Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.22
Saat melihat sepeda suami nya rusak, pandangan Ratna langsung tak enak. Senyum nya luntur digantikan dengan raut wajah yang begitu cemas.
"Nduk, pak lek cuman mau menyampaikan pesan. Suami mu di bawa oleh pak ustadz Yusuf ke rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan di daerah pinggiran sawah nduk." ucap nya yang menghembuskan nafas berat saat Menyampaikan pesan itu.
"Deg.....mas dewa....ini ga mungkin!" gumam nya meneteskan air mata kesedihan. bahkan hampir saja dia kehilangan kesadaran. Untung saja pak lek Udin berusaha untuk membuat nya tenang. Kakek jun yang berada di sebelah nya juga kaget. Dan begitu khawatir mendengar kondisi dewa.
"Ibu....ibu kenapa.". Pekik Dinda yang langsung memeluk ibu nya yang langsung lemas.
"Ayah mu nduk, ayah mu.... kecelakaan." ucap nya dengan nada bergetar tak sanggup meneruskan ucapan nya itu. Dia berharap ini hanya mimpi.
"Pak, tolong antarkan saya ke sana."kata Ratna di sela sela tangis nya. Dia ingin memastikan bahwa suami nya akan baik baik saja. rasanya benar benar tak sanggup.
"Ibu, Dinda ikut!" ucap gadis kecil itu yang sudah nangis dan langsung meneteskan air mata nya.
"Kamu di rumah aja ya, jaga kakek jun. Biar ibu saja yang pergi melihat kondisi ayah mu." ucap nya yang berusaha kuat di hadapan anak gadis nya.
"Ibu, dinda mau liat kondisi ayah...hiks."
"Nak, ayah akan baik baik saja. Jadi dinda doain ayah ya, supaya ayah bisa sehat lagi."
Gadis kecil itu mengangguk dan memeluk ibunya sambil menangis.
"Hiksss....ayah."
"ayo pak lek antarkan menggunakan motor anak pak lek."
"Makasih banyak pak lek."
Ratna langsung masuk ke dalam dan mengambil sisa tabungan yang selama ini selalu disisihkan. Dia juga tak lupa mengingatkan Dinda untuk mengunci pintu dan menjaga kakek jun di rumah.
"Pak jun, saya titip Dinda ya." ucap nya dengan nada sendu.
"Iya nak, hati hati ya. tenang saja, Dinda akan aman sama kakek nya."
"Terima kasih pak, mohon doa nya."
"Kasihan sekali keluarga ini, terlalu banyak kesulitan. semoga dewa segera sadar, dan bisa kumpul bersama dengan keluarga kecil nya lagi." gumam kakek Juna yang menghapus air mata kesedihan nya.
Bagaimana pun, berkat keluarga dewa, dia bisa memiliki tempat berlindung yang aman. Dia merasa menemukan keluarga baru bersama dengan mereka.
Di ruang UGD, Ali masih menunggu kondisi ayah nya. Tangis nya mulai reda, dan digantikan dengan rasa khawatirnya. Sedari tadi, tak henti henti nya dia berdoa untuk keselamatan sang ayah.
"Ayah....tolong bangun lah, dan segera lah sadar. Ibu pasti menunggu ayah pulang ke rumah."
Tak lama dokter langsung keluar, dan menyampaikan pesan tentang kondisi kesehatan ayah nya.
Ustadz Yusuf langsung masuk ke ruangan dokter untuk mengetahui kondisi dewa.
"Bagaimana kondisi pasien dok?"
"Kondisi pasien masih belum menunjukkan kesadarannya pak, dan kaki kiri nya mengalami lumpuh total akibat benturan keras yang dialami oleh pasien."
Mendengar hal tersebut, tatapan pak ustadz Yusuf langsung lemas. bagaimana menyampaikan berita ini, kepada Ali dan ibu nya. Pasti mereka saat ini benar benar terpukul
Tak lama kemudian, Ratna langsung berlari menuju ke arah Ali berdiri. Dia langsung memeluk putra nya dengan erat.
"Ali..." pekik nya yang melihat ali menunggu di ruangan UGD.
"Ibu....hiks...ayah....belum sadar, dan dokter masih berbicara dengan pak ustadz."
"Nak, tunggu disini. ibu akan bertanya kondisi ayah mu."
Cklek.... Ratna langsung masuk dan bertanya kondisi suami nya itu. Tatapan nya sedari tadi tak henti henti nya berdoa.
"Pak dokter, bagaimana kondisi suami saya?" ucap nya dengan nada bergetar.
Dokter langsung menjelaskan kondisi dewa, dan meminta keluarga agar lebih banyak berdoa untuk kesembuhan pasien.
tubuh Lusi langsung lemas seketika. Dia benar benar tak sanggup menerima kenyataan pahit ini. Suami nya dinyatakan lumpuh, dan sampai saat ini suami nya belum sadar. Kata dokter juga, kalau sudah sadar nanti nya, akan di pindahkan ke ruangan rawat inap.
"Untuk biaya ruangan pasien bisa di urus di administrasi ya bu." ucap suster tersebut.
"Ya Allah, dari mana aku uang sebanyak ini?" gumam nya dengan nada bergetar hebat.
tertera 3 juta rupiah untuk perawatan dewa selama di rumah sakit ini. Tatapan Ratna langsung sendu, dia tak memiliki uang sebanyak ini. Untuk makan saja mereka begitu susah. Dari mana mereka mencari pinjaman uang. Ratna benar bener frustasi memikirkan biaya rumah sakit suami nya itu.
Kebetulan sekali dewa tak memiliki BPJS kesehatan, jadinya biaya rumah sakit sepenuh nya di tanggung oleh keluarga pasien. Oleh sebab itu Ratna langsung lemas saat melihat suami nya terbaring di ranjang UGD. Dan memikirkan biaya rumah sakit yang begitu banyak baginya.