berkata, "Siapkan rencana selanjutnya."

Keira membuka mata.

Darren menatap jendela, wajahnya kembali menjadi pria yang bisa mengguncang dua keluarga besar sekaligus.

"Sudah waktunya menyelesaikan masalah Vivienne."

Keira tetap diam di bawah selimut.

Ia tahu.

Keheningan mereka sudah selesai.

Pertempuran sesungguhnya baru dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!